Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Dari Melbourne Menuju Jakarta


__ADS_3

Sementara itu di Melbourne, Australia seorang pemuda kini tengah boarding di Melbourne International Airport. Pemuda yang masih begitu belia, dan masih berusia dua puluhan tahun itu baru saja menyelesaikan pendidikan Strata Satu Kedokteran di University of Melbourne, Victoria, Australia.


Dengan membawa tiket di tangannya, pria itu terlihat duduk sendiri dan menunggu waktu di mana para penumpang akan dipanggil untuk memasuki pesawat. Pemberitahuan melalui suara di Bandara itu agaknya menjadi sesuatu yang ditunggu oleh pria itu. Sampai akhirnya, setelah lebih dari setengah jam menunggu terdengar Airport Announcement dari pihak Bandara.


Hello, Passengers of flight 56K78 Airlines bound for Jakarta with stops in Singapore please boarding from gate C2, and please have your boarding pass ready and make sure that you gave collected all your carry-on baggage. Thank you.


(Halo, para penumpang dengan penerbangan nomor 56 tujuan Jakarta dengan pemberhentian di Singapura mohon melakukan boarding dari gerbang C2, dan mohon persiapkan pas naik Anda. Serta pastikan Anda membawa semua barang bawaan Anda. Terima kasih.)


Seolah tak ingin terburu-buru, pemuda itu memilih berjalan santai dan tidak mengikuti para penumpang yang terburu-buru ingin menaiki pesawat. Lagipula, nomor tempat duduk di masing-masing tiket sudah tertera, sehingga pemuda itu merasa tidak harus terburu-buru untuk menaiki pesawat.


Dengan menyandang ransel di bahu, pemuda itu berjalan perlahan-lahan menuju gerbang C2 dan menuju tempat di mana pesawat yang akan dia tumpangi. Kali ini, rute penerbangan dari Melbourne menuju ke Jakarta harus transit terlebih dahulu di Singapura. Kurang lebih 12 hingga 13 jam lamanya, pemuda itu akan menempuh perjalanan udara untuk kembali pulang ke Tanah Air setelah 3 tahun lamanya menempuh pendidikan Kedokteran di negeri Kangguru.


Sebelum pesawat lepas landas, rupanya ada sebuah panggilan seluler yang masuk ke handphone pemuda berwajah tampan itu.


“Halo, Rangga … jadi kembali ke Jakarta kan?” sapa seorang wanita paruh baya yang tidak lain adalah Bunda Kanaya.


Ya, pemuda itu adalah Airlangga, adik kandung dari Aksara. Setelah tiga tahun lamanya menyelesaikan kuliahnya di Melbourne, Australia. Hari ini, Airlangga akan kembali ke Indonesia. Melanjutkan mimpinya menjadi seorang Dokter Spesialis Anak, tetapi sebelum bisa menjadi seorang spesialis, Airlangga harus menjadi Koas terlebih dahulu di sebuah Rumah Sakit di Jakarta. Setelahnya, barulah seorang Koas bisa melanjutkan studi spesialisasi selama kurang lebih tiga tahun lagi.


“Halo Bunda … iya, Rangga sudah ada pesawat kok. Tidak lama lagi akan flight,” jawab pemuda itu.


“Syukurlah … jadi, Bunda akan menjemput kamu di Bandara besok kan?” tanya Bunda Kanaya.

__ADS_1


“Iya Bunda … besok. Kalau sesuai waktu yang tertera di tiket, jam 09.00 sudah landing di Soekarno-Hatta,” balas Airlangga.


“Oke Nak … hati-hati dalam penerbanganmu. Jika sudah transit di Singapura, jangan lupa untuk menghubungi Bunda,” balas Bunda Kanaya.


“Oke Bunda, see you soon. I Love U, Mom,” balas pemuda itu dengan menutup panggilan selulernya.


Setelahnya, Airlangga atau yang akrab dipanggil Rangga itu memilih menon-aktifkan handphonenya berbarengan dengan pesawat yang akan mulai lepas landas. Pria itu memilih duduk dan menikmati penerbangan udara di tengah malam. Rangga berpikir, begitu pesawat sudah lepas landas (take off) dan posisinya sudah stabil di udara, Rangga akan memilih untuk tidur saja. Sapa tahu saat dia terbangun, pesawat sudah akan landing di Changi, International Airport untuk transit pada jam 05.30 waktu Singapura, dan akan dilanjutkan penerbangan ke Jakarta pada jam 07.50 waktu Singapura.


Sebagai informasi, waktu Singapura memilih zona waktu selisih satu jam dengan Waktu Indonesia Barat (WIB). Sehingga jam 05.30 di Singapura, berarti jam 04.30 di Jakarta, Indonesia. 


Sampai akhirnya, pesawat pun mulai mengudara perlahan-lahan, mengambil posisi untuk terbang, pesawat yang semula menjejak di tanah dan berjalan pelan, lama-kelamaan kecepatan bertambah sangat cepat, hingga akhirnya badan pesawat pun terangkat ke udara. Tengah malam itu, yang terlihat hanyalah kemerlip lampu kota Melbourne yang terlihat dari udara.


“Good bye Melbourne … See you when i see you,” gumam Airlangga dengan lirih sembari menatap pandangan di bawah dari kaca jendela pesawat.


Jika Aksara lebih menggeluti dunia perusahaan dengan menjadi seorang Arsitektur dan lebih mirip dengan Bunda Kanaya, maka Airlangga menggeluti dunia medis sama seperti Ayah Bisma. Bahkan Airlangga memiliki cita-cita yang sama yaitu menjadi Dokter Spesialis Anak.


Penerbangan udara di tengah malam itu akhirnya membuat kebanyakan penumpang memilih tertidur. Lagipula, perjalanan udara lintas benua memang begitu jauh, sehingga sangat cocok dinikmati dengan tidur di dalam pesawat.


Tidak terasa sudah sepuluh jam waktu berlalu. Kini Pramugari membangunkan para penumpang dan bersiap untuk transit di Changi Internasional Airport. Para penumpang diminta untuk menegakkan sandaran, melipat meja, dan membuka kaca jendela. Airlangga pun mengerjap. Sudah hampir sepuluh jam dirinya tertidur di dalam pesawat. Terlihat dari jendela, bahwa suasana masih gelap. Redup, sapa mentari pun belum nampak sama sekali. Pemuda itu menegakkan punggungnya, dan bersiap untuk landing hampir satu jam di Changi Internasional Airport.


Pesawat terasa mengurangi ketinggiannya di udara, dengan memutar, dan menukik, hingga di batas kerendahan tertentu. Sampai akhirnya, terasa roda-roda pesawat yang kembali berjejak di tanah dan menghadirkan guncangan di badan pesawat. Semua penumpang pun bernafas lega saat semuanya bisa tiba di Changi International Airport.

__ADS_1


Begitu tiba di Changi, hal pertama yang Airlangga lakukan adalah mengirimkan pesan kepada Bundanya terlebih dahulu.


[To: Bunda Kanaya]


[Rangga sudah transit di Changi, Bunda.]


[Nanti tidak usah terburu-buru jemputnya.]


[Santai saja.]


[See U Soon di Jakarta.]


Usai mengirimkan pesan itu, Airlangga memilih untuk turun dari pesawat dan mencuci mukanya terlebih dahulu. Selain itu, Airlangga berniat membeli secangkir Teh Tarik yang dijual seharga 2 Dollar Singapura dan Kaya Toast yang merupakan roti bakar dengan selai Sari Kaya. Teh Tarik dan Kaya Toast adalah menu sarapan yang banyak dinikmati orang-orang Melayu, termasuk di sebagian Pulau Sumatra, Singapura, dan juga Malaysia.


Sedikit menyegarkan diri dan juga mengisi perut kosong setelah menjalani perjalanan lintas benua yang begitu melelahkan. Rasanya baru saja, Airlangga turun untuk sarapan, sekarang sudah terdengar Airport Announcement bahwa penumpang dengan tujuan ke Soekarno - Hatta International Airport diminta untuk boarding. Airlangga pun sedikit berlari dan kembali ke pesawat, melanjutkan kembali penerbangan udara ke Jakarta, Indonesia.


Tidak terasa sudah dua jam pesawat dari Changi, Singapura mengudara. Dari angkasa terlihat pemandangan kota Jakarta yang begitu padat. Di Ibukota inilah, Airlangga akan melanjutkan hidupnya. Melanjutkan mimpi dan cita-citanya, selain itu dia akan bersiap untuk bertemu dengan putri kecilnya, Thania.


“Papa akan datang, Thania … senang rasanya kembali melihatmu, setelah tiga tahun waktu berlalu. Papa sangat sayang dan merindukan kamu, Thania,” gumam Airlangga dengan lirih.


Selain bertemu dengan keluarganya, ada satu hal yang begitu ingin Airlangga lakukan, yaitu bertemu dengan putri kecilnya, Thania. Rasanya ingin sekali menyapa, memeluk, dan memberikan ciuman di pipi Thania. 

__ADS_1


“I am coming for you, My Little Daughter. I miss you so much, Thania,” gumam Airlangga.


Ya, sangat rindu dengan putri kecilnya. Setelah masa tiga tahun berlalu. Sekarang, Airlangga benar-benar akan pulang untuk putri kecilnya itu.


__ADS_2