Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Cinta Tak Terbalas di Putih Abu


__ADS_3

Suatu masa di Putih Abu-Abu …


“Aksa, nanti kamu ngerjain tugas Biologinya satu kelompok aku aja yah?”


Ajak seorang gadis yang kala itu mengenakan seragam Putih Abu, di dadanya terpasang nama Alice P. H. Gadis manis dengan rambut sebahu yang merupakan salah satu siswa tercantik di SMA kala itu.


Akan tetapi, agaknya gayung tidak bersambut. Terang-terangan nyatanya justru Aksara justru menolaknya.


“Gak, aku lebih baik ngerjain sendiri,” jawab Aksara dengan menunjukkan wajah datarnya dan berlalu begitu saja dari hadapan Alice.


Dengan memanggul tas ransel di bahu, Aksara memilih untuk segera pulang. Lagipula, sudah waktunya untuk pulang dan Aksara yakin bahwa Ayahnya sudah menunggu untuk menjemputnya.


“Aksa … Aksara, tunggu. Aku gak akan menyerah begitu saja yah. Kalau kamu tidak mau, aku akan memaksa kamu untuk aku,” balas Alice. Rupanya wanita itu memiliki jiwa pejuang yang sangat tinggi. Sampai-sampai dia siap memaksa Aksara untuk mau satu kelompok dengannya.


Aksara berlalu begitu saja, enggan mendengarkan Alice. Sampai akhirnya Aksara melihat sosok Ayahnya yang sudah menjemputnya, sehingga Aksara segera memasuki mobil sang Ayah. Sementara tidak jauh di belakangnya ada Alice yang masih berupaya mengejarnya.


“Aksa, teman itu manggil-manggil kamu. Perlukah Ayah menghentikan mobil ini dulu?” tanya Ayah Bisma kepada Aksara.


“Tidak perlu Ayah, dia gadis gila,” balas Aksara dengan begitu sarkasnya. Selama hidupnya mungkin baru ini Aksara berkata kasar dan mengatai bahwa temannya itu adalah gadis gila.


“Jangan berkata seperti itu, Aksara … mungkin saja dia memang butuh sama kamu. Ayah hentikan mobilnya sebentar yah?” balas Ayah Bisma lagi.


Akan tetapi, Aksara menggelengkan kepalanya, “Tidak usah berhenti Ayah … sungguh, dia selalu mengejar-ejar Aksara di sekolah. Aksara tidak suka. Kalau seperti ini terus, lebih baik Aksara pindah sekolah saja. Niatnya sekolah mau belajar, mau jadi Dokter, justru digangguin terus sama dia,” gerutu Aksara kepada Ayahnya.


“Kalau kamu tidak mau diganggu, bilang baik-baik. Beri pengertian kepada temanmu itu, lagipula dia cukup cantik. Tidak ada salahnya kan mencoba dekat,” balas Ayah Bisma lagi.


“Gak, Aksara sudah punya gadis yang selama Aksara cintai,” jawabanya dengan tegas dan penuh percaya diri.


Mendengarkan apa yang baru saja diucapkan putranya, Ayah Bisma pun tertawa, “Siapa gadis yang sudah dicintai putra Ayah ini? Kamu pernah bertemu dengannya?” tanya Ayah Bisma.


Wajah Aksara tiba-tiba saja tampak sendu, pria itu hanya bisa mende-sah pasrah dan kesal tentunya. Semua orang mengira bahwa gadis yang dia cintai hanya ada di dalam khayalannya saja. Bukan gadis yang hadir secara nyata.


“Aksara benar-benar mencintai gadis itu, Yah … gadis yang sudah Aksara kenal sejak kami berdua masih kecil. Sekarang, memang Aksara tidak bertemu dengannya, tetapi Aksara yakin suatu saat kami akan bertemu,” balas Aksara dengan lirih disertai dengan helaan nafas yang begitu berat.


Biarkan saja orang menyebutnya gila. Hanya saja, Aksara memiliki keyakinan kuat dalam hatinya bahwa suatu saat, dirinya akan bisa bertemu kembali dengan Arsyilla, gadis yang selama ini begitu dia cintai, gadis yang namanya selalu terukir di dalam hatinya.

__ADS_1


***


Keesokan harinya …


Aksara kembali ke sekolah. Kali ini, Aksara bersikap biasa saja, pembawaannya di sekolah memang siswa yang cool, pintar, dan tidak banyak bicara di sekolah. Bagi Aksara, sekolah hanya tempat untuk mendapatkan ilmu, tidak untuk bersenang-senang seperti teman-temannya yang lain. Namun, di masa SMA ini ada sesuatu yang membuat Aksara enggan ke sekolah, bahkan rasanya Aksara ingin pindah dari sekolahnya. Alice, ya gadis itulah yang membuat Aksara begitu enggan untuk masuk ke sekolah.


Hari masih pagi, tetapi di depan kelasnya, Alice sudah tampak menunggunya.


“Hai Aksara,” sapa gadis itu dengan memberikan senyuman termanisnya kepada Aksara.


Akan tetapi, yang ditunggu dan disapa, nyatanya hanya bersikap dingin dan hanya memandang Alice sejenak dan kemudian memilih untuk segera memasuki kelas.


“Aksa, kamu ngapain sih? Banyak siswa-siswa yang antri untuk jadi pacar aku di SMA ini, sementara kamu malah nyuekin aku kayak gini sih? Aksara, aku suka sama kamu. Serius, aku bahkan bikin tatto nama kamu di tangan aku,” ucapnya.


Alice benar-benar menunjukkan sebuah tatto permanen yang dia ukir di tangannya. Gadis itu justru terlihat bangga bisa mengukir nama Aksara di sana.


“Bagus kan tatto nya? Kamu seperti tatto ini di hati aku, selamanya tidak akan pernah terganti,” balas Alice dengan tersenyum. Dia sangat yakin bahwa posisi Aksara di hatinya tak akan pernah terganti.


Alice pun terlalu percaya dan mengira bahwa Aksara akan menerima perasaannya. Tidak mungkin siswi tercantik di SMA kala itu akan diabaikan begitu saja oleh Aksara. Nyatanya, justru yang diinginkan Alice tidak seperti yang dia harapkan.


Aksara justru berdiri, dan menatap wajah Alice dengan tajam, “gila,” umpat Aksara kali ini.


Baru beberapa langkah berjalan, rupanya Alice menghalangi tangan Aksara. Menggenggam pergelangan tangannya dengan begitu kuat.


“Jangan belagu lo Aksara. Mentang-mentang gue cinta mati sama lo, dan lo bersikap seperti ini ke gue. Ingat Aksara, di dunia ini cuma gue, Alice yang boleh memiliki lo. Gue pastiin bakalan ngebunuh siapa saja yang berniat mendapatkan lo!”


Alice berteriak, matanya melotot dan memerah, wajah itu seakan begitu marah dengan sikap abai Aksara. Sehingga semua ancaman keluar begitu saja.


Namun, bukan menenangkan Alice, Aksara justru menghempaskan tangan Alice dari tangannya, dan menatap tajam pada Alice.


“Psycho,” balas Aksara dan berlalu begitu saja dari hadapan Alice.


***


Kini ….

__ADS_1


Alice dengan kemarahannya yang begitu sudah memuncak akhirnya berjalan mendekat ke arah Arsyilla. Wanita itu begitu marah, saat mendengar bahwa Aksara sudah memiliki istri. Itu berarti ada wanita lain yang mencoba merebut Aksara darinya.


Setidaknya itulah sudut pandang Alice. Wanita itu sedikit berlari, mengeluarkan sebilah pisau dari sling bag miliknya dan hendak menghunuskannya kepada Arsyilla.


“Stop Alice, stop! Ini sama sekali gak lucu Alice!” Aksara berlari dan berniat untuk menghentikan Alice yang menurutnya sudah termasuk dalam kategori psycho itu.


Alice berhenti, kemudian dia menatap tajam ke arah Aksara. “Sebagaimana ucapan gue dulu Aksa. Jika ada yang berusaha mendapatkan lo, jadi … gue akan ngehabisin dia,” ucap Alice.


Wanita cantik itu tersenyum menyeringai, dan justru terlihat layaknya pembunuh berdarah dingin sekarang ini. Sebatas melihat senyumannya saja sudah membuat begitu merinding.


“Alice, please … semua bisa diselesaikan dengan baik-baik,” balas Aksara.


Sungguh, jika Arsyilla yang harus berhadapan dengan wanita psycho ini, tentu Aksara tidak akan tega. Semua bisa saja terjadi. Batas kemarahan dan kegilaan yang dimiliki Alice begitu tipis.


Alice menghiraukan Aksara, dan kini wanita itu sudah berdiri di depan Arsyilla, dan mengangkat pisau itu tepat di depan wajah Arsyilla.


“Gue mau lihat seberapa besar nyali lo … hah, jadi ini wanita yang berhasil ngerebut Aksa dari gue!”


Alice tampak menatap wajah Arsyilla, wanita itu seakan mengamati Arsyilla dari ujung kaki hingga ujung kepalanya. Arsyilla hanya berdiri, walau begitu panik, tetapi Arsyilla berusaha keras untuk tenang. Sebab, jika dia panik yang ada Alice akan lebih mengintimidasinya.


“Lepasin Aksara buat gue!” pinta Alice kali ini.


Sementara Bunda Kanaya yang sudah menangis tampak berdiri di belakang Aksara, Ayah Bisma juga, pun sama halnya dengan Om Tono yang sudah berjaga. Sungguh was-was dengan apa saja yang bisa dilakukan Alice kepada Arsyilla.


“Selamanya, gue gak ada lepasin suami gue!” Arsyilla membalas.


Justru ucapan yang terdengar seperti genderang perang telah tabuh. Tidak akan melepaskan suaminya untuk wanita mana pun.


Alice mengusap wajahnya dengan kasar menggunakan satu tangannya, dan dia menoleh ke belakang melihat wajah orang-orang yang sudah begitu panik kepadanya.


“Lo lihat kan Aksara … nama lo di tangan gue masih ada sampai sekarang. Ini permanen Aksara … gak akan bisa hilang. Jadi, sekarang lo akan menanggung sendiri akibatnya, atas penolakan lo berkali-kali kepada gue,” ucap Alice lagi.


Tanpa diprediksi, Alice membalik badannya, tangannya bergerak, dan menghunuskan pisau itu ke bagian perut Alice.


“Syilla ….”

__ADS_1


Aksara, Bunda Kanaya, dan juga Ayah Bisma berteriak. Situasi yang begitu panik dan mencekam kala itu.


“Syilla ….”


__ADS_2