
Beberapa hari berlalu, kini Arsyilla kembali mempersiapkan dirinya untuk mengajar di kelas Aksara. Bisa dikatakan ini akan menjadi pertemuan terakhir dengan mahasiswa Semester 7 karena beberapa waktu lagi ujian semester akan dilangsungkan. Itu berarti, sudah enam bulan pula bagi Arsyilla untuk mengenal suaminya.
Rentang waktu yang bisa dikatakan masih baru, tetapi Arsyilla bersyukur semakin hari mengenal suaminya agaknya Aksara benar-benar pria yang baik dan begitu mencintainya. Akhirnya Arsyilla pun keluar dari ruangan dosennya dan menuju ke gedung B.
"Selamat siang semuanya," sapa Arsyilla kepada mahasiswa yang telah memenuhi ruangan kelas.
"Selamat siang Bu Arsyilla," balas para mahasiswa.
Arsyilla tampak mengisi laporan dosen terlebih dahulu dan mulai menyampaikan bahan ajar kepada mahasiswanya. Lantaran ini akan menjadi pertemuan terakhir, Arsyilla pun juga mengatakan kepada mahasiswanya untuk bersiap-siap menghadapi ujian semester.
"Jika benar, ini akan menjadi pertemuan terakhir kita … dan ujian semester sudah di depan mata," ucap Arsyilla.
"Di semester akhir, By Arsyilla mengajar lagi tidak Bu?" tanya Ryan, si ketua kelas.
"Saya kurang tahu nanti, saya hanya menerima mandat dan jadwal yang diberikan pihak kampus saja," balas Arsyilla.
Pada kenyataannya memanglah seperti itu. Sekalipun beberapa Dosen memilih spesialisasi di bidangnya sendiri-sendiri. Akan tetapi, tugas mengajar dan jadwal yang diberikan itu sepenuhnya menjadi otoritas kampus. Berbeda dengan Guru Besar yang sudah pasti akan mengampuni mata kuliah khusus. Sementara bagi Dosen yang lainnya, cukup menerima dan menjalankan mandat dari kampus saja.
"Yahhh, maunya sih ketemu sama Bu Arsyilla lagi di Semester terakhir," teriak beberapa mahasiswa.
Mendengar keluhan para mahasiswa, Arsyilla pun kemudian menganggukkan kepalanya, "Tenang yah ... kita lihat saja bagaimana Semester 8 nanti. Kalian sudah bisa mulai persiapan judul Skripsi dari sekarang. Berusaha untuk lulus dan diwisuda ya," nasihat Arsyilla untuk mahasiswanya.
"Membimbing skripsi enggak Bu?" tanya Mona kali ini.
"Iya, saya akan membimbing Skripsi, hanya saja tidak banyak," balas Arsyilla.
Sementara sedari tadi ada yang sepasang mata yang memperhatikan Arsyilla. Siapa lagi jika bukan suaminya yang juga adalah mahasiswanya yaitu Aksara. Pria itu sedari tadi memperhatikan Arsyilla, dan beberapa kali menyunggingkan senyuman kecil di sudut bibirnya.
Aksara lebih takjub rasanya melihat Arsyilla berdiri di depan kelas dan memberikan bahan ajar. Istrinya itu begitu mempesona di matanya. Terlihat sebagai Dosen yang profesional. Sementara jika sudah di apartemen, atribut dosennya bisa lepas begitu saja dan terkadang begitu manja dengannya.
__ADS_1
Setelah waktu 120 menit berlalu, Arsyilla pun membubarkan kelas dan memilih untuk membereskan mejanya. Akan tetapi, tiba-tiba Ryan mendatangi Arsyilla lagi.
"Bu Arsyilla, minta waktunya sebentar, kalau bimbingan skripsi itu mahasiswa boleh memilih dosen pembimbingnya sendiri tidak sih Bu?" tanya Ryan.
"Setahu saya tidak bisa. Biro kepala skripsi yang sudah mengaturnya. Kamu akan mengajukan judul skripsi yah?" tanya Arsyilla.
Ryan pun akhirnya menganggukkan kepalanya, "Iya Bu... saya ingin segera lulus dan mendapatkan pekerjaan, bisa membantu orang tua," jawabnya.
Mendengar jawaban Ryan, rasanya hati Arsyilla terketuk. Sebab, banyak juga para mahasiswa yang harus kerja part-time atau mengupayakan bisa lulus lebih cepat untuk bisa membantu orang tua dan keluarganya.
"Coba kamu tanyakan langsung saja kepada Biro Skripsi yah," jawab Arsyilla.
"Baik Bu Arsyilla, terima kasih," ucap Ryan.
Setelah itu, Arsyilla bersiap meninggalkan kelas. Rupanya Aksara pun membuntutinya dari belakang.
Arsyilla memilih sedikit cuek dan bergegas meninggalkan fakultas. Rasanya dia ingin segera tiba di unit apartemennya dan beristirahat.
"Iya Kak, tidak terasa yah ... aku sudah mengajar suamiku sendiri selama satu semester," balas Arsyilla sembari terkekeh.
"Aku malahan seneng diajar istriku ini. Rasanya aku benar-benar mengagumimu, Sayang. Kamu kalau mengenakan pakaian formal, berdiri di depan kelas, terus menjelaskan materi ajar itu vibesnya keren banget," puji Aksara kali ini kepada istrinya itu.
"Vibes apa sih Kak? Padahal ya aku biasa aja," balas Arsyilla.
Akan tetapi, Aksara dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Tidak bagiku. Kamu keren banget kalau mengajar. Aku aja yang lihat kamu berdiri di kelas dan menyampaikan materi ajar saja rasanya langsung jatuh cinta," jawab Aksara.
Mendengar perkataan suaminya, Arsyilla pun tertawa.
"Lebai, deh ... padahal ya biasa aja," balas Arsyilla.
__ADS_1
Sembari bercanda, tidak terasa mobil yang Aksara kemudikan sudah tiba di parkiran basemen apartemen Aksara. Tanpa aba-aba, Aksara segera mengambil tas laptop jinjing milik istrinya itu.
"Biar aku saja yang bawa," ucap Aksara.
"Makasih Kakak," balas Arsyilla sembari berjalan mengekori suaminya itu.
Begitu sudah memasuki unit apartemennya, Arsyilla memilih untuk memasuki kamarnya dan merebahkan dirinya terlebih dahulu di atas kamar tidur.
“Ya ampun … dapat tempat empuk, bersih, ditambah AC gini rasanya jadi pengen tidur,” ucap Arsyilla sembari mengusap-usapi permukaan tempat tidurnya yang lembut.
Tanpa ba bi bu, Aksara justru langsung menindih istrinya itu, melihat wajah sang istri yang berada di bawahnya.
“Yakin mau tidur?” tanya Aksara.
Dengan cepat, Arsyilla memukul dada suaminya itu, “Bobok sebentar boleh?” tanyanya.
Aksara justru mengedikkan matanya, “Gak pengen melakukan yang lain?” goda pria itu.
Ya Tuhan, berada di dalam posisi seperti ini. Dengan suaminya yang menindihnya, sudah pasti suaminya akan memiliki akses penuh kepadanya. Rasanya hati Arsyilla sudah berdebar-debar. Hingga akhirnya, Arsyilla melingkarkan tangannya melingkari pinggang suaminya itu.
“Yang lain nanti malam dong Kak,” balasnya. Itu lantaran Arsyilla cukup capek usai mengajar tiga mata kuliah sepanjang hari. Dirinya membutuhkan istirahat sejenak.
Aksara pun kemudian berguling di sisi Arsyilla, menelisipkan satu tangannya di bawah kepala Arsyilla. Membawa wanita itu untuk tidur dengannya dan memeluknya.
“Ya sudah … sekarang jam 16.30, boleh tidur sebentar. Habis itu mandi dan makan malam yah … nanti malam beneran mau?” tanya Aksara perlahan. Aksara memang bertanya hanya sekadar mendapatkan jawaban yang pasti dari istrinya. Lagipula, semuanya adalah kesepakatan bersama. Aksara tidak akan memaksakan kehendaknya kepada istrinya sendiri.
“Iya-iya, mau …,” balas Arsyilla. Agaknya Arsyilla sendiri tidak ingin berdebat dan langsung mengiyakan request dari suaminya itu.
Aksara lantas kian memeluk istrinya itu dan menarik selimut karena saat itu Arsyilla mengenakan bawahan rok supaya bagian kaki istrinya tidak terekspos, lebih baik menggunakan selimut.
__ADS_1
“Makasih Sayang … sekarang bobok dulu aja, aku peluk,” balas Aksara.
Hingga akhirnya, berada dalam pelukan Aksara, menghirupi aroma Sandal Wood yang begitu segar dan menenangkan dari pria itu, Arsyilla dengan cepatnya terlelap. Rasanya pelukan hangat Aksara, ditambah dengan parfum suaminya yang benar-benar menenangkan membuat Arsyilla kian masuk ke dalam alam mimpi.