Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Membagi Perasaan dan Kegundahan


__ADS_3

Begitu pesta ulang tahun telah selesai, dan semua keluarga sudah kembali ke rumah mereka. Aksara dan Arsyilla memilih untuk beristirahat di dalam kamar, sementara Ara sudah tertidur lelap. Mungkin karena kecapekan dan terlalu seru bermain dengan Eyang, Oma, Opa, dan Uncle, sekarang Ara tertidur dengan begitu lelapnya.


Bahkan kali ini, Arsyilla sudah menghentikan untuk memberikan ASI secara langsung untuk Ara. Kendati demikian ASIP yang masih disimpan di dalam kulkas, masih diberikan kepada Ara. Minimal menghabiskan stok ASI di dalam kulkas saja.


“Minum ASI-nya pakai dodot ya Honey?” tanya Aksara kepada istrinya.


Itu karena Ara yang terbiasa meminum ASI langsung dari sumbernya, milik sang Bunda, kini harus terbiasa meminum ASIP dari dodot. Sementara jika stok ASIP sudah habis, Ara juga harus berkenalan dengan susu formula.


“Kasihan sebenarnya Honey … tetapi bagaimana lagi. Tidak boleh memberikan ASI sembari hamil yah?” tanya Aksara kepada istrinya.


Tampak Arsyilla menggelengkan kepalanya, “Aku sih enggak tahu Kak … cuma kan aku belum ke Dokter, belum konsultasi, jadi yah … aku hentikan,” balas Arsyilla dengan mata yang berkaca-kaca.


Jujur, sebenarnya menghentikan pemberian ASI untuk Ara membuat Arsyilla sangat sedih. Di saat si Ara masih begitu butuh nutrisi dari ASI, tetapi karena Arsyilla hamil, maka memberikan ASI terpaksa dihentikan. Arsyilla mengambil langkah ini juga karena ibu hamil yang masih menyusui anaknya yang lebih benar bisa menimbulkan kontraksi ringan karena produksi hormon oksitosin saat menyusui yang umumnya membahayakan janin dan memungkinkan bayi lahir prematur. Selain itu ASI bisa berubah menjadi kolostrum yang lebih asin dan kurang manis, sehingga bisa saja membuat anak enggan menyusu. Selain itu, secara fisik Ibu hamil juga menjadi lebih mudah lelah dan mengantuk. Untuk mengurangi serangkaian risiko tersebut, Arsyilla memilih untuk menghentikan paksa kegiatan bounding dengan Ara melalui memberikan ASI secara langsung itu.


Aksara yang mendengarkan ucapan istrinya itu menganggukkan kepalanya, “Jadi berisiko ya Honey?” tanyanya.


“Menurutku sih berisiko, Kak … hanya saja aku enggak tahu. Terkadang ada Dokter yang memberi advice bisa lanjut memberikan ASI tentunya jika kondisi Ibu hamilnya sehat, baik, dan prima. Sedihnya kayak gini loh, harus melepaskan ASI secara paksa,” balas Arsyilla.

__ADS_1


Mendengar ucapan istrinya, Aksara pun segera merangkul bahu istrinya itu dan memeluknya. Sebab, Aksara sepenuhnya tahu bahwa Arsyilla membutuhkan tempat bersandar. Banyak pikiran yang memenuhi otaknya sekarang ini. Hanya saja, untuk mengurainya memang tidak mudah.


“Maaf ya Honey … gara-gara enggak bisa menahan waktu itu,” ucap Aksara.


“Gak usah minta maaf, Kak … semuanya sudah terjadi. Hanya bisa menjalani,” balas Arsyilla.


Sepenuhnya Arsyilla berpikir bahwa semuanya sudah terjadi. Nasi sudah menjadi bubur, dan dirinya juga terlanjur sudah hamil. Jadi, ya sudah … hanya bisa menjalani. Menjaga kehamilan dengan sebaik mungkin dan sembari mengasuh Ara dengan baik.


“Ya, bagaimana pun ini juga karena aku yang enggak bisa menahan hasratku. Maaf, cuma aku janji … kita akan menjalani semuanya bersama-sama. Aku akan selalu menjadi support system untuk kamu,” balas Aksara dengan tulus.


Kini, keduanya sama-sama diam. Menimbang-nimbang dalam hati perasaan masing-masing. Hanya saja, sepenuhnya Arsyilla percaya bahwa suaminya itu akan selalu membantunya. Menjadi support system yang utama untuknya.


“Minggu depan saja palingan, Kak … hamil kedua rasanya lebih santai sih. Hanya saja, aku kepikirannya ke Ara. Dia belum sepenuhnya tahu adik itu apa. Dia berbicara saja belum bisa. Cuma sebatas apa, yayah, nda, ini, dan belum banyak kosa kata yang dia kuasai,” balas Arsyilla.


Kegundahan hati seorang Ibu, saat si Sulung masih terlalu kecil, sementara si Ibu sudah harus kembali mengandung. Masih merasa bahwa si Sulung membutuhkan pengasuhan dan pengajaran dari sang Ibu, tetapi dengan hamil tentu seorang Ibu harus membagi-bagi perhatian dan kasih sayangnya. Si bayi walau masih berada di dalam perut, tetapi juga membutuhkan perhatian dan juga kasih sayang.


“Sabar Honey … nanti kita asuh pelan-pelan. Aku akan selalu bantuin kamu kok. Ara pasti akan tumbuh dengan optimal. Semua milestonenya akan tercapai,” balas Aksara.

__ADS_1


“Semoga saja Kak,” balas Arsyilla.


Setelahnya, Arsyilla merasa sedikit pening. Sehingga dia ingin menuju ke tempat tidurnya. Membutuhkan waktu untuk rebahan.


“Ke tempat tidur yuk Kak … aku agak pening deh,” keluhnya saat ini.


Salah satu gejala kehamilan memang merasa pening. Bisa terjadi karena Ibu hamil yang kurang darah. Oleh karena itu, Arsyilla ingin rebahan terlebih dahulu. Walau belum mengantuk, tetapi jika terus duduk, kepalanya kian sakit, dan pandangan matanya berputar-putar.


“Yuk,” jawab Aksara. Pria itu berdiri dan menggandeng tangan istrinya menaiki ranjangnya. Bahkan Aksara menarik selimut untuk menyelimuti bagian dada hingga kaki istrinya itu. Sungguh, Aksara adalah suami yang baik dan begitu pengertian. Apa pun yang bisa dia lakukan akan dia lakukan untuk Arsyilla.


“Kalau mau bobok, ya bobok saja Honeyku … kan kamu juga butuh istirahat dan tidur yang cukup,” ucap Aksara.


“Aku sih belum mengantuk Kak … cuma pusing banget. Aneh deh, udah beberapa hari aku mendadak pening kayak gini. Padahal dulu, hamil Ara aku sehat banget, gak ada keluhan sama sekali. Justru kamu kan yang kena Couvade Syndrom,” balas Arsyilla.


Aksara pun tersenyum, “Iya … aku yang morning sickness. Kalau sekarang mau begitu enggak apa-apa. Penting kamu dan Dedek Bayi di sini sehat, aku yang kena kehamilan simpatik lagi tidak masalah,” balasnya.


Itu bukan hanya bualan belaka, tetapi Aksara rela mengalami morning sickness setiap paginya asalkan Arsyilla bisa tetap sehat. Sebab, kesehatan istrinya begitu penting baginya.

__ADS_1


“Tuh, Dedek Bayi … dengerin Ayah tuh. Bunda sehat-sehat saja, yang morning sickness Ayah saja yah,” ucap Arsyilla dengan mengusapi perutnya.


Sedikit obrolan dan membagi pikiran dan isi hati seperti ini sangat baik untuk menjaga keharmonisan dan komunikasi antar pasangan. Waktu di sela-sela bekerja dan mengasuh anak setiap hari dapat dimanfaatkan untuk mengobrol, saling bercanda, memberikan bentuk kasih sayang melalui ucapan. Sama halnya Arsyilla yang semula gundah dengan kehamilannya dan juga dengan Ara yang lepas ASI. Akan tetapi, dengan berbagi cerita pada suaminya, agaknya Arsyilla tahu bahwa di rumah tangga ini dia tidak sendiri. Dia menikah dan memiliki suami yang selalu ada buatnya. Untuk semua itu, Arsyilla pun yakin bisa menjalani kehamilan kedua dan sekaligus mengasuh Ara dengan baik.


__ADS_2