Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Di Ujung Kekhawatiran


__ADS_3

Memesan sebuah taksi online yang akan mengantarkannya ke sebuah pusat perbelanjaan di Ibukota. Wanita itu terlihat begitu bersemangat kali ini. Memastikan dompet di dalam tasnya, dan juga handphonenya, Arsyilla dengan tenang menaiki taksi itu dan menginstruksikan kepada driver untuk mengantarkannya ke tujuannya.


“Ke PI ya Pak,” instruksi Arsyilla kali ini.


“Baik Bu,” sahut driver tersebut.


Ibukota yang begitu panas terik dengan matahari yang terang benderang dengan debu halus yang membuat polusi di Ibukota kian menjadi-jadi tidak menyurutkan langkah Arsyilla untuk mencari kado spesial untuk suaminya.


Hampir 20 menit berkendara, kini Arsyilla telah tiba di sebuah Mall mewah di pusat Ibukota itu. Arsyilla segera membayar taksi tersebut, dan segera memasuki Mall itu dengan tenang. Tidak lupa, Arsyilla mengirimkan lokasinya sekarang ini kepada Aksara. Tentu supaya suaminya tidak khawatir. Sebab, sesungguhnya Aksara tidak akan membiarkan istrinya itu bepergian sendiri tanpa dirinya.


Kejadian pahit di masa lalu, di mana Arsyilla pernah menjadi korban penculikan mantan pacarnya sendiri yaitu Ravendra. Untuk itu, Aksara harus berhati-hati dan memastikan bahwa istrinya itu akan selalu dalam keadaan aman.


Mulailah Arsyilla menilik ke sebuah store yang menjual arloji untuk pria. Pikirnya, dia akan membelikan arloji untuk suaminya itu. Arloji yang melingkar di pergelangan tangan begitu dekat dengan nadi. Arsyilla ingin bahwa dalam setiap detak nadi suaminya itu, Aksara akan selalu mengingatnya. Tiap kali melihat arloji yang terpasang di pergelangan tangannya, Arsyilla ingin seolah-olah suaminya itu tengah menatap.


Terasa berlebihan mungkin, tetapi kenapa Arsyilla sedang begitu dalam memikirkan sebuah makna dari hadiah yang ingin dia belikan untuk suaminya itu.


“Arloji untuk pria keluaran terbaru dong Kak,” ucap Arsyilla kepada seorang penjual di store arloji dengan logo mahkota.


Penjual pun mengeluarkan beberapa arloji keluaran terbaru kepada Arsyilla. “Ini Kak … ada beberapa mode terbaru. Hanya saja, yang paling laris dan diminati yang berwarna hitam ini,” jelas penjual tersebut.


Arsyilla menganggukkan kepalanya, dan mengamati satu per satu arloji yang ada di hadapannya itu. Sejenak Arsyilla membayangkan, style suaminya dan berharap dia bisa memilih arloji yang sesuai dengan karakter suaminya itu.


“Buat hadiah ya Kak? Buat pacarnya?” tanya penjual itu lagi.


Arsyilla pun mengulas senyuman di wajahnya, kemudian mengangguk samar, “Untuk suami kok,” balasnya dengan tersenyum.


Beberapa saat memilih dan bertanya-tanya tentang beberapa mode arloji, akhirnya Arsyilla menjatuhkan pilihannya ke sebuah arloji berwarna hitam yang memiliki kemampuan dial yang cepat. Hanya perlu satu detik di setiap rotasinya. Pekerjaan Aksara sebagai seorang Arsitek juga menjadi salah satu pertimbangan Arsyilla memilih jam tersebut.


“Aku ambil yang ini saja, Kak,” ucap Arsyilla. “Tolong dibungkus sekalian bisa enggak?” tanya Arsyilla kepada penjual di store itu.


“Oke Kak, bisa,” balas sang penjual.

__ADS_1


Menunggu beberapa saat, kado yang dicari untuk suaminya pun telah siap. Tinggal menunggu waktu untuk menyerahkan kado tersebut kepada suaminya. Untuk kado kali ini, Arsyilla juga menggelontorkan uang dari ATMnya sendiri. Uang yang didapat dari hasil mengajarnya, sehingga tidak mengurangi uang bulanan yang selalu diberikan Aksara kepadanya.


Memastikan apa yang dia cari sudah didapatkan, Arsyilla lantas memilih untuk mencari makan terlebih dahulu. Perutnya terasa sangat lapar sekarang ini. Pikirnya setelah makan, barulah dia akan menghubungi Aksara dan meminta suaminya itu untuk menjemputnya.


Menuju tempat makan, Arsyilla dikagetkan dengan sesosok wanita yang sudah lama memperhatikannya dan menatapnya dengan begitu tajam.


“Hei, ketemu lagi di sini,” sapa wanita itu.


Merasa suara seolah menghentikan langkah kakinya, Arsyilla pun berbalik dan menatap ke sosok wanita cantik yang berdiri tidak jauh di belakangnya.


“Tiara?” sapa Arsyilla.


Ya, wanita itu adalah Tiara, adik kelas Aksara yang pernah ditemuinya saat dirinya menikmati liburan bulan madu bersama Aksara ke Lombok dulu. Tidak mengira bahwa kali ini Arsyilla akan kembali bertemu dengan Tiara.


“Iya, ini aku,” balasnya dengan senyuman yang menyeringai. “Tumben sendirian, di mana Kak Aksara?” tanya Tiara.


“Kerja,” sahut Arsyilla dengan singkat.


“Tumben … mungkin suamimu sudah bosen sama kamu. Jadi tidak dianterin,” balas Tiara.


Tidak marah, nyatanya Arsyilla justru tersenyum tipis, “Tidak apa-apa. Aku bisa menerima apa pun tentang Kak Aksara,” balasnya dengan yakin.


Setelahnya, Arsyilla memilih segera pergi. Sebab, tidak ada gunanya menanggapi pembicaraan Tiara. Orang yang tidak suka, akan terus berperilaku seperti itu. Mengurungkan niatnya untuk makan, Arsyilla memilih keluar dari pusat perbelanjaan tersebut dan memilih memesan taksi yang akan mengantarkannya ke apartemen.


Namun, baru saja Arsyilla tiba di pintu keluar, sebuah mobil hitam datang dan sengaja hendak menyenggol Arsyilla yang berada di depan lobby di pintu keluar itu. Kaget, Arsyilla pun nyaris kehilangan keseimbangan. Rupanya, ada seorang pria yang keluar dari mobil itu, dan membawa paksa Arsyilla untuk masuk ke dalam mobil itu.


“Kamu siapa? Lepas!” teriak Arsyilla kini.


Akan tetapi, tidak ada balasan dari pria yang saat itu mengenakan kemeja batik dan mengenakan masker berwarna hitam di wajahnya. Hanya matanya saja yang terlihat.


“Lepas!” teriak Arsyilla lagi.

__ADS_1


Pria itu masih diam dan tidak menghiraukan rontaan dari Arsyilla, hingga akhirnya pria itu mengeluarkan sebuah sapu tangan dari saku celananya, dan membungkam mulut Arsyilla. Hanya beberapa detik, pandangan Arsyilla mulai kabur. Di ambang batas mata yang masih terbuka, ada rintihan yang diucapkan Arsyilla.


“Lepas! Lepasin!” kali ini Arsyilla bersuara dengan suara rintihan yang terdengar begitu lemas.


Menyadari tidak ada perlawanan dari Arsyilla, pria itu segera melajukan mobilnya dan membawa Arsyilla yang dalam kondisi tidak sadarkan diri dalam mobil berwarna hitam itu.


***


Sementara itu di Jaya Corp …


Aksara cukup panik karena beberapa kali dia mengirimkan pesan kepada istrinya, tetapi pesan itu tidak dibaca. Sudah hampir 20 menit berlalu, tetapi satu pesan pun tidak dibaca oleh Arsyilla. Padahal biasanya, begitu ada pesan darinya, Arsyilla segera membuka dan membacanya.


[To: Honey]


[Honey, kamu sudah selesai?]


[Mau aku jemput jam berapa?]


[Inget, jangan lama-lama … hati-hati.]


[Honey,]


[Pesannya kok enggak di-read sih?]


[Kamu baik-baik saja kan?]


[Aku ke lokasi kamu sekarang yah.]


Beberapa pesan itu terkirim, tetapi tidak ada yang terbaca sama sekali. Perasaan buruk sontak menghinggapi Aksara begitu saja. Dengan cepat Aksara membuka aplikasi pendeteksi posisi melalui GPS dan mencari keberadaan istrinya itu. Syukurlah, handphone istri masih hidup dan menyala, sehingga bisa terdeteksi dengan aplikasi milik Aksara.


Tanpa berpikir panjang, Aksara segera berlari dari Jaya Corp, mengambil mobilnya dan mengikuti posisi di mana istrinya itu berada.

__ADS_1


“Syilla, kamu di mana? Tunggu aku, Syilla,” ucap Aksara sembari beberapa kali memukul stir kemudinya itu.


__ADS_2