
Tekanan pada perineum, usus, dan kandung kemih seolah *******-***** area perut Arsyilla. Tak jarang rasa sakit itu seperti remasan, pegal, hingga kram di area perut, pangkal paha, hingga pinggang. Rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuh dan dalam waktu sepersekian detik Arsyilla terisak dalam tangisannya.
"Kalau ada apa-apa, aku minta maaf ya Kak," ucap Arsyilla ketika gelombang kontraksi kembali menghantamnya.
Dengan cepat, Aksara menggelengkan kepalanya, "Jangan bicara yang aneh-aneh, Honey ... tidak akan terjadi apa-apa. Kita akan selalu bersama. Maaf, sebentar ya Honey ... aku perlu menghubungi Bunda dan Ayah dulu. Aku harus memberitahu supaya mereka turut mendoakan," ucap Aksara.
Dengan masih menggenggam tangan Arsyilla, Aksara pun mengambil handphonenya dan mulai menghubungi nomor kontak Bunda Kanaya.
"Halo, Bunda," salam dari Aksara begitu panggilan teleponnya sudah terjawab.
"Ya, halo ... kenapa Aksara? Tadi aku pulang cepat dari kantor juga ya?" tanya Bunda Kanaya.
"Iya Bunda ... maaf, karena ada hal yang penting," balasnya.
Telepon itu kemudian hening untuk sekian detik lamanya, dan kemudian Aksara pun kembali berbicara.
"Bunda, ini Aksara mau memberitahu kalau Arsyilla di Rumah Sakit. Sudah waktunya untuk bersalin. Jadi, mohon doanya ya Bunda, semoga Syilla bisa melahirkan dengan selamat dan lancar," ucap Aksara.
Mendengar bahwa Arsyilla sudah berada di Rumah Sakit dan sudah waktunya untuk persalinan, Bunda Kanaya pun menghela nafas. Merasa lega, karena kali ini putranya itu memberitahukan bahwa Arsyilla hendak bersalin. Putranya itu ingin untuk sekadar memberitahu kepada orang tuanya.
"Di Rumah Sakit mana?" tanya Bunda Kanaya lagi.
"Sama seperti dulu, di Rumah Sakit tempat Ayah bekerja," balas Aksara.
"Baiklah ... Bunda akan selalu mendoakan untuk Syilla. Semoga sehat, lancar, dan selamat. Nanti biar Ayah dan Rangga bisa menemui kamu sebentar. Yang sabar dan kuat ya Aksara. Selalu hubungi Bunda," balas Bunda Kanaya.
"Aksara, lalu ... Ara di mana sekarang?" tanya Bunda Kanaya lagi.
"Oh, Ara sama Eyangnya, Bunda ... Mama Khaira berada di rumah. Kalau Ara sudah ikut Eyangnya, kami bisa fokus ke persalinan, Bunda," ucapnya.
"Benar ... hati-hati ya Aksara. Yang sabar dan kuat. Selalu dampingi Arsyilla," balas Bunda Kanaya.
Usai menerima telepon, Bunda Kanaya memberitahukan kepada Ayah Bisma yang bekerja di Rumah Sakit itu bahwa Arsyilla sudah waktunya untuk bersalin. Juga dengan Airlangga yang menjadi Koas di Rumah Sakit itu, setidaknya Ayah Bisma dan Airlangga bisa menjenguk Arsyilla terlebih dahulu.
Benar, hanya berselang sepuluh menit, Ayah Bisma dan Airlangga datang ke tempat Arsyilla dirawat dan menunggu pembukaannya bertambah.
__ADS_1
"Gimana Aksara?" tanya Ayah Bisma.
"Tadi sudah pembukaan empat Ayah, cuma kelihatannya masih terus-menerus kontraksi. Aksara enggak kuat sebenarnya," akunya kali dengan jujur kepada Ayahnya.
Ya, Aksara sebenarnya tidak kuat melihat istrinya yang kesakitan. Tangan Aksara pun memerah karena beberapa kali diremas oleh Arsyilla tiap kali badai kontraksi itu datang.
"Yang sabar ... terlebih kamu sudah pernah punya pengalaman saat kelahiran Ara dulu. Jadi, pasti bisa," ucap Ayah Bisma.
"Benar Mas ... pasti bisa. Semangat ya Mas! Aku malam ini juga piket malam kok Mas, nanti aku temanin," balas Airlangga.
Dengan cepat Aksara menggelengkan kepalanya, "Gak usah. Kamu bekerja saja. Berikan pelayanan yang terbaik untuk pasien yang membutuhkan. Aku akan selalu mendampingi Syilla," balas Aksara dengan yakin.
Rangga pun tersenyum, di matanya Kakaknya adalah pria hebat dan selalu sepenuh hati untuk wanita yang dicintainya. Rangga pun pantas untuk mencontoh Kakaknya itu.
"Baiklah Mas ... jika membutuhkan sesuatu, kabarin aku saja," balas Rangga lagi.
Setelah berbicara beberapa saat dengan Ayah Bisma dan Airlangga. Aksara berpamitan untuk masuk ke dalam kamar Arsyilla lagi. Sebab, istrinya sedang membutuhkannya sekarang ini. Pria itu kembali masuk dan tersenyum melihat istrinya.
"Aku tidak lama kan?" tanya Aksara.
Beberapa kali Arsyilla mendesis dan air mata yang terus berlinangan dari matanya.
"Tahan dulu, Honey ... aku panggilkan perawat dulu. Sabar ya ... sebentar," jawab Aksara. Pria itu memencet tombol yang berada di atas brankar istrinya.
Tidak menunggu lama, perawat pun datang dan memeriksa kandungan Arsyilla.
"Bagaimana Pak?" tanya perawat tersebut kepada Aksara.
"Perut Istri saya semakin kencang, mungkin saja sudah waktunya melahirkan," sahut Aksara dengan wajah yang begitu cemas.
Kali ini, lagi-lagi perawat meminta Arsyilla untuk membuka pahanya dan kembali melakukan cek dalam. "Tahan napas ya Bu Arsyilla ... saya akan lakukan cek dalam lagi. Ya, pembukaan sudah lengkap. Sudah pembukaan sepuluh, dan waktunya melahirkan. Kami panggilkan Dokter Rinta dulu," ucap perawat tersebut.
Sembari menunggu Dokter Rinta yang datang Arsyilla masih merintih kesakitan. Wajahnya benar-benar memerah dan matanya begitu sembab, bahkan rambutnya yang panjang pun menjadi tidak rapi karena bergerak-gerak di atas bantal. Dokter Indri sudah bersiap dan perawat yang membawa berbagai peralatan persalinan.
"Pembukaannya sudah lengkap pembukaannya Bu ... ini bahkan kepala bayinya sudah kelihatan. Dengarkan instruksi saya ya Bu ... begitu perut terasa kencang dan ada rasa ingin mengejan, langsung ambil napas dalam-dalam dan keluarkan ya Bu. Seperti waktu melahirkan Aurora dulu. Kalau perut belum terasa kencang, jangan mengejan karena bisa merobek jalan lahir," penjelasan dari Dokter Rinta.
__ADS_1
Saat perutnya terasa kencang, Arsyilla langsung mempersiapkan diri dan memegang erat lengan suaminya. Aksara pun juga mempersiapkan diri dan hatinya, menemani proses demi proses untuk menyambut putri keduanya. Aksara berusaha kuat dan sabar dalam mendampingi istrinya, padahal jauh di dalam kedalaman hatinya Aksara tidak kuat dan tidak tega melihat istrinya yang kesakitan.
Pada ejanan pertama, rupanya si baby masih belum keluar. Padahal semua daya bercampur dengan tangisan dan isakan sudah melebur menjadi satu menemani Arsyilla mengejan, mengambil nafas hingga terdengar pekikan di telinga Aksara.
"Ayo Honey ... ambil nafas lagi. Kalau mengejannya kuat, babynya juga akan segera keluar. Yuk, semangat, Honey!"
Terus-menerus Aksara selalu menyemangati istrinya yang kepayahan itu. Aksara membakar semangat istrinya untuk tidak menyerah.
"Benar Bu Arsyilla, sedikit lagi ... yuk, Bu Arsyilla pasti bisa. Ambil nafas kuat-kuat ya Bu, dan dorong di sekitar panggul. Satu dorongan lagi dedek bayi akan keluar," giliran Dokter Rinta yang memberikan instruksi dan semangat kepada Arsyilla.
"Saaa ... sakit Kak ... sakit banget," rintihnya kali ini.
"Kamu bisa Honey ... kan sudah pernah mengalami dulu, jadi sekarang pasti bisa. Yuk, Honey ... aku temani. Kita sambut Princess kita bersama-sama," balas Aksara.
Kali ini perut Arsyilla kian kencang rasanya gelombang kontraksi lagi-lagi datang dan kali ini Arsyilla berusaha bertahan. Mengambil napas dalam-dalam, mengejan sekuat tenaga, dan mendorong tubuhnya ke depan untuk melahirkan buah hatinya. Beberapa ejanan kemudian, hingga akhirnya …
"Ayah!!!" teriakannya kali ini menyudahi perjuangannya.
Disertai suara tangisan suara bayi yang menggema di ruangan itu. Aksara pun menitikkan air matanya, kali ini istrinya kembali bisa menyelesaikan tugas mulianya.
"Baby kita Honey ... our princess," ucapnya.
Arsyilla pun tergugu gilu, rasa sakit seolah lenyap begitu saja kala mendengar tangisan bayinya. Perjuangan yang sangat berat, sakit yang membuat sekujur tubuhnya sangat sakit. Namun, tangisan bayinya seolah memberikan angin segar.
"Kamu hebat Honey ... kamu hebat! Terima kasih banyak Honey, I Love U," balas Aksara dengan melabuhkan kecupan di kening istrinya.
***
Dear All,
Bab kali ini adalah bab-bab terakhir menjelang tamat. Ya, cerita Aksara dan Arsyilla akan tamat hari ini juga. Kalian ingin ceritanya Ravendra keluar hari ini juga atau besok? Yang ingin sekarang, silakan komentar ya. Jangan lupa langsung serbu!
Love U So Much,
Kirana💜
__ADS_1