
Setibanya di apartemen, rupanya Aksara memilih segera mandi. Menyegarkan pikirannya dan hatinya cukup dongkol karena Pak Bagas. Bisa-bisa hampir selama setengah jam, tidak ada hal lain yang dibahas oleh pria itu kecuali Arsyilla. Rasanya mengguyur kepalanya dengan air jernih cukup mendinginkan kepalanya yang benar-benar mendidih.
Arsyilla pun cukup pengertian. Setibanya di apartemen, dia segera menyeduh Teh dan saat suaminya keluar dari kamarnya, Arsyilla segera memberikan secangkir Teh hangat untuk suaminya itu.
“Minum dulu Tehnya Kak,” balas Arsyilla.
“Makasih Honey,” jawabnya sembari mencecap Teh hangat beraroma melati itu. Aksara bahkan menghirup aroma melati dari teh yang harumnya menguar itu. Seolah aroma melati dan sajian teh hangat bisa membuatnya sedikit rileks.
Dalam diam, Aksara tersenyum karena istrinya sangat perhatian padanya. Perhatian bukan hanya dari ucapan, tetapi juga dari perbuatan. Secangkir teh yang dibuatkan istrinya bisa menenangkan dirinya.
Setelahnya, Aksara menaruh cangkir itu di atas meja, tangannya bergerak dan merangkul bahu istrinya.
“Aku sebel,” keluh Aksara dengan tiba-tiba.
Arsyilla pun perlahan menatap wajah suaminya itu, “Kenapa Kak? Pasti karena Pak Bagas yah?” tanya Arsyilla.
Tentu Arsyilla sudah memprediksi sebelumnya, karena suaminya itu usai bimbingan skripsi dengan Pak Bagas. Jadi, Arsyilla yakin penyebab suaminya mengeluh saat ini tidak lain dan tidak bukan adalah Pak Bagas.
“Iya … bisa-bisanya bimbingan Skripsi justru yang dibahas itu kamu. Suami mana yang tidak dongkol, istrinya dibicarakan oleh pria lain. Rasanya pengen aku geprek tuh orang, ” aku Aksara dengan jujur.
Arsyilla lantas menggenggam tangan suaminya itu, “Gak perlu didengarkan. Tidak semua omongan orang itu harus kita dengarkan. Jadi, biarkan saja,” ucap Arsyilla.
“Aku cemburu tahu,” keluh Aksara lagi kali ini.
“Iya Kak, cuma kan aku sepenuhnya milikmu. Aku gak pernah main-main di luar sana. Interaksiku dengan sesama Dosen juga sewajarnya. Jadi, tenang saja. Kamu mengenalku kan dan aku bukan cewek yang suka main-main. Aku cinta sama kamu, jadi aku akan selalu menjaga hatimu di mana pun aku berada,” balas Arsyilla.
Aksara pun mengangguk, “Iya … cuma wajar kan Sayang … kalau aku cemburu,” ucapnya lagi.
__ADS_1
Arsyilla tersenyum, cemburu adalah tanda cinta, jadi tentu saja Arsyilla justru merasa senang saat suaminya itu mengatakan tengah cemburu kepadanya. Itu berarti kan suaminya mencintainya. Lagipula kan suaminya juga mengeluh saat tengah berdua saja dengannya, di kampus pun Aksara bisa menahan emosi. Arsyilla dalam hati tersenyum karena suaminya sudah dewasa, bisa membawa diri, dan juga mengelola emosinya.
“Tadi gimana Bab 1 aman?” tanya Arsyilla lagi.
“Iya, aman … sudah langsung disuruh lanjut Bab 2 kok. Landasan Teori dari buku-buku itu kan? Kelihatannya mulai Bab 2 agak susah ya Honey?” tanyanya kali ini.
“Iya, buku-buku yang mendukung variabel penelitian kamu. Kalau dikerjakan enggak susah kok, Kak ... percaya kepadaku bahwa kamu bisa mengerjakannya. Aku ada banyak buku tentang ekologis dan arsitektur, tetapi ada di rumah Mama sih. Dulu Skripsiku kan aku ambil tentang konsep ekologis juga,” balas Arsyilla.
“Wah, kita serasi dong Sayang … Skripsi saja yang dibahas sama. Cuma aku malas deh kalau bimbingan sama Pak Bagas,” balas Aksara lagi.
“Sabar Kak … kan aku udah bilang, semua pilihan ada konsekuensinya. Jadi ya dijalani aja, semoga bisa bertahan sampai wisuda nanti,” jelasnya.
Arsyilla lantas mengusapi rambut suaminya yang setengah basah itu, memberikan sentuhan yang begitu lembut. Bahkan Arsyilla beberapa kali memijit perlahan kepala suaminya layaknya tengah melakukan creambath, biar suaminya tidak lagi pusing.
“Kamu pijitin gini, enak banget Honey,” ucap Aksara.
Sehingga kini tangan Arsyilla seolah melakukan creambath di kepala suaminya, tangannya turun memijat di area tengkuk dan bahunya perlahan. Aksara hanya duduk dan memejamkan matanya, tidak mengira bahwa istrinya itu piawai juga untuk memijatnya.
“Gimana Kak, sudah enakan?” tanya Arsyilla.
“Enak Sayang … sama kamu apa aja enak,” balasnya.
Aksara lantas berpikir jika bisa mengerjakan Bab 2 dengan lebih cepat, maka dia bisa segera berkonsultasi untuk Bab 2. Lebih cepat dan lebih baik. Sehingga Aksara terpikirkan ide.
“Sayang, ke rumah Mama yuk?” ajaknya dengan tiba-tiba.
Arsyilla tampak mengernyitkan keningnya mendengar ajakan dari suaminya itu. “Mau ngapain Kak? Sudah agak malam nih. Yakin?” tanyanya.
__ADS_1
“Iya … mau pinjem buku-buku milikmu, Sayang … biar besok aku bisa segera mengerjakan Bab 2,” balas Aksara.
Arsyilla pun tertawa, “Kamu semangat 45 banget sih Kak, tapi aku suka lihat kamu yang semangat kayak gini. Enggak besok saja Kak? Ini sudah malam banget,” jawab Arsyilla.
Aksara melihat jam di handphonenya, memang sudah malam, “Iya … sudah malam, ya sudah. Besok kita ke rumah Mama ya. Aku pinjem semuanya boleh kan?” tanyanya.
“Iya, boleh kok. Kamu kalau mau lihat skripsiku dulu juga boleh. Dilihat saja, tidak boleh mencontek yah,” ucap Arsyilla.
Aksara pun lantas tertawa, “Enggak mencontek sih, cuma Amati, Tiru, dan Modifikasi saja,” balasnya.
Arsyilla pun segera memukul lengan suaminya itu, “Ishhs, nyebelin banget sih. Itu sama saja mencontek,” balas Arsyilla.
Aksara lantas berdiri, mengulurkan tangannya ke arah istrinya, “Yuk ke kamar yuk … sudah malam banget sekarang, istirahat,” ajaknya kali ini kepada istrinya.
Arsyilla kemudian mengulurkan tangannya, menaruh tangannya di atas tangan suaminya, “Yuk, aku juga sudah capek sih,” jawabnya.
Keduanya lantas berjalan dan memasuki kamar dengan bergandengan tangan. Arsyilla memilih mencuci wajahnya terlebih dahulu, setelahnya barulah dia menaiki tempat tidur, merebahkan diri di sisi suaminya itu.
“Kak, kamu boleh mengeluh terkait perasaanmu kepada Pak Bagas. Hanya saja kamu perlu percayai dan ketahui bahwa hati dan seluruh hidupku cuma buat kamu. Terima kasih sudah selalu mencintaiku sebesar ini,” ucap Arsyilla pada akhirnya.
Aksara pun menganggukkan kepalanya, “Kesannya aku jealous banget ya Sayang … posesif gitu yah? Cuma kan ya dongkol saja sama Pak Bagas yang berkali-kali malahan membahas kamu, udah gitu muji-muji kalau kamu cantik. Rasanya mendidih deh hatiku,” balasnya.
“Sabar ya Kak … aku gak bisa bilang yang lainnya. Aku cuma minta kamu sabar dan terus berjuang. Cepet selesai skripsinya lebih baik kan?” tanya Arsyilla.
“Iya, biar seluruh fakultas Teknik Arsitektur tahu bahwa Arsyilla cuma milik Aksara. Cuma aku yang memiliki Dosen cantik ini,” balas Aksara.
Arsyilla lantas menaruhkan kepalanya di atas dada suaminya, dengan tangan yang melingkari pinggang suaminya itu. Posisi ternyamannya setiap kali tidur bersama suaminya. Wanita pun tersenyum merasakan bahwa Aksara benar-benar mencintainya. Dibalik semua keluhan yang dia berikan, Arsyilla sangat yakin bahwa Aksara benar-benar mencintainya.
__ADS_1