Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Menemukan Kesadaran


__ADS_3

Aksara masih tertunduk lesu. Tangannya masih setia menggenggam tangan Arsyilla yang tidak terpasang selang infus. Ada rasa tenang yang melingkupi hatinya karena Arsyilla kini sudah berada di depan matanya. Kendati demikian, ada kepedihan yang menyeruak di dalam hati melihat Arsyilla yang tak sadarkan dengan lebam di beberapa bagian tubuhnya.


Juga teringat ucapan Dokter bahwa saat ini Arsyilla tengah hamil, rasanya dada Aksara kian bergemuruh mengingat fakta bahwa saat ini istrinya itu tengah berbadan dua. Sungguh, Aksara akan kian merasa bersalah jika terjadi sesuatu dengan bakal janin dari istrinya itu.


Kamar rawat inap itu terasa begitu hening, hanya suara mesin AC yang terdengar dan tentu helaan nafas dari keduanya. Sementara Arsyilla entah kapan akan mulai sadarkan diri. Hari sudah tengah malam, tetapi seakan belum ada tanda-tanda bahwa Arsyilla akan sadar.


Menunggu cukup lama, Aksara akhirnya tertidur. Pria itu tertidur dengan kepala yang bersandar di tangan Arsyilla. Pikirnya jika Arsyilla tersadar dan tangannya bergerak, maka Aksara bisa segera terbangun.


Baru beberapa jam tertidur, rupanya Aksara merasakan pergerakan tangan Arsyilla secara samar. Ada lenguhan dari wanita itu.


“Hhh,” disertai helaan nafas yang terasa begitu berat.


Sontak saja Aksara pun terbangun. Pria itu lantas mengerjap, dan menatap Arsyilla yang mulai membuka matanya perlahan.


“Honey, kamu sudah sadar Honey?” tanya Aksara dengan gugup dan panik tentunya.


Perlahan Arsyilla menganggukkan kepalanya dengan lemah, “Kakak,” ucapnya memanggil nama suaminya itu.


Tanpa disangka air mata berlinangan begitu saja membasahi wajah Arsyilla. Bukan karena kesedihan, tetapi bisa kembali melihat suaminya membuat Arsyilla terharu. Nyaris saja dirinya tidak lagi memiliki kesempatan untuk melihat suaminya, tetapi rupanya Tuhan masih berbaik hati kepadanya dan membuatnya bisa kembali menatap suaminya.


“Ssstttss, kamu kenapa menangis?” tanya Aksara kini kepada istrinya itu.


Nyatanya Arsyilla justru kian terisak. Wanita itu seakan tak bisa lagi menahan air matanya. Begitu bersyukur rasanya bisa menemukan kesadaran dan melihat suaminya lagi. Aksara lantas mengingat pesan Dokter bahwa saat Arsyilla sadar, dia harus menekan tombol yang berada di atas brankar pasien untuk memanggil perawat. Sebab masih ada obat yang harus disuntikkan melalui selang infus kepada Arsyilla.


Menunggu Arsyilla tenang, Aksara segera memencet tombol di atas brankar itu dan berharap bahwa perawat akan segera datang. Rupanya benar, tidak berselang lama perawat datang ke dalam kamar Arsyilla.


“Selamat malam, pasiennya sudah sadar?” tanya perawat tersebut.

__ADS_1


“Iya, baru saja,” balas Aksara.


Mulailah Arsyilla diperiksa, dan ada obat yang disuntikkan melalui selang infus. Arsyilla memejamkan matanya merasakan desiran dari suntikan yang dia terima dari selang infus.


“Masih malam, pasien bisa istirahat terlebih dahulu ya Pak … selamat malam,” pamit perawat itu keluar dari kamar Arsyilla.


Setelah itu, Aksara kembali duduk di samping brankar tempat Arsyilla berbaring kini. Pria itu kembali menggenggam tangan istrinya itu.


“Sakit yah?” tanyanya.


Arsyilla menganggukkan kepalanya, “Sakit banget,” balasnya dengan cepat.


“Sekarang … jangan pernah kemana-mana sendirian lagi yah? Lebih baik sama aku yah?” ucap Aksara lagi kali ini.


“Iya,” sahut Arsyilla dengan singkat.


Aksara menghela nafas yang seakan berat di dadanya, lantas pria itu menatap wajah istrinya dengan perasaan iba. Banyak yang ingin diucapkan Aksara, tetapi pria itu harus menahan diri terlebih dahulu karena Arsyilla masih dalam kondisi yang belum sepenuhnya baik. Lebih baik, Aksara menunggu sampai Arsyilla agak pulih barulah pria itu akan membicarakan perihal kehamilan istrinya itu.


Mendengar ucapan suaminya yang benar-benar tulus, Arsyilla menetes air matanya. Wanita itu terisak dan rasanya ingin sekali memeluk suaminya itu. Dia membutuhkan pelukan, dan hanya Aksara yang bisa memberikannya pelukan yang hangat dan juga menenangkan.


“Aku pikir tadi … aku tidak akan selamat,” ucap Arsyilla dengan tersedu-sedan.


Mengingat bagaimana Tiara menganiayanya, dan juga Bagas yang nyaris saja melecehkannya, Arsyilla tentu berpikir bahwa dirinya tak akan selamat. Jika Bagas benar-benar melecehkannya, Arsyilla tak akan mampu untuk menatap suaminya seperti ini.


“Sssttts, jangan bilang seperti itu. Aku akan selalu memastikan keselamatanmu,” balas Aksara kali ini.


Tangis Arsyilla kian terisak, wanita itu merasakan dada yang kian sesak saja, sampai pada akhirnya, Aksara mendekat dan segera merengkuh tubuh wanita itu dalam pelukannya. Memeluk Arsyilla dengan pelukan yang begitu hangat, mengusapi puncak kepala dan punggung istrinya itu dengan gerakan tangan naik dan turun yang begitu lembut.

__ADS_1


“Sudah jangan menangis … aku sudah bersamamu,” ucap Aksara.


“Maaf,” ucap Arsyilla lagi.


Andai saja, dirinya tidak pergi seorang diri ke Mall siang tadi. Andai saja Arsyilla mau sedikit bersabar dan menunggu untuk pergi bersama suaminya semua ini tidak akan terjadi. Untuk hal-hal yang telah terjadi, sudah jelas tidak bisa disesali lagi.


“Tidak perlu minta maaf … lain kali kemana pun kamu mau pergi, ajak aku saja yah,” ucap Aksara dengan begitu lembut.


Arsyilla pun menganggukkan kepalanya, “Iya Kak … maaf,” ucapnya kini.


Aksara lantas mengurai pelukannya, dan menyeka buliran air mata yang membasahi wajah istrinya itu. Menatap wajah istrinya dengan penuh kasih sayang.


“Aku paling enggak bisa lihat kamu seperti ini, Honey … kamu yang terluka, tetapi aku juga turut merasakan sakitnya. Untuk itu, jangan diulangi lagi. Jangan cemaskan perkara Tiara dan Pak Bagas. Polisi yang sudah mengurusnya,” balas Aksara.


Arsyilla hanya bisa menganggukkan kepalanya, “Iya Kak,” balas Arsyilla.


Aksara lantas menatap ke wajah Arsyilla lagi, “Pak Bagas tidak sampai menyentuhmu kan?” tanya Aksara dengan menahan amarah di dada.


“Tidak … hanya saja aku takut Kak … dia nyaris melecehkan aku,” aku Arsyilla dengan jujur. “Aku ketakutan Kak … mengapa para pria selalu berusaha melecehkanku,” ucap Arsyilla. Lagi-lagi wanita itu menangis.


Aksara tak kuasa melihat tangisan istrinya itu, pria itu kembali memeluk Arsyilla. Entah, berapa lama Arsyilla menangis, yang pasti wanita itu sampai tertidur di dalam pelukan Aksara. Lantaran capek, trauma, dan kelelahan, membuat Arsyilla yang menangis justru sampai tertidur.


Pelan-pelan Aksara menyandarkan tubuh Arsyilla di brankar, dalam tidurnya rupanya Arsyilla masih terisak. Pria itu menggenggam tangan istrinya, “Hari ini pasti hari yang berat banget buat kamu. Syukurlah, kamu bisa bertahan … syukurlah Tuhan masih menyatukan kita berdua. Tidurlah Honey … kamu pasti kesakitan dan kecapekan. Aku akan menjagamu semalam ini. Jangan takut lagi, aku akan selalu ada bersamamu. I am always be with u,” ucap Aksara.


Pria itu lantas mendekatkan wajahnya sekilas dan mendaratkan kecupan di kening Arsyilla.


Chup!

__ADS_1


“I Love U So Much, Honey!” ucap Aksara.


Saat ini Aksara akan fokus ke proses kesembuhan Arsyilla terlebih dahulu. Apabila sudah, Aksara akan ke kantor kepolisian dan akan menjebloskan Tiara dan Bagas ke dalam jeruji besi. Untuk istri yang sangat dikasihinya, Aksara tidak akan main-main. Dia bisa melakukan apa pun untuk Arsyilla. Bahkan Aksara akan meminta kepada Bundanya untuk memutuskan projek dengan perusahaan milik Tiara.


__ADS_2