Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Mempersiapkan Skripsi


__ADS_3

Selang beberapa hari berlalu, Aksara tengah siap mencetak dengan mesin printer beberapa dokumen yang hendak dia bawa ke Biro Skripsi. Pria itu tampak begitu serius memastikan judul Skripsinya sudah benar, layout-nya sudah tepat, dan berbagai hal lainnya.


Arsyilla pun tampak mencari suaminya itu, rupanya suaminya sedang berada di ruang kerja yang berada di sebelah kamar. Terdengar suara mesin printer yang tengah mencetak kertas, sehingga Arsyilla segera memasuki kamar itu.


“Kak, kamu baru ngapain? Aku cariin kemana-mana,” ucapnya sembari berjalan mendekat ke suaminya yang tengah duduk di sebuah kursi kerja yang bisa berputar itu.


“Apa Honey? Aku sedang ngeprint di sini,” jawabnya.


Arsyilla lantas kian mendekat dan melihat apa sebenarnya yang sedang diprint oleh suaminya itu. Mengerjakan pekerjaannya sebagai arsitek atau pekerjaannya yang lain. Hingga Arsyilla tiba-tiba tersenyum saat melihat layout sampul dengan logo universitasnya di Macbook milik suaminya.


“Wah, suamiku beneran mau mengajukan Skripsi yah?” tanyanya.


“Iya dong Sayang … aku harus kejar nih. Semakin cepat justru semakin baik. Nanti tinggal nunggu wisuda aja,” jawabnya dengan yakin.


“Nah, gitu dong … keren. Kalau tinggal nunggu wisuda kan enak, Kak … setidaknya beban terberat yaitu skripsi sudah selesai,” jawabnya.


Arsyilla kemudian melirik ke judul yang diangkat suaminya itu, ‘Konsep Ekologis dalam Perancangan Arsitektur Hotel dan Resort di Kota ….’


Arsyilla hanya sebatas membaca judul itu dan tidak ingin ikut campur terlalu berlebihan. Benar Aksara adalah suaminya, tetapi keduanya pun memiliki peran yang berada yaitu Dosen dan Mahasiswa. Oleh karena itu, Arsyilla ingin suaminya yang akan berjuang sesuai dengan kemampuannya. Lagipula, Skripsi akan lebih membanggakan jika mahasiswa sungguh-sungguh berjuang untuk mengerjakannya.


“Ya sudah … semangat berjuang ya Kak. Aku kembali ke kamar aja, takut menganggu,” sahut Arsyilla sembari berjalan meninggalkan ruang kerja itu.


“Honey, kamu lupa satu hal,” ucap Aksara dengan cepat sebelum Arsyilla keluar dari tempat itu.


“Hmm, apa Kak?” tanyanya.


“Give me a kiss,” jawab Aksara sembari menyentuh bibirnya sendiri.


Arsyilla pun kembali berjalan mendekat ke suaminya sekarang ini, kemudian Arsyilla sedikit menundukkan badannya supaya sejajar dengan suaminya yang tengah duduk di kursi, kemudian Arsyilla mendekatkan wajahnya, mengikis jarak wajahnya dengan suaminya itu. Wanita itu tersenyum, kemudian mendaratkan bibirnya tepat di antara dua belah lipatan bibir suaminya. Memberikan kecupan di sana. Arsyilla kembali tersenyum saat suaminya telah memejamkan matanya, dan Arsyilla pun memagut bibir suaminya dengan lembut. Wanita itu pun menelengkan sedikit kepalanya untuk memperdalam pagutannya saat itu. Beberapa saat berlalu saat kedua bibir bertemu. Seakan kecupan saja tidak cukup, sehingga Arsyilla pun memberikan ciuman, kecupan, bahkan pagutan di bibir suaminya.

__ADS_1


Hingga akhirnya, Arsyilla menghentikan gerakan bibirnya dan mengecup dengan dalam bibir suaminya itu.


“Sudah, kerjakan dulu … jangan jadikan aku sebagai pengganggu. Segera cepat selesai justru bagus kan. Aku tunggu di kamar ya Kak,” balas Arsyilla.


Aksara pun menganggukkan kepalanya secara samar kemudian membelai sisi wajah istrinya itu, “Makasih buat vitaminnya, aku jadi makin semangat nih mengerjakannya. Kamu mau bobok duluan enggak apa-apa, nanti aku susul,” ucap Aksara.


“Aku tungguin saja Hubby. Aku mau lihat Drama Korea aja dulu, sembari nungguin kamu,” balas Arsyilla.


Setelahnya Arsyilla benar-benar meninggalkan ruang kerja itu dan menuju ke kamarnya. Sungguh, Arsyilla tidak ingin mengganggu suaminya. Justru dia sangat senang jika suaminya benar-benar bisa makin cepat menyelesaikan Skripsinya. Arsyilla menuju kamar dan melihat drama korea dengan tablet miliknya. Sebuah drama mengenai kisah cinta CEO dan sekretarisnya yang cantik menjadi pilihan Arsyilla untuk ditonton sembari menunggu suaminya.


Hingga tidak terasa satu jam telah berlalu, lantas Aksara pun kembali memasuki kamar. Pria itu tersenyum, saat melihat istrinya yang masih belum tertidur. Rupanya Arsyilla benar-benar menunggunya.


“Kamu serius nungguin aku?” tanyanya.


Arsyilla langsung mematikan drama korea di tablet miliknya dan menaruh tablet itu di atas nakas, kemudian menatap suaminya itu. “Iyalah, aku nunggu kamu,” sahutnya.


“Mau tidur sekarang?” tanya Aksara.


“Iya, besok aku nemuin Biro Skripsi saja. Mau ikut?” tanyanya.


Dengan cepat Arsyilla pun menggelengkan kepalanya, “Enggaklah Kak … aku di sini aja deh. Baru males ke kampus, baru datang tamu bulanan,” jawabnya.


Aksara kemudian mengangguk, dan merebahkan dirinya di samping istrinya itu, “Ah, istriku baru tidak bisa disentuh … aku harus puasa dulu,” ucapnya.


“Sabar Kak … seminggu saja. Nanti kalau kita punya baby, dan terus puasa sembilan bulan kamu kuat enggak Kak?” goda Arsyilla kepada suaminya itu.


Aksara pun menatap horor kepada istrinya itu, “Emang iya harus puasa sembilan bulan?” tanyanya.


“Kalau iya gimana?” goda Arsyilla.

__ADS_1


“Ya ampun, aku bisa pusing tujuh keliling dong Sayang,” keluh Aksara sembari menyandarkan kepalanya di bahu istrinya.


Melihat ekspresi lucu suaminya, Arsyilla justru tertawa. “Ya, enggak sembilan bulan … cuma trimester awal sebaiknya tidak terlalu sering berhubungan karena ada hormon prostalgladin yang justru bisa membuat janin kontraksi. Jadi, banyakin puasa dulu nanti,” jelas Arsyilla kepada suaminya.


“Ya sudah, enggak apa-apa nanti aku puasa, penting kamu dan baby kita sehat,” balas Aksara.


Lagi-lagi Arsyilla justru tertawa, wanita itu kemudian melirik sekilas ke wajah suaminya itu, “Ya sudah yuk tidur … besok mau ke kampus jam berapa Kak?” tanyanya lagi.


“Jam 09.00 aja Sayang, soalnya abis itu lanjut kerja,” balas Aksara.


“Kalau kamu tidak ada tamu bulanan, aku pilih bolos Sayang. Pengen ngurung kamu seharian di kamar,” balas Aksara dengan tiba-tiba.


Pasangan muda itu kembali tertawa, hingga akhirnya kini sama-sama berpelukan dan mengistirahatkan dirinya setelah seharian beraktivitas. Membiarkan malam membuai mereka, dan esok keduanya akan kembali melanjutkan rutinitas mereka.


***


Keesokan Harinya …


“Sayang, aku berangkat ke kampus dulu yah?” pamit Aksara kepada istrinya yang saat itu tengah menikmati liburan semester yang cukup panjang hampir satu bulan, sehingga Arsyilla berada di apartemen saja.


“Iya Kak, semangat yah … nanti kabarin gimana judulnya diterima apa enggak ya Kak dan dapat Dosen Pembimbing siapa. Ingat, jangan pilih aku ya Kak,” pesan Arsyilla kepada suaminya itu.


“Iya Sayang … tetapi, bolehkan menjadikan kamu sebagai Dosen Pembimbingku pribadi?” tanya Aksara.


Perlahan Arsyilla pun menganggukkan kepalanya, “Iya Hubby … semangat yah. Semoga semuanya lancar. Jangan lupa kabarin aku, dan nanti cepet pulang yah,” balas Arsyilla.


“Ah, kamu ini … belum juga aku berangkat sudah disuruh cepet pulang,” celetuk Aksara dengan tertawa.


Arsyilla pun turut tertawa, ucapan yang lucu memang, tetapi memang dia menginginkan suaminya untuk bisa cepat pulang sore hari nanti. Jadi ya Arsyilla pun mengatakan demikian.

__ADS_1


“Sukses buat hari ini Kak, I Love U,” ucap Arsyilla sembari mengantar suaminya itu keluar dari pintu unit apartemen mereka.


Sungguh di dalam hatinya, Arsyilla benar-benar berharap bahwa suaminya bisa segera menyelesaikan Skripsi. Menikmati setiap proses dari mulai pengajuan judul, Acc judul, proses pengerjaan, hingga penyelesaian nanti. Arsyilla akan berdiri di garda terdepan untuk mendukung dan memotivasi suaminya itu.


__ADS_2