
“Apa kamu mengenalku sebelumnya?” tanya Arsyilla tiba-tiba kepada Aksara.
Mungkinkah sikap dan perlakuan baik yang sedang diperlihatkan oleh pria di hadapannya ini seolah adalah sikap yang ingin melindungi dan menjaganya. Semua itu hanya mungkin terjadi, jika Aksara sudah lama mengenalnya.
Akan tetapi, dalam benak Arsyilla seingatnya dia tidak pernah bertemu dengan Aksara sebelumnya. Pertemuan pertamanya terjadi di ranjang di sebuah kamar hotel, pertemuan keduanya terjadi di kampus dalam kelas Perencanaan Arsitektur. Arsyilla mengumpulkan memorinya, mungkin saja jika dia sempat melihat sosok pria ini. Akan tetapi, semua saraf sensorik dalam otaknya bekerja dengan sempurna dan mengambil keputusan mutlak bahwa Arsyilla tidak pernah bertemu dengan wajah itu sebelumnya.
Mendengar pertanyaan dari Arsyilla kali ini, Aksara hanya diam. Seolah lidahnya kelu dan dia tidak bisa menjawab.
Sementara kedua bola mata Arsyilla tampak melihat Aksara yang menunduk itu, mungkinkah dalam diamnya Aksara ada sesuatu yang pria itu sembunyikan bahwa sebenarnya pria memang cukup lama mengenalnya.
Hingga akhirnya, Aksara menggelengkan kepalanya, “Tidak … aku tidak mengenalmu sebelumnya,” jawabnya kali ini.
Aku tidak akan mengatakan semuanya sekarang, Syilla.
Suatu saat kamu akan tahu kebenaran tentangku saat kamu benar-benar siap menerima.
Terlalu berisiko untuk membuka jati diriku yang sebenarnya di hadapanmu sekarang ini.
“Benarkah? Jadi sikap baikmu kepadaku hanya didasari karena sebuah status bahwa kamu adalah suamiku?” tanya Arsyilla lagi yang seolah ingin meminta penjelasan dari Aksara.
“Aku harus bertanggung jawab atasmu, bukan?” Aksara justru berbalik dan melemparkan sebuah pertanyaan bahwa dirinya harus bertanggung jawab atas Arsyilla bukan.
Akan tetapi, Arsyilla menggelengkan kepalanya, “Sebenarnya, tidak perlu bertanggung jawab. Lagipula, aku juga tidak hamil. Itu artinya, kamu bisa bebas dari semua kesalahan satu malam itu,” ucap Arsyilla kini.
Sekali pun, saat mengatakannya hatinya terasa perih, tetapi Arsyilla tetap mengucapkannya karena seolah kesalahan satu malam itu mengikat keduanya.
__ADS_1
“Tidak. Kamu hamil atau juga tidak hamil, aku tetap bertanggung jawab. Kamu yakin tidak hamil?” tanya Aksara kini yang berusaha mengalihkan pembicaraannya.
Arsyilla kembali menggelengkan kepalanya, “Tidak. Aku baik-baik saja. Rasa lemas dan juga beberapa hal yang aku alami, rupanya karena pre menstruasi syndrom. So, aku baik-baik saja,” jawabnya lagi kepada Aksara.
“Kendati demikian, aku tetap harus bertanggung jawab karena semalam itu telah terjadi hal di luar kendali kita,” jawab Aksara kini.
Merasa bahwa pembicaraan mereka bisa berlangsung lama, Aksara pun segera berdiri. “Baiklah, kamu boleh istirahat dulu. Aku akan keluar dan membelikanmu makan siang. Sore kita menuju rumah sakit,” ucapnya sembari berjalan dan menenteng kotak obat di tangannya.
***
Sore harinya …
Arsyilla benar-benar mengikuti saran dari Aksara untuk ke Rumah Sakit. Bukan hanya untuk memeriksakan dirinya, tetapi juga untuk melakukan visum. Visum sendiri adalah laporan tertulis yang dikeluarkan oleh penyedia layanan kesehatan yang didasarkan atas pemeriksanaan pada korban kekerasan fisik, mental, dan seksual. Sekalipun, Arsyilla sebenarnya ketakutan, tetapi dia memang harus mengambil tindakan untuk memberikan efek jera kepada Ravendra.
“Jangan ke Rumah Sakit Ayah Bisma ya,” pinta Arsyilla kali ini.
Aksara pun mengangguk, “Tenang saja, aku sudah memikirkannya. Kita akan ke Rumah Sakit yang lain. Lagipula, jika ke Rumah Sakit tempat Ayah praktik, tenaga medis di sana akan mengenaliku,” sahut Aksara.
Sesampainya di Rumah Sakit, mulailah keduanya menunggu sejenak sebelum nama Arsyilla dipanggil. Sekali pun cemas, tetapi Arsyilla menguatkan dirinya untuk bisa mengikuti rencana yang sudah disusun Aksara.
Ketika nama Arsyilla mulai dipanggil, Aksara pun turut masuk dan menemani Arsyilla untuk mengikuti setiap prosedur pemeriksanaan.
“Nama pasien siapa?” tanya Dokter yang saat itu tengah memeriksa Arsyilla.
“Arsyilla Kirana,” jawabnya dengan yakin.
__ADS_1
“Ingin melakukan visum untuk apa?” tanya Dokter tersebut.
Sebelum menjawab, Arsyilla tampak menoleh terlebih dahulu kepada Aksara. Menyadari bahwa Arsyilla tengah melihatnya, perlahan Aksara pun berdehem dan mulai membuka suaranya.
“Hem, kami melakukan visum untuk melaporkan kasus penganiayaan ke pihak kepolisian,” jawab Aksara dengan tenang.
Dokter itu pun mengernyitkan keningnya, tidak mengira jika visum yang dilakukan adalah untuk melaporkan kasus penganiayaan. Dokter tersebut dengan dibantu seorang perawat mulai mencatat denyut nadi, tekanan darah, luka atau lebam yang terlihat di luar, dan mencatatnya.
Dokter itu kemudian terlihat meringis dan seolah menahan sakit, saat mengamati wajah Arsyilla yang sedikit bengkak di satu sisi, lehernya yang biru, sudut bibir yang pasca mengeluarkan darah, dan tampak goresan kuku di dagunya.
“Bisa lepas sebentar jaketnya?” pinta Dokter itu karena saat itu Arsyilla mengenakan jaket.
Arsyilla mengangguk, kemudian dia melepaskan jaket yang dia kenakan perlahan. Di pergelangan tangannya yang memerah terlihat jelas di sana. Ada pula luka di kaki yang terlihat karena saat ini Arsyilla mengenak midi dress di bawah lutut, terlihat lututnya yang memar berwarna biru keungu-unguan.
Tidak hanya memeriksa, Dokter pun juga memberikan resep yang berupa obat dan salep yang harus Arsyilla minum untuk mengurangi lebamnya.
“Mau melakukan rontgen untuk melihat jaringan di bawah kulit yang mungkin saja luka?” tanya Dokter tersebut.
Arsyilla menggeleng, “Tidak, tidak perlu, Dok. Rekam catatan medis saja sudah cukup,” jawabnya.
“Yakin, kamu tidak ingin melakukan rontgen?” tanya Aksara kali ini.
Lagi, Arsyilla menggelengkan kepalanya, “Tidak, tidak perlu,” jawabnya.
Dokter itu kembali melihat Arsyilla, “Tindak kekerasan fisik kepada wanita bisa dikenai dua pasal sekaligus yaitu pasal pidana dan pasal perlindungan kaum wanita dan anak-anak. Anda menjadi korban kekerasan fisik yang mengarah ke kekerasan seksual kan?” tebakan Dokter tersebut.
__ADS_1
Arsyilla pun menggigit bibir bagian dalamnya, hingga akhirnya dia mengangguk, “Ya, benar, Dok.”
Saat Arsyilla menjawab itu, Aksara memejamkan matanya dan tangannya pun mengepal. Sungguh, dirinya sudah mengira sebelumnya. Hanya saja Aksara memilih diam dan memberi Arsyilla waktu untuk menenangkan dirinya.