Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Sikap Posesif


__ADS_3

Begitu waktunya makan malam, sekarang di meja makan sudah duduk di tempatnya masing-masing. Ada Ayah Bisma, Bunda Kanaya, Aksara, Arsyilla, dan Rangga. Sementara ada stroller yang ditaruh di tempat duduk Arsyilla. Untuk mengantisipasi, supaya Arsyillla bisa bergerak cepat jika bayinya itu menangis karena haus atau merasa tidak nyaman.


“Wah, hidangan boga bahari nih,” ucap Ayah Bisma yang melihat masakan olahan hasil laut itu. Bukan saja aromanya yang menggugah selera, tetapi juga sekadar melihat saja rasanya ingin mencicip semua masakan yang tersaji di atas meja makan itu.


“Tadi Bunda yang masak sama Syilla, Ayah,” ucap Bunda Kanaya yang seakan memberi tahu kepada suaminya bahwa masakan di atas meja yang tampak menggiurkan itu adalah hasil karyanya dengan Arsyilla selama berkutat di dapur.


“Wah, Bunda dan Syilla keren,” sahut Ayah Bisma sembari mengangkat Ibu jarinya. Sungguh, Ayah Bisma pun merasa senang karena istrinya bisa menghasilkan kreasi olahan seafood bersama Arsyilla dengan semua hidangan yang menggugah selera ini.


“Makasih Ayah,” balas Arsyilla. Tentu saja sebagai seorang menantu, Arsyilla merasa bahagia mendapat pujian dan sambutan baik dari Ayah mertuanya sendiri. Bisa menyenangkan keluarga sendiri rasanya begitu bahagia.


Aksara pun tersenyum, pria itu tentu merasa bangga kepada istrinya. Di sela-sela Ara yang tertidur, Arsyilla bisa memasak hidangan begitu banyak dengan Bundanya. Tak sabar rasanya ingin mencicipi masakan itu.


Bunda Kanaya mulai mengisi piring kosong milik Ayah Bisma, dan menyajikan Ikan Kuah Asam Pedas di mangkuk kecil. Sementara usai Bunda Kanaya melayani Ayah Bisma, Arsyilla juga melakukan hal yang sama. Dia mengisi piring kosong milik suaminya.


“Nasinya cukup Kak?” tanya Arsyilla. Memang itu adalah kebiasaannya saat mengisi piring suaminya, daripada nasinya mubazir, jadi Arsyilla bertanya apakah nasinya sudah cukup, daripada terbuang percuma. Itu adalah sikap untuk menghargai makanan.


“Sudah, cukup Honey … terima kasih,” ucap Aksara.


Usai mengambilkan nasi, Arsyilla pun mengambilkan lauk untuk suaminya itu. Arsyilla tahu bahwa Aksara menyukai Ikan Fillet Saus Asam Manis, sehingga dia mengambilkan itu untuk suaminya, dan mempersilakan suaminya untuk makan.


“Mau dong diambilin juga sama Kakak Ipar,” ucap Rangga dengan tiba-tiba.


Mendengar ucapan Rangga, refleks Aksara pun membolakan matanya dan menatap tajam ke arah Adiknya itu. “Ambil sendiri,” sahut Aksara.

__ADS_1


Bunda Kanaya memahami, Aksara memang tidak suka milik pribadinya diusik. Kemudian Bunda Kanaya yang kini hendak mengisi piring kosong anak bungsunya itu.


“Sini, biar Bunda saja yang ambilin … Syilla kamu makan saja,” ucap Bunda Kanaya.


Arsyilla menganggukkan kepalanya, kemudian dia mencoba makan dengan tenang. Sungguh, suasana seperti ini membuatnya canggung dan serba salah. Terlebih Aksara yang terlihat cemburu dan begitu posesif.


Usai makan malam pun, Aksara masih menunggu Arsyilla dan tidak memberi celah kepada Rangga untuk mengajak bicara Arsyilla.


“Sudah selesai Honey? Istirahat yuk,” ajak Aksara kali ini.


“Sudah Kak,” balas Arsyilla.


Aksara pun ketika Rangga berjalan dan melewatinya, dia segera merangkul bahu istrinya itu. Seakan ingin mengatakan bahwa Arsyilla hanya miliknya dan tidak akan memberi celah bagi siapa pun untuk mendekati Arsyilla termasuk adiknya sendiri.


“Iya, sudah malam … lagian besok pagi kami harus kembali ke rumah,” balas Aksara.


“Oh … ya sudah. Met malam Mas,” balas Rangga yang kali ini juga tidak berani untuk menyapa Arsyilla.


Begitu sudah di dalam kamar, Arsyilla pun menggelengkan kepalanya. Wanita itu segera memeluk suaminya itu dengan wajah yang menengadah dan melihat raut wajah Aksara yang tampak mendung.


“Hubby, kamu tidak baik-baik saja kan?” tanya Arsyilla kali ini.


“Dia berlebihan, soalnya,” jawab Aksara.

__ADS_1


Wajahnya masih terlihat cemberut, dan muram. Begitu terlihat jelas sosok Aksara yang posesif dan tengah cemburu.


“Kak, ingat perkataanku … jangan berpikiran aneh-aneh. Aku seutuhnya milikmu, mau pasangin borgol di tanganku? Aku tidak masalah kok,” balas Arsyilla.


Arsyilla masih berusaha menenangkan suaminya itu, dan juga berharap suaminya bisa mempercayainya sepenuhnya.


“Aku percaya … cuma dia kayaknya sengaja deh,” balas Aksara kini. Tetap saja Aksara masih menggerutu dan merasa bahwa adiknya itu sengaja deh membuatnya cemburu.


“Biarin saja, Kak … yang penting aku cintanya cuma sama kamu, tidak akan pernah terganti,” balas Arsyilla.


Aksara akhirnya menghela nafas panjang dan memulai untuk menenangkan dirinya sendiri. Setelahnya, Aksara pun mengurai dekapan Arsyilla, pria itu menundukkan wajahnya, dan mulai mendaratkan kecupan demi kecupan di wajah Arsyilla, dari kening, kedua kelopak mata, ujung hidung, pipi, dagunya, dan berakhir di bibirnya.


Untuk bagian bibir, Aksara pun mulai membuka sedikit bibirnya, dan mulai memagut bibir Arsyilla dengan nafas yang memburu. Seakan tidak ada hari esok untuk mencium bibir istrinya itu. Pria itu menahan tengkuk Arsyilla untuk memperdalam ciumannya, memberikan tekanan pada pergerakan bibirnya. Cumbuan demi cumbuan, ciuman demi cumbuan, kecupan demi kecupan, bahkan lu-matan demi lu-matan Aksara lakukan atas bibir Arsyilla. Ciuman menggebu dan begitu dalam, bibir Aksara layaknya vacuum yang menghisap dalam hingga pertemuan dua bibir menghasilkan decakan yang memenuhi kamar itu.


Arsyilla pun memejamkan matanya, membiarkan suaminya untuk menciumnya. Wanita membawa kedua tangannya melingkari leher suaminya. Nafasnya terengah-engah, tetapi agaknya tidak akan melepaskan ciuman dalam waktu dekat.


Merasa oksigen yang merasa hirup kian menipis, dengan dada yang kembang kempis, dan nafas yang kian terengah-engah, Aksara barulah menarik wajahnya dari bibir Arsyilla.


“Maafkan aku yang posesif ini, Honey … hanya saja aku tidak akan membiarkan celah sekecil apa pun. Aku cinta kamu … benar-benar cinta kamu. Aku bisa gila, jika ada yang berusaha menggodamu,” balas Aksara dengan memeluk Arsyilla dengan begitu eratnya.


Dalam hatinya Arsyilla pun mengakui bahwa suaminya itu posesif. Bahkan kepada adiknya sendiri, terlihat jelas bagaimana Aksara yang posesif. Namun, Arsyilla bisa memahami karena merasa Aksara memang hanya lelaki biasa yang begitu cinta pada istrinya. Cinta yang begitu besar yang Aksara miliki untuk Arsyilla.


“Aku juga cinta kamu, Kak Aksara … sangat cinta kamu. Jangan cemburu, aku sepenuhnya dan seutuhnya milik kamu. Hanya kamu,” balas Arsyilla yang juga dengan sungguh-sungguh.

__ADS_1


Arsyilla sudah mengukuhkan bahwa ada satu pemilik hati, tubuh, dan hidupnya, dan dia adalah Aksara. Dia pun sangat mencintai suaminya itu, dan tidak akan membuka celah juga bagi orang lain. Saling menjaga, saling mencintai, walau pun terkesan posesif, tetapi Arsyilla sangat yakin bahwa di dunianya tidak ada pria yang mencintainya begitu besar selain suaminya itu. Untuk itu, Arsyilla benar-benar memasrahkan hidupnya kepada suaminya, Aksara Adhinata Pradhana. Pria yang berhasil masuk dalam hidupnya, Ayah dari putrinya, dan teman hidup yang akan menemaninya menua sampai akhir usia.


__ADS_2