Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Mid Semester


__ADS_3

Pekan yang dinantikan pun tiba, hari layaknya menjadi hari penentuan bagi Aksara. Siang hari, pria itu berangkat dari Jaya Corps menuju kampusnya dengan semangat penuh. Beberapa hari belajar, akan siap dia tuangkan dalam ujian Mid Semester kali ini. Dengan semangat, Aksara melajukan mobilnya menuju kampus sembari mengingat kembali setiap materi yang sudah dia pelajari.


Akan tetapi, saat mengingat materi ajar, nyatanya pria itu tampak tersenyum karena kini yang terlintas di benaknya adalah wajah Dosennya, Arsyilla. Ya, seolah pria itu membayangkan Arsyilla yang tengah berdiri di depan kelas dan menjelaskan setiap hari ajar kepadanya.


Rasanya pria itu benar-benar gila, hanya sekadar mengingat materi Perencanaan dan Desain Arsitektur saja yang diingatnya justru wajah ayu Dosen sekaligus istrinya sendiri. Begitu telah tiba di kampus, tidak langsung turun dari mobil, Aksara justru mengambil handphonenya dan mulai mencari kontak Arsyilla. Dia berniat menelpon Arsyilla terlebih dahulu.


Arsyilla


Berdering


"Halo, Syilla," sapanya melalui panggilan seluler itu.


"Ya, halo Kak, ada apa?" tanya Arsyilla.


Aksara kemudian tersenyum, "Hanya ingin mendengar suaramu sebelum ujian nanti," jawabnya perlahan.


Sementara di seberang sana, Arsyilla juga turut tersenyum, "Lebay," sahutnya dengan singkat.


"Bukan lebay, hanya saja aku ingin kamu menyemangati aku, Syilla. Please, berikan aku semangat," pintanya kali ini.


"Emangnya ngaruh?" tanya Arsyilla dengan cepat.


Lantas Aksara pun mengangguk, seolah Arsyilla ada di hadapannya saat ini, "Ngaruh, pake banget," jawabnya.

__ADS_1


Terdengar kekehan Arsyilla di sambungan seluler itu, hingga akhirnya Arsyilla kembali bersuara, "Semangat ujiannya, Kak ... semoga bisa mengerjakan semuanya dan mendapat nilai A," ucap Arsyilla yang memberi semangat kepada Aksara.


"Kurang, Syilla," sahut Aksara. Pria itu mendesah perlahan, rasanya memang ada sesuatu yang kurang dalam ucapan Arsyilla.


"Kurang apa?" tanya Arsyilla lagi.


"Kalau dapat nilai A, nanti dapat hadiah," balas Aksara.


Sementara di sana Arsyilla hanya menggelengkan kepalanya, "Cepat masuk ke kelas, ujiannya akan dimulai lima menit lagi," ucapnya mengingatkan Aksara. "Jangan sampai telat, supaya bisa mempersiapkan diri dengan baik," lanjutnya.


"Kamu menjadi pengawas ujian tidak?" tanya Aksara. Pria itu juga mulai keluar dari mobilnya dan berjalan menuju ruangan kelas. Rasanya ucapan yang baru saja diucapkan Arsyilla harus dia lakukan, hingga sekarang Aksara terlihat bersemangat memasuki kelas. Pria tampan itu terlihat santai berjalan dengan terus menempelkan handphone di daun telinganya.


Arsyilla sendiri juga sudah mulai berjalan dan meninggalkan ruangan, "Iya, aku akan memasuki ruangan kelas sebentar lagi. Baiklah, semangat ujiannya Kak. Fighting!" ucap Arsyilla sembari mematikan sambungan telepon itu.


"Selamat siang semuanya," sapa Arsyilla kepada seluruh mahasiswanya.


"Siang Bu Arsyilla," sahut para mahasiswa dengan serempak.


Kemudian Arsyilla mulai membagikan soal dan lembar jawaban kepada para mahasiswa. Membagikannya satu per satu, saat membagikan untuk Aksara, terlihat pria itu yang mengangguk kepadanya, "Makasih Bu Arsyilla," ucap Aksara dengan lirih.


Arsyilla pun merespons dengan menganggukkan kepalanya. Respons formalitas antara Dosen dan Mahasiswa. Berusaha bersikap wajar dan biasa, supaya tidak menimbulkan gosip yang bukan-bukan. Aksara kembali berperan layaknya suami rahasia bagi wanita itu. Ingin bertindak lebih ramah, tetapi sudah pasti Arsyilla tetap akan meminta mereka untuk menarik garis batas selama berada di dalam kampus.


Kemudian Arsyilla kembali berdiri di depan kelas, "Silakan mulai dikerjakan, waktu untuk ujian ini 120 menit. Silakan dikerjakan baik-baik, tidak perlu mencontek atau menyalin jawaban teman. Jika ketahuan, nilai akan saya kurangi," ucap Arsyilla dengan tegas.

__ADS_1


Setelahnya Arsyilla mulai mengamati jalannya ujian, sementara para mahasiswa terlihat berkutat dengan penanya mengisi jawaban di lembar jawaban yang sudah dibagikan. Terkadang Arsyilla berdiri di depan, terkadang dia berjalan mengelilingi ruangan kelas, dan terkadang dia berjalan ke belakang. Sementara, Aksara sendiri layaknya memang tipe mahasiswa penghuni kursi belakang. Sebab, dari awal kuliah hingga sekarang, si mahasiswa hiatus itu selalu duduk di belakang.


Saat Arsyilla melewati Aksara, pria itu dengan sengaja sedikit menggerakkan tangannya, hingga menyentuh tangan Arsyilla. Agaknya Aksara memang punya niatan sengaja untuk menyentuh tangan Arsyilla. Wanita itu terlihat mengerjap, tetapi Aksara terlihat menggerakkan alis matanya. Sebelum terjadi hal-hak yang tidak diinginkan Arsyilla kembali berjalan menjauh dari tempat duduk Aksara.


Suasana kelas begitu hening, jika ada suara yang terdengar sudah pasti itu dari heels yang dikenakan Arsyilla. Semua mahasiswa terlihat serius dengan soal di hadapannya.


"Bu Arsyilla mau bertanya Bu? Pertanyaan terakhir membuat desain ini menggambar dengan tangan ya Bu?" tanya Ryan, si ketua kelas dengan tiba-tiba.


Arsyilla kemudian mengangguk, "Iya, silakan gunakan alat tulis kalian untuk membuat desain sederhana. Seorang Arsitek dituntut tidak hanya mahir mendesain dengan drawing pad, tetapi juga tangannya. Jadi, silakan buat, gunakan alat tulis kalian untuk membuat desain sederhana." Arsyilla menjawab dengan lugas. Sekaligus dia meminta seluruh mahasiswa untuk membuat desain sederhana dengan tangannya sendiri. Menggambar dengan tangan, tidak menggunakan drawing pad.


Terdengar suara keluhan mahasiswa yang memenuhi ruangan, tetapi ada satu mahasiswa yang hanya diam dan tidak turut mengeluh. Siapa orangnya? Aksara! Ya, pria itu terlihat tenang dan kini tengah menggunakan sebuah pensil, penggaris, hingga jangka untuk membuat desain sederhana dengan tangannya.


Waktu 120 menit pun hampir habis, kemudian Aksara mengangkat tangannya, "Bu Arsyilla, yang sudah selesai boleh dikumpulkan?" tanyanya.


Arsyilla pun mengangguk, "Ya, yang sudah selesai bisa dikumpulkan ke depan dan bisa langsung pulang," jawabnya.


Rupanya Aksara mengangguk, pria itu merapikan alat tulisnya dan memasukkannya ke dalam ransel berwarna hitam miliknya. Setelahnya, Aksara maju ke depan dan mengumpulkan hasil jawabannya.


"Saya sudah selesai, permisi Bu Arsyilla," ucap pria itu sembari menundukkan kepalanya.


"Hmm, ya," sahut Arsyilla dengan singkat.


Akan tetapi, saat Aksara telah keluar, Arsyilla tampak membaca sekilas jawaban milik Aksara, wanita itu membelalakkan matanya saat membaca sebuah pesan di akhir jawaban yang dikumpulkan Aksara, pesan dengan tulisan tangan yang berada di sudut lembar jawabannya yang berbunyi.

__ADS_1


"Aku yakin aku akan berhasil dengan ujian ini karena mendapatkan semangat darimu tadi. Love U, My Lecture."


__ADS_2