
Agaknya apa yang baru saja diucapkan Ayah Bisma dan Bunda Kanaya membuat Arsyilla cukup berpikir keras. Bagaimana mungkin dirinya hamil jika tidak ada tanda-tanda kehamilan yang dirasakannya kali ini. Akan tetapi, Arsyilla sendiri juga pernah membaca perihal kehamilan simpatik. Di mana suamilah yang justru merasakan gejala awal kehamilan mulai badan meriang, demam, mual, hingga muntah.
Melihat Aksara sekarang ini, Arsyilla pun menerka-nerka bahwa mungkin saja suaminya itu bukan hanya sekadar masuk angin biasanya. Bahkan kini Arsyilla mengelusi perutnya dengan diam-diam.
"Mungkinkah kamu sudah ada di dalam sini, Nak … jika benar, sudah pasti aku akan sangat berbahagia. Kak Aksara juga pasti akan sangat berbahagia jika mendengar kabar baik ini," gumam Arsyilla dengan begitu lirih.
Arsyilla yang kala itu berada di dapur pun tertegun dengan Bunda Kanaya yang menghampirinya.
"Kamu ngapain Syilla?" tanya Bunda Kanaya kepada menantunya itu.
Arsyilla lantas berbalik, menatap Bunda Kanaya dan kemudian menggelengkan kepalanya, "Tidak Bunda … hanya ingin cuci tangan saja kok," sahutnya.
Melihat Arsyilla, nyatanya Bunda Kanaya justru tertawa. "Bunda tahu, kamu mungkin saja bengong dan kepikiran dengan ucapan Bunda dan Ayah kamu barusan. Daripada bengong, mendingan kamu tes. Mencari tahu kebenarannya itu lebih baik, Sayang," respons Bunda Kanaya kini.
Dalam pemikirannya, Bunda Kanaya yakin bahwa Arsyilla masih belum sepenuhnya percaya. Terlebih menantunya itu juga tidak merasakan gejala kehamilan sama sekali. Sehingga mungkin saja Arsyilla masih bimbang.
"Iya Bunda … nanti Syilla akan segera tes," balasnya.
"Sudah punya test packnya belum?" tanya Bunda Kanaya kepada menantunya.
"Sudah Bunda, Syilla ada stok beberapa kok. Setelah memutuskan untuk program hamil, Syilla sudah menyiapkan test pack di kotak penyimpanan. Hanya saja, sebenarnya Syilla juga nungguin tanda-tanda kehamilan itu," balas Arsyilla kepada mertuanya itu.
Bunda Kanaya lantas tersenyum dan menepuki bahu menantunya itu, "Sudah, santai saja … kamu jangan terlalu banyak pikiran yah," ucap Bunda Kanaya kali ini.
Arsyilla pun merespons dengan menganggukkan kepalanya perlahan, "Iya Bunda … doakan juga semoga segera ada berita yang baik," ucap Arsyilla kini.
"Amin. Amin Ya Allah, semoga saja Bunda dan Ayah juga segera mendapatkan kabar baik dari kalian berdua. Bunda dan Ayah dan menantikan kabar baik itu, " balas Bunda Kanaya. Sebab, sebagai orang tua sudah pasti bahwa Bunda Kanaya dan Ayah Bisma mengharapkan hadirnya cucu dari anak-anak mereka.
__ADS_1
Arsyilla pun menganggukkan kepalanya, semoga saja benar adanya bahwa mulai ada kehidupan baru di dalam perutnya saat ini. Tentu ini adalah impiannya berdua dengan Aksara. Impian untuk menjadi orang tua dan belajar mengasuh anak. Setelah itu, Arsyilla dan Bunda Kanaya pun berjalan dan menuju ruang tamu, bergabung kembali dengan Ayah Bisma dan juga Aksara.
“Ya sudah yuk Ayah, kita pulang … biarkan Syilla dan Aksara istirahat dulu,” ajak Bunda Kanaya kepada Ayah Bisma.
“Iya, sehat-sehat, Nak … kalau butuh bantuan atau sesuatu jangan lupa untuk menghubungi kami,” balas Ayah Bisma. Kemudian Ayah Bisma menatap sekilas kepada Arsyilla, “Ditunggu kabar baiknya ya Syilla,” ucap Ayah Bisma kini.
Arsyilla mengantarkan Ayah Bisma dan Bunda Kanaya sampai ke depan pintu, kemudian dia kembali bergabung dengan suaminya yang sudah membuka kedua tangannya mengisyaratkan supaya Arsyilla masuk ke dalam pelukannya.
Wanita itu mengukir senyuman di wajahnya, sembari masuk dalam pelukan hangat suaminya itu.
“Masih suka nempelan?” tanya Arsyilla kini kepada suaminya.
“Iya, nempel-nempel ciumin parfum kamu, bikin aku enggak mual,” balas Aksara.
Keduanya sama-sama diam, mungkin masih bingung jika apa yang disampaikan Bunda Kanaya dan Ayah Bisma benar adanya. Seolah Arsyilla dan Aksara tengah berputar-putar dalam pikiran mereka sendiri kali ini.
“Hmm, apa Kak?” balasnya.
“Kalau kamu beneran hamil siap kan?” tanyanya kini kepada istrinya itu.
Arsyilla masih diam, beberapa saat lamanya. Hingga perlahan, wanita itu menganggukkan kepalanya perlahan, “Iya … aku siap.” balasnya Arsyilla dengan yakin.
Ada helaan nafas yang dikeluarkan Aksara melalui hidungnya, pria itu kian mengeratkan pelukannya di tubuh Arsyilla.
“Aku juga siap … aku ingin memiliki buah hati bersamamu,” balas Aksara dengan yakin. “Mau test enggak?” tanya Aksara lagi kepada istrinya itu.
“Mau, cuma agak ntar saja ya Kak,” balas Arsyilla.
__ADS_1
Tentu ini adalah alibi seorang Arsyilla saja, karena sebenarnya esok pagi Arsyilla akan melakukan test kehamilan dan berniat melakukannya diam-diam. Di waktu yang tepat barulah dia akan memberitahukan kepada suaminya itu.
“Ya sudah, penting jangan terlalu lama,” ucap Aksara lagi.
“Iya Kak … aku inget nasihatnya Ayah tadi kok. Jadi gak akan lama-lama. Tenang saja, Hubby,” balas Arsyilla sembari melingkari pinggang suaminya itu dengan kedua tangannya.
Tangan Aksara bergerak dan mengusapi puncak kepala, rambut, hingga ke bahu istrinya itu.
“Kamu tahu kan, aku cinta banget sama kamu. Aku akan menjadi pria yang paling berbahagia saat mengetahui kabar baik dari istriku tercinta ini.” Aksara mengucapkan semuanya itu dengan penuh keyakinan bahwa dia akan begitu berbahagia dengan kabar bahagia yang akan didapatkan mereka tidak lama lagi.
***
Keesokan harinya ….
Pagi-pagi buta, Arsyilla memilih bangun terlebih dahulu. Arsyilla bertujuan untuk melakukan test prediksi kehamilan seorang diri. Tentu Arsyilla memiliki tujuan tersendiri kenapa dirinya harus melakukan test sembunyi-sembunyi.
Arsyilla bergegas memasuki kamar mandi dengan membawa test pack dan gelas takar untuk menampung urine. Walaupun ragu, tetapi Arsyilla kali ini benar-benar akan masuk ke dalam kamar mandi dan memastikan kondisinya saat ini.
Arsyilla masuk ke kamar mandi. Mulailah dia melakukan uji reaksi kimia layaknya saat dirinya duduk di bangku SMA dulu. Terlihat wajah Arsyilla yang begitu cemas saat mulai membuka kemasan test pack dan memasukkan ujung test pack itu ke dalam gelas takar yang sudah terisi urine.
“Ya Tuhan … apa pun hasilnya semoga ini yang terbaik untukku dan Kak Aksara. Semoga Tuhan memberikan anugerah yang indah di waktu yang indah pula. Walau aku takut dan terkadang merasa tidak yakin, tetapi aku percaya bahwa anugerahmu yang adalan terbaik bagiku,” gumam Arsyilla dengan lirih kali ini.
Detik-detik menunggu hasil pergerakan di test pack itu membuat Arsyilla berjalan mondar-mandir. Rasanya seperti ada hal yang harus dia pertaruhkan saat menunggu hasil test pack itu. Bahkan Arsyilla terlihat begitu gelisah. Detik demi detik justru terasa begitu lama.
Satu garis merah? Atau Dua garis merah?
Sungguh, Arsyilla begitu gelisah dibuatkan, bahkan keringat dingin justru mulai memenuhi keningnya. Agaknya keresahan yang dirasakan Arsyilla justru membuat waktu begitu lama untuk bergerak. Menunggu pergerakan di alat test prediksi kehamilan itu saja, rasanya membuat jantung berdebar-debar hingga keringat dingin bercucuran begitu saja,
__ADS_1