Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Curhat dengan Mertua


__ADS_3

Usai kepergian Om Darren, agaknya Arsyilla berpikir untuk menemui Bunda Kanaya. Bukan bermaksud apa-apa, tetapi Arsyilla ingin tahu dendam apa yang dimiliki Om Darren kepadanya dan Aksara, hingga tanpa sebab Om Darren menemuinya. Arsyilla sangat yakin jika surat kaleng yang dikirimkan ke pihak kampus adalah murni tindakan Om Darren.


Hari masih siang, sementara jam mengajar Arsyilla juga sudah selesai. Untuk itu, Arsyilla berniat untuk datang ke kediaman Bunda Kanaya terlebih dahulu. Tidak lupa, Arsyilla mengirimkan pesan kepada suaminya memberitahu bahwa dirinya ingin menemui Bunda Kanaya.


[To: A]


[Kak, aku ini sudah selesai mengajar.]


[Aku mau main ke rumah Bunda Kanaya dulu sebentar yah.]


[Mau mencatat resep dan ngobrol-ngobrol.]


[Nanti sore jemput aku di rumah Bunda Kanaya saja ya Kak.]


[Love U.]


Pesan itu terkirim dengan begitu cepat, hingga akhirnya kini Arsyilla dalam perjalanan dengan menaiki sebuah taksi yang akan mengantarkannya ke kediaman mertuanya. Setidaknya, Arsyilla hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tidak ingin menerka-nerka sendiri. Sekaligus, siapa tahu Bunda Kanaya dapat memberikan solusi untuk masalah yang saat ini Arsyilla hadapi.


Kurang lebih hampir setengah jam, dan Arsyilla telah tiba di depan rumah Bunda Kanaya. Sekuriti membukakan gerbang untuk Arsyilla dan mempersilakannya masuk.


“Selamat siang, Bunda …,” ucap Arsyilla memberi salam begitu memasuki kediaman Bunda Kanaya.


“Iya, Syilla … tumben kamu datang ke mari? Dari kampus yah?” tanya Bunda Kanaya.


“Iya Bunda,” jawab Arsyilla.


Kedua wanita berbeda generasi itu pun segera duduk bersama. Bunda Kanaya agaknya menangkap ada keresahan di wajah Arsyilla. Untuk itu, Bunda Kanaya pun menawarkan minum air dingin untuk Arsyilla.


“Bunda buatkan minum air dingin yah?” tawar Bunda Kanaya.


“Tidak usah Bunda … nanti Syilla buat sendiri saja,” jawabnya.

__ADS_1


“Kenapa, kamu terlihat cemas begitu. Apa ada yang sesuatu yang terjadi dengan kamu dan Aksara?” tanya Bunda Kanaya.


Arsyilla berusaha tersenyum sembari menggelengkan kepalanya, “Tidak Bunda … Syilla dan Kak Aksara baik-baik saja. Hanya saja Syilla datang kemari untuk bertanya-tanya sih dengan Bunda Kanaya,” balas Arsyilla.


“Mau tanya apa? Sini cerita sama Bunda, jika Bunda bisa menjawab sudah pasti Bunda akan memberikan jawaban kepada kamu,” respons Bunda Kanaya.


Arsyilla tampak melipat tangannya, tanda dirinya tengah resah. Kemudian Arsyilla menghela nafasnya sesaat, barulah dia mulai berbicara.


“Bunda, maaf sebelumnya … apa ada sesuatu yang terjadi dengan keluarga ini dengan Om Darren di masa lalu? Semacam dendam begitu,” tanya Arsyilla dengan hati-hati.


Mendengar pertanyaan Arsyilla, Bunda Kanaya agaknya bisa menebak kemana arah pembicaraan Arsyilla sekarang ini.


“Ceritakan dulu apa kamu memiliki masalah dengan Om Darren?” tanya Bunda Kanaya lagi.


“Baiklah … Syilla akan cerita, tetapi jangan sampai Kak Aksara tahu ya Bunda,” pinta Arsyilla kali ini.


Arsyilla lantas menatap wajah Bunda Kanaya, “Sebenarnya, ada seseorang yang mengirimkan surat kaleng ke pihak kampus dan memberikan foto Arsyilla bersama Kak Aksara. Beberapa pekan lalu, Arsyilla dipanggil oleh pihak Komisi Disiplin dan diminta penjelasan. Lantas, baru saja Om Darren yang datang dan menemui Syilla. Entah, rasanya Syilla merasa bahwa Om Darren lah yang memata-matai Syilla dan Kak Aksara. Om Darren tidak senang karena anaknya masih mendekam di penjara, tetapi Syilla justru sibuk berpacaran dengan Kak Aksara. Katanya Syilla adalah dosen tidak berakhlak,” cerita Arsyilla dengan jujur kepada Bunda Kanaya.


Dari cerita Bunda Kanaya barulah Arsyilla mengetahui benang merah dengan kejadian yang menimpa dirinya. Ya, mungkin saja Om Darren adalah sosok yang tidak memerlukan alasan untuk membenci seseorang karena rasa bencinya sudah sampai di titik tertinggi.


“Lalu, bagaimana dengan karier dan profesimu, Syilla?” tanya Bunda Kanaya.


“Syilla tadi memutuskan untuk resign, Bunda … tetapi, ditahan karena kampus akan menyelidikinya secara mendalam,” balas Arsyilla.


Bunda Kanaya tampak berkaca-kaca mendengar jawaban menantunya itu. “Kenapa Syilla, kamu menanggungnya sendiri?” tanya Bunda Kanaya.


“Tidak Bunda … Arsyilla tidak ingin menghancurkan kebahagiaan Kak Aksara. Biarkan Arsyilla yang melindungi Kak Aksara dengan caranya Syilla,” jawab Arsyilla dengan yakin.


Bunda Kanaya sontak memeluk menantunya itu. Air matanya tak tertahan lagi. Haru rasanya, Bunda Kanaya bisa merasakan bahwa Arsyilla mencintai putranya. Cinta yang mau berkorban. Cinta yang mau menanggung sesuatu yang sulit. Hingga tak terasa, Arsyilla pun turut larut dalam tangisan. Keduanya sama-sama menangis.


“Terima kasih … kamu sudah mencintai Aksara dengan cinta yang begitu besar. Bunda sangat terharu dengan pengorbananmu ini,” ucap Bunda Kanaya.

__ADS_1


Pelukan mereka terurai, Arsyilla lantas menyeka buliran air mata di wajahnya. “Awal pernikahan kami, Arsyilla memang merasa membenci Kak Aksara terlebih dengan kejadian satu malam itu. Akan tetapi, rupanya kejadian satu malam itu hanyalah jebakan yang sengaja dilakukan Kak Aksara. Cinta itu tumbuh dengan sendirinya setiap hari. Rasanya sekarang Syilla tidak menyesali jebakan one night stand itu. Justru Syilla bersyukur bisa memiliki Kak Aksara di dalam hidup ini,” aku Arsyilla dengan jujur.


Dari sini barulah Bunda Kanaya tahu betapa nakalnya Aksara, putranya yang begitu berani menjebak gadis sebaik dan setulus Arsyilla dalam petaka cinta satu malam. Bunda Kanaya mengusapi punggung Arsyilla yang masih bergetar.


“Jadi, apa rencanamu ke depannya?” tanya Bunda Kanaya.


“Syilla, masih menunggu jawaban dari kampus Bunda. Kendati demikian, Syilla tidak berharap banyak,” jawab Arsyilla.


“Kenapa tidak mencoba jujur dengan Aksara saja?” tanya Bunda Kanaya.


Dengan cepat Arsyilla pun menggelengkan kepalanya, “Tidak … Bunda. Wisuda tinggal satu bulan lagi. Kami juga sudah mulai persiapan resepsi kami berdua. Jadi tidak masalah Bunda. Lagipula, usai wisuda dan resepsi, Syilla dan Kak Aksara ingin memiliki buah hati,” cerita Arsyilla dengan yakin.


“Baiklah Syilla … terima kasih banyak. Terima kasih sudah mempercayai Bunda untuk membagi kisah dan ceritamu. Bunda pastikan semuanya akan aman bersama Bunda,” balas Bunda Kanaya.


Tidak berlangsung lama, wanita paruh baya itu tersenyum sembari meneteskan air matanya, “Pasti Mama Khaira senang memiliki putri seperti kamu … kamu baik, cantik, pintar, dan tulus. Juga, Bunda senang memiliki kamu sebagai menantu Bunda. Ah, rasanya seperti curhat dengan putri sendiri. Kedua anak Bunda cowok. Mereka lebih banyak diam dan terkesan cuek. Sehingga Bunda lebih banyak curhat dengan Ayahmu. Sekarang agaknya Bunda bisa curhat dengan putri Bunda ini,” ucap Bunda Kanaya.


Dengan cepat Arsyilla pun turut tertawa, “Siap Bunda … kita bisa curhat bersama,” jelasnya.


Baru saja, curhatan dan tangisan mereka reda rupanya Aksara sudah datang dari Jaya Corp dan datang ke kediaman Bundanya untuk menjemput istrinya itu.


“Sore Bunda,” sapanya begitu memasuki rumah Bunda Kanaya. Pria itu langsung mengambil duduk di samping istrinya.


“Sore, Nak … sudah pulang?” tanya Kanaya.


“Iya, langsung ke mari untuk jemput Syilla … Ayah masih di klinik ya Bunda?” tanya Aksara.


“Iya ,.. sebentar lagi baru Ayahmu datang,” balas Bunda Kanaya.


Aksara melirik sekilas ke wajah istrinya, “Mau pulang sekarang?” tanyanya.


“Iya … mau,” sahut Arsyilla.

__ADS_1


Keduanya pun kemudian berpamitan dengan Bunda Kanaya dan hendak pulang kembali ke apartemennya. Arsyilla bersyukur karena sudah mengetahui apa yang terjadi di masa lalu yang menghubungkannya dengan tindakan Om Darren. Sekarang, Arsyilla tinggal menunggu kabar dari kampus, apakah pengunduran dirinya akan diproses dan dirinya harus bertahan kali ini.


__ADS_2