Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Janji Untuk Selalu Menjaga


__ADS_3

Keluar dari ruang pengadilan, tampak Aksara yang berjalan dan menggandeng tangan Arsyilla. Pria itu bersikap begitu baik dan selalu mendampingi istrinya. Akan tetapi, Aksara tahu bahwa kali ini Arsyilla bisa lebih tenang dan menerima apa pun yang menjadi putusan pengadilan. Sekalipun beberapa saat yang lalu Aksara merasa tidak terima dan ingin memberikan hukuman yang berat untuk Tiara dan Bagas. Namun, melihat Arsyilla yang lebih siap dan ikhlas, maka Aksara pun mengikuti kemauan istrinya itu.


“Sudah, tidak perlu dipikirkan lagi,” ucap Aksara yang terus berjalan menyisiri pengadilan negeri dan masih menggandeng tangan istrinya itu.


Arsyilla perlahan melirik ke arah suaminya itu dan kemudian menganggukkan kepalanya perlahan, “Iya Kak … aku sudah tidak memikirkannya lagi. Kini, aku bisa sepenuhnya fokus kepada kehamilanku,” ucap Arsyilla sembari memberikan usapan di perutnya.


“Benar Honey … fokus ke Dedek Bayi sepenuhnya,” balas Aksara.


Pria itu benar-benar merasa lega karena Arsyilla bisa berpikir positif dan kemudian mengalihkan semua perhatiannya pada Dedek Bayi yang dikandungnya.


“Yakin, cuma fokus ke Dedek Bayi? Enggak fokus ke Ayahnya Dedek Bayi?” sahut Arsyilla.


Aksara pun tertawa, “Kalau itu hukumnya mutlak, Honey. Harus memperhatikan Ayahnya Dedek Bayi juga. Cuma ya sekarang lebih fokus kepada Dedek Bayi saja. Untuk Ayahnya kapan-kapan tidak masalah,” balas Aksara lagi.


Pasangan itu kemudian berjalan dan menuju ke dalam mobil mereka. Kemudian mereka tentu memilih untuk tiba di unit apartemen miliknya untuk beristirahat.


***


Sementara itu di tempat yang berbeda …


Ravendra yang terbiasa pulang ke apartemennya, kali ini memilih untuk pulang ke kediaman Mama Sandra. Agaknya Ravendra merindukan Mamanya juga dengan berbagai peristiwa yang berkaitan dengan Papanya membuat Ravendra kecewa dan menyesal. Setidaknya dengan menemui Mamanya sejenak, Ravendra bisa mengutarakan perasaannya.


“Kenapa mukanya anak Mama ini terlihat murung dan tak bersemangat seperti ini?” tanya Mama Sandra.

__ADS_1


Kemudian Ravendra pun tersenyum dengan menunjukkan senyuman yang hambar dan kemudian melirik sejenak ke Mamanya itu. “Ma, apa yang Mama lakukan jika Mama merasa kecewa?” tanya Ravendra kepada Mamanya itu.


Perlahan Mama Sandra menatap lekat-lekat wajah putranya itu, “Kenapa? Apa kamu sedang kecewa? Sini, cerita sama Mama,” balas Mama Sandra.


“Iya Ma … lebih tepatnya Ravendra kecewa sama Papa,” sahut Ravendra kali ini.


Sekalipun Ravendra adalah pemuda dewasa, tetapi memang hubungannya dengan Mama Sandra sangat baik dan dekat. Tentu itu juga karena dari kecil Mama Sandra yang mengasuh Ravendra seorang diri. Jatuhnya hak asuh Ravendra pada Mama Sandra, ditambah dengan kasus hukum yang sering kali membawa nama Darren, memang Mama Sandra sepenuhnya mengasuh Ravendra dan juga memberikan penjelasan yang sederhana mengenai Papanya kepada Ravendra.


“Tidak mungkinkah Papa bertobat Ma? Usia Papa sudah tidak lagi muda, tetapi kenapa justru Papa masih suka mencelakai orang lain dengan tangannya. Menurut Ravendra, Papa sudah keterlaluan, Ma,” cerita Ravendra kali ini.


Walaupun ceritanya tidak gamblang, tetapi Ravendra seakan sudah mengatakan bahwa dirinya kecewa dengan Papanya karena sikap Papanya yang suka mencelakai orang. Bagi Ravendra, sikap Papanya itu benar-benar tidak bisa dibenarkan.


“Kita tidak bisa mengubah orang lain, Vendra … itulah yang Mama rasakan selama beberapa tahun mengenal Papamu dan hidup bersamanya. Sekalipun Mama sering menasihati Papamu dan memintanya untuk berubah, nyatanya dia tidak berubah,” balas Mama Sandra.


“Ma, ternyata … yang membuat Arsyilla celaka adalah Papa, Ma,” ucap Ravendra kali ini.


Mendengar nama Arsyilla membuat Mama Sandra pun beringsut dan menatap tajam pada putranya itu. Kemudian Mama Sandra pun kembali berbicara, “Apa kamu masih mencintai Arsyilla?” tanya Mama Sandra kemudian.


Kali ini Ravendra diam dan tidak langsung menjawab. Akan tetapi, Ravendra terlihat menghela nafas dan mengernyitkan keningnya.


“Dulu memang Vendra mencintai Arsyilla, Ma … tetapi, sekarang Arsyilla sudah ada yang memiliki. Lebih baik, Vendra menghapus perasaan ini dan kemudian membereskan hati Vendra. Tidak dipungkiri selama satu tahun berpacaran dengan Arsyilla membuat Ravendra sangat mencintai wanita itu. Akan tetapi, Tuhan sudah menggariskan semuanya dan Arsyilla menjadi milik Aksara,” balas Ravendra.


Mungkin itu adalah sebuah contoh nyata dari definisi bahwa cinta tak harus memiliki. Sebesar apa pun perasaan Ravendra pun Arsyilla, tetapi melepaskannya dan membereskan hatinya adalah pilihan terbaik. Baik untuk dirinya, dan juga baik untuk Arsyilla.

__ADS_1


“Itu sudah sebuah pikiran dan sikap yang baik, Vendra … cinta memang tidak harus memiliki. Justru definisi tertinggi dari cinta adalah kita bisa ikhlas melepaskan cinta itu untuk bahagia bersama orang lain,” balas Mama Sandra.


“Benar Ma … Vendra tidak ingin kembali menjadi pria yang menyimpan dendam di hati. Hanya saja sekarang Vendra tidak bisa menerima semua perilaku Papa. Itu sangat melukai Vendra, Ma,” ucap Ravendra kali ini.


Mama Sandra pada siang itu memberikan waktu dan telinganya untuk mendengarkan keluh kesah Ravendra. Menjadi seorang Mama yang mau mendengarkan apa pun isi hati anaknya, sekalipun hanya mendengarkan, tetapi itu cukup membuat Ravendra lega karena menyampaikan isi hatinya.


***


Sementara di apartemen …


Aksara dan Arsyilla yang sudah tiba di apartemen memilih untuk duduk di sofa yang berada di ruang tamu. Terlihat Arsyilla yang menyandarkan kepalanya di bahu suaminya itu.


“Kak, kapan-kapan kita jalan-jalan yuk ke pantai. Aku pengen deh, lihat senja di tepi pantai,” ucap Arsyilla kali ini.


Aksara pun tertawa, sembari mengusapi puncak kepala istrinya itu, “Boleh … asalkan kamu tidak kecapekan aja. Soalnya Bumilku ini tidak boleh kecapekan,” sahut Aksara.


“Kak, kalau nanti kehamilanku makin besar, aku takut deh Kak. Enggak tahu kenapa, cuma rasanya aku sama sekali tidak berpengalaman,” balas Arsyilla.


“Kamu tenang aja Sayang … aku akan selalu menjagamu dan Dedek Bayi. AKu akan selalu mendampingimu menjalani masa-masa kehamilan ini,” ucap Aksara dengan sungguh-sungguh.


“Janji?” tanya Arsyilla sembari menengadahkan wajahnya dan melihat wajah suaminya itu.


“Janji Honey. Aku janji akan selalu menjaga dan mendampingimu. Kita jalani masa-masa mempersiapkan dan menyambut Dedek Bayi bersam-sama,” balas Aksara.

__ADS_1


Kali ini dengan mendengarkan ucapan suaminya, walaupun merasa sama sekali tidak berpengalaman, tetapi Arsyilla yakin bisa menjalani masa kehamilan yang akan bertambah masa usianya itu dan juga perutnya yang akan kian membesar. Rasanya Arsyilla sudah sabar melihat perutnya yang kian membesar dan merasakan tendangan pertama dari bayinya.


__ADS_2