
Sebenarnya tubuh Arsyilla belum sepenuhnya pulih, masih ada lebam di tangannya. Kendati demikian, tugas untuk mencerdaskan kehidupan bangsa tetap harus dijalankannya. Usai sarapan dan membereskan peralatan makan, Arsyilla segera berganti baju dengan mengenakan blouse berlengan panjang dan mengenakan celana panjang berbahan kain berwarna hitam.
“Kamu yakin bisa mengajar?” tanya Aksara sembari mengemudikan mobilnya menuju ke fakultas tempat Arsyilla mengajar.
Arsyilla mengangguk, dia sembari berkaca di sebuah cermin kecil yang selalu ada di dalam tasnya, “Iya, lagipula wajahku sudah tidak bengkak sebelah. Pemulihanku lebih cepat,” ucapnya dengan masih berkaca.
Aksara sesekali memperhatikan Arsyilla, kali ini pria itu berpikir bahwa Arsyilla adalah sosok yang bertanggung jawab penuh dengan profesinya. Aksara tahu bahwa Arsyilla belum 100% pulih, tetapi wanita sudah ingin kembali mengajar.
“Mama Khaira juga seorang Dosen kan? Apa dulu, beliau juga semangat begini saat mengajar? Badan sakit pun tetap mengajar?” tanya Aksara kali ini kepada Arsyilla.
Wanita itu pun mengangguk, “Ya, Mama adalah Dosen yang keren. Dosen terhebat yang aku kenal selama ini. Bahkan di saat Mama pemulihan pasca bersalin, Mama selalu menolong Asdos (asisten dosen) untuk bisa mengajar dengan baik. Terkadang Mama juga mengajar dengan menggunakan aplikasi daring. Bisa dikatakan, aku menjadi dosen karena figure dari Mamaku,” cerita Arsyilla kali ini.
“Benarkah?” tanya Aksara lagi.
Arsyilla lagi-lagi menganggukkan kepalanya, “Tidak ada wanita yang seperti Mamaku, pengabdiannya sebagai istri sangat besar dan layak diapreasi. Mama rela menomor duakan karier mengajarnya untuk mengasuhku dan Shaka. Mama lebih mencintai suami dan anak-anaknya, dibanding kariernya. Padahal, Mama bisa mencapai puncak kariernya sejak Mama masih muda. Mama lulusan dari University of Manchester, mendapatkan beasiswa S2 di sana, tetapi Mama selalu menaruh karier di bawah posisinya sebagai seorang Istri dan Ibu,” cerita Arsyilla lagi.
Dari ceritanya, Aksara tahu bahwa Arsyilla pun sangat mengagumi dan mengidolakan Mamanya. Dalam hatinya, Aksara pun justru ingin menjadi seperti Papa Radit yang memiliki istri yang mengabdi tulus dan sepenuhnya seperti Mama Khaira. Wanita cerdas yang justru menomor satukan suami dan anak-anaknya.
Mungkinkah kamu bisa seperti Mama Khaira, Syilla?
Andai saja kamu juga begitu.
Dalam diam, Aksara bergumam dalam hatinya. Akan tetapi, Aksara tahu bahwa wanita di sebelahnya adalah Arsyilla, bukan Mama Khaira. Maka dari itu, Aksara akan melihat Arsyilla sebagai Arsyilla, menerima dosen dan istrinya itu sebagai pribadi yang utuh sebagai Arsyilla Kirana. Hingga akhirnya, mobil Aksara telah terparkir di depan Fakultas Teknik Arsitektur.
__ADS_1
Arsyilla kemudian mengambil tasnya, kemudian wanita itu mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Aksara dan berpamitan dengan suaminya itu.
“Pamit yah, aku mengajar dulu,” pamitnya dengan membawa punggung tangan Aksara di keningnya.
Rupanya Aksara pun tersenyum, tidak mengira wanita yang beberapa hari lalu begitu jutek bahkan tidak mau berpamitan dengannya, kali ini Arsyilla terlihat lebih baik dan tidak jutek seperti sebelumnya.
Aksara sejenak melepas sitbealtnya, dan mencondongkan badannya ke arah Arsyilla. Pria itu dengan tenang mulai melabuhkan satu kecupan di kening Arsyilla.
Cup.
“Iya, nanti tunggu aku menjemputmu. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku,” ucapnya sembari mengurai bibirnya dari kening Arsyilla.
Arsyilla kemudian turun dari mobil, wanita itu berjalan sembari memegangi keningnya yang dikecup oleh Aksara.
Andai saja, pria itu memang memiliki sifat seperti Papa.
...🌸🌸🌸...
Sore harinya …
Belum ada jam 16.00, Aksara sudah tiba di fakultas Teknik Arsitektur. Pria itu segera mengirimkan pesan kepada Arsyilla bahwa dirinya sudah berada di parkiran fakultas itu.
[To: Syilla]
__ADS_1
[Kamu masih mengajar?]
[Aku sudah berada di parkiran fakultas ya …]
[Kamu bisa langsung keluar, karena aku sudah menjemputmu.]
Pesan itu meluncur dengan cepat, hingga Arsyilla yang masih mengajar di kelas pun segera membukanya dan membalasnya singkat.
[To: A]
[Ok.]
Arsyilla pun sedikit mengernyitkan keningnya saat membalas pesan itu, tetapi dirinya masih dalam posisi mengajar, jadi setidaknya balasan itu cukup menegaskan bahwa dia sudah membaca pesan itu.
“Baiklah, kelas hari ini sampai di sini. Jangan lupa tugasnya untuk minggu depan ya,” ucap Arsyilla menutup kelas sore itu.
Setelahnya Arsyilla mematikan laptopnya dan mengemasi peralatannya, kemudian Arsyilla berjalan gontai keluar dari fakultas Teknik Arsitektur. Dari kejauhan, dia melihat mobil Aksara yang terparkir rapi di depan gedung fakultas. Arsyilla pun mempercepat langkah kakinya, kemudian dia memasuki mobil Aksara dengan terengah-engah.
“Kenapa kamu kayak gitu?” tanya Aksara yang memperhatikan Arsyilla yang terlihat terengah-engah dan menghela nafasnya.
Arsyilla menggelengkan kepalanya, “Ah, enggak … hanya saja aku jadi parno keluar dari fakultas sore hari ini,” jawabnya.
Ya, masih ada trauma yang tersisa sehingga Arsyilla tampak takut untuk keluar dari gedung fakultas. Teringat dengan bagaimana Ravendra membawanya paksa beberapa hari yang lalu. Untuk itulah, Arsyilla harus lebih waspada dengan keselamatan dirinya sendiri. Sebab, dia tidak ingin menjadi korban penganiayaan dan korban pemerkosaan untuk kali kedua.
__ADS_1
Aksara kemudian menatap sejenak pada Arsyilla, “Tenang saja, mulai sekarang aku akan menjemputmu tepat waktu,” ucapnya dengan tenang dan kemudian mulai melajukan mobilnya keluar dari fakultas teknik itu.