
“Kak, kamu kok bisa dekat banget sih sama Thania?” tanya Arsyilla kali ini kepada suaminya itu.
Memang itu adalah pertanyaan yang ingin Arsyilla tanyakan sejak dulu, tetapi baru sekarang lah Arsyilla menanyakannya kepada Aksara.
“Iya Honey … habis gimana, dulu Rangga ke Melbourne untuk kuliah, dan Thania dari kecil sama Ayah dan Bunda, jadi ya kami bisa dekat. Dulu itu malahan beberapa kenalan Bunda itu mengira aku Daddy-nya Thania,” cerita Aksara kali ini kepada Arsyilla.
Waktu yang membuat keduanya menjadi dekat. Terlebih dengan posisi bahwa dulu Rangga kuliah di Melbourne, Australia sehingga memang Aksaralah yang lebih banyak berinteraksi dengan Thania. Bahkan tidak jarang, orang-orang mengira bahwa Thania adalah putrinya Aksara.
“Oh, gitu … berarti sama kayak aku dulu dong … aku mengira kamu juga Single Daddy. Soalnya dulu waktu ketemu kamu dan Thania di toko buku, Thania manggil kamu Daddy,” balas Arsyilla.
“Kebanyakan orang akan berpikiran seperti itu sih, Honey. Cuma kan sekarang aku udah benar-benar menjadi seorang Ayah untuk Ara. Aku akan melakukan yang terbaik bagi Ara,” balas Aksara.
Seakan Aksara begitu bahagia memiliki Ara dalam hidupnya. Berkaca dari figur Ayah Bisma yang menjadi Ayah yang begitu baik dan sabar, Aksara pun ingin menjadi sosok Ayah yang seperti itu bagi Ara. Lebih dari itu, Aksara juga ingin dekat secara hati dan emotional dengan putrinya itu.
“Daddy’s Daughter,” gumam Arsyilla sembari tertawa.
“Iya, Daddy’s daughter-nya Ara,” balas Aksara. “Melihat kamu yang dekat sama Papa Radit, aku juga ingin menjadi sosok Ayah yang seperti ini. Ya, aku akan mengambil setiap hal yang baik dari Ayah Bisma dan dari Papa Radit. Ayah Bisma yang penyabar, baik hati, dan ramah. Sementara Papa Radit yang bisa bersahabat dengan anaknya. Mengombinasikan sifat dan perbuatan baik keduanya,” balas Aksara.
“Benar Kak … Ayah Bisma itu idola para Ibu-Ibu di Rumah Sakit yah katanya?” tanya Arsyilla kali ini kepada Aksara.
“Hmm, idolanya Ibu-Ibu gimana Honey?” tanya Aksara.
“Katanya Mama, dulu itu Ibu-Ibu itu pada ngefans sama Ayah Bisma katanya Dokternya ganteng, ramah, dan sabar banget. Enggak pernah marahin pasien,” cerita Arsyilla.
“Kan ada etika profesi yang mengharuskan Dokter untuk bersikap demikian, Honey … ada mata kuliah khusus yang mengajari seorang Dokter dalam berbicara dengan pasien, ada etikanya,” jelas Aksara.
Tentu saja Aksara tahu, karena dulu dia juga pernah coba-coba kuliah Kedokteran. Setelah merasa tidak nyaman, justru Aksara memilih mengambil jurusan Teknik Arsitektur.
__ADS_1
Baru mereka berbicara sebentar, membahas keluarga mereka masing-masing, terdengar tangisan Baby Ara. Aksara pun dengan cepat berdiri dan segera menggendong putrinya itu.
“My Lil daughter … nangis yah, Baby Ara mau minum? Iya? Mau minum ASI lagi? Cup cup cup, Sayangnya Ayah,” ucap Aksara yang tampak berusaha menenangkan tangisan bayinya itu.
Arsyilla yang mengamati perilaku suaminya bersama Ara tertawa, pemandangan yang lucu, tetapi sekaligus Arsyilla menyukai Aksara yang sigap menjadi seorang Ayah.
“Ini Bunda … Ara mau minum ASI lagi,” ucap Aksara sembari menyerahkan Ara ke dalam timangan Bundanya dan mendapatkan ASI dari sumbernya.
Arsyilla pun menganggukkan kepalanya, dan kemudian mulai memberikan ASI untuk Ara. “Sini … uluh-uluh, nangisnya. Kecil-kecil, nangisnya kenceng banget sih,” ucap Arsyilla.
Akan tetapi, tangisan Ara yang kencang itu seketika reda saat mendapatkan sumber ASI miliknya, menghisapnya, dan mendapatkan ASI secara langsung.
“Tadi nangisnya kenceng banget, setelah dapat ASI langsung diem ya Honey,” ucap Aksara sembari tertawa melihat putrinya itu.
“Iya Kak, sudah dapat apa yang dia mau … jadi langsung diem,” sahut Arsyilla.
Bayi merasakan bahwa dari ibu yang berbicara lembut, memberikan perhatian, sorot mata yang teduh, dan usapan, adalah bentuk bahasa cinta yang bisa mereka pahami. Sementara Ibu pun akan menyalurkan kasih sayangnya dengan meng-ASI-hi dan melakukan aktivitasnya bersama baby.
“Kalau minum ASI wajahnya teduh banget sih,” ucap Aksara yang rupanya turut mengamati Ara yang begitu teduh dan tenang menghisap ASI.
“Lucu ya Kak … aku terharu banget tiap kali memberikan ASI untuk Ara. Dulu, aku hanya bisa mengusapinya di perutku yang kian bulan kian menyembul. Sekarang, aku bisa menyentuhnya secara langsung, memberikan ASI kepadanya, dan juga bersenandung untuknya. Perasaanku terharu banget,” aku Arsyilla kali ini.
Saat memiliki bayi, rasanya memang penuh haru. Hal-hal yang sebelum belum pernah kita lakukan, kini bisa dilakukan untuk si bayi. Walau memang harus banyak belajar, tetapi Arsyilla sangat suka meng-ASI-hi dan mengasuh Ara dengan tangannya sendiri.
“Iya Honey … aku pun terharu. Dulu kalau aku ngajak bicara Ara, harus sounding di perut kamu. Kalau mau cium, bisanya cium-cium perut kamu. Sekarang bisa berbicara langsung, menggennggam tangannya yang mungil ini, dan juga menciumnya. Aku sayang banget sama Ara,” balas Aksara.
Sebuah pengakuan ucapan sayang terlontar dari mulutnya bahwa dia sangat menyayangi Ara. Kehadiran Ara bukan hanya melengkapi hidup Aksara, tetapi juga mengubah hidupnya. Sebab, memang kehadiran seorang anak memang akan mengubah dan melengkapi hidup kedua orang tuanya. Sekarang, itulah yang Aksara dan Arsyilla rasakan.
__ADS_1
“Ara, itu sumber ASI-nya dipinjem Ara dua tahun saja yah … sampai Ara lulus S2. Setelah itu, kembalikan kepada Ayah lagi yah,” ucap Aksara dengan begitu absurd-nya.
Alhasil, ucapan Aksara itu mendapatkan hadiah cubitan di pinggangnya dari Arsyilla. Sehingga pria itu pun mengaduh sembari memegangi pinggangnya.
“Aduh, sakit, Honeh,” keluhnya dengan masih mengusapi pinggangnya.
“Habis, kamu bicaranya kayak gitu banget. Sebel deh,” balas Arsyilla.
“Bercanda, Honey … kan aku benar … semua yang ada di kamu itu milikmu. Hak penuh atas namaku, aku cuma meminjamkannya ke Ara saja,” balasnya.
Ya Tuhan, Arsyilla rasanya benar-benar geleng kepala mendengar ucapan absurd dari suaminya itu. Bisa-bisa secara gamblang Aksara mengatakan hal yang demikian.
“Ishs, sebel deh … pokoknya sekarang jadi milik Ara. Gak boleh diganggu gugat,” balas Arsyilla dengan menyipitkan kedua matanya.
“Iya-iya, Honey … buat Ara dulu. Ayah akan mengalah kok. Lagian apa sih enggak buat kesayangannya Ayah ini. Biar Ara tumbuh sehat dan kuat, makin gemoy ya Sayang,” ucap Aksara dengan menggenggam tangan Ara, menautkan jari telunjuknya dalam genggamannya.
“Iya Ayah … jadi, jangan nakalin Bunda dulu yah,” sahut Arsyilla dengan menirukan suara bayi.
Tawa keduanya pun meledak. Hanya bertiga di rumah, tetapi rasanya ada begitu banyak kebahagiaan yang bisa mereka hadirkan bersama. Sebab, memang kebahagiaan itu begitu sederhana. Sesederhana kita mau membagi tawa, kita mau mempedulikan, kita mau mendengarkan. Dari setiap perbuatan-perbuatan kecil yang akhirnya menghadirkan kebahagiaan demi kebahagiaan di dalam hidup berkeluarga.
“Kak, aku berharap kamu menjadi Ayah yang baik untuk Ara. Membersamai tumbuh kembangnya. Sebab, seorang anak tidak hanya membutuhkan Bundanya, tetapi juga Ayahnya. Porsi kita di hati dan hidup Ara itu sama, sejajar. Jadi, kita asuh dan rawat Ara bersama-sama yah,” ucap Arsyilla.
Aksara pun menganggukkan kepalanya, “Iya Honey … aku juga masih dalam tahap belajar. Banyak juga kelemahan dan kurang di sana-sini. Hanya saja, aku mau belajar. Aku mau menjadi sosok Ayah yang baik bagi Ara, menjadi sahabat untuknya. Kita lakukan bersama-sama. Mengisi gelas cintanya dengan tangki air cinta kita yang begitu penuh dan melimpah. Jika dia sudah mendapatkan banyak cinta dan kasih sayang di dalam rumah, dia tidak akan mencari-cari di luar sana. Benar kan?” tanya Aksara.
“Benar banget Ayah … kita isi gelas cinta Ara setiap hari. Ara, putrinya Bunda … dengarkan Ayah dan Bunda yah. Kamu tumbuhlah menjadi seorang putri yang hebat, yang berani menghadapi apa yang ada di depanmu. Jangan takut, jangan tawar hati. Ayah dan Bunda selalu memberikan tangan kami untuk kamu genggam. Dunia, terkadang seindah apa yang kamu bayangkan saat dewasa nanti. Namun, percayalah kasih sayang dari Ayah dan Bunda selalu utuh dan penuh buat kamu,” ucap Arsyilla kepada putri kecilnya yang masih saja meminum ASI itu.
Ya, dunia terkadang tidak seindah dalam angan anak-anak. Ketika dewasa nanti, banyak perkara juga yang akan mereka hadapi. Akan tetapi, Arsyilla dan Aksara ingin mengatakan bahwa mereka akan selalu ada dan memberikan kasih sayang yang utuh dan penuh untuk Ara.
__ADS_1