
“Kenapa dengan Papa, Ma? Kok Mama sebut-sebut Papa sih?” tanya Papa Radit dengan tiba-tiba.
Papa Radit yang baru saja pulang dari perusahaannya itu tampak terkejut melihat istrinya berkumpul bersama Arsyilla, Aksara, dan cucunya yaitu Ara.
“Loh, semuanya baru kumpul yah?” tanya Papa Radit.
“Iya Pa … tadi Syilla nitipin Ara ke Mama, soalnya Syilla mulai mengajar hari ini,” balas Arsyilla.
“Tidak apa-apa Syilla … nitip ke Mama saja. Lagian mengajar hanya setengah hari saja kan?” tanya Papa Radit.
“Iya Pa … setengah hari, soalnya dari pengalaman Kak Aksara dulu, Syilla takut untuk menitipkan Ara di daycare. Lebih baik berjaga-jaga,” ucap Arsyilla.
“Biar Mama yang menjaga Ara saja, Syilla … lagian Mama juga bisa kamu andalkan. Kita menjadi support system untuk sama lain,” balas Papa Radit.
Papa Radit menyampaikan pendapatnya dan meminta Arsyilla untuk menitipkan Ara kepada Mamanya saja. Selain itu, Papa Radit mengingatkan bahwa keluarganya adalah support system untuk satu sama lain. Sungguh, seorang Papa yang bijaksana dan begitu baik.
“Ya sudah, Papa mandi dulu yah … biar bersih. Ada cucu cantik di sini, Eyang harus mandi dan bersih biar tidak ada kuman yang menempel,” ucap Papa Radit.
Mama Khaira pun mengangkat ibu jarinya ke arah suaminya itu. “Mandi yang bersih Eyang,” ucap Mama Khaira sembari tertawa.
Papa Radit mengangguk dan melambaikan tangannya kepada istrinya itu. Usia keduanya memang sudah paruh baya, tetapi keharmonisan dan sikap hangat bisa terasa sampai saat ini. Benar-benar figur orang tua yang harmonis dan juga hangat.
Hanya berselang lima belas menit, Papa Radit sudah turun dan berkumpul dengan Aksara, Arsyilla, dan Ara di ruang tamu.
“Sini, Ara ikut sama Eyang dulu,” pinta Papa Radit yang ingin menggendong cucunya itu.
Sementara Mama Khaira muncul dari dapur dan membawa nampan yang berisikan Teh Hangat, Mendoan, dan Pisang Goreng yang akan menemani sebagai camilan di sore itu.
“Diminum yuk … sembari makan gorengan,” ucap Mama Khaira.
Kemudian Mama Khaira mengambil duduk di samping Papa Radit, dengan tangan yang sesekali mengusapi tangan Ara.
__ADS_1
“Lucu banget ya Pa … jadi inget Syilla waktu kecil dulu seperti ini. Sekarang Syilla nya sudah punya baby,” ucap Mama Khaira.
“Bener banget Ma … dulu masih sekecil ini, masih kita gendong-gendong, sekarang anaknya sudah besar, sudah memiliki seorang putri kecil,” balas Papa Radit.
Aksara pun turut tersenyum mendengarnya, “Benar Papa … jadi keingat waktu Aksara bertemu Syilla di Panti Asuhan dulu, usianya kira-kira 40 hari kan?” tanyanya.
Mama Khaira dan Papa Radit sama-sama tertawa, “Tepat sekali, itu waktu kami membuat syukuran atas kelahirannya Syilla.”
Sembari mengobrol bersama, menikmati sore dengan ditemani Teh hangat dan camilan, sore di kediaman keluarga Raditya itu sangat semarak. Semua cerita terangkai begitu saja. Kenangan di masa lalu yang selalu indah untuk dikenang. Sangat menyenangkan.
“Sore semuanya,” sapa Arshaka yang rupanya juga baru saja pulang dari kantor. Pemuda itu tampak tersenyum lebar melihat keluarganya yang sudah berkumpul di ruang tamu.
“Eh, ada di cantik Ara … tunggu Uncle mandi dulu ya Cantik, habis ini Uncle mau gendong kamu,” ucap Shaka yang buru-buru berlari ke dalam kamarnya untuk mandi. Sebab, Shaka juga ingin segera menggendong keponakan kecilnya itu sebelum kakaknya mengajak Ara untuk pulang ke rumah.
Sampai akhirnya Arshaka menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa dan segera duduk di samping Papanya. “Pa, biar Shaka gendong dulu sebentar. Ya ampun, sudah besar kamu ya Cantik … keponakan cantiknya Uncle,” ucap Arshaka dengan begitu gemasnya.
“Cantik banget sih Kak,” ucap Arshaka ini yang seakan bertanya kepada Arsyilla.
“Ihh, percaya diri banget sih Kak … udah jadi Ibu masih percaya diri,” balas Shaka dengan menyipitkan matanya kepada Kakaknya itu.
“Lihat tuh Mas Aksa, Kakakku tuh kayak gini. Mas Aksa jangan terkoceh, dia tidak selembut yang orang-orang lihat. Sebenarnya Kakakku tuh percaya diri dan galak,” ucap Arshaka yang seakan menghasut Kakak Iparnya itu.
Aksara pun tersenyum, tangannya merangkul bahu istrinya, “Galak-galak juga aku cinta kok,” sahut Aksara yang mengundang gelak tawa dari seluruh keluarga.
Menantu keluarga Raditya itu memang bersikap absurd dan justru bagi Mama Khaira mengingatkannya pada sosok suaminya di waktu muda dulu. Pria yang tidak ragu untuk mengatakan cinta kepada istrinya meskipun di hadapan umum.
“Tuh denger kan, Kak Aksara saja tetep cinta walau aku galak,” sought Arsyilla yang seakan mengejek adiknya itu. “Shaka, kamu sudah cocok loh gendong baby gitu, sudah saatnya tuh aku punya ponakan biar jadi Aunty,” ucap Arsyilla yang seakan memberi kode supaya adiknya itu segera menikah.
Kini semuanya balas tertawa, Papa Radit juga menepuki bahu putranya itu, “Yang dikatakan Kakakmu benar … jika ada gadis yang cocok dan dekat di hati kamu, bawa pulang ke rumah … kenalkan sama Papa dan Mama. Tidak masalah latar belakangnya, yang penting kalian saling mencintai dan mau berjuang untuk mempertahankan rumah tangga,” ucap Papa Radit.
“Benar Shaka … pendekatan dulu tidak masalah. Atau mau Mama kenalkan sama anaknya teman Mama. Cuma kenalan, bukan menjodohkan,” ucap Mama Khaira.
__ADS_1
Tampak Arshaka tersenyum dan menggelengkan kepalanya, “Shaka, santai saja Ma … masih muda juga. Mau bekerja dulu mencari pengalaman. Nanti kalau Shaka sudah agak stabil dan tabungan sudah cukup, baru deh memikirkan untuk cari pasangan,” jawab Shaka.
Kedua orang tua pun akhirnya mengangguki apa yang baru saja Shaka sampaikan. Tidak ingin memaksa, yang penting putranya juga mulai berpikir ke masa depan. Melihat Shaka yang sudah memiliki pekerjaan tetap, jadi memang sudah waktunya untuk memikirkan jodohnya.
“Shaka mau main dan gendong-gendong Si Cantik dulu aja Eyang … Uncle sayang banget deh sama Ara,” ucapnya sembari mencium pipi Ara.
Akhirnya semuanya pun tertawa, Arshaka memang masih muda, tetapi tidak menyangka bahwa pemuda tampan itu rupanya sangat sayang dengan ponakannya. Bahkan terlihat begitu luwes saat menggendong si kecil Ara.
“Kalau Mama dan Papa dulu juga pacaran yah?” tanya Aksara dengan tiba-tiba. Melihat keharmonisan pasangan paruh baya itu, Aksara menduga bahwa kedua mertuanya itu pacar di masa muda, atau lebih tepatnya cinta pertama yang berakhir di pelaminan, kemudian menjalani kehidupan pernikahan yang begitu langgeng.
Mama Khaira dan Papa Radit pun saling pandang dan akhirnya keduanya tampak menggelengkan kepalanya, “Kami dijodohkan oleh kedua orang tua kami, Aksara … pacaran setelah pernikahan,” jawab Mama Khaira dengan jujur.
“Cuma … kami sudah saling ketemu di waktu kecil, di Jogjakarta dulu karena orang tua kami sahabatan sejak dulu. Ya, dulu mikirnya Mamanya Syilla ini hanya adik kecil saja. Teman bermain waktu kecil di Jogjakarta dulu,” jawab Papa Radit.
“Oh, kok harmonis banget … sampai Syilla selalu cerita ingin kehidupan rumah tangga seperti Mama dan Papa,” balas Aksara lagi.
“Itu karena kami yang dia lihat sejak kecil. Akan tetapi, tidak ada rumah tangga yang sempurna. Mama dan Papa pun demikian, jauh dari kata sempurna. Akan tetapi, Mama dan Papa berjuang bersama mempertahankan rumah tangga untuk bisa bertahan sampai sekarang,” balas Mama Khaira.
“Mama, dulu … panggilan Mama waktu kecil dari Papa itu Aira kan? Nanti kalau Shaka menikah dan punya anak perempuan, Shaka namain Aira yah?” tanya Shaka dengan tiba-tiba.
“Boleh saja … cuma bawa dulu calonnya ke rumah. Masak belum punya calon sudah mau kasih nama ke anak,” jawab Mama Khaira dengan tertawa.
“Kalau Papa panggilan waktu kecilnya apa Ma?” Giliran Arsyilla yang bertanya kepada Mamanya mengenai panggilan Papanya sewaktu kecil.
“Adit, Mas Adit,” jawab Mama Khaira sembari tersenyum dan melirik kepada suaminya itu.
“Boleh tuh Kak … buat nama anak cowok nanti,” ucap Arsyilla sembari menepuk paha suaminya.
Aksara pun mengangguk setuju, “Boleh … asalkan kamu mau, tulus, dan ikhlas, aku tidak keberatan kok Honey … jadi keluarga A4 dong. Aksara, Arsyilla, Ara, dan Adit,” sahut Aksara. Kemudian pria itu sedikit diam dan kembali berbicara, “Gimana kalau A6 saja Honey … jadi punya anaknya 4?” tawar Aksara kali ini.
Seluruh keluarga pun tergelak dalam tawa, banyak mimpi, banyak candaan, dan banyak kenangan yang bisa dibagikan bersama oleh keluarga itu di sore hari yang indah. Sorenya tetap sama, yang beda adalah kegiatan dan cara mereka mengisi waktu di sore hari dengan cerita yang hangat dan juga kasih sayang yang terjalin indah antar anggota keluarga.
__ADS_1