Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Sarapan Pagi


__ADS_3

Membiarkan malam berlalu, dan pagi hari ini Arsyilla sudah turun dari kamar terlebih dahulu untuk membantu Bunda Kanaya mempersiapkan sarapan. Lagipula, ini adalah rumah mertuanya, untuk itu, Arsyilla pun sengaja menyetel alarm di handphonenya supaya dia bisa bangun lebih pagi untuk pumping, mengosongkan sumber ASI-nya yang penuh, dan kemudian turun ke bawah untuk membantu Bunda Kanaya.


“Pagi Bunda … ada yang bisa Syilla bantu?” sapanya.


Suara Arsyilla yang lembut, membuat Bunda Kanaya menoleh dan juga tersenyum kepada menantunya itu.


“Pagi … sudah bangun? Tidak bantuin Bunda tidak apa-apa, kan ada Bibi Minah yang bantuin Bunda. Kamu bisa siapin keperluannya Ara,” balas Bunda Kanaya.


Bukan bermaksud menolak, hanya saja Bunda Kanaya tahu bahwa sebagai seorang Ibu yang memiliki bayi, pagi hari adalah waktu yang hectic. Banyak yang harus dikerjakan Arsyilla terkait dengan bayinya.


“Ara masih bobok kok Bunda, lelap banget boboknya. Bersaing sama Ayahnya,” balas Arsyilla dengan kekehannya yang merasa geli dengan Ara dan Aksara yang masih sama-sama terlelap.


“Begitulah Syilla … dulu juga Bunda sudah bangun pagi-pagi, tapi Aksara dan Ayahnya masih nyenyak banget boboknya. Jadi, beneran kamu mau bantuin Bunda?” tanya Bunda Kanaya.


“Iya Bunda,” balasnya.


“Kamu menyeduh Teh ya Syilla … setelah itu, minta tolong buatkan bumbu kuning. Bunda bikin Kari Ayam nih untuk sarapan,” ucap Bunda Kanaya.


Arsyilla hanya menganggukkan kepalanya, setelahnya dia mulai menyeduh Teh. Urusan teh selesai, Arsyilla kemudian membuat bumbu kuning yang akan digunakan untuk memasak Kari Ayam.


“Ditumis sekalian ya Syilla … tambahkan Serei, Jahe, dan Daun Jeruk Nipis, ini,” instruksi dari Bunda Kanaya.


“Iya Bunda,” jawab Arsyilla.


Arsyilla segera menumis bumbu kuning dan memasukkan bahan-bahan yang sudah disiapkan oleh Bunda Kanaya. Aroma tumisan bumbu yang begitu harum memenuhi dapur itu. Kemudian Bunda Kanaya memasukkan Ayam dan memberinya dengan air. Membiarkan ayam terebus sempurna dalam kuah Kari itu.


Hampir lebih dari setengah jam di dapur, rupanya Aksara sudah turun dan menggendong Baby Ara. Keduanya menyapa Arsyilla dan Bunda Kanaya yang berada di dapur.

__ADS_1


“Pagi Bunda Syilla … pagi Oma,” sapa Aksara dengan suaranya yang masih serak khas orang baru bangun tidur.


“Pagi,” sahut Arsyilla dan Bunda Kanaya serempak.


“Cucunya Oma sudah bangun. Ihh, cantik banget sih Ara,” ucap Bunda Kanaya yang sudah terlihat gemas dengan cucunya itu.


“Iya Oma … mau berjemur dulu di tamannya Oma,” sahut Aksara.


Aksara pun segera keluar ke taman dan menjemur Ara di sana. Membiarkan babynya itu mendapatkan sinar matahari pagi yang kaya vitamin D yang sangat baik untuk pertumbuhan tulangnya.


Sementara itu, hanya membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit, Aksara sudah kembali masuk ke dalam rumah. Mendinginkan suhu tubuh Ara terlebih dahulu, sebelum akan memandikan bayinya itu.


“Bisa mandiin Ara, kamu Aksa?” tanya Bunda Kanaya.


“Belum sih Bunda, tapi biasanya menerima Ara di handuk gitu,” balas Aksara.


Memang Aksara belum berani untuk memandikan Ara. Masih takut dengan bayinya yang terlihat kecil itu. Walaupun sudah hampir 3 bulan berlalu, tetapi masih saja Aksara merasa takut.


“Itu karena Ayah Dokter Spesialis Anak, Bunda … sering megang baby. Kalau Aksara takut,” jawabnya dengan tertawa.


Setelahnya, Arsyilla dan Aksara memandikan Ara terlebih dahulu. Menjelang jam 08.00, barulah mereka turun ke meja makan untuk makan. Di sana sudah berkumpul seluruh anggota keluarga.


“Pagi semuanya,” sapa Aksara dan Arsyilla kepada seluruh keluarga.


“Pagi,” sahut Bunda Kanaya, Ayah Bisma, dan Rangga serempak.


Kemudian mereka pun memulai sarapan. Sesekali Bunda Kanaya mengamati Rangga yang memang hari ini terlihat lebih biasa dibandingkan kemarin. Aksara pun juga bersikap biasa. Hanya saja memiliki dua anak laki-laki itu tidak mudah, mereka jika tidak setuju dengan sesuatu atau sedang berkonflik lebih suka diam dan tidak diurai masalahnya. Hanya diam dan bisa berakhir dengan baku hantam. Walau Aksara dan Rangga tak pernah baku hantam, hanya saja hubungan keduanya pernah tidak baik untuk beberapa saat lamanya.

__ADS_1


“Ayo, sarapan yang banyak … biar kenyang,” ucap Ayah Bisma yang bersuara supaya meja makan itu lebih semarak dengan obrolan.


“Makasih Ayah,” balas Arsyilla.


“Makan yang banyak Syilla … biar produksi ASI-nya banyak,” ucap Bunda Kanaya.


“Iya Bunda,” sahut Kanaya.


Kemudian Rangga tampak melihat mangkok miliknya yang mulai kosong, “Bunda, Rangga mau nambah dong … tapi ambilin ya Bunda,” ucap Rangga.


Bunda Kanaya pun menganggukkan kepalanya, dan kemudian mengisi kembali mangkok milik Rangga dengan nasi dan Kari Ayam.


“Makasih Bunda,” ucap Aksara berterima kasih.


“Aksara, kamu tidak tambah?” Bunda Kanaya juga menawarkan kepada putra sulungnya itu.


Aksara pun menganggukkan kepalanya dan mengangkat mangkoknya, “Boleh Bunda … sedikit saja,” balas Aksara.


Lantas, Bunda Kanaya juga mengisi mangkok milik Aksara. Bunda Kanaya tersenyum melihat Aksara dan Rangga, cukup lama dia tidak mengisi piring kosong anak-anaknya. Apalagi saat Aksara mulai tinggal di apartemen, dan Rangga kuliah di Melbourne, Australia. Kini, bisa mengisi piring anak-anaknya Bunda Kanaya merasa begitu senang.


“Bunda kok makannya sedikit?” tanya Arsyilla kepada Bunda Kanaya.


“Iya, Bunda senang bisa mengisi mangkok Aksara dan Rangga … begini saja Bunda sudah merasa begitu kenyang,” balasnya.


Ayah Bisma pun lantas mengambil Ayam dan sedikit kuah kari dan mengisikannya ke mangkok milik Bunda Kanaya.


“Ayo, Bunda juga makan … kenyang sih boleh, cuma perut juga butuh asupan makanan. Jangan hanya kenyang melihat kedua putranya makan lahap. Bunda juga harus makan,” ucap Ayah Bisma.

__ADS_1


Arsyilla tersenyum mengamati perlakuan Ayah Bisma. “Ayah mirip dengan Papa yang sering mengisi piringnya Mama,” sahutnya yang merasa teringat dengan kebiasaan makan di keluarganya.


Dengan situasi yang lebih kondusif, tidak ada kecanggungan karena sarapan pagi ini berjalan dengan baik. Perut terisi kenyang, hati pun penuh syukur karena hubungan antar anggota keluarga yang baik.


__ADS_2