
Tidak terasa sudah dua hari, Aksara dan Arsyilla menghabiskan waktu di resort. Di hari yang ketiga ini, Aksara mengajak Arsyilla untuk check out, wanita itu tampak bertanya-tanya bukankah seharusnya mereka masih akan berada di Lombok beberapa hari lagi.
“Kita mau balik ke Jakarta, Kak?” tanya Arsyilla.
Pria itu menggelengkan kepalanya, “Enggak, kita masih di Lombok. Sudah, ayo ikuti saja aku,” ucapnya.
Arsyilla pun mengangguk, dia segera mengemasi barang-barangnya dan segera mengikuti suaminya itu untuk check out. Kali ini dia benar-benar tidak tahu kemana lagi suaminya akan membawanya, sehingga Arsyilla cukup mengikuti suaminya saja.
Usai check out, Aksara melajukan mobilnya dengan membawa Arsyilla. Pria itu hanya berbicara sewajarnya dan juga tidak mengatakan kemana dirinya hendak membawa Arsyilla. Hingga kurang lebih satu jam perjalanan, mereka tiba di Drop Point. Pria itu turun dan menggandeng tangan Arsyilla.
“Ayo,” ajaknya.
“Ke situ?” tanya Arsyilla.
Sebab, Arsyilla tidak yakin dengan apa yang dilihatnya sekarang ini. Ya, di depannya adalah sebuah lautan yang mirip pelabuhan, terdapat hotel di sana, dan ada sebuah Kapal Pinisi yang megah. Apakah benar suaminya itu mengajaknya untuk menaiki Kapal Pinisi itu?
Aksara kemudian mengangguk, “Iya … ayo,” ajaknya.
Bukan main rasanya, rupanya Aksara membawa istrinya itu untuk menikmati paket perjalanan dengan menaiki Pinisi Boat. Sebuah kapal yang tersohor dan pernah mengisi mata uang seratus rupiah di zaman dulu, sekarang Aksara benar-benar membawa wanitanya itu untuk berlayar bersama menaiki Kapal Pinisi.
Aksara mengulurkan tangannya, dan menyambut tangan Arsyilla, “Hati-hati melangkahnya, Sayang …,” ucapnya.
Arsyilla kemudian mengangguk. Kemudian keduanya disapa oleh awak kapal, dan diberikan penjelasan rute perjalanan mereka selama 3 hari 2 malam. Wow, ini benar-benar akan menjadi pengalaman yang tak terbayangkan sebelumnya oleh Arsyilla.
“Selamat siang Pak Aksara dan Istri,” sapa seorang awak kapal.
“Ya, siang Pak,” sahut Aksara.
“Sekarang kita berada di Labuan Bajo. Hari pertama kita akan berlayar dengan menggunakan Kapal Pinis menuju Pulau Kanawa melihat keindahan daratan dan lautan di sana. Kemudian, malam harinya Anda akan diantar untuk menginap di Gili Laba. Hari kedua, kami akan mengantar Anda menuju Manta Point, Anda bisa snorkeling dan berenang. Berlanjut ke Taka Makassar, dan berakhir di Pulau Komodo. Hari ketiga, kita akan melakukan tracking ke Pulau Padar untuk melihat sunrise di sana, dan kembali ke Drop Point,” jelas dari awak kapal.
Aksara dan Arsyilla hanya mengangguk, mengiyakan saja kepada Nahkoda dan awak kapal yang akan membawa mereka. Selanjutnya, keduanya memilih duduk di sebuah sofa yang memang disediakan untuk duduk di buritan kapal. Membiarkan langit biru di atas yang menudungi mereka, dan laut biru di bawah yang menopang mereka. Arsyilla menatap wajah Aksara dengan bertanya-tanya, “Di kapal sebesar dan semewah ini hanya ada kita Kak?” tanyanya.
Aksara kemudian mengangguk, “Iya … live in boat, Sayang … hidup di atas kapal selama tiga hari,” balasnya.
__ADS_1
Kemudian Arsyilla kembali bertanya, “Itu tadi dijelaskan kalau malam tidur di Gili Laba itu apa?” tanyanya.
“Ya kapal ini berhenti saja di Gili Laba, kita tidur di atas kapal ini,” jelas Aksara.
Arsyilla kemudian mengangguk, “Oh begitu … kukira akan ada penginapan di Giri Laba yang disebut itu,” jawabnya.
“Enggak, kita tidur di atas kapal,” jawabnya.
“Setahuku menyewa kapal ini saja perorang bayarnya mahal, terus ini kamu sewa satu kapal untuk kita selama tiga hari?” tanya Arsyilla.
Aksara kemudian mengangguk, “Iya … cuma ya enggak terlalu mahal,” jawabnya.
“Enggak sayang uangnya, Kak?” tanya Arsyilla lagi.
Bukan bermaksud berhitungan, tetapi biaya yang dikeluarkan pria itu sangat besar bahkan fantastis untuk sekadar menyewa kapal untuk bulan madu.
Aksara lantas menatap wajah Arsyilla, “Kamu tenang saja, bukan sepenuhnya uangku. Ini hadiah honeymoon dari Bunda Naya dan Ayah Bisma. Yang punya kapal ini rekan kerjanya Bunda Naya, jadi ya dapat murah Sayang … tenang aja,” jawabnya.
Arsyilla kemudian mengangguk, “Oh … baiklah,” responsnya kemudian.
***
Hari Kedua …
“Bisa snorkeling?” tanya Aksara perlahan.
Arsyilla pun mengangguk, “Bisa … cuma enggak jago,” sahutnya.
“Yuk, snorkeling,” ajaknya kali ini.
“Boleh, tapi jangan ditinggal yah?” pinta Arsyilla.
Lantas setelah siap dengan semua peralatan berupa baju renang, sepatu katak, penutup wajah, dan cerobong udara. Kedua menyelam bersama melihat biota laut di Manta Point. Dari beragam jenis ikan, terumbu karang, berpadu dengan air laut yang benar-benar membuat Arsyilla dan Aksara tersenyum selama bersnorkeling. Pengalaman pertama bagi keduanya. Menyelam di kedalaman laut dan melihat biota laut di sana.
__ADS_1
Hampir satu jam mereka menyelam, kemudian keduanya berencana kembali ke Pinisi Boat.
“Makasih Kak, indah banget … aku suka,” ucapnya yang berupaya berenang menuju Pinis Boat.
Aksara pun mengangguk, “Sama-sama Sayang … kalau kamu bahagia, aku juga bahagia,” ucapnya.
Usai snorkeling bersama, keduanya memilih membersihkan diri, bersantai melihat Senja yang memukau dari Manta Point. Semburat jingga di langit berpadu dengan lautan yang tenang terasa begitu indah. Hingga awak kapal mulai menyajikan makan malam bagi keduanya.
“Makan dulu, biar kamu kenyang,” ucap Aksara dengan tiba-tiba.
“Iya, usai menyelam tadi aku cukup lapar sih,” sahutnya dengan tertawa.
Malam itu, awak kapal menyajikan hidangan seafood untuk mereka berdua mulai dari Ikan Saus Asam Manis, Udang, hingga Cumi-Cumi crispy. Semuanya tersaji di depan mereka.
Merasa sudah kenyang dan juga hari kian malam, Aksara dan Arsyilla memilih memasuki kamar.
“Besok kita sudah kembali ke Drop point ya?” tanya Arsyilla kini yang sudah menaiki tempat tidur.
Aksara mengangguk, kemudian pria itu mematikan lampu utama di kamar itu, hanya remang-remang yang terisa. Aksara lantas menghampiri Arsyilla, “Bikin momen spesial yuk Sayang?” ajaknya kali ini.
“Di sini? Di kapal?” tanya Arsyilla.
Aksara kemudian mengangguk, “Iya. Aman kok, penting kamu jangan mendesah aja,” sahutnya.
“Aku takut,” jawabnya.
Aksara kemudian berdiri di menutupi semua jendela dan juga mengunci kamarnya, setelahnya dia sedikit merangkak menaiki tempat tidur tanpa permisi dia melabuhkan ciumannya di bibir Arsyilla. Dengan nafas yang memburu dan seakan tergesa-gesa pria itu mencumbu Arsyilla dan tangannya bergerilya menjamah lekuk-lekuk feminitas di tubuh Arsyilla.
“Kak,” ucap Arsyilla dengan lirih saat Aksara mulai meremas buah persik miliknya. Membuat wanita itu tersentak.
“Ssstts, diam saja Sayang … nikmati saja, cuma jangan bersuara,” ucapnya kali ini.
Aksara hanya mengangkat kaos yang dikenakan Arsyilla, melepas pengait di balik punggungnya, mencumbu buah persik yang ranum itu dan memasukkan dalam rongga mulutnya yang hangat. Satu tangannya bergerak mengusap perlahan lembah di bawah sana, menekannya naik dan turun, membuat Arsyilla menahan nafas dengan ulah nakal suaminya itu. Merasa bahwa lembah di bawah sana telah basah.
__ADS_1
Aksara hanya melepaskan celana yang dia kenakan, menyatukan dirinya dengan Arsyilla. Menghujam begitu dalam, menusuk hingga menghentak, membuat Arsyilla kian mencengkeram punggung suaminya. Pria itu terus bergerak dari mulai tempo lambat, hingga kecepatannya berangsur-angsur menjadi cepat, cepat, dan kian cepat. Bibirnya sibuk mencumbu bibir dan buah persik milik istrinya itu. Hingga kemudian, Aksara menggeram. Pria itu meledak saat merasakan cairan cintanya keluar. Pria itu merasakan tubuhnya bergetar hebat, dan dia segera mencerukkan kepalanya di dada Arsyilla.
“I Love U, Syilla. I Love U Everyday,” ucapnya serak dan dalam dengan memejamkan matanya yang kini layaknya dipenuhi percikan kembang api. Pecah, meledak, dan penuh warna.