Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Dag - Dig - Dug!


__ADS_3

Beberapa hari sebelum hari perkiraan lahir (HPL), beberapa malam Arsyilla rasanya mulai gelisah. Tidur menjadi tidak nyenyak, pinggang mulai pegal, bernapas pun terasa engap, juga harus berkali-kali ke kamar mandi untuk buang air kecil. Bahkan dalam beberapa malam terakhir, Arsyilla juga merasa tidak bisa tidur. Mencoba memejamkan mata dan berharap kantuk akan segera datang, nyatanya justru sia-sia, karena matanya sering kali sukar untuk terpejam.


Menyadari kegelisahan istrinya, Aksara beberapa malam juga terbangun dari tidurnya dan menanyai apa yang dirasakan istrinya itu. Pria itu juga terbangun saat Arsyilla bergerak dan kemudian bersandar di head board ranjangnya.


“Kenapa Honey, kok bangun jam segini? Ini masih dini hari loh.” ucap pria itu sembari mengusap-usap pinggang istrinya.


Arsyilla hanya menggelengkan kepalanya, “Rasanya aneh, Kak … enggak bisa tidur. Tadi abis dari kamar mandi, malahan sekarang enggak bisa tidur lagi. Tiba-tiba rasa kantuknya hilang,” jawabnya sembari mengusapi perutnya yang kian membuncit itu.


“Belum ada tanda-tanda mau persalinan kan? Harus lebih peka Honey … pokoknya aku akan selalu siaga. Mau minum air putih? Biar aku ambilkan.” tawarnya kini kepada istrinya itu.


Akan tetapi, Khaira justru menggeleng, “Enggak mau minum, Kak  … kebanyakan minum nanti. Sekarang aja aku sudah berulang kali ke kamar mandi kok,” jawabnya dengan jujur. Sepanjang malam Arsyilla juga bisa tiga hingga lima kali ke kamar mandi. Rasanya kandung kemihnya penuh dan harus selalu dikeluarkan urine-nya.


“Lha terus gimana? Apa yang bisa kulakukan?” tanya Aksara lagi kepada Arsyilla. Memberi perhatian lebih untuk istrinya yang tengah mengandung dalam usia menjelang HPL, Aksara seolah ingin istrinya itu bisa berbagi beban dengannya.


“Gini aja udah enggak apa-apa kok Kak … semoga abis ini mengantuk dan aku bisa tidur.” jawabnya dengan kembali berbaring dan menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.


Menghirup aroma Woody yang segar dan menenangkan, dan juga mendengarkan detak jantung suaminya yang berdetak seiramanya berharap menjadi menjadi jurus yang ampuh untuk membuat Arsyilla kembali tertidur.


...🌺🌺🌺...

__ADS_1


Beberapa hari setelahnya, Arsyilla menyiapkan berbagai bahan ajar untuk kelas yang dia ajar, sekaligus menyerahkan berbagai materi pembelajaran dan juga perangkat pembelajaran mulai dari Silabus hingga kontrak pembelajaran kepada asisten dosen yang akan menggantikannya selama dia cuti melahirkan selama tiga bulan nanti. Duduk di sebuah meja dengan laptop yang menyala, beberapa kali Arsyilla pun menggerak-gerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Jika sudah lama duduk, wanita hamil itu juga akan berjalan-jalan sejenak untuk merenggangkan otot-otot dan sendinya, juga area pinggang yang mulai sakit.


“Hari Perkiraan Lahir kamu tinggal tiga hari lagi, Honey … Dedek Bayi mau lahir kapan nih? Kasih tanda-tandanya ke Bunda ya biar Bunda bisa menelpon Ayah kamu secepatnya. Kalau bisa sih, tanda-tanda dan gelombang cintanya waktu Ayah ada di rumah,” gumam Arsyilla sembari mengusapi perutnya sendiri.


Memang beberapa hari ini, Arsyilla resah menunggu tanda-tanda persalinan yang juga belum muncul sampai hari ini. Dia pun menunggu sinyal-sinyal cinta yang akan dikirimkan babynya kepadanya, sehingga dia tidak cemas jika terjadi persalinan mendadak.


Merasa pinggangnya sudah lebih rileks, Arsyilla kemudian kembali duduk dan mengirimkan semua materi dan kontrak pembelajaran kepada asisten dosennya melalui email. Setelah itu, Arsyilla berniat berdiri untuk mengambil air minumnya yang berada di atas nakas, tetapi saat dia berdiri rupanya terasa basah di pangkal pahanya.


Mulailah Arsyilla berjalan menuju kamar mandi, dan memperhatikan cairan apa yang sekiranya keluar. Terasa sebuah rembesan yang keluar, Arsyilla pun mendadak cemas. Merasakan dag-dig-dug di siang itu. Mengganti pakaiannya, Arsyilla pun memilih mengenakan pembalut yang mungkin bisa membantu dirinya, kemudian dia mulai menghubungi suaminya.


Kak Aksara


“Kak ….” sapa Arsyilla kepada suaminya begitu panggilannya tersambung.


“Iya, ada apa Honey?” tanya Aksara saat menerima telepon itu.


“Kak, ini keliatannya ketubannya rembes, cuma aku belum rasain apa-apa. Bisa pulang ke rumah enggak Kak? Kita ke Rumah Sakit sekarang.” Khaira masih mencoba berbicara setenang mungkin dengan suaminya.


Berusaha supaya suaminya itu pun tidak panik dan bisa mengemudi dengan aman dan selamat tentunya. Sementara, mendengar bahwa kemungkinan air ketuban Arsyilla sudah mulai merembes, tidak dipungkiri bahwa Aksara pun panik. Pria itu segera menutup laptopnya begitu saja dan meminta izin ke HRD untuk pulang ke rumahnya.

__ADS_1


“Iya Honey … sabar ya. Tunggu aku,” jawab Aksara yang saat itu mulai berlari mengambil mobilnya di tempar parkir.


Sementara di rumah, Arsyilla segera menemui Mama Khaira yang saat tengah memasak di dapur. Arsyilla mengatakan bahwa ada rembesan yang keluar dari pangkal pahanya. Hanya saja Arsyilla belum merasakan tanda-tanda persalinan yang dibilang orang akan begitu sakit itu. “Gimana Syilla, apa yang dirasakan?” tanya Mama Khaira. Sekalipun Mama Khaira terlihat tenang, tetapi Mama Khaira juga merasa panik. Prediksinya tidak lama lagi waktu bersalin akan tiba. Putrinya itu akan merasakan betapa sakitnya sakit bersalin.


“Syilla belum merasa apa-apa sih, Ma … cuma tadi ada rembesan aja. Mungkin ketubannya rembes atau gimana, biar diperiksa Dokter Rinta saja, Ma,” cerita Arsyilla yang tidak dipungkiri dirinya pun merasa panik, badannya pun mulai berkeringat dingin. Kendati demikian, Arsyilla masih berusaha tenang dan berharap suaminya akan segera tiba dari kantornya.


Mama Khaira pun mengusapi perut Khaira, “Kalau mau lahir segera ya cucunya Eyang. Jangan lama-lama kasihan Bunda kamu kalau harus menahan sakit terlalu lama,” ucapan sekaligus doa dari Mama Khaira untuk putrinya itu.


Mulailah Arsyilla meneteskan air mata. Ya, air mata mengalir begitu saja dari sudut matanya, “Terima kasih Mama … maaf kalau selama ini Syilla memiliki kesalahan ya, Ma … doakan Syilla jikalau memang akan melahirkan semuanya bisa berjalan lancar dan selamat,” ucapnya.


Mama Khaira pun memeluk putrinya itu dengan penuh sayang, “Pasti Mama memaafkan kamu … lagipula, kamu adalah anak yang baik. Putri kecilnya Mama, sahabat baiknya Mama. Mama akan selalu berdoa supaya semuanya sehat dan selamat. Jangan berpikir yang macam-macam. Fokus dijalani dulu saja ya Syilla,” nasihat dari Mama Khaira.


Arsyilla merasa lega, karena di saat-saat genting, ada orang tua yang begitu baik. Arsyilla menyadari bahwa keputusan Aksara untuk meminta Mama Khaira menjaganya adalah keputusan yang tepat. Walau sebenarnya Arsyilla begitu panik, tetapi karena Mama Khaira di rumah, setidaknya Arsyilla bisa berbagi perasaannya, dan mendengarkan nasihat dari Mamanya.


Hingga akhirnya, Arsyilla mulai merasakan rasa sakit di area perut bagian bawah dan pinggangnya. Rasa sakit, pegal, bahkan terkesan panas bercampur menjadi satu. Kendati demikian, Arsyilla menenangkan dirinya dengan melakukan teknik relaksasi yaitu mengambil oksigen sebanyak-banyaknya dengan hidung, kemudian mengeluarkannya perlahan dengan mulutnya.


“Sabar ya Dedek Bayi, tunggu Ayah dulu,” gumam Arsyilla dalam hati dan berharap bahwa suaminya akan segera tiba dan bisa mengantarkannya menuju Rumah Sakit.


Rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuh itu membuat Arsyilla menghela nafas dan memberi usapan di perutnya saat rasa sakit itu datang. Selain itu, hatinya juga meminta supaya suaminya bisa tiba di rumah dan segera mengantarkannya ke Rumah Sakit.

__ADS_1


__ADS_2