
Hari ini, Arsyilla akan kembali mengajar di kampusnya. Lantaran, pernikahannya yang memang tidak dirayakan dengan besar-besaran. Sehingga, Arsyilla pun tidak mengambil cuti sama sekali. Jika biasanya, para pengantin akan mengambil cuti saat menikah dan sekaligus bulan madu, tetapi tidak bagi Arsyilla. Pernikahannya hanya sebuah kesepakatan, sehingga dirinya pun tidak perlu repot-repot mengambil cuti.
Begitu keluar dari kamarnya dan telah siap dengan blouse berwarna peach lembut dan celana panjang berbahan kain, Arsyilla menuju ke dapur terlebih dahulu. Menyeduh teh dan membuat roti bakar dengan lelehan margarin yang biasanya menjadi menu sarapannya di rumah Mama Khaira.
Sekalipun hubungannya dengan Aksara bisa dikatakan tidak baik dan masih sering adu mulut, tetapi pagi itu Arsyilla tetap menyeduhkan sebuah Teh untuk suaminya.
“Pagi,” sapa Aksara yang juga keluar dari kamarnya. Pria itu sudah rapi dengan mengenakan kemeja lengan pendek dan celana jeans.
“Pagi,” sahut Arsyilla yang sudah terlebih dahulu duduk dan meminum teh hangatnya.
Aksara tersenyum saat di meja makan itu tersedia dua cangkir Teh hangat dan beberapa roti bakar dengan margarin yang dilelehkan. Tanpa menunggu lama, pria itu langsung duduk di hadapan Arsyilla dan segera mengangkat cangkir itu, mencecap Teh hangat beraroma melati itu.
“Makasih buat sarapannya, ini menu sarapanmu setiap pagi?” tanya Aksara sembari masih meminum teh hangatnya.
Arsyilla hanya mengangguk dan enggan menjawab pertanyaan suaminya itu.
Sekalipun istrinya itu irit berbicara dan enggan menjawab, tetapi Aksara tidak sakit hati. Mungkin saja Arsyilla masih membutuhkan waktu untuk bisa benar-benar menerimanya sebagai seorang suami.
“Aku berangkat sekarang,” ucap Arsyilla yang berdiri dan menaruh cangkir itu ke dalam wastafel pencucian, menyucinya sebentar, dan segera bergegas untuk berangkat ke kampus.
“Tunggu, biar aku antar,” sahut Aksara yang turut menghabiskan Teh hangatnya sembari menggigit satu roti bakar dengan giginya.
“Aku pergi sendiri saja,” ucap Arsyilla yang lagi-lagi tidak ingin diantar oleh suaminya itu.
“Sudah, jangan terus-menerus menolak. Kalau kamu menolakku, aku bisa membuang jauh-jauh kesabaranku ini dan menyerangmu,” ucapnya sembari menatap tajam Arsyilla.
Kalimat yang diucapkan suaminya itu nyatanya membuat Arsyilla bergidik ngeri, kilasan pagi usah malam bencana itu terlintas kembali. Membuatnya memejamkan matanya, teringat dengan bekas merah di atas dadanya dan juga leher, teringat saat bibir pria itu mengecup pundaknya yang polos.
Demi Tuhan, Arsyilla merasa sesak nafas sekarang ini. Dia tidak ingin melakukan itu lagi.
Hingga akhirnya, mau tidak mau, Arsyilla pun lebih menurut dan mengikuti suaminya menuju parkiran basement dan juga menaiki Mercedes Bench berwarna putih bersih milik suaminya itu.
__ADS_1
“Nanti pulang dari kampus jam berapa?” tanya Aksara lagi.
Bukan sebatas mendekati, tetapi dia pun ingin tahu jadwal harian dari istrinya itu. Sehingga, dia pun bisa menjemput Arsyilla setiap sorenya.
“Jam 4,” sahut Arsyilla dengan singkat.
Aksara pun mengangguk, “Oke, aku jemput. Lagipula nanti kita bertemu di kelas Perencanaan Arsitektur,” ucap pria itu dengan menjelaskan bahwa mereka akan bertemu di kelas hari ini.
Saat mobil mewah itu sudah berhenti di depan fakultas Teknik, Arsyilla segera melepas sitbealtnya.
“Aku mengajar dulu,” pamitnya kepada Aksara tanpa melihat wajah suaminya.
Akan tetapi, Aksara justru masih mengunci pintu mobilnya itu. Membiarkan Arsyilla kesusahan untuk membuka pintu mobil itu.
“Buka pintunya, sepuluh menit lagi kelas dimulai,” ucapnya.
“Ada yang ketinggalan,” sahut Aksara.
“Apa?” tanya Arsyilla.
Melihat tidak ada reaksi dari Arsyilla, Aksara lantas menggenggam tangan Arsyilla, menyentuhkan punggung tangannya hingga mengenai bibir istrinya itu. Tercetak di punggung tangan itu, cetakan bibir Arsyilla yang dipoles dengan warna pink satin. Kemudian pria itu mengikis jaraknya, meraih wajah Arsyilla dan meninggalkan sebuah kecupan di kening istrinya itu.
“Apaan sih,” ucap Arsyilla yang merasa apa yang dilakukan suaminya itu berlebihan.
“Pamitan yang bener sama suami, sudah sana. Nanti kita ketemu jam 2,” jawab Aksara sembari menekan salah satu tombol di mobilnya, hingga pintu mobil itu pun terbuka.
“Hati-hati Istriku,” pria itu sedikit berteriak dan melajukan mobilnya.
Sementara Arsyilla hanya berjalan, apa yang dilakukan pria itu benar-benar tak terprediksi. Tindakan gila.
***
__ADS_1
Tepat jam 14.00 …
Arsyilla memasuki kelas untuk mengajar mata kuliah Perencanaan Arsitektur untuk mahasiswa Semester 7. Mengajar kelas ini, rasanya membuat Arsyilla tak bersemangat. Itu semua karena ada satu mahasiswa yang hanya memperhatikannya sepanjang 120 menit seolah tanpa kedip. Namun, etika profesi sebagai dosen tetap harus dijalankan karena dia harus bersikap profesional sekarang.
“Selamat siang semuanya …” sapa Arsyilla kepada seluruh mahasiswanya itu.
“Siang Bu Arsyilla,” sahut seluruh mahasiswa dalam satu kelas itu.
Arsyilla lantas mengedarkan pandangannya melihat satu per satu wajah mahasiswa dan kemudian bersiap dengan slide presentasi yang hendak dia gunakan untuk mengajar siang itu.
“Ada yang absen hari ini?” tanya Arsyilla lagi kepada mahasiswanya.
Tampak semua mahasiswa pun diam, itu artinya memang tidak ada yang absen siang itu.
“Bagaimana dengan tugas rancangan bangunan untuk desain yang hendak kalian kerjakan? Bisa saling satu maju ke depan dan mempresentasikan tugasnya?” tanya Arsyilla.
Akan tetapi, seluruh mahasiswa di kelas itu terlihat diam. Seolah tidak ada yang ingin mempresentasikan hasil tugasnya.
“Kamu, Ryan?” tunjuk Arsyilla kepada ketua kelas tersebut. Siapa tahu ketua kelas mau mempresentasikan hasilnya terlebih dahulu.
“Saya belum yakin, Bu,” sahut Ryan yang ternyata belum yakin dengan hasil kerjanya.
Arsyilla pun mengangguk, “Baiklah, jadi tidak ada yang mau mempresentasikan hasil kerjanya ya? Padahal, bisa saja nanti konsep rancangan bangunan itu bisa diterapkan saat PPL dan juga dikembangkan dalam Skripsi. Yang berani maju mempresentasikan, saat PPL nanti boleh konsultasi sama saya,” ucapnya yang memberi kesempatan dan peluang kepada seluruh mahasiswanya itu.
Saat Arsyilla membalik posisi berdirinya dan segera memulai materi ajarnya, rupanya ada satu tangan yang terangkat dan mulai bersuara, “Saya Bu, saya mau mempresentasikannya,” suara itu menggema dan membuat seluruh mata pun memandang kepadanya.
Di satu sisi Arsyilla justru memejamkan matanya sejenak, dia sudah sangat hafal dengan suara pria itu. Akan tetapi, lantaran di dalam kelas Arsyilla pun mengangguk.
“Ya, silakan maju ke depan,” sahut Arsyilla dengan berusaha tenang.
Mulailah Aksara menunjukkan desain rancangan bangun yang sudah dia gambar dan menjelaskannya kepada seluruh mahasiswa yang ada di situ. Sementara Arsyilla pun memperhatikan bagaimana mahasiswa itu yang mengerjakan tugas dan juga mempresentasikannya dengan baik.
__ADS_1
“Terima kasih Bu Arsyilla,” ucap Aksara mengakhiri presentasinya dan mengumpulkan tugas itu kepada Dosennya.
Begitu kelas telah usai, Aksara juga memilih keluar dari ruangan kelas paling terakhir, tujuannya tentu hanya satu yaitu mengekori istrinya yang sekaligus dosennya itu dan mengajaknya pulang bersama.