Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Pengakuan Adik Ipar


__ADS_3

Agaknya apa yang terjadi di meja makan tadi, sedikit banyak membuat Bunda Kanaya merasakan ada sesuatu yang tidak beres di antara kedua putranya. Sampai Bunda Kanaya kini memilih di depan jendela kamarnya. Ada sesuatu yang membebani pikirannya sekarang ini.


“Kenapa Bunda? Kok kelihatan baru resah gitu?” tanya Ayah Bisma yang berdiri di samping istrinya itu.


Bunda Kanaya tersenyum samar sembari melirik sekilas kepada suaminya itu. Agaknya kali ini, Bunda Kanaya harus menyuarakan isi hatinya dan gelombang di kepalanya yang membuatnya cemas.


“Ayah, menurutmu bagaimana Rangga itu?” tanya Bunda Kanaya yang membuka obrolan malam itu.


“Biasa saja, Bunda … memang ada yang salah dengan Rangga?” Ayah Bisma justru balik bertanya kepada Bunda Kanaya karena memang di mata Ayah Bisma, putra bungsunya itu biasa saja.


“Terasa enggak sih Ayah, kalau Rangga seperti mengharapkan perhatian lebih dari Syilla?” tanya Bunda Kanaya kini kepada Ayah Bisma lagi.


“Coba Bunda ceritakan semuanya dulu … Ayah akan dengarkan. Kalau sepotong-sepotong begini, Ayah juga bingung meresponsnya. Sini, kita duduk dulu … Bunda cerita yah, pasti Ayah akan mendengarkan,” ucap Ayah Bisma.


Mengikuti permintaan dari Ayah Bisma, Bunda Kanaya pun duduk di sofa yang ada di kamar mereka. Kemudian dia mulai berbicara kepada Ayah Bisma. Mengurai semua gelombang yang memenuhi kepalanya dalam sehari ini.


“Begini Ayah … ini hanya pengamatan Bunda saja. Maafkan Bunda, jika Bunda salah. Tadi, kelihatannya Rangga seperti mengharap perhatian lebih dari Arsyilla, dan juga perubahan raut wajah Aksara dan terlihat begitu posesif,” jelas Bunda Kanaya saat ini.


Ayah Bisma berusaha mendengarkan cerita dari istrinya itu dan berharap bisa merespons dengan cukup bijak. Bagaimana pun keduanya adalah putra mereka.


“Tenang dulu Bunda … mungkin saja itu hanya sikap seorang adik yang menginginkan perhatian dari Kakak Iparnya. Namun, jika nyatanya lebih dari itu, Ayah yakin dengan kekuatan cinta Aksara dan Arsyilla. Keduanya memiliki ikatan cinta yang kuat, yang sudah terpupuk waktu sekian lama. Semoga saja, Rangga juga tidak memiliki perasaan berlebih kepada Kakak Iparnya sendiri. Atau Bunda mau, sekarang Papa ajakin ngobrol Rangga?” tanya Ayah Bisma sekarang.

__ADS_1


Daripada menduga-duga sesuatu yang tidak pasti, lebih baik mengajak anak berbicara secara empat mata. Tidak perlu membuat asumsi yang hanya berdasarkan gelombang isi kepala, tetapi buat asumsi dengan berbicara tatap muka dengan anak, mengajaknya mengobrol, mendengarkan isi hatinya, dan juga memberikan solusi untuk masalah yang sedang dihadapi anak. Itulah fungsi orang tua yang mengakomodasi masalah anak.


“Ayah mau?” tanya Bunda Kanaya.


“Mau, yuk … kita berbicara dengan Rangga,” ajak Ayah Bisma kepada istrinya.


Daripada menunggu-nunggu lama, dan masalah tidak terselesaikan. Lebih baik segera mengajak Rangga berbicara untuk meluruskan semua permasalahan yang ada.


Pasangan paruh baya itu pun keluar dari kamar, dan menuju ke kamar Rangga. Malam ini juga, keduanya ingin berbicara dengan Rangga. Bunda Kanaya mengetuk pintu kamar Rangga dengan perlahan.


“Rangga, sudah tidur?” Bunda Kanaya berbicara sembari mengetuk pintu putranya itu.


Kemudian Bunda Kanaya dan Ayah Bisma pun memasuki kamar Rangga. Mengambil tempat di sofa yang ada di dalam kamar itu untuk duduk.


“Ada apa Ayah dan Bunda? Tumben malam-malam ke mari?” tanya Rangga yang cukup terkejut menyadari kedatangan kedua orang tuanya itu.


“Iya, kami ingin mengobrol denganmu, Rangga,” jawab Ayah Bisma.


Bunda Kanaya yang perasaan sensitif, berpadu dengan Ayah Bisma yang sabar. Sehingga keduanya bisa berusaha tenang dan menunggu. Lagipula, ini adalah menyangkut putra-putranya. Baru saja Aksara dan Rangga berbaikan, masak keduanya harus kembali bertikai karena perkara baru.


“Silakan Ayah dan Bunda,” ucap Rangga yang mempersilakan Ayah dan Bundanya untuk berbicara.

__ADS_1


“Begini Rangga, bagaimana menurutmu Kak Syilla itu?” tanya Ayah Bisma. Ini adalah sebuah  pertanyaan pancingan supaya Rangga bisa bercerita dan mengeluarkan isi hatinya.


“Kenapa Ayah bertanya seperti itu?” Ada senyuman yang terbit di sudut bibir Rangga. Hingga akhirnya pria itu pun menjawab. “Kak Syilla itu cantik banget, keibuan, pintar, yah … kriteria istri idaman. Mas Aksara beruntung banget punya Kak Syilla,” balasnya kali ini.


Ayah Bisma merespons dengan anggukan mendengar jawaban Rangga itu. Masih berusaha untuk memahami keadaan.


“Awalnya Rangga sempat tertarik sih Ayah … apalagi Kak Syilla baik, dan semua yang Rangga ucapkan tadi. Cuma, Rangga masih sehat dan waras kok. Rangga tidak akan menggoda Kak Syilla,” akunya.


Mendengar apa yang baru saja Rangga akui membuat Bunda Kanaya dan Ayah Bisma saling bertukar pandangan. Tidak mengira sebenarnya saat Rangga mengatakan bahwa dirinya sempat tertarik. Rupanya kecemasan awal Bunda Kanaya terbukti. Perasaan seorang Ibu memang sangat kuat, hingga merasa ada sesuatu yang berbeda, membuat perasaan Ibu yang bisa merasakannya.


“Kamu yakin, tidak akan menggoda Kak Syilla? Ayah bukan menghakimi, tetapi kita adalah orang Indonesia yang menjunjung adat ketimuran. Tidak selayaknya memiliki perasaan terlarang untuk iparnya. Ayah berusaha memberi tahu kamu sebagai seorang Ayah, walau karakter Ayah Bisma begitu sabar, tetapi untuk hal-hal yang prinsipil Ayah Bisma begitu tegas. Bukan hanya kepada Rangga, kepada Aksara pun Ayah Bisma melakukan hal yang sama.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Ayahnya, Rangga pun merespons dengan menganggukkan kepalanya, “Iya Ayah … maaf tadi waktu makan sudah membuat suasana menjadi tidak kondusif. Rangga mengaku bersalah, dan Rangga tidak akan mengulanginya,” balasnya.


“Bunda tahu ada yang berbeda dengan anak-anak Bunda, untuk itu kami langsung datang untuk berbicara dengan kamu. Kita bisa saling mendengarkan dan mencari solusinya. Hanya saja, yang disampaikan Ayah kamu benar, tolong buang perasaan terlarang itu. Biarkan Mas Aksa dan Kak Syilla hidup bahagia,” pinta Bunda Kanaya kali ini.


Rangga menganggukkan kepalanya dengan diam, tidak berbicara sama sekali. Sampai akhirnya Rangga kembali bersuara beberapa menit setelahnya.


“Ayah dan Bunda kali ini bisa mempercayai Rangga … Rangga tidak akan membuat masalah lagi. Cukup masalah Rangga di bangku SMA yang membuat Ayah dan Bunda terpukul. Rangga sudah semakin dewasa, Rangga bisa menimbang mana yang baik dan mana yang buruk,” sahut Rangga.


Cukup peristiwa kelam di bangku SMA dulu yang membuat Ayah, Bunda, dan Kakaknya menjadi begitu terpukul. Masih Rangga ingat, pengakuannya saat SMA dulu membuat Bundanya jatuh sakit, Ayah Bisma yang bermasalah dengan pekerjaan, dan Kakaknya yang pada akhirnya memilih untuk tinggal di apartemen. Keharmonisan dan ketenangan keluarga Pradhana tiba-tiba hilang begitu saja, dan kini Rangga tidak akan mengulangi semuanya itu. Dia akan berusaha melakukan yang benar dan tidak akan melakukan kesalahan yang membuat kedua orang tuanya begitu terpukul.

__ADS_1


__ADS_2