Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Lemburan Malam


__ADS_3

Malam hari, begitu tiba di apartemennya. Arsyilla dan Aksara yang usai makan malam bersama, memilih untuk duduk sejenak di ruang tamu. Seperti yang sudah diucapkan Arsyilla barusan bahwa dirinya akan banyak pekerjaan malam ini, termasuk memikirkan acara Field Trip untuk kelasnya.


“Abis ini aku mau bekerja dulu ya Kak,” pamit Arsyilla kepada suaminya itu.


“Seriusan bekerja?” tanya Aksara.


“Iya … nyelesain nilai kuis tadi, dan ada tambahan pekerjaan dari kampus. Biar dalam pekan ini aku bisa kasih laporan sih ke kampus,” jawab Arsyilla.


“Baiklah … jangan kecapekan aja. Kalau sudah mengantuk tidur,” balas Aksara.


Arsyilla kemudian memilih menggunakan bekas kamarnya dulu yang sekarang dialih fungsikan sebagai ruangan kerja. Membawa laptop dan beberapa dokumen memasuki ruangan itu. Kemudian Arsyilla mulai membuat proposal untuk acara Field Trip.


Kali ini, Arsyilla berpikir bahwa Field Trip kali ini, Arsyilla ingin mahasiswa mengetahui berbagai perencanaan dan desain dari bangunan-bangunan yang unik dan bernilai sejarah tinggi. Bagi Arsyilla, bangunan-bangunan kuno pun juga dibangun dengan perencanaan bangun yang matang. Maka dari itu, Arsyilla memasukkan tiga kota dalam Field Trip kali ini.


Selesai menyelesaikan proposal yang akan dia berikan ke pihak kampus, Arsyilla kemudian menilai setiap lembar jawaban dari kuis yang siang tadi dia berikan di kelasnya. Memang hanya lima soal yang dia berikan, tetapi rupanya jawaban para mahasiswa pun cukup beragam.


Waktu sudah menunjukkan hampir jam 22.00 malam, tetapi Arsyilla masih berada di dalam ruang kerja. Sementara Aksara nyatanya juga tidak bisa tidur. Pria itu hanya berbaring di atas ranjangnya dan berharap istrinya bisa segera menyelesaikan pekerjaannya. Tidak menyangka bahwa pekerjaan istrinya sebagai dosen pun juga begitu banyak dan juga mengharuskan istrinya untuk lembur.


Menyadari bahwa waktu sudah berjalan beberapa jam, Aksara memilih untuk beranjak dari ranjangnya dan menilik ke kamar sebelah. Benarkah istrinya itu tengah bekerja atau justru ketiduran di sini. Pelan-pelan pria itu membuka daun pintu di ruangan yang berada tepat di sebelah kamarnya.


Dari pintu, Aksara tersenyum. Rupanya istrinya memang telah bekerja. Memegang pena berwarna merah di tangannya, wajahnya terlihat begitu serius, dan Aksara bertekad untuk menyapa istrinya itu sebentar.


“Masih lama kerjanya?” tanya Aksara dengan sengaja memeluk tubuh istrinya dari belakang. Pria itu menaruh dagunya di puncak kepala Arsyilla, matanya melihat apa yang sebenarnya tengah dikerjakan oleh istrinya itu.


“Enggak sih Kak … kenapa Kak?” tanya Arsyilla.


“Aku enggak bisa tidur tanpa kamu,” jawab Aksara dengan jujur.

__ADS_1


Ya, dia berusaha membaringkan dirinya di atas ranjang. Nyatanya, tanpa Arsyilla di sisinya, matanya sama sekali tidak bisa terlelap. Padahal, Arsyilla pada sudah berpesan bahwa lebih baik suaminya itu bisa tidur terlebih dahulu, tidak perlu menunggunya.


“Euhm, lebay deh. Dulu waktu lajang aja, tidur ya pasti tinggal tidur aja,” balas Arsyilla.


“Beda lah Sayang … sekarang kan sudah ada yang menemani tidur. Ranjangku menjadi hangat. Aku punya guling buat dipeluk sepanjang malam,” jawab Aksara.


“Kamu itu bisa saja sih Kak … ya sudah. Aku bereskan ini dan simpan filenya dulu, aku selesaikan besok di kampus saja. Kasihan suamiku ini,” balas Arsyilla.


Malam memang semakin larut. Sudah hampir jam sebelas malam, lagipula pekerjaannya hanya tinggal sebentar lagi, jadi esok hari bisa Arsyilla lanjutkan di kampus saja. Di waktu jam istirahat siang.


“Rencananya mau ada Field Trip di kelas Perencanaan dan Desain Arsitektur loh Kak … kalau jadi nanti pergi ke suatu kota gitu tiga hari. Itu berarti kamu harus tidur sendiri loh, enggak mungkin bisa satu kamar,” jelas Arsyilla sembari membereskan beberapa kertas.


“Harus banget yah?” tanya Aksara.


Arsyilla pun dengan cepat mengangguk, “Iya … mungkin bisa tiga atau empat hari gitu,” jawabnya.


Otaknya yang cerdas bisa untuk mencari cara untuk bisa mengakali sesuatu. Bahkan jika ada sungai yang membentang di antara dirinya dan Arsyilla, Aksara pun bisa mengupayakan untuk membangun sebuah jembatan. Yang penting Aksara bisa bersama dengan istrinya itu.


“Diakalin gimana Kak?” tanya Arsyilla lagi.


“Tenang aja. Serahkan ke aku,” jawab Aksara.


Setelahnya, Aksara menggandeng tangan wanitanya itu untuk berjalan mengikuti dan masuk ke dalam kamarnya. Keduanya menaiki ranjang, dan Arsyilla segera merebahkan dirinya.


“Enak banget kena tempat tidur yang empuk,” ucapnya sembari menggerak-gerakkan tubuhnya perlahan.


“Pegel ya pasti?” tanya Aksara.

__ADS_1


“Lumayan sih Kak, punggung aku. Harus aku selesaikan supaya Sabtu nanti bisa ikut kamu ke acara reuni SMA, Kak,” sahut Arsyilla.


Aksara turut berbaring di sisi Arsyilla, dan tangannya menelusup di bawah kepala Aliya. “Sekarang tidurlah … sudah sangat malam. Lagipula, besok kita masih harus bekerja. Met malam Sayangku … I Love U,” ucap Aksara.


“Met malam Kakak,” sahut Arsyilla.


Lantaran sudah begitu lelah, matanya juga sudah terasa berat, Arsyilla segera memeluk suaminya dan terlelap dalam dekapan suaminya. Membiarkan malam membuai keduanya ke dalam alam mimpi.


Hingga pagi pun datang, Arsyilla mengerjap dan merasakan tangan suaminya masih setia memeluk dirinya hingga pagi menjelang. Wanita itu mengangkat tangan Aksara perlahan, dan Arsyilla memilih segera bangun. Membersihkan dirinya terlebih dahulu dan segera membuat sarapan untuknya dan suaminya.


Selang lima belasan menit berlalu, Aksara pun sudah keluar dari kamar dan sudah mengenakan pakaian yang siap untuk bekerja. Pria itu segera menghampiri Arsyilla yang sudah menyediakan sarapan di meja makan.


"Pagi Honey," sapa pria itu kepada istrinya.


"Pagi Kak," sahut Arsyilla.


"Kamu semalaman langsung pules deh boboknya karena aku peluk atau emang udah kecapekan?" tanya pria sembari menatap wajah istrinya.


Dengan cepat Arsyilla pun tertawa, "Pelukanmu itu bikin aku cepet tidur Kak," sahutnya.


Bukan sekadar pengakuan, tetapi memang rasanya tidur dalam pelukan suaminya dan sembari menghirupi parfum Aksara beraroma Sandalwood yang hangat dan sejuk, begitu mendinginkan seakan membuat Arsyilla berpetualang menjejaki teduhnya hutan Cemara dan membuatnya lebih cepat terlelap.


Mendengar pengakuan Arsyilla, Aksara pun tertawa, "Kayak gitu mau Field Trip beberapa hari. Sudah pasti, aku bakalan gak bisa tidur tanpa memeluk kamu deh Sayang," ucap Aksara.


"Mau gak mau harus Field Trip Kak, jadi ya mau gimana lagi. Gak mungkin kita bisa satu kamar," sahut Arsyilla.


Akan tetapi, dengan cepat Aksara pun menjawab, "Bisa … serahkan padaku pasti bisa," ucapnya.

__ADS_1


Memang Aksara akan mencari cara, saat Field Trip nanti dia akan berusaha untuk bisa tidur bersama dengan istrinya itu. Tidak akan membiarkan istrinya tidur sendirian di dalam kamar hotelnya.


__ADS_2