
Tidak terasa sudah hampir dua jam lamanya, Arsyilla berada di Coffee Shop itu bersama dengan Medhina. Lama tidak bertemu, banyak hal juga yang bisa dibicarakan oleh keduanya. Medhina pun akhirnya menyetujui saran yang diberikan Arsyilla yaitu meminta waktu kepada Ayah dan Bundanya untuk membereskan hatinya terlebih dahulu. Memulai hubungan baru, di saat hati belum sepenuhnya beres nyatanya justru tidak baik.
“Masih ada yang mau diceritakan enggak? Kalau enggak aku mau pulang, sudah kangen sama Ara,” ucap Arsyilla.
Walaupun diperbolehkan untuk keluar, tetapi dia harus tahu waktu dan tidak seenaknya sendiri. Bagaimana pun ada anak yang berusia masih kecil yang menunggunya di rumah. Selain itu, ini adalah kali pertama bagi Arsyilla meninggalkan Ara bersama Ayahnya. Arsyilla hanya takut, jika tiba-tiba Ara pup, dan Aksara tidak bisa membersihkan dan menggantikan diapers putrinya itu.
“Udah sih, Syilla … makasih banget yah. Udah mau dengerin ceritaku,” ucap Medhina.
“Sama-sama, Dhin … kalau senggang main ke rumah lah. Onty nya Ara ini sibuk terus sih, tengokin dong keponakannya,” balas Arsyilla.
Medhina pun kembali menganggukkan kepalanya dan tertawa, “Iya, nanti kapan-kapan kalau aku enggak terbang, aku tengokin Si Princess ke rumah. Cuma, sungkan aja sama suami kamu,” balas Medhina.
“Gak usah sungkan, Kak Aksara itu baik kok. Calon Unclenya Ara dikenalin yah nanti,” goda Arsyilla.
Bukan bermaksud membuat hati Medhina sedih. Hanya saja, memang Arsyilla hanya berniat untuk menggoda sahabatnya itu. Entah itu Andreas Saputra, atau pria lain pilihan Om Dimas dan Aunty Metta yang pasti Ara akan memiliki calon uncle. Semua tergantung dari pilihan dan keputusan Medhina sendiri.
“Enggak usah lah. Nanti Onty Dhina jengukin Princess sendiri saja, mau gendong-gendong si Princess,” balas Medhina.
Medhina sendiri memang menjuluki Ara dengan ‘Si Princess’ karena nama asli Ara yang adalah Aurora, salah satu putri dalam karakter Disney itu. Sehingga Medhina pun sering mengucapkan Si Princess untuk menyebut Ara.
Setelahnya, mereka pun saling pamit. Waktu hampir dua jam cukup bagi Arsyilla untuk memiliki kegiatan baru yang bisa merelaksasi dirinya. Sehari-hari menjadi Ibu Rumah Tangga dan mengajar di hari Senin membuat Arsyilla menikmati waktu keluarnya walau hanya sebentar ini.
Hingga akhirnya, kini Arsyilla sudah tiba di rumah. Ibu muda itu, tampak masuk ke dalam rumah dengan membawakan buah tangan untuk suaminya. Frappuccino dan Croffle untuk suaminya tercinta.
__ADS_1
“Ayah, Bunda sudah pulang,” sapanya begitu memasuki kamar. Di sana, Aksara sedang memangku Ara dengan beberapa mainan di depannya.
“Wah, Bunda sudah pulang … mandi dulu Bunda, kan habis dari luar. Biar bersih, jangan pegang Ara dulu,” ucap Aksara.
Rupanya kali ini Aksara yang memerintahkan istrinya itu untuk membersihkan badannya terlebih dahulu, barulah dia akan memperbolehkan untuk menggendong Ara. Sehingga Arsyilla menaruh buah tangan yang dia beli di atas meja, kemudian dia segera berlari ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.
Usai membersihkan tubuhnya, Arsyilla segera bergabung dengan suaminya dan putri kecilnya itu.
“Ara Sayang, sini ikut Bunda … Bunda kangen banget sama Ara,” ucapnya dengan meminta Ara dari tangan suaminya itu.
Terlihat Arsyilla yang beberapa kali mencium pipi, kening, hingga puncak kepala Ara. Baru juga dua jam, Arsyilla sudah begitu rindu dengan putri kecilnya itu. Terbayang wajah cantiknya, matanya yang bulat dan begitu bening dan juga aroma tubuh khas bayi yang begitu wangi.
“Di makan Ayah … suka enggak sama oleh-olehnya?” tanya Arsyilla kemudian.
“Beli Cokelat saja sih Kak … kan aku enggak terlalu suka kopi,” balas Arsyilla.
“Makasih yah … udah dioleh-olehin,” balas Aksara.
“Sama-sama Ayah … tadi Ara rewel enggak?” tanya Arsyilla yang kini sambil memberikan ASI untuk Ara secara langsung.
“Enggak dong … tadi juga sempet bobok kok, Honey … cuma kebangun karena pup,” balas Aksara.
Mendengar apa yang diceritakan suaminya, Arsyilla pun menatap wajah suaminya itu. “Lalu yang bersihin siapa? Ayah bisa emangnya?” tanyanya.
__ADS_1
“Bisa dong … aku sudah belajar, Honey … tenang saja, aku adalah suami dan sekaligus Ayah yang bisa diandalkan. Kapan-kapan Bunda kalau mau jalan-jalan atau main, main aja. Aku bisa kok jagain Ara. Para Ibu juga membutuhkan waktu untuk refreshing,” balas Aksara.
Sepenuhnya Aksara memahami bahwa Arsyilla membutuhkan waktu untuk refreshing. Pekerjaan dengan Ibu Rumah Tangga itu melelahkan, dan tidak ada liburnya. Oleh karena itu, Aksara tidak keberatan jika sesekali Arsyilla jalan-jalan dan memberi waktu untuk dirinya sendiri.
Senyuman di wajah Arsyilla pun terbit dengan sendirinya, “Makasih banyak Ayah … Ayah baik banget deh. Gimana aku enggak makin cinta sama Ayah kalau kayak gini,” godanya.
“Aku juga makin cinta sama Bunda … Bunda itu hebat banget, bisa mengurus rumah, mengurus Ara, mengurus Ayahnya Ara pun jago. Keren deh Bunda ini,” balas Aksara dengan menggigit Croffleenya.
Rasanya hanya bertiga di rumah, dengan berbagai obrolan yang mereka lakukan, rumah itu terasa penuh dengan kebahagiaan. Ada tawa dan canda yang mengiringi perjalanan mereka dalam merajut rumah tangga.
“Ayah, berarti kapan-kapan Bunda mau perawatan ke salon boleh? Pengen potong rambut jadi lebih pendek boleh enggak?” tanya Arsyilla kepada suaminya.
Sebab, memang sekarang rambut Arsyilla sudah sepunggung, begitu panjang. Ingin rasanya memiliki rambut sebahu saja, supaya mudah merawatnya. Menjadi Ibu yang menyusui, membuat Arsyilla praktis tidak bisa mengurus kesehatan rambutnya.
“Boleh Bunda … perawatan sekaligus mau body spa juga boleh. Pulang sudah cantik dan wangi, tinggal kasih bonus deh buat aku,” sahut Aksara.
Kali ini Arsyilla pun tertawa, sampai terbahak-bahak rasanya. Bisa-bisanya suaminya itu memodusinya hingga sedemikian rupa.
“Ayah modus ah, pasti ada maksud tersembunyi deh,” balasnya.
“Tidak ada yang sembunyi, Honey … aku hanya memberi kode saja. Jadi, kapan mau body spa? Selain kamu rileks, kan aku bisa mendapatkan yang lain?” tanya Aksara kemudian.
Lagi-lagi keduanya tertawa, sampai Ara yang hendak tertidur, tiba-tiba kembali membuka mata mendengarkan tawa dari Ayah dan Bundanya. Untung saja, Ara tidak menangis. Jika menangis, sudah pasti akan sulit untuk menenangkan bayi yang hampir saja terlelap.
__ADS_1