Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Insiden Crawler Crane


__ADS_3

Ketika akhir pekan telah berlalu, di awal pekan ini Aksara mulai bersiap untuk kembali bekerja. Namun, kali ini Aksara akan melakukan pengecekkan lahan yang sedang dikerjakan oleh Jaya Corp. Sebuah Tower dengan dua puluh lantai sedang dibangun Jaya Corps sekarang ini. Untuk itu, Aksara pun berpamitan dengan istrinya bahwa hari ini dia akan pulang lebih terlambat.


“Honey, aku hari ini ada survei lahan untuk tower yang sedang dibangun Jaya Corps. Jadi, aku pulang telat yah hari ini,” pamitnya kepada Arsyilla pagi itu, ketika mereka sedang sarapan.


“Survei lahan kemana Ayah?” tanya Arsyilla kepada suaminya itu.


“Ke PIK, Honey … ya malam lah aku sudah pulang,” jawabnya.


Perlahan Arsyilla pun menganggukkan kepalanya, “Ya sudah … penting hati-hati ya Ayah … kalau ada apa-apa kabarin. Jaga diri Ayah baik-baik,” balasnya.


Aksara pun tersenyum dan menaruh telapak tangannya di atas punggung tangan Arsyilla dan memberikan usapan di punggung tangan istrinya itu.


“Tenang saja, Honey … aku pasti menjaga diriku dengan baik. Kamu kelihatan khawatir banget sih,” balas Aksara.


Arsyilla memilih tersenyum, tetapi kali ini rasanya hatinya merasakan sesuatu yang tidak baik. Rasanya tidak rela jika suaminya itu harus melakukan survei lahan yang saat ini sedang melakukan pembangunan tower di kawasan PIK itu.


“Cuma, aku kok kayak gak rela kamu kesana ya Kak,” balas Arsyilla kini dengan jujur.


“Tenang saja, Honey … aku bakalan baik-baik saja. Aku juga memakai sepatu boot dan helm untuk menjaga keselamatan kok,” balas Aksara yang seakan meyakinkan kepada istrinya itu bahwa dia akan selalu menjaga dirinya dan memastikan selalu selamat.


Arsyilla pun perlahan menganggukkan kepalanya dan kali ini dia berharap bahwa semuanya akan baik-baik saja. Secara khusus untuk pekerjaan survei tower yang akan dilakukan suaminya juga akan berjalan dengan baik.


Aksara tersenyum, pria itu kini membawa tangannya untuk memberikan usapan di kepala istrinya itu. Ingin rasanya memeluk Arsyilla, tetapi mereka masih sarapan. Aksara mengurungkan niatnya, tetapi nanti dia akan memeluk istrinya itu terlebih dahulu sebelum berangkat bekerja.


“Ya sudah, aku berangkat kerja dulu ya Honey,” pamit Aksara kini kepada istrinya itu.


“Iya Ayah, hati-hati yah,” balas Arsyilla.


Aksara pun mendekat, mengikis jarak dirinya dengan Arsyilla dan kemudian memeluk tubuh istrinya itu, tangannya juga bergerak dan memberikan usapan di punggung istrinya dengan gerakan naik dan turun, terasa bahwa gerakan itu begitu lembut dan menenangkan.


“Jangan berpikiran yang macam-macam, nanti malam aku pasti pulang. Mau dibeliin sesuatu?” tanya Aksara dengan masih memeluk istrinya itu.


Terasa gelengan kepala Arsyilla di dada pria itu, kemudian Arsyilla pun berbicara, “Enggak … yang penting segera pulang saja kalau sudah selesai. Aku dan Ara bakalan kangen,” balasnya.

__ADS_1


Belum apa-apa saja, Arsyilla sudah begitu berkaca-kaca dan kian merengkuh erat tubuh suaminya itu.


“Kalau kamu kayak gini, jujur … aku enggak pengen kerja. Pengen pelukin kamu saja seharian,” balas Aksara.


“Tuh, kalau aku mellow, kamunya jadi nakal. Sebel deh,” sahut Arsyilla.


Aksara pun mengurai pelukannya, dan kemudian pria itu mendaratkan sebuah kecupan di kening Arsyilla.


“Aku mengais rejeki dulu yah … buat kamu dan Ara. Tunggu aku pulang nanti malam,” balasnya.


Aksara lantas kembali mendaratkan kecupannya, tetapi kali ini Aksara menarik dagu Arsyilla dan membiarkan bibirnya yang hangat bertengger sesaat di bibir Arsyilla. Hanya sebatas menempel, dan Aksara kemudian menarik kembali wajahnya.


“I Love U So Much … aku kerja dulu yah,” pamitnya pagi itu kepada Arsyilla.


“Iya, Ayah … hati-hati yah. I Love U Too,” balas Arsyilla.


***


“Progressnya sudah berapa persen?” tanya Aksara kepada kepala mandor di tempat itu.


“Baru saja sih Pak … jadi mungkin 40%,” jawab kepala mandor itu.


Aksara menganggukkan kepalanya, kemudian dia melihat setiap mesin crane yang bekerja di sana, melihat fondasi dari tower itu, sesekali tangannya juga meraba dan mengetuk tembok yang sudah berdiri di sana.


“Tower ini dibuat sesuai dengan rancang bangunnya kan?” tanya Aksara lagi.


“Iya Pak … sesuai dengan rancang bangun, konsep, dan desain arsitektur yang sudah dibuat oleh Pak Aksara dan pihak Jaya Corps,” balasnya.


Sampai di sini, Aksara yakin bahwa tower ini sudah dibuat berdasar dengan rancang bangunnya, dan juga konsep yang sudah dibuat oleh Jaya Corp sejak awal. Selebihnya Aksara tinggal memberikan laporan bahwa projek tower ini sudah 40% progressnya dan akan diselesaikan pada akhir tahun nanti.


Sebelum menyudahi surveinya kali ini, Aksara kembali melihat mesin crane yang beroperasi. Saat itu, mesin crane yang memang biasa digunakan untuk keperluan konstruksi mulai memindahkan material dari satu tempat ke tempat yang lain.


Cara kerja Crane yang memindahkan material dari satu tempat ke tempat lain secara horizontal, memangfaatkan sistem hidrolik dan peneumatik. Selain itu, Crane juga mempunyai kapasitas pengangkatan yang sangat besar.

__ADS_1


"Pak, itu harus lebih berhati-hati yah menggunakan Cranenya. Selain itu, pastikan tidak ada kecelakaan kerja," ucap Aksara.


Namun, belum selesai Aksara berbicara, rupanya Crane itu goyah, sehingga material yang dibawa pun turut goyah.


"Minggir!" teriak mandor itu.


Sontak saja semua pekerja yang ada di bawah berlarian, berusaha menyelamatkan diri supaya tidak tertimpa material yang bisa jatuh dan mengenai tubuh mereka.


Aksara pun turut berlari, sayang sekali larinya kurang cepat. Benarlah beberapa material itu jatuh, turun ke bawah dan menimpa Aksara yang ada di bawahnya.


"Argh!" teriak Aksara menggema bersama dengan sebagian kakinya yang tertimpa material itu.


Pria itu jatuh dengan posisi tertelungkup, dan separuh kakinya tertimpa material yang berhamburan dan menimpanya.


"Pak Aksara!" teriak kepala mandor dan beberapa pekerja di sana.


"Tolong!" teriak para pekerja.


Sontak saja, tempat di pembangunan tower itu begitu riuh. Aksara yang jauh, dia masih berusaha bertahan dan membuka matanya. Namun, beban di kakinya yang terasa menghimpit, membuatnya benar-benar tak bisa bergerak. Ingin menyelamatkan diri, tetapi beban yang menindihnya begitu berat.


"Ya Tuhan, tolong aku ... Syilla, Ara ...."


Aksara menyebut nama istri dan anaknya dalam usaha terus bertahan dan berharap bahwa dirinya akan selamat kali ini dan tidak ada sesuatu yang serius dengan kaki kirinya yang tertimpa material.


Air mata jatuh begitu saja dari pelupuk mata Aksara, pria itu memejamkan matanya secara drasmatis. Bayang wajah Bunda Kanaya, Ayah Bisma, Arsyilla, dan Ara melintas begitu saja di depan matanya.


"Tolong aku, Tuhan ... Bunda, Ayah, Syilla, Ara," gumamnya lirih.


Sampai di batas Aksara merasakan pandangan matanya mengabur. Benar-benar tidak bisa lagi membuka kedua matanya, sampai akhirnya Aksara pun pingsan di tempat pembangunan tower itu.


Pekik para pekerja, suara riuh yang seketika memenuhi tempat itu, untung saja ambulance selalu ready di sana, dan petugas medis yang datang dengan tergopoh-gopoh mulai menolong Aksara.


Ya Tuhan, semoga saja kali ini tidak ada sesuatu yang serius pada Aksara kali ini.

__ADS_1


__ADS_2