Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Sinyal Pertanda


__ADS_3

Selang beberapa hari, Arsyilla tampak menatap wajahnya sendiri di cermin. Wajah cantiknya yang semula berhiaskan senyuman dan keceriaan, semua sirna sudah. Menyisakan luka dan duka hingga membuat cekungan hitam di bawah matanya.


Malam-malamnya tidak bisa merasakan tidur yang nyenyak dan berkualitas. Sepanjang malam, dirinya justru terjaga dan seakan bingung dengan segala kerumitan yang dia alami tiba-tiba.


Setelah, Arsyilla melihat pada satu jerawat yang tiba-tiba muncul di keningnya.


Tumben ada jerawat di sini. Biasanya, aku jarang sekali berjerawat. Kalau berjerawat waktu akan haid… 


Berbicara tentang haid, Arsyilla tiba-tiba tersentak. Dia membuka kalender pengingat masa menstruasi di aplikasi handphonenya. Deretan tanggal di sana membuat kedua bola matanya seketika.


Wanita itu menghela napas sembari menggigit bibirnya, "Ya Tuhan, kenapa telat tiga hari?"


Ada rasa was-was bercampur takut yang seketika membuat Arsyilla memegangi perutnya yang masih rata.


Wanita itu kembali berkutat dalam pikirannya sendiri.


Tidak mungkinkan, ada kehidupan di dalam sini? 


Kalau bisa, jangan dulu Tuhan… 


Aku belum siap. 


Rasanya saja aku tidak ingat. 


Ampuni aku, Tuhan. 


Hanya saja secara psikologis aku belum siap. 


Arsyilla berbicara jujur kepada Tuhan, dia benar-benar belum siap jika sebuah kehidupan baru akan hadir dalam rahimnya. Bukan sebatas mengingat dosanya karena seolah meminta kepada Tuhan untuk menahan waktu-Nya. Akan tetapi, memang tidak dipungkiri secara mental Arsyilla memang belum siap.


Wanita itu lantas menguatkan dirinya sendiri dan merapalkan doa-doa kebaikan supaya apa yang dia inginkan akan Tuhan kabulkan setidaknya untuk kali ini saja.


"Syilla, ayo turun. Makan dulu," teriakan dari sang Mama yang memanggilnya untuk makan siang terlebih dahulu.


Dengan lunglai, Arsyilla berdiri dan segera turun ke bawah menuju ke meja makan. Dia mengambil tempat duduk di hadapan Mamanya, hubungannya dengan sang Papa masih belum sepenuhnya membaik. Oleh karena itu, Arsyilla pun hanya diam.


"Masak apa Ma?" tanya Arsyilla perlahan kepada Mamanya.

__ADS_1


Mama Khaira pun menjawab, "Masakan kesukaan Papa kamu. Sup Ayam, Tempe Goreng, dan Sambal Kecap," jawabnya sembari mengisi mangkok kecil milik suaminya dengan Sup yang berisi sayuran berupa Kentang dan Wortel, juga beberapa potong daging Ayam.


"Mau Mama ambilkan?" tawar Mama Khaira kepada Arsyilla.


Arsyilla pun mengangguk dan membawa mangkoknya, "Mau Ma …."


Senyuman terlihat di wajah Arsyilla, walaupun dalam hatinya ada rintihan yang dia ucapan.


Mau Ma, jika aku menikah nanti tidak ada Mama yang akan mengambilkan dan menuangkan sup ke dalam mangkokku. 


"Makasih Ma," ucapnya tersenyum seraya berterima kasih kepada Mamanya yang sudah mengisi mangkoknya dengan Sup Ayam yang masih hangat itu.


Setelahnya, giliran Papa Radit dan Arshaka yang turut bergabung di meja makan.


"Ma, Shaka mau diambilkan juga dong Sup Ayam." Rupanya si bungsu pun juga ingin diambilkan Mamanya juga.


Mama Khaira pun tidak keberatan, dia mengisi mangkok Arshaka dengan Sup Ayam buatannya. Setelah suami dan anaknya mendapatkan semangkok Sup Ayam, barulah Khaira mengisi mangkoknya sendiri. Demikianlah berlalu, tahun-tahun yang panjang selama di meja makan, Khaira selalu memprioritaskan untuk suami dan anak-anaknya terlebih dahulu. Piringnya akan menjadi piring terakhir yang terisi.


"Mama, juga makan. Mama terlihat kurusan," ucap Papa Radit yang mengambilkan Tempe Goreng untuk istrinya itu.


"Pa, Ma … aku sebagai anak aja iri loh melihat Papa dan Mama yang selalu rukun. Mengiri loh aku." Arshaka tiba-tiba berbicara sembari menyuapkan sesendok sup ayam ke dalam mulutnya.


"Kenapa iri?" tanya Papa Radit kepada putranya itu.


Arshaka pun lantas tertawa, "Ya bagiku, Papa dan Mama itu so sweet. Aku bahkan tidak pernah melihat Papa dan Mama bertengkar selama ini. Kelak, semoga aku bisa memiliki pasangan seperti Papa dan Mama," ucap Shaka dengan menatap wajah Papa dan Mamanya bergantian.


Di saat Arshaka mengucapkan demikian, sebenarnya Arsyilla pun menginginkan hal yang serupa. Hanya saja, dirinya terikat dalam sebuah pernikahan dengan pria yang tidak dia kenal sepenuhnya. Sejak kecil, dirinya ingin memiliki pasangan seperti Papanya yang adalah sosok yang hangat dan penuh cinta. Akan tetapi, faktanya harapan itu tidak akan terwujud.


Oleh karena itu, Arsyilla lebih menikmati semangkok Sup Ayam yang masih hangat itu dengan lahap. Menambahkan Tempe Goreng dan sambal kecap.


"Pelan-pelan Kak, makannya. Aku tidak akan meminta bagianmu," ucap Arshaka yang tampak heran melihat Arsyilla yang makan dengan begitu lahap.


Pemuda itu masih menatap Kakaknya yang terlihat begitu lahap menyantap Sup Ayam itu. Hingga, mulutnya tak kuasa untuk kembali bertanya kepada Kakaknya.


"Kakak, bukan sedang berbadan dua kan? Kenapa Kakak makan selahap itu."


Arshaka bertanya dengan spontans. Pertanyaan yang membuat Radit dan Khaira saling pandang. Keduanya pun juga melihat perubahan pada Arsyilla yang makan dengan begitu lahap.

__ADS_1


"Ngaco deh, enggak ada berbadan dua," jawab Arsyilla dengan ketus.


Memang waktu menstruasinya sudah terlewat, tetapi Arsyilla yakin bahwa dirinya tidak sedang berbadan dua. Lahap makan juga sebuah sinyal pertanda bahwa dirinya tengah berbadan dua. Dirinya hanya sedang bad mood dan tengah merutuki nasibnya yang berjalan dengan sesuai dengan apa yang dia harapkan.


"Lanjutkan makanmu, Shaka." Kali ini Papa Radit yang tampak memperingatkan Arshaka untuk melanjutkan makannya.


***


Keesokan harinya, Arsyilla memulai harinya dengan kembali mengajar di kampusnya. Wanita itu tampak lebih lesu, dan terlihat beberapa kali memegangi perutnya yang seolah terasa kram. Kendati demikian, Arsyilla tetap memutuskan untuk bisa mengajar tanpa ada gangguan.


Akan tetapi, wanita itu berjalan lesu menuju ke sebuah kelas untuk jam usai makan siang. Sebab, di kelas itu dia akan kembali bertemu dengan Aksara. Pertemuan yang tidak pernah dia inginkan. Akan tetapi, sebagai sikap profesionalitas seorang Dosen maka Arsyilla akan tetap menjalankan tugasnya sebagai Dosen yang mengajar para mahasiswa.


"Selamat siang semuanya," sapa Arsyilla begitu memasuki kelas itu.


"Siang Bu," sapaan para mahasiswa menggema di telinganya.


Setelahnya, Arsyilla bersiap dengan slide presentasi yang sudah dia siapkan sebelumnya untuk mengajar hari ini.


"Sebuah bangunan yang baik tidak berdiri begitu saja. Bangunan-bangunan tersebut direncanakan sebelumnya agar berfungsi dengan baik. Maka dari itu, Arsiteknya harus membuat perencanaan yang baik dan terjadi kerja sama yang baik dengan para klien. Tugas seorang Arsitek adalah membuat penyusunan program rancangan bangunan. Untuk itu, kalian kerjakan tugas untuk membuat program rancangan bangunan untuk sebuah bangunan yang hendak kalian desain sebagai seorang Arsitek. Tugas akan dikumpulkan minggu depan."


Arsyilla menutup kelas yang berakhir nyaris sore itu dengan memberikan tugas kepada mahasiswanya untuk membuat program rancangan bangunan.


Saat Arsyilla bergegas untuk keluar dari ruangan, terdengar sapaan dari suara Bariton yang sudah cukup dia kenali.


"Bu Arsyilla, bisa minta waktunya sebentar?"


Ya, Aksara yang memanggil Dosennya itu dan meminta waktu untuk bicara sebentar.


"Ya, silakan ke ruangan saya saja," jawab Arsyilla yang meminta mahasiswanya itu untuk menuju ke ruangannya saja.


Aksara pun mengangguk dan mengekori Dosennya itu menuju ke ruangan Dosen yang berada di dekat Gedung Administrasi dan Tata Usaha.


"Ada apa?" tanya Arsyilla begitu mereka sudah berada di dalam ruangan dosen miliknya.


Aksara perlahan menaruh sejenak tas ranselnya, kemudian kedua matanya menyorot wajah Arsyilla, "Kamu tidak sedang sakit kan? Aku perhatikan, selama mengajar kamu begitu lesu? Jika, ada berubah di badan kamu, aku antar ke rumah sakit," ucap pemuda itu yang kini berbicara tanpa menggunakan bahasa formal kepada Arsyilla.


Dengan cepat Arsyilla menggeleng, "Jangan hiraukan aku karena aku baik-baik saja," jawabnya singkat. Kemudian Arsyilla kembali menatap mahasiswanya yang tidak lama lagi akan menjadi suaminya itu. "Jika sudah ada lagi, silakan keluar. Pintu di sebelah sana."

__ADS_1


__ADS_2