Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Keterbukaan


__ADS_3

“Selamat siang Bu Arsyilla,” sapa Aksara sembari memasuki ruangan kelas yang masih sepi itu.


Tidak mengira, Dosen yang di apartemennya dia bisa memanggilnya langsung dengan namanya, di kampus, dia harus memanggilnya begitu formal.


Arsyilla pun mengangguk, “Siang,” jawabnya singkat.


Bersikap sewajarnya bak Dosen dan Mahasiswa, Aksara pun sedikit berdiri di depan meja dosennya, saat itu Arsyilla sedang duduk dan mengisi presensi Dosen yang harus dia tanda tangani setiap kali mengajar.


“Apa terjadi sesuatu barusan?” tanya Aksara dengan lirih. Aksara berani bertanya karena saat itu ruangan kelas masih sepi, lagipula Arsyilla memang belum membalas pesannya, sehingga Aksara pun menanyakan secara langsung.


Dari mata Arsyilla yang memerah, dan juga beberapa ekspresi wajah wanita itu berubah-ubah, Aksara pun menerka bahwa memang Om Darren datang untuk menemui Arsyilla.


“Nanti aku akan cerita,” jawabnya dengan lirih.


Aksara mengangguk, kemudian pria itu memilih duduk di kursi paling belakang. Lagipula beberapa mahasiswa juga sudah mulai berdatangan dan memasuki ruangan kelas sehingga memang waktu yang tepat untuk Aksara memilih duduk di belakang sana.


Selama kurang lebih 120 menit Arsyilla mengajar, dalam diam Aksara sebenarnya selalu memperhatikan Arsyilla dari tempatnya sekarang. Tidak menyangka, saat mahasiswa berdatangnya, nyatanya Arsyilla bisa menguasai dirinya dan mengendalikan emosinya, bahkan wanita itu sama seperti biasa begitu menguasai materi saat mengajar.


Dan, sekarang … saat mereka sudah sama-sama berada di dalam satu mobil, Aksara pun menghela nafasnya dan memandang pada Arsyilla.


“Mau cerita sekarang?” tanyanya.

__ADS_1


Akan tetapi, Arsyilla menggeleng lesu, “Nanti saja saat sudah di apartemen,” jawabnya lagi.


Oleh karena itu, Aksara pun memilih melajukan mobilnya dan membawa Arsyilla pulang kembali ke apartemennya. Pria itu merasa bahwa Arsyilla akan bercerita jika dia siap, maka dari itu dia akan menunggu hingga Arsyilla datang padanya dan membagi ceritanya.


***


Malam sudah menunjukkan jam 20.00, dan Arsyilla agaknya masih diam. Keduanya bahkan sama-sama diam saat menikmati makan malamnya.


Akan tetapi, tanpa Aksara duga, kali ini Arsyilla ikut duduk dengan Aksara yang sedang mengganti-ganti saluran televisi berbayarnya. Menyadari bahwa Arsyilla sudah duduk di sisinya, tanpa menunggu lama Aksara pun langsung mematikan televisi itu. Pria itu kemudian melirik pada wajah Arsyilla yang terlihat mendung di sana.


“Tadi Om Darren datang menemui aku,” ucapnya yang seolah membuka sessi ceritanya saat itu kepada Aksara.


Tangan Arsyilla kemudian mengeluarkan sebuah kertas tipis berbentuk persegi panjang dari saku celananya. Terpampang nyata di sana sebuah cek kosong yang sudah dibubuhi tanda tangan Darren Jaya Wardhana.


“Untuk ini,” ucap Arsyilla lagi menyerahkan cek kosong itu kepada Aksara.


Jujur saja, Aksara begitu geram. Pria yang dulu pernah menjadi mantan suami Bundanya itu nyatanya tidak berubah. Masih suka melakukan suap dan bahkan melakukan cara-cara di bawah tangan yang tidak terpuji.


Lantas Arsyilla menghela nafasnya, wanita itu kembali berbicara, “Pertama dia datang apa aku yang melaporkan Ravendra, lalu dia minta supaya aku mencabut laporanku. Untuk itu sebenarnya aku tidak sakit hati, aku sakit hati karena dia berkata bahwa kami pacaran dan s’ex before marriage itu wajar. Mengapa seolah-olah dia memandang rendah wanita?”


Arsyilla tampak memejamkan matanya sejenak, dan wanita itu kembali membuka suaranya, “Aku tahu aku pun menikah karena hubungan satu malam yang sudah terlanjur terjadi. Hanya saja, dia tidak tahu betapa beban yang kutanggung sangat besar. Aku gagal menjadi anak yang baik, aku mencoreng nama kedua orang tua, juga aku ketakutan jika aku akhirnya hamil karena hubungan sebelum pernikahan itu. Kenapa ada orang yang menilai saat seorang wanita diculik, disekap, dipukul, dan nyaris diperkosa dianggap enteng. Bahkan saat itu, Ravendra berkata orange jus yang aku minum di pesta itu telah dicampurinya dengan alkohol. Itu berarti sudah berkali-kali dia ingin memangsaku,” cerita Arsyilla kali ini.

__ADS_1


Aksara masih diam dan dia mendengarkan semua yang Arsyilla rasakan dan ceritakan. Hatinya pun terasa sesak, terlihat pria itu yang mengeraskan rahangnya.


“Bagaimana jika dia memiliki seorang putri dan kemudian putrinya diperlakukan sama sepertiku? Kenapa CEO sekaliber dia tidak memikirkan sejauh itu,” ucap Arsyilla lagi. Kini bibir wanita itu tampak bergetar, suaranya pun bak tercekat, beberapa kali suaranya goyah dan matanya kembali berkaca-kaca.


Lantas Aksara memajukan punggungnya, “Punggungku siap menampung tangisanmu,” ucap pria itu.


Tanpa menunggu lama, Arsyilla langsung mencerukkan wajahnya di punggung pria itu. Membiarkan air matanya berderai di punggung yang kokoh itu. Wanita itu menangis, terisak, dan sesegukan di sana.


Mendengar tangisan Arsyilla yang pilu, ingin Aksara merengkuh tubuh yang tengah bergetar itu dalam pelukannya. Akan tetapi, hanya tangan Aksara yang bergerak dan meraih tangan Arsyilla. Menggenggamnya erat.


“Aku kesakitan, aku terluka, aku dilecehkan, bahkan aku trauma, kenapa dia seenaknya sendiri menganggap hubungan sebelum pernikahan itu wajar. Mengapa dia semudah itu menyodorkan cek kosong kepada korban sepertiku,” ucap Arsyilla lagi dengan bibir yang bergetar. Wanita itu sesegukan dalam berbicara, tetapi memang itulah yang dia rasakan sekarang ini.


Mendengar kata trauma yang diucapkan Arsyilla sekarang ini, Aksara pun perlahan bergerak merubah posisinya, pria itu mengurai sejenaknya genggamannya di tangan Arsyilla dan kemudian menatap wajah Arsyilla yang penuh dengan air matanya.


Aksara sedikit membungkukkan punggungnya, ibu jari dan jari telunjuknya bergerak untuk menyeka air mata yang membasahi kedua pipi Arsyilla. Menyekanya dengan begitu lembut.


“Menangis boleh, biar kamu lega … aku senang karena kamu mau berbagi denganku. Bagi semua air matamu itu padaku,” ucap Aksara dengan begitu lembut.


Seolah kata-kata yang diucapkan Aksara itu menggetarkan hatinya, tanpa ba bi bu, Arsyilla justru mencerukkan wajahnya di dada Aksara, dan tangannya melingkari pinggang Aksara. Dia kembali menangis di dada bidang milik Aksara.


Seolah terkesiap, kaget, dan bahagia menjadi satu, Aksara mengusap dengan lembut puncak kepala Arsyilla hingga ke bahunya. Gerakan naik turun yang penuh dengan kelembutan, bahkan Aksara pun beberapa kali melabuhkan bibirnya di puncak kepala Arsyilla. Kecupan yang berharap bisa menenangkan Arsyilla dan sebuah tanda bahwa dia begitu menyayangi dan mencintai wanita yang tengah menangis di dadanya itu.

__ADS_1


__ADS_2