
Ketika seseorang bisa menyingkapi musibah dengan kepala dan hati yang lapang itu tentu membuat Aksara merasa lega. Pikirnya, karena dirinya yang mengizinkan Arsyilla pergi sendiri, dan tidak menemani istrinya itu hingga membuat Arsyilla mengalami kejadian buruk, Aksara berpikir bahwa Mama Khaira dan Papa Radit akan begitu marah kepadanya. Bahkan Aksara sampai meminta maaf kepada Mama Khaira dan Papa Radit.
Untung saja, Mama Khaira dan Papa Radit memaafkannya, dan melihat semuanya adalah sebuah musibah. Bagaimana pun semua sudah berlalu, dan mereka juga tidak menyalahkan Aksara untuk semua yang telah terjadi.
“Semua ini musibah, Aksara … kami tidak seharusnya menyalahkanmu. Papa juga yakin bahwa kamu sangat panik dan kamu juga berusaha untuk menemukan dan menolong Syilla. Jangan menyalahkan diri sendiri, sekarang fokuslah ke penyembuhan Syilla,” jawab Papa Radit kali ini.
“Iya Pa … Aksara akan merawat Syilla sampai Syilla benar-benar sembuh,” balas Aksara.
Itu bukan hanya sekadar ucapan dan janji belaka, tetapi Aksara akan benar-benar memastikan untuk merawat Arsyilla sampai istrinya itu benar-benar pulih.
“Lalu, sekarang pelakunya sudah dibawa ke kantor polisi?” tanya Papa Radit lagi kepada Aksara.
“Sudah Pa … sejak semalam sudah dibawa ke kantor polisi,” balas Aksara.
“Syukurlah … semoga pelaku akan mendapatkan hukuman yang setimpal dengan kejahatannya,” sahut Papa Radit.
Setelahnya, Mama Khaira berjalan di samping suaminya, “Besok antarkan Mama ke Fakultas ya Pa … bagaimana pun pria bernama Bagas itu harus mendapatkan efek jera. Bagaimana mungkin seorang dosen berlaku seperti itu,” ucap Mama Khaira.
“Iya Ma … besok Papa akan mengantarkan Mama ke Fakultas Teknik Arsitektur,” balas Papa Radit.
“Ma, biar Syilla saja yang akan selesaikan masalah di Fakultas,” ucap Arsyilla yang merasa tidak enak karena Mamanya yang akan datang ke Fakultas tempatnya mengajar.
“Kamu fokus dengan pemulihanmu saja, Syilla … percayalah, Mama tidak akan mempermalukanmu,” jawab Mama Khaira.
Terlihat Arsyilla yang menggelengkan kepalanya, “Biar Syilla saja, Ma … Syilla sudah dewasa jadi Syilla akan laporkan ke fakultas,” jelasnya.
“Kamu yakin?” tanya Mama Khaira.
“Iya,” sahut Arsyilla.
“Baiklah,” balas Mama Khaira.
__ADS_1
Kemudian Mama Khaira menyerahkan sebuah kotak bekal kepada Aksara, “Sarapan dulu, Nak … kamu pasti lapar karena menunggu Syilla sejak semalam. Atau kamu ingin mandi dulu? Silakan saja. Mama dan Papa akan menunggu Syilla, kamu juga perlu bersih-bersih,” balas Mama Khaira.
Memang tidak dipungkiri sejak semalam Aksara tidak beranjak sama sekali dari sisi brankar Arsyilla. Pria itu terlalu panik dan tidak ingin meninggalkan istrinya barang untuk sedetik saja. Aksara lantas menatap sejenak ke Arsyilla, dan wanita itu menganggukkan kepalanya.
“Baik … Aksara nitip sebentar ya Ma … Aksara mandi dulu, setelah mandi barulah Aksara sarapan,” balas Aksara.
“Iya,” balas Mama Khaira.
Pria itu kemudian melepaskan jaket yang dia kenakan, dan mengambil pakaian ganti yang dibawakan mertuanya. Setelah itu, Aksara menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu. Menyegarkan diri dan membuang sisa-sisa keringat yang menempel di badannya. Hanya membutuhkan waktu lima belas menit, Aksara telah keluar dengan wajah yang segar. Pria itu segera duduk di sebuah sofa yang berada di depan brankar milik Arsyilla.
“Ini makanlah dulu, Aksara,” ucap Mama Khaira yang menyerahkan kotak bekal kepada menantunya itu.
Aksara pun menerima kotak bekal itu dan segera membukanya. Nasi butter dengan Capjay dan Ayam Goreng yang aromanya begitu harum dan menggugah selera.
“Mama … Papa, sarapan,” ucap Aksara kepada Mama Khaira dan Papa Radit.
“Iya-iya … tadi Papa sudah sarapan di rumah bersama Mamamu dan Shaka,” balas Papa Radit.
“Gimana rasanya Sayang?” tanya Mama Khaira.
“Agak pusing, Ma … mungkin karena pelipis Syilla terkena benda tumpul kemarin,” jawab Arsyilla.
“Lain kali hati-hati, Syilla … lebih baik tunggu suamimu saja. Kota ini tidak aman, Syilla. Mama saja kemana-mana lebih aman bersama Papamu,” balas Mama Khaira.
“Iya Ma … sekarang Syilla akan kemana-mana bersama Kak Aksara. Syilla takut Ma,” ucap Arsyilla. Wanita yang masih terbaring lemah itu tampak menitikkan air matanya, sebagai bentuk perasaan bahwa dirinya benar-benar takut sekarang ini.
Mama Khaira perlahan menggenggam tangan putrinya itu, “Jangan takut … jika kamu berhati-hati, pasti kamu selamat. Jangan diulangi lagi yah,” ucap Mama Khaira kali ini.
“Iya Ma,” sahut Arsyilla.
Beberapa kemudian, rupanya pintu kamar rawat inap milik Arsyilla diketuk dari luar. Aksara yang baru saja selesai sarapan, segera berdiri dan membukakan pintu.
__ADS_1
“Ayah, Bunda,” sapa Aksara yang cukup kaget karena Ayah dan Bundanya sekarang juga datang untuk menjenguk Arsyilla.
“Bagaimana keadaan Syilla?” tanya Bunda Kanaya kali ini.
“Masuk Bunda, Ayah … di dalam ada Mama Khaira dan Papa Radit,” jawab Aksara.
Hingga akhirnya Bunda Kanaya dan Ayah Bisma turut masuk. Pasangan paruh baya itu menyapa besannya terlebih dahulu, dan kemudian Bunda Kanaya tampak meneteskan air matanya melihat wajah lemah Arsyilla.
“Bagaimana keadaanmu, Syilla Sayang?” tanya Bunda Kanaya.
“Baik Bunda,” sahut Arsyilla dengan suaranya yang masih lemah.
“Maafkan Aksara ya Sayang,” ucap Ayah Bisma kali ini.
Arsyilla menggelengkan kepalanya dengan lemah, “Kak Aksara tidak salah, Ayah … justru Syilla yang salah karena memilih pergi sendirian. Maafkan Syilla Ayah,” ucap Arsyilla kali ini.
“Kamu tidak salah, Nak … ini semua adalah musibah,” jawab Bunda Kanaya dan Ayah Bisma kali ini.
Memang Arsyilla sendiri merasa bersalah karena dirinya memilih pergi sendirian, hingga akhirnya ada Tiara dan Bagas yang memanfaatkan kesendiriannya dan melakukan tindakan jahat kepadanya. Sementara Aksara juga merasa bersalah karena dirinya tidak menemani istrinya itu. Akan tetapi, sebuah musibah tidak ada yang tahu. Arsyilla dan Aksara sama-sama tidak tahu jika semuanya akan berakhir seperti ini.
“Sudah … jangan dpikirkan. Sekarang yang penting adalah kesembuhan kamu,” ucap Ayah Bisma.
Ya, semuanya sudah berlalu. Ayah Bisma yakin bahwa Tiara dan Bagas akan ditangani oleh pihak yang berwajib. Sementara untuk Arsyilla harus segera pulih dan bisa keluar dari Rumah Sakit. Tidak perlu menyalahkan diri sendiri untuk semua yang telah terjadi.
“Jadi, berapa lama harus dirawat di Rumah Sakit?” tanya Ayah Bisma lagi.
“Kata Dokter … sampai besok, Ayah,” balas Aksara.
“Ya sudah … tidak apa-apa. Yang penting Arsyilla segera pulih dan sehat kembali,” balas Ayah Bisma.
Mama Khaira dan Papa Radit juga turut mendengarkan percakapan besannya dan menantunya itu. Ada rasa lega karena Arsyilla mendapatkan mertua yang baik dan begitu menyayanginya. Semoga saja dengan kasih sayang dan perhatian dari keluarga besar membuat Arsyilla kian pulih dan segera membaik. Sungguh, kedua belah keluarga berharap bahwa Arsyilla akan semakin membaik.
__ADS_1