
“Kamu yakin mau melahirkan secara normal Honey?” tanya Aksara kepada istrinya itu dalam perjalanan pulang dari Rumah Sakit.
“Iya Kak … kalau sudah memenuhi aspek bisa melahirkan secara normal. Kayaknya aku pengen mencoba melahirkan secara normal deh,” jawab Arsyilla kali ini.
Dalam melahirkan sendiri, memang ada aspek atau syarat bisa melahirkan secara normal atau Caesar. Untuk melahirkan secara normal setidaknya harus memenuhi empat aspek utama yaitu kepala bayi yang sudah masuk ke dalam panggul, kemudian tidak ada placenta previa atau letak plasenta yang menutupi jalan lahir, berat bayi yang tidak terlampau besar, dan juga tidak ada lebih dari dua liitan di badan bayi. Mengingat bahwa kondisi janinnya sudah baik, dan sekarang kepalanya sudah masuk ke dalam panggul, maka Arsyilla berketetapan untuk bisa melahirkan secara normal.
“Kamu yang mau melahirkan, aku yang panik,” aku Aksara kali ini kepada Arsyilla.
Sebagai seorang suami dan calon Ayah, memang tidak dipungkiri bahwa Aksara panik. Ini akan menjadi pengalaman pertamanya menyambut bayi dan menemani persalinan istrinya. Tidak jarang memang banyak suami yang terserang panik menjelang hari persalinan tiba. Itu juga yang dirasakan Aksara sekarang ini. Panik jika istrinya itu kesakitan, panik karena tidak bisa menanggung rasa sakit yang dihadapi istrinya, dan panik dengan berbagai kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi.
“Tidak usah panik Kak … kita jalani saja bersama-sama,” balas Arsyilla kini kepada suaminya.
Ya, walaupun Arsyilla sendiri tidak tahu melahirkan itu akan seperti apa. Setidaknya Arsyilla akan menyiapkan dirinya, baik secara fisik dan mental untuk menjalani hari persalinan nanti. Lagipula, ada Aksara yang akan selalu menemaninya, sehingga itu memberikan suntikan keberanian untuk menghadapi apa yang belum pernah dia rasakan.
Sebab, jika terfokus pada sakitnya rasa bersalin nanti, sudah pasti Arsyilla akan ketakutan dan membuatnya lemah secara mental. Untuk itu, Arsyilla akan mengalihkan fokus dan perhatiannya kepada hal lain. Misalnya membayangkan bagaimana rupa bayinya nanti, selucu apakah dia nanti saat lahir, bagaimana pengalaman menggendong bayinya untuk kali pertama. Arsyilla lebih memilih memasukkan kenangan dan pengalaman bahagia ke dalam otaknya.
Calon Ibu juga harus mempersiapkan diri secara mental. Ibu yang sehat secara mental dampaknya akan sangat luar biasa. Sebab, kecemasan berlebih dampaknya juga buruk. Untuk itu, Arsyilla berusaha menjaga kesehatan mentalnya untuk sehat dan terus bersyukur karena masa untuk menimang buah hati tidak akan lama lagi.
“Kamu kuat, Honey,” balas Aksara.
Arsyilla dengan usia yang masih terbilang muda, dan sekaligus ini akan menjadi pengalaman bersalin pertamanya, tetapi terlihat kuat. Aksara juga sangat bersyukur saat hamil istrinya itu tidak banyak keluhan. Begitu sehat, bahkan Arsyilla masih mengajar saat usia kehamilan 37 Minggu. Baru pekan ini, Arsyilla mengajukan cuti ke kampusnya.
“Honey, waktu bersalin kamu kan tinggal sebentar lagi … terus aku masih bekerja. Gimana, kamu maunya aku cuti sekarang, mendampingi kamu menuju lahiran, atau saat kamu sudah ada gelombang kontraksi nanti? Ya, walaupun aku anak CEO, cuma kan kalau cuti terlalu lama juga enggak enak,” balas Aksara.
Terlihat Aksara yang menawarkan kepada Arsyilla untuk memilih lebih baik dia cuti sekarang dan mendampingi Arsyilla menjelang persalinan, atau nanti mendampingi Arsyilla sampai bayinya lahir. Walaupun Aksara putra Sang CEO, tetapi profesionalitas bekerja juga harus diutamakan.
__ADS_1
“Nanti saja Kak … lagian kan aku di rumah terus. Aku enggak kemana-mana. Jarak rumah ke perusahaan kamu juga enggak lama kan, jadi bisa nunggu lah,” jawab Arsyilla.
Kali ini Arsyilla sudah memilih bahwa dia memilih untuk didampingi sampai bayi kecilnya lahir nanti. Terlebih mengingat bahwa jarak Jaya Corp dengan rumahnya yang tidak terlalu jauh, Arsyilla merasa masih bisa bertahan dan menunggu suaminya itu.
“Baiklah, senyaman kamu saja Honey … cuma janji yah, kalau merasakan apa-apa, langsung kabarin aku,” pinta Aksara.
Jujur saja, meninggalkan istri dengan kondisi hamil besar membuat Aksara menjadi tidak tenang. Dia ingin menjadi suami yang siaga. Harapan Aksara, dirinya ada di rumah saat Arsyilla merasakan masa-masa kontraksi nanti.
***
Keesokan harinya saat akhir pekan tiba …
Aksara dan Arsyilla menyambut pagi dengan jalan-jalan bersama di sekitar area perumahan. Sebatas meregangkan otot dan juga bersiap untuk hari persalinan yang kian mendekat.
“Jalannya pelan-pelan saja, Honey,” ucap Aksara yang mengingatkan kepada Arsyilla supaya jalannya pelan-pelan saja.
“Kenceng-kenceng enggak Honey perutnya? Aku kadang lihat kamu, sesak nafasku. Cuma karena kamu semangat, aku menjadi lebih lega,” ucap Aksara.
Tidak dipungkiri bahwa Aksara yang justru sering kali terbangun di malam hari, mengecek kondisi Arsyilla, mulai dari meraba keningnya memastikan suhu tubuh Arsyilla stabil, mengusapi perutnya yang begitu besar hingga terkadang Aksara merasakan tendangan dari bayinya. Justru Aksara terlihat kian panik semakin bertambah hari.
“Kamu panik ya Kak? Jangan panik Kak … cukup selalu dampingi aku saja, aku baik-baik saja kok,” balas Arsyilla.
Justru Arsyilla yang berkali-kali menenangkan suaminya itu. Sebab, Arsyilla juga merasakan bahwa suaminya itu terlihat panik. Sorot mata saat menatapnya juga berbeda. Arsyilla ingin suaminya tidak terlalu panik. Lagipula, persalinan harus dihadapi apa pun yang terjadi nanti.
“Lumayan Honey … perasaanku sukar diucapkan. Aku seneng karena gak lama lagi Dedek Bayi lahir, tetapi juga kasihan sama kamu. Aku tuh paling enggak bisa lihat kamu kesakitan,” balas Aksara.
__ADS_1
Arsyilla yang dalam posisi masih berjalan, perlahan membawa tangannya untuk menggenggam tangan suaminya itu.
“Tenang saja … aku akan selalu baik-baik saja. Bersamamu, aku akan selalu baik-baik saja,” sahut Arsyilla. “Jadi, Ayah jangan panik yah … bukan hanya Bundanya saja yang sehat secara mental. Ayah juga harus sehat secara mental, kalau panik berlebihan jadinya juga tidak baik. Kita hadapi saja bersama-sama,” ucap Arsyilla.
“Iya Honey … sorry yah, malahan aku yang panik. Harusnya aku yang bisa menenangkan kamu, malahan sekarang kamu yang nenangin aku,” balas Aksara.
“Tidak apa-apa Kak … kita menjadi support system untuk satu sama lain. Sebab, menjadi orang tua juga tentang kerja sama. Jadi, mari kita bekerja sama dan mempersiapkan semuanya,” balas Arsyilla sembari sedikit tertawa.
Tidak terasa sudah hampir setengah jam keduanya berjalan-jalan mengitari kompleks perumahan itu. Jalanan di perumahan yang sepi, sekaligus mereka bisa melihat rumah-rumah yang berdiri di cluster itu. Menyapa beberapa tetangga yang sedang berada di luar rumahnya, dan melihat aktivitas lainnya.
“Habis ini istirahat saja Honey … jalan-jalannya kan sudah lama, jangan sampai kecapekan,” ingat Aksara sekarang ini kepada Arsyilla.
“Iya-iya Ayah … Bunda akan istirahat, cuma dipeluk yah,” jawab Arsyilla.
Jika ada satu hal yang tidak berubah selama 9 bulan ini adalah Arsyilla yang begitu gemar menempel sepanjang waktu dengan suaminya itu. Rasanya jika menempel dengan suaminya, perasaannya menjadi tenang. Bahkan untuk tidur pun, Arsyilla merasa lebih terlelap tidur dalam dekapan suaminya itu.
“Pasti Honey … pasti dipeluk. Ayah juga suka pelukin kalian berdua,” sahut Aksara.
Begitu sampai di rumah, Aksara mengambil air putih terlebih dahulu untuk Arsyilla. Menyuruh istrinya untuk mengonsumsi air putih yang sehat untuk bayinya. Bahkan Aksara juga tidak ragu menyeka buliran keringat yang membasahi kening istrinya.
“Kamu semangat banget … semoga saja, pas bersalin nanti semuanya Allah perlancar ya Honey. Kalau bisa proses pembukaannya tidak terlalu lama, supaya kamu tidak kesakitan,” ucap Aksara sembari menatap wajah istrinya itu.
“Amin, semoga saja doa kita berdua didengar dan dijawab sama Allah. Aku kesakitan tidak apa-apa Kak … paling nanti kalau sudah tidak bisa menahan, aku bakalan nangis,” jawab Arsyilla sembari terkekeh geli.
Aksara kemudian mengusapi puncak kepala Arsyilla, dan pria itu segera mendekap tubuh Arsyilla. “Enggak terasa, kayak baru kemarin aku menikahi kamu. Aku berjuang untuk mendapatkan hatimu, dan sekarang kamu sudah akan menjadi Bunda dari anakku. Makasih banget Honey … makasih sudah berjuang selama 9 bulan ini untuk anak kita,” ucap Aksara.
__ADS_1
Dalam hatinya, Aksara merasakan kehangatan yang luar biasa. Istrinya itu benar-benar pribadi yang baik dan bisa memandang kesakitan dan kepanikan dengan cara yang berbeda. Aksara berjanji dalam hatinya, bahwa dia pun akan turut memastikan mental dan perasaan hati Arsyilla akan selalu baik. Dia akan berusaha menjaga Arsyilla dan terus mendampingi istrinya itu sampai saat mereka akan menyambut bayi kecil mereka ke dunia.