Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Hati yang Belum Beres


__ADS_3

Agaknya hati Medhina masih berkecamuk, gadis itu juga terlihat resah. Sementara, Arsyilla masih duduk dan mencoba mendengarkan semua kisah yang dibagikan oleh sahabatnya sejak kecil itu. Arsyilla dan Medhina memang selisih usia 1,5 tahun, tetapi Medhina memanggil Arsyilla langsung dengan namanya karena memang dulu mereka adalah teman bermain. Walaupun saat Arsyilla kuliah dan bekerja, intensitas bertemu mereka berdua sangat jarang, tetapi keduanya tetap menjalin hubungan baik. Sama seperti sekarang, keduanya pun saling menyempatkan waktu untuk bercerita.


“Lalu, bagaimana Dhina? Tidak mencoba untuk bercerita kepada Om Dimas dan Aunty Metta dulu? Semua orang tua pasti akan mendengarkan keluh kesah anaknya bukan?” tanya Arsyilla kini kepada Medhina.


“Aku sudah mencoba untuk berbicara kepada Ayah dan Bunda. Hanya saja, mereka berdua merasa pria itu adalah orang yang baik dan cocok buat aku,” jawab Medhina.


Mendengar cerita dari Medhina, Arsyilla merasa terenyuh, kasihan dengan sahabatnya sejak kecil itu. Namun, di satu sisi Arsyilla pun percaya bahwa Om Dimas dan Aunty Metta memiliki pertimbangannya sendiri.


“Jujur saja, hatiku belum sepenuhnya beres, Syilla … aku masih mencintai Andreas dan berharap bahwa dia akan datang dan memperjuangkan hubungan kami berdua. Hanya saja, mengingat jarak antara London dan Jakarta, rasanya aku merasa menyerah dan tidak memiliki semangat lagi untuk berjuang,” cerita Medhina lagi.


Ada satu pengakuan yang diucapkan Medhina yang hanya bisa dia bagikan kepada Arsyilla yaitu mengenai perasaannya yang sepenuhnya belum beres. Kepada orang lain dan orang tuanya sendiri, Medhina tidak berani untuk mengatakan fakta bahwa dirinya masih mencintai dan mengharapkan pria bernama Andreas itu.


Akan tetapi, Arsyilla tampak memikirkan sesuatu. Bukankah zaman sudah begitu maju. Jika sudah terhubungan dengan internet bukankah mereka yang jauh pun akan terasa dekat, bahkan bisa bertatap muka dengan memanfaatkan aplikasi Zoom atau jenis aplikasi yang lainnya. Namun, kenapa dalam sebulan belakangan Medhina dan Andreas justru putus kontak dan tidak ada komunikasi? Untuk itu, Arsyilla pun memberanikan diri untuk bertanya kepada sahabatnya.


“Dhina, maaf sebelumnya … bukankah sekarang zaman sudah maju. Teknologi sudah sangat canggih, kenapa kalian bisa putus komunikasi begitu saja?” tanya Arsyilla kepada temannya itu.


“Aku juga tidak tahu, Syilla … awalnya saat dia tiba di London, kami masih bertukar pesan. Sampai akhirnya lama-lama pesan yang kami kirimkan mulai berkurang, hingga akhirnya sebulan belakangan aku dan dia sama sekali tidak berkomunikasi,” cerita Medhina.

__ADS_1


“Tidak mencoba menghubungi lagi?” tanya Arsyilla.


Sebab, pikirnya jika masih ada cinta kan bisa menghubungi dan menyambung lagi komunikasi yang sempat terputus. Pendekatan lagi, dan mencoba memperbaiki dari awal. Lagipula, keinginan Om Dimas dan Aunty Metta masih sebatas wacana, belum sepenuhnya terjadi. Sehingga, Medhina bisa berjuang lagi.


Perlahan Medhina pun menggelengkan kepalanya, “Tidak … nomornya tidak bisa dihubungi. Akun media sosialnya juga tidak ada pembaharuan dalam satu bulan belakangan. Jadi, ya begini Syilla … bisa dikatakan hubungan kami menggantung,” balas Medhina.


“Baiklah Dhina … coba dipikirkan lagi baik-baik. Saranku, akui kepada Om Dimas dan Aunty Metta kalau hatimu belum beres. Ulur waktu untuk membereskan hatimu sendiri. Dulu, aku memulai pernikahanku dengan hati yang juga sepenuhnya belum beres, hanya saja karena aku perlu adaptasi dengan suamiku. Tak kusangka, akhirnya aku justru jatuh cinta, bahkan cinta mati kepadanya,” aku Arsyilla.


Dulu, Arsyilla memulai pernikahan bukan karena masih mencintai pacarnya. Hanya saja, dirinya saat itu tidak menyukai Aksara, justru benci kepada suaminya itu. Tidak mengira dalam perjalanan mengarungi bahtera rumah tangga, Arsyilla justru merasakan jatuh cinta, dan kini Arsyilla mengakui bahwa dia cinta mati kepada suaminya itu.


Medhina yang mendengarkan Arsyilla pun tersenyum, “Kenapa bisa begitu? Kalau aku mana mungkin bisa?” tanyanya.


Medhina tertawa, tidak biasanya sahabat yang biasanya berpikiran logis itu, saat bersama Aksara bisa mengedepankan perasaannya. Medhina seolah melihat Arsyilla sebagai sosok yang baru.


Arsyilla kemudian terpikirkan sesuatu, mungkin saja kali ini bisa mengobati keresahan di hati sahabatnya itu.


“Kalau ternyata dijodohin sama Shaka gimana, Dhin? Mama dan Papa kan juga sahabatnya Om Dimas dan Aunty Metta. Jadi adik iparku,” balas Arsyilla dengan tertawa.

__ADS_1


Medhina yang mendengarkan ucapan Arsyilla turut tertawa hingga menggelengkan kepalanya, “No, jangan lah … masak aku sama Shaka. Aku dan Shaka itu sudah pantas jadi Kakak dan Adik. Kita bertiga sering main bersama dulu. Lagipula, Shaka lebih muda daripada aku … jadi masak aku sama berondong sih?” balas Medhina dengan tertawa.


“Lah, sekarang kan zamannya menikahi berondong. Lagipula Shaka juga cakep tuh, keren, sudah bekerja, paket komplit. Enggak hanya itu, jika dapat Shaka, kamu juga akan mendapatkan mertua yang baik, dan dapat Kakak Ipar yang baik juga,” balas Arsyilla.


Akhirnya keduanya pun tertawa. Medhina menggelengkan kepalanya karena dia tidak yakin dengan Arshaka. Mereka sering bermain, playdate bersama waktu sama-sama masih kecil. Selain itu, secara usia Arshaka juga satu tahun lebih muda darinya. Jika pria itu adalah Arshaka, Medhina hanya merasa tidak mungkin.


“Udah deh, Syilla … jangan ngaco deh. Lagian feelingku, enggak mungkin Shaka. Hanya saja, Ayah pernah bilang, dia lebih tua dariku. Beberapa tahun usianya di atasku,” jawab Medhina lagi.


Ada helaan nafas yang kasar dari indera penciuman Medhina, wanita itu bahkan mende-sah pasrah. Rasanya belum sepenuhnya menerima, tetapi hubungannya dengan Andreas sendiri juga tidak ada kepastian.


“Tuh, sedih lagi kan … udah, coba bilang sama Om Dimas dan Aunty Metta, kamu minta waktu lagi. Bereskan hati kamu dulu,” saran dari Arsyilla kepada temannya.


“Kalau mengulur waktu beberapa bulan dan hatiku belum beres gimana?” tanya Medhina.


Bukannya menyerah, hanya saja Medhina mengakui dalam hatinya bahwa dia sangat mencintai Andreas dan menginginkan Andreaslah yang pada akhirnya akan menjadi pendampingnya.


“Jika, sampai pada akhirnya … kamu masih merasa dengan hatimu, keputusan sepenuhnya ada padamu, Dhina. Kita sama-sama sudah dewasa, bisa membuat keputusan, dan siap dengan segala konsekuensinya. Kami ingin mencoba, siapa tahu jatuh cinta usai pernikahan, atau sebaliknya. Semua keputusan ada di tangan kamu. Aku yakin Om Dimas dan Aunty Metta akan mempertimbangkan semua itu,” jelas Arsyilla dengan yakin.

__ADS_1


Membereskan hati memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Hanya saja semuanya bisa diurai dengan baik-baik. Waktu akan memberikan kesempatan bahkan peluang untuk mencerna semuanya dan juga pada akhirnya menolong kita untuk mengambil keputusan yang tepat. Semua keputusan pasti akan disertai dengan konsekuensinya. Sehingga Arsyilla menekankan kepada Medhina bahwa apa pun keputusan yang akan dia ambil, tetap saja ada konsekuensinya. Berani memutuskan, berani juga untuk menanggung segala risiko dan konsekuensinya.


__ADS_2