
Keesokan harinya, saat jeda jam makan siang di kampusnya, menunggu ke jam mengajar selanjutnya. Pihak kampus mengatakan bahwa ada tamu yang ingin dengan Arsyilla. Oleh karena itu, Arsyilla pun meminta kepada tamu yang bersangkutan untuk langsung menemui di ruangannya saja.
Hanya beberapa saat berselang, terdengar suara ketukan dari pintu. Oleh karena itu, Arsyilla segera beranjak dari duduknya, dan segera membukakan pintu untuk tamu tersebut. Betapa terkejutnya dia melihat Papanya Ravendra yang sekarang berdiri di depan pintu.
“Silakan masuk, Om,” ucap Arsyilla dengan memasang senyuman kaku di wajahnya. Sebab, dia pun tidak mengira bahwa pria paruh baya yang pernah dia temui beberapa kali saat masih menjadi pacar Ravendra dulu.
Pria itu mengangguk dan seketika mengambil tempat duduk di ruangan tamu kecil yang berada di ruang dosen milik Arsyilla.
“Ada apa Om Darren kemari?” tanya Arsyilla kemudian.
Ya, pria paruh baya yang datang ke ruangannya saat itu adalah Darren Jaya Wardhana, Papa dari Ravendra Wardhana. Bisa dikatakan ini kali pertama Darren datang dan menemui Arsyilla. Dulu, Arsyilla bertemu dengannya saat Ravendra mengenalkan kepada Mama dan Papanya.
Papa Darren seketika mengedarkan matanya, pertama kali dia justru memperhatikan seisi ruangan dosen milik Arsyilla yang terlihat begitu sederhana. Kemudian, pria itu duduk, garis wajahnya yang tegas, dan sorot matanya yang tampak mengintimidasi.
Gesture tubuh yang ditunjukkan Darren benar-benar tidak bersahabat. Untuk itu pun, Arsyilla sebenarnya merasa takut. Akan tetapi, dia menyembunyikan ketakutannya dan berusaha menghadapi setenang mungkin.
“Begini Arsyilla, saya mau bertanya apa benar kamu melaporkan Ravendra ke polisi?” tanya Darren dengan menatap tajam Arsyilla.
“Iya, benar, Om,” jawab Arsyilla seakan dirinya tidak gentar. Padahal dalam hatinya, dia berharap bisa kabur sekarang juga dan tidak berhadapan dengan Papa dari mantan kekasihnya itu.
“Yang Ravendra lakukan itu nyata, real, atau hanya sebuah kasus yang sengaja kamu buat untuk menjebloskannya ke penjara?” tanya Darren kini dengan menatap tajam wajah Arsyilla.
__ADS_1
Demi Tuhan, lagi pula untuk apa dirinya harus bersandiwara dan memanipulasi sebuah kasus hanya untuk menjebloskan Ravendra ke dalam penjara. Dalam benaknya pun, Arsyilla tidak pernah memikirkan itu.
“Kasus itu nyata, Om … Dia yang sudah berusaha menculik saya saat saya keluar dari kampus, menyekap saya, menganiaya saya, dan akhirnya berusaha memperkosa saya,” sahut Arsyilla.
Kedua mata wanita itu beberapa kali memejam, tidak menyangka bahwa pria paruh baya yang kini duduk di hadapannya memandangnya sebagai wanita yang memanipulasi sebuah kasus.
“Bukankah kalian pacaran? *** before marriage, no problem bukan?” tanya Darren dengan menyeringai.
Arsyilla pun menggelengkan kepalanya, “Saya tidak habis pikir CEO sekelas Bapak Darren Jaya Wardhana berpikiran seperti itu. Di saat dunia sudah maju, para wanita bisa melindungi dirinya sendiri dengan caranya, justru Anda membenarkan *** before marriage. I think that’s bad opinion,” jawab Arsyilla dengan dadanya yang bergemuruh.
Entah mengapa bagi Arsyilla saat ini, CEO sekelas Darren Jaya Wardhana justru memandang rendah hubungan sakral yang seharusnya hanya boleh di antara suami dan istri. **** adalah anugerah Tuhan mula-mula dalam pernikahan. Lantas mengapa orang-orang menganggap itu hanya sebagai kenikmatan semata? Hubungan itu harus didasari dengan penuh syukur, bentuk beribadah, tetapi nyata banyak orang yang salah kaprah memandangnya. Untuk itu, Arsyilla benar-benar sebal bahkan saat ini emosinya naik mendengar ucapan Darren.
Tidak berselang lama, Darren kemudian mengeluarkan sebuah kertas dari kantong jasnya.
Pria itu berbicara bukan dengan nada meminta, melainkan syarat akan ancaman dalam setiap ucapannya.
“Pertimbangkan sekali lagi, taruhan ini cukup menggiurkan bukan? Cukup tuliskan berapa nominal yang kamu inginkan, saat itu juga uang itu akan masuk ke rekeningmu,” ucap Darren lagi.
Arsyilla berdecih, dia tersenyum getir menatap Papa dari mantan pacarnya dulu, “Jika Anda datang dan hanya membujuk saya dan meminta saya untuk mencabut kembali laporan saya, tentu saja Anda salah, Om. Coba kalau Om Darren memiliki anak perempuan dan dia dilecehkan oleh pacarnya sendiri, apa Om Darren akan membiarkan anak perempuan Om Darren disekap, ditampar, bahkan nyaris diperkosa?” tanya Arsyilla kini dengan wajah yang tampak memerah.
Setelah itu, Arsyilla pun berdiri, dia membukakan pintu bagi Darren, “Saya kira sudah tidak ada urusan lagi, silakan keluar dari sini Bapak Darren Jaya Wardhana,” ucap Arsyilla dengan memincingkan matanya.
__ADS_1
Merasa telah terusir oleh Arsyilla, perlahan Darren pun berdiri dan meninggalkan ruangan Arsyilla begitu saja.
***
Sepeninggal Om Darren, Arsyilla berusaha menenangkan dirinya. Waktu mengajar hanya tinggal beberapa menit lagi, tetapi emosinya masih berada di puncaknya. Beberapa kali Arsyilla memejamkan matanya, menghembuskan nafas, kemudian menghirup kembali oksigen sebanyak-banyaknya. Akan tetapi, dadanya masih terasa sesak.
Sementara itu, tanpa sepengetahuan Arsyilla, rupanya Aksara pun berpapasan dengan Darren di parkiran kampus.
“Aksara, kamu kuliah di sini?” tanya Darren sembari menghentikan langkah kakinya.
Aksara pun mengangguk, “Hmm, iya, Om,” jawabnya singkat. Sejujurnya dia pun enggan untuk berkomunikasi dengan pria itu. Jelas karena Bundanya sudah memberitahukan semua kejadian di masa lalu dan bagaimana Bundanya bisa terhubung dengan keluarga Wardhana.
Akan tetapi, otak Aksara pun tampaknya bekerja dengan cepat, dia sangat tahu bahwa pria paruh baya itu adalah Papa dari Ravendra. Untuk itu, pikiran Aksara langsung tertuju pada Arsyilla saat ini. Sebab, tidak mungkin orang yang tidak ada hubungan dengan kampus ini, tiba-tiba menampakkan batang hidungnya di sini.
Menghiraukan Darren, Aksara pun berjalan meninggal pria paruh baya itu begitu saja. Dia kemudian mengirimkan pesan untuk Arsyilla.
[To: Arsyilla]
[Syilla, aku tahu pasti kamu sedang tidak baik-baik saja.]
[Kamu di mana sekarang ini?]
__ADS_1
[Haruskah kamu membatalkan jam kuliah siang ini?]
Pesan itu meluncur dengan cepat ke handphone Arsyilla. Sayangnya, pesan itu hanya centang dua, tetapi pesan itu terlihat belum dibaca oleh Arsyilla. Untuk itu, Aksara mempercepat langkah kakinya. Berniat mencari Arsyilla ke ruangan dosen, tetapi saat dia hendak menuju ruangan dosen, dia justru Arsyilla yang sedang berjalan dengan membawa tas laptopnya memasuki ruang kelas untuk mata kuliah Perencanaan Arsitektur. Untuk itu, Aksara seketika memutar tubuhnya dan dia segera memasuki ruangan kelas berharap bisa memastikan bahwa tidak terjadi apa-apa dengan Arsyilla.