Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Perasaan Cinta


__ADS_3

Usai mendapatkan kunjungan dari orang tuanya, menikmati Pepes Ikan yang dimasak oleh Mama Khaira, membuat hari-hari Arsyilla penuh bahagia. Bahkan sudah beberapa hari berlalu, dan Arsyilla tampak bahagia. Mood swing yang beberapa hari lalu dialaminya, kini lebih bisa dia kelola dengan baik. Bahkan, hari ini Arsyilla pun terlihat begitu bersemangat untuk mengajar di kampusnya.


“Sudah mulai mengajar, Honey?” tanya Aksara pagi ini saat melihat istrinya yang bersiap mengenakan celana kain berwarna cokelat dan kemeja putih.


“Iya Kak … cuma kan semester ini aku cuma mengajar dua hari dalam sepekan saja. Jadi, ya masih punya banyak waktu untuk istirahat di rumah,” balas Arsyilla yang tengah merias wajahnya dengan make up yang tidak tebal. Hanya sebatas mengenakan alas bedak dan juga bedak, membuat alis mata, dan juga memulas bibirnya dengan pewarna bibir berwarna pink yang lembut.


“Oh … cuma hati-hati dan jangan kecapekan saja ya, Honey. Ingat sekarang sedang hamil. Jadi, prioritaskan untuk kesehatan juga,” balas Aksara.


“Iya Ayah … siap,” sahut Arsyilla.


Keduanya kemudian bersarapan bersama, dan Aksara pun bergegas untuk mengantarkan Arsyilla ke kampus tempatnya mengajar. Sepanjang perjalanan, keduanya tampak mengobrol bersama, sesekali bergurau, sehingga perjalanan setengah jam sama sekali terasa.


“Mengajarnya yang rajin yah … cuma jangan kecapekan. Nanti aku jemput yah,” balas Aksara.


Arsyilla yang baru saja turun dari mobil pun wajahnya berseri-seri. Mengawali kegiatan pagi dengan cinta dan kasih sayang dari suaminya membuat perasaannya benar-benar baik.


“Wah, Bu Arsyilla bahagianya diantar suami,” goda Bu Ratna yang juga baru sampai di kampus.


“Eh, Bu Ratna … iya, Bu. Diantar suami,” balas Arsyilla.


“Aksara kelihatannya suami yang baik dan perhatian ya Bu Arsyilla. Wah, senang sekali punya suami cakep, mapan, dan perhatian,” respons Bu Ratna kali ini.


Tentu saja itu hanya candaan semata, karena Bu Ratna sendiri sudah memiliki suami dan dua orang anak.


“Iya Bu … saya juga merasa senang,” balas Arsyilla dengan malu-malu.


Kemudian Arsyilla dan Bu Ratna bergegas untuk memasuki ruangan dosen mereka. Mempersiapkan diri untuk mengajar mahasiswa tingkat satu pada jam pertama ini. Arsyilla terlihat begitu bersemangat saat mengajar para mahasiswa. Kehamilan bukan alasan untuk malas dan lesu. Yang ada di depan kelas, Arysilla tampak bersemangat, menyampaikan dengan baik, dan menjelaskan dengan baik kepada para mahasiswanya.

__ADS_1


Hanya saja memang kini Arsyilla tidak lagi mengenalkan heels. Sebab, menggunakan heels berbahaya bagi ibu hamil. Arsyilla hanya menggunakan flat shoes saja yang memang aman untuk ibu hamil. Selain itu, terkadang Arsyilla juga menjelaskan materi sembari duduk.


Tidak terasa sudah seharian penuh Arsyilla mengajar di kampusnya. Menjelang sore, Arsyilla merapikan mejanya dan segera keluar menunggu suaminya itu datang menjemputnya.


“Sudah pulang Honey?” sapa Aksara yang kini sudah menunggu di depan gedung Fakultas Teknik.


“Eh, sudah datang Kak … kupikir masih agak entar,” balas Arsyilla.


“Sudah dong … kasihan kalau Bumilku menunggu terlalu lama,” jawab Aksara kali ini.


Arsyilla hanya bisa tersenyum setiap kali mendapatkan perhatian manis dari suaminya itu. Kendati demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa hatinya benar-benar merasa bahagia.


“Langsung pulang kan?” tanya Aksara.


“Iya,” sahut Arsyilla.


Begitu tiba di dalam apartemennya, tampak Arsyilla yang segera mendekap erat suaminya itu dari belakang.


“Kangen,” aku Arsyilla kali ini.


Badannya yang kecil seakan tidak terlihat karena posisi Arsyilla yang mendekat suaminya itu dari belakang. Kedua tangannya melingkari pinggang suaminya dan menyadarkan kepalanya di punggung suaminya itu.


“Tumben nih Bumil … aku juga kangen,” balas Aksara. Dengan kedua tangannya yang mengusapi tangan Arsyilla yang tengah melingkari pinggangnya.


Beberapa saat lamanya, Arsyilla masih mendekap tubuh suaminya itu. Sesekali justru Arsyilla tampak memejamkan matanya sembari menghirupi aroma Sandal Wood di tubuh suaminya yang masih begitu segar di sore hari. Sementara Aksara sendiri tidak keberatan, dirinya justru senang dengan istrinya yang lebih nempelan dengannya di masa kehamilannya ini.


“Kak … tahu enggak. Hari ini aku tiba di kampus barengan sama Bu Ratna. Dia bilang Aksara itu jadi suami yang cakep, mapan, dan juga perhatian. Sebenarnya aku tidak suka jika ada wanita lain yang memuji kamu seperti itu. Hanya saja, aku berkata pada hatiku sendiri bahwa kamu memang sebaik itu. Rasanya aku makin jatuh cinta deh sama kamu,” ucap Arsyilla kali ini.

__ADS_1


Perlahan Aksara pun berbalik, mengurai dekapan tangan istrinya, dan Aksara memandang wajah istrinya itu.


“Apa yang kamu lakukan sudah tepat, Honey. Tidak perlu semua omongan dimasukkan hati, nanti ujung-ujungnya bikin kamu tambah sebel. Jadi, benar … suamimu yang tampan, mapan, dan perhatian ini cuma miliknya kamu. Sekarang hanya milikmu,” sahut Aksara.


Akan tetapi, Arsyilla tidak bisa menerima jawaban dari suaminya. “Kok sekarang, terus nanti emang ada pemilik yang lain?” tanya Arsyilla.


Terlihat Aksara menganggukkan kepalanya perlahan, “Iya … sekarang aku hanya milikmu. Aksara miliknya Arsyilla. Akan tetapi, saat Dedek Bayi lahir, aku juga akan menjadi milik Dedek Bayi dong. Kamu harus siap-siap berbagi, Honey,” jawab Aksara dengan memeluk Arsyilla.


Ah, barulah Arsyilla merasa lega mendengar jawaban dari suaminya. Yang ada kini justru Arsyilla terkekeh geli.


“Oh … kalau itu, aku siap berbagi. Cuma kan kamu milikku seutuhnya dan sepenuhnya,” balas Arsyilla.


“Iya … seutuhnya dan sepenuhnya. Kamu pemilik seluruh hati dan hidupku,” balas Aksara dengan yakin.


Kemudian Aksara menggerakkan kepalanya, hingga dagunya yang berada di puncak kepala istrinya itu bergerak perlahan ke kanan dan kiri, dan Aksara kian memeluk tubuh istrinya itu.


“Aku justru seneng deh, kamu nempelan kayak gini. Ditempelin istri sendiri itu bahagia banget. Pasti dulu Papa Radit juga sebahagia ini saat Mama Khaira hamil kamu dan suka nempelan ke Papa Radit,” balas Aksara.


Lagi-lagi Arsyilla tertawa. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa dirinya sangat senang nempel dengan suaminya. Entah itu pengaruh hormon kehamilan atau murni dari dorongan hatinya sendiri. Rasanya bisa memeluk hangatnya tubuh Aksara, menghirupi sisa-sisa parfum yang masih menempel di tubuh suaminya itu, membuat Arsyilla bukan hanya bahagia, tetapi juga merasa begitu tenang.


“Enggak pengen mandi dulu?” tanya Aksara kali ini.


Sebab, biasanya kegiatan mereka begitu sampai di unit apartemennya adalah mandi dan membersihkan badan terlebih dahulu. Setelahnya barulah dilanjutkan dengan menyiapkan makan malam dan quality time berdua. Akan tetapi, sekarang agaknya Arsyilla benar-benar baru mode manja dan masih ingin memeluk suaminya itu.


Arsyilla perlahan menarik wajahnya dari dada suaminya, menengadahkan wajahnya guna bisa melihat mata suaminya itu.


“Mandi bareng yuk,” ajak Arsyilla dengan tiba-tiba.

__ADS_1


Wajah Aksara tampak terkejut, tidak mengira dengan ucapan Arsyilla yang kini justru ingin mandi bersamanya. Ah, tentu ini adalah ajakan yang begitu disukai Aksara!


__ADS_2