
Sementara itu, usai persidangan Bunda Kanaya meminta Arsyilla dan Aksara untuk singgah di kediaman mereka sejenak. Menurut Bunda Kanaya ada yang ingin disampaikan terkait dengan pengakuan Tiara bahwa dalang dari kejadian buruk yang menimpa Arsyilla adalah Darren Jaya Wardhana. Selain itu, terkait projek dengan perusahaan Tiara dan juga kaitannya dengan Dasa Crop akan diselidiki oleh Bunda Kanaya.
“Kalian pulang ke rumah Ayah dulu saja. Bu Khaira dan Pak Radit, mari sekalian … biar kita bisa berbicara dan mengatur strategi untuk ke depannya,” ucap Ayah Bisma kali ini.
Semua orang pun akhirnya menyetujui ajak Ayah Bisma, tetapi Arshaka tidak bisa mengikuti pertemuan keluarga itu karena ada pekerjaan penting di kantor yang harus dia kerjakan.
“Maaf, Shaka tidak bisa ikut … karena ada pekerjaan penting di kantor yang harus Shaka kerjakan,” ucap pemuda yang berselisih usia tiga tahun saja dari Arsyilla itu.
“Tidak apa-apa Shaka … lain kali singgahlah ke rumah kami. Ada Thania yang lucu, kamu pasti menyukainya,” balas Ayah Bisma.
Setelahnya Arshaka merangkul bahu kakaknya, Arsyilla dan berkata memberikan dukungan penuh untuk kakaknya itu. “Semangat ya Kak, aku yakin semua ini akan bisa Kakak lewati. Jaga kesehatan Kak, aku sudah pengen dipanggil Uncle sama ponakanku nanti,” ucap Arshaka.
“Iya Shaka, makasih yah,” balas Arsyilla.
Sampai pada akhirnya tiga keluarga besar sekarang berkumpul bersama di kediaman Ayah Bisma dan Bunda Kanaya. Layaknya pertemuan keluarga digelar dengan tiba-tiba. Kemudian mulailah Bunda Kanaya berbicara.
“Syilla, maafkan Bunda yah … Bunda tidak tahu jika semua kejadian buruk yang menimpa kamu berhubungan dengan masa lalu, Bunda,” ucap Bunda Kanaya saat ini. “Menurut Bunda, semua ini ada sangkut pautnya dengan dendam Darren Jaya Wardhana dengan Bunda,” aku Bunda Kanaya saat ini.
Dendam puluhan tahun lamanya yang seakan tidak ada akhirnya. Mama Khaira dan Papa Radit pun turut mendengarkan ucapan Bunda Kanaya itu. Jikalau Papa Radit setidaknya tahu masa lalu Bunda Kanaya, saat dirinya pernah bekerja di Jaya Corp dulu. Sementara Mama Khaira tidak sepenuhnya tahu.
“Tidak apa-apa Bunda … Syilla tidak apa-apa. Lagipula semuanya telah terjadi,” balas Arsyilla.
“Sekarang bagaimana untuk ke depannya?” tanya Ayah Bisma kali ini.
Tampak semua orang yang berada di situ tengah berpikir. Agaknya masalah kali ini cukup pelik karena melibatkan Darren Jaya Wardhana. Seakan pria bernama Darren itu menjadi momok tersendiri bagi keluarga Pradhana.
__ADS_1
“Mungkinkah untuk melaporkan Om Darren?” ucap Aksara kali ini.
Saat Aksara mengatakan hal tersebut, seolah-olah semua mata tertuju pada pria itu. Berusaha mencerna kemungkinan yang terjadi jika mereka memilih menempuh jalur hukum untuk menjerat Om Darren.
“Sebenarnya Syilla merasa kasihan. Pria paruh baya seperti Om Darren harus mendekam di penjara, mengingat bahwa lebih dari sepuluh tahun hidupnya sudah dihabiskan Om Darren di penjara,” ucap Arsyilla kali ini.
“Itu benar, Syilla. Hanya saja jika Om Darren bebas, orang itu juga terus-menerus mencelakai keluarga kita. Kali ini, kamu menjadi umpan dan dicelakai sampai seperti itu,” balas Ayah Bisma.
Kemudian Bunda Kanaya menatap Mama Khaira dan Papa Radit, “Maafkan kami Besan … semua ini terjadi karena masalah yang terjadi berpuluh-puluh tahun yang lalu. Jika memungkinkan saya untuk berkata jujur, itu karena dulu saya pernah menikah dengan pria bernama Darren Jaya Wardhana itu,” aku Bunda Kanaya.
“Saya tahu Bu Kanaya … lagipula setiap orang memiliki masa lalunya sendiri-sendiri. Saya mendengarnya saat saya bekerja di Jaya Corp dulu,” balas Papa Radit.
“Benar Bu Kanaya … tidak perlu meminta maaf. Lagipula, tidak ada keluarga yang sebaik ini yang bisa menyayangi putri kami. Menganggap menantu layaknya anak sendiri,” balas Mama Khaira.
“Terima kasih … rasanya saya benar-benar bertemu sosok pribadi dan keluarga yang baik. Orang-orang yang baik hati yang di masa lalu menolong putra kami, Aksara,” sahut Bunda Kanaya saat ini.
Namun, Arsyilla justru menggelengkan kepalanya, “Tidak perlu Ayah … lagipula, Arsyilla tidak takut. Arsyilla akan berhati-hati bahkan saat hal buruk mengintai. Terlebih sekarang Syilla hanya mengajar di hari Senin dan Selasa saja. Selebihnya Syilla bisa tinggal di apartemen,” balasnya.
“Ayah merasa takut terjadi sesuatu yang lebih buruk dari ini,” ungkap Ayah Bisma lagi.
Aksara kemudian kembali mengeluarkan suaranya kali ini, “Menurut Aksara, lebih baik kita laporkan saja Om Darren, Ayah dan Bunda … tentu ini akan lebih baik. Biarkan Om Darren mendekam di penjara sekali lagi,” ucap Aksara.
“Bagaimana jika berada di penjara justru tidak membuat pria itu jera?” respons dari Ayah Bisma.
Pertanyaan yang begitu masuk akal dari Ayah Bisma. Sebab, sudah dua kali Darren Jaya Wardhana mendekam di penjara, tetapi seolah tidak memberikan efek jera pada pria itu. Penjara tidak menjadi hukuman yang mengubah seorang Darren Jaya Wardhana. Bahkan keluar dari penjara pun masih begitu banyak perbuatan zalim yang dilakukan Darren.
__ADS_1
“Apa memungkinkan audit terhadap Dasa Corp?” tanya Papa Radit kali ini.
Sebagai seorang yang memiliki pengalaman di bidang Auditor Keuangan, bisa didapatkan temuan-temuan yang bisa memperberatkan Darren. Memang tidak langsung tertuju kepada Darren, tetapi kepada aset perusahaan Dasa Corp yang dimiliki Darren.
“Kita dulu pernah melakukannya Bu Kanaya. Sampai akhirnya, Pak Darren waktu mendekam di penjara untuk kasus suap dan penggelembungan dana perusahaan,” sambung Papa Radit.
Ya, jauh sebelum dirinya mengenal Mama Khaira, Papa Radit pernah bekerja di Jaya Corp di bagian Tim Auditor Jaya Corp. Papa Radit yang saat itu masih muda, bisa memimpin tim auditor dan akhirnya temuankan temuan belasan milyar rupiah yang masuk ke kantong pribadi Darren.
“Memang benar Pak Radit … hanya saja tidakkah kasihan orang yang berusia paruh baya. Di mana seharusnya dia menikmati hidup, dekat dengan keluarga besar, tetapi justru mendekam lagi di tahanan?” tanya Bunda Kanaya.
Sisi kemanusiaan berdasarkan hati nurani yang membuat Bunda Kanaya mempertimbangkan semuanya itu.
“Tidak adakah cara lain?” tanya Arsyilla kali ini.
“Ada,” jawab Ayah Bisma dengan lirih.
“Cara seperti apa Ayah?” tanya Arsyilla.
“Saat seorang pria tertolak oleh putranya sendiri, itu adalah hukuman yang paling menyakiti. Melihat perubahan yang begitu besar dari diri Ravendra, bisa dipastikan hubungan keduanya sangat tidak baik-baik saja sekarang. Sang Anak merasa terluka, sementara si Ayah merasa bersalah karena menyakiti perasaan anak. Mungkin saja melalui Ravendra, Darren bisa mendapatkan hukumannya,” balas Ayah Bisma.
Secara logis jenis hukuman itu beragam. Bukan hanya sebatas mendekam di balik jeruji besi. Hukuman yang diberikan oleh orang-orang yang dekat di hati kita rasanya juga sangat menyakitkan. Itu yang coba disampaikan Ayah Bisma sekarang ini. Memang dampaknya tidak secara langsung, tetapi rasa tertolak oleh anak sendiri itu adalah hukuman yang paling menyakitkan menurut Ayah Bisma.
“Begini saja, Bunda akan lakukan pemeriksaan terhadap Dasa Corp. Jika perusahaan itu terbukti melakukan kecurangan, kita bisa lakukan itu untuk memberikan pelajaran kepada Darren. Pembalasan yang tidak serta-merta dilakukan karena pria itu adalah dalang di balik kejadian buruk yang menimpa Arsyilla. Kita bisa mencari cara yang lainnya,” sahut Bunda Kanaya.
Kemudian Bunda Kanaya menatap ke arah Arsyilla, “Syilla, berjanjilah kepada Bunda … jika kamu merasa tidak aman. Merasa keselamatanmu terganggu, segera hubungi Aksara. Selama Om Darren masih bebas, kita harus lebih waspada. Jangan takut, kami semua ada bersamamu. Semoga saja, semua fakta yang sangat mengejutkan ini tidak terlalu berdampak bagimu. Fokus ke kehamilanmu, Nak,” ucap Bunda Kanaya.
__ADS_1
“Benar Syilla … fokus ke kehamilanmu terlebih dahulu. Mama dan Papa juga akan selalu ada untukmu,” sahut Mama Khaira.
Arsyilla pun mengangguk, dia merasa beruntung memiliki orang tua dan mertua yang sangat menyayangi dan mensupportnya. Juga keberadaan suaminya sendiri yang memiliki posisi paling penting di hidupnya. Apa yang disampaikan Bunda Kanaya dan Mama Khaira benar, dirinya harus fokus dengan masa kehamilannya. Jangan sampai terlalu panik dan khawatir justru berdampak pada janin yang dikandungnya.