Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Terbangun di Tempat yang Sama


__ADS_3

Saat matahari masih terlihat malu-malu menampakkan sinarnya di langit sana, sepasang anak manusia tengah tertidur berdua, begitu terlelap dan saling memeluk satu sama lain. Rasanya pagi itu adalah pagi terindah, untuk keduanya. Bukan sekadar berbagi ranjang, tetapi juga hangatnya pelukan yang mereka salurkan membuat pagi itu terasa lebih indah.


Hingga akhirnya, sinar surya perlahan menyapa dari tirai-tirai yang tergantung di kaca jendela itu pun, Arsyilla mengerjap. Kelopak matanya dengan bulu matanya yang lentik bergerak-gerak, kemudian matanya pun perlahan-lahan membuka, wanita yang biasanya terkesiap dengan pelukan pria di sampingnya, kali ini bangun dengan senyuman di wajahnya.


“Ah tidak terasa hari sudah pagi, tetapi bagaimana aku bisa di sini? Bukankah semalam aku menangis tersedu-sedan masih duduk bersamanya di sofa?” ucap Arsyilla dengan lirih sembari menengadahkan wajahnya melihat Aksara yang masih terpejam.


Rupanya, sedikit pergerakan Arsyilla nyatanya justru membangunkan Aksara yang semula masih terlelap dalam tidurnya. Pria itu membuka matanya perlahan dan tersenyum melihat kepala Arsyilla yang masih berada di atas dadanya, tangan wanita itu juga melingkar dengan indah di pinggangnya.


“Pagi, Syilla …” sapanya dengan suaranya yang serak khas bangun tidur.


Merasa Aksara sudah bangun, Arsyilla pun beringsut. Wanita itu segera duduk dan menundukkan wajahnya, hingga untaian rambutnya yang berantakan khas orang bangun tidur menutupi kedua belah sisi wajahnya.


Kendati demikian, Aksara turut duduk, dia itu justru memeluk Arsyilla dengan erat, “Nyenyak kan tidurnya?” tanyanya dengan mengusapkan dagunya di puncak bahu Arsyilla.


Wanita itu justru menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, rasa malu seolah lebih mendominasinya saat ini. Terlebih dengan pertanyaan dari Aksara yang terang-terangan, bisa dipastikan wajahnya memerah seketika kali ini.


“Kamu nangisnya lama banget, sampai tertidur gitu. Susah payah, aku menggendongmu kemarin,” ucap Aksara lagi menceritakan bahwa semalam Arsyilla menangis terlalu lama, hingga wanita itu tertidur di pelukannya. Lantaran, Aksara pun sudah mengantuk, sehingga Aksara yang membawa Arsyilla ke kamarnya, membaringkannya perlahan, dan turut bergabung dengan istrinya itu di atas satu ranjang.


“Maaf,” ucap Arsyilla kali ini dengan katanya yang lirih.


Aksara justru menggelengkan kepalanya, “Tidak apa-apa, aku justru senang karena menjadi orang yang kamu percayai untuk membagi kisahmu,” ucapnya.


Arsyilla mengangguk perlahan, kemudian wanita itu mengedarkan pandangan melihat ke segala penjuru kamar Aksara di apartemen itu. Tidak jauh berbeda dengan kamar Aksara di kediaman Bunda Kanaya dan Ayah Bisma. Kamar yang didominasi warna abu-abu, dan juga kesan minimalis sangat terasa di sana. Akan tetapi, Arsyilla terkesiap saat melihat sebuah foto pigura yang berada di atas nakas, foto Aksara bersama Thania.


Diikuti dorongan hati, Arsyilla pun memberanikan diri untuk bertanya pada Aksara. Rasanya, Arsyilla juga harus mempersiapkan dirinya untuk bisa menerima Thania dengan tulus apabila Thania memang putri dari pria yang kini menjadi suaminya itu.


Akan tetapi, sebelum Arsyilla bertanya, rupanya handphone Aksara terlebih dahulu berdering dan menunjukkan Papa Radit yang sedang menghubunginya.


Papa Radit

__ADS_1


Memanggil


Mendengar dering handphone itu, Aksara pun mengurai pelukannya di tubuh Arsyilla. Pria itu lantas mengambil handphonenya yang berada di atas nakas dan menggeser ikon telepon warna hijau di layar handphonenya.


“Halo, selamat pagi Pa,” sapa Aksara begitu menerima panggilan telepon itu.


“Iya, pagi, Aksara. Syilla sekarang di mana ya? Sejak semalam Mamanya menghubunginya tetapi tidak ada balasan, bahkan pesannya juga tidak dibalas. Mamanya mengkhawatirkan Arsyilla,” ucap Papa Radit melalui sambungan teleponnya.


“Ah, semalam Arsyilla tidur lebih cepat, Pa … apa ingin berbicara dengan Syilla, sekarang Syilla sedang bersama dengan Aksara,” jawab Aksara.


“Kalian ada di mana sekarang?” tanya Papa Radit lagi.


“Kami baru saja bangun, Pa … masih di atas tempat ti …,” ucap Aksara itu menguar begitu saja ke udara, karena Arsyilla segera menyahut handphone yang semula dipegang Aksara.


“Ya, halo Pa,” sahut Arsyilla kali ini.


Justru terdengar kekehan geli dari sang Papa di sambungan telepon itu, “Oh, anak Papa sekarang sudah tidak tidur sendirian lagi ya? Sudah ada yang memeluk sepanjang malam.”


“Apa sih, Pa …” jawab Arsyilla dengan singkat.


“Nanti main ke rumah ya, Syilla … Papa dan Mama sudah kangen sama kamu dan Aksara, nginep di sini ya, lagipula besok juga masih hari libur kan. Tidak boleh ada penolakan. Mama kamu sudah heboh masak untuk menyambut anak dan menantunya,” ucap Radit yang kemudian mematikan panggilan seluler itu secara sepihak.


Usai sambungan telepon berakhir, Arsyilla pun menyerahkan handphone itu kepada Aksara, “Maaf kalau tadi tidak sopan,” ucapnya kali ini.


Aksara pun menggelengkan kepalanya, “No problem, tidak masalah,” jawabnya.


“Aku sampai lupa mau tanya sama kamu,” ucap Arsyilla lagi kali ini. Rasanya penasarannya sudah tingkat tinggi. Sehingga dia harus segera bertanya supaya memastikan jawaban yang sesungguhnya.


Aksara pun mengangguk, “Tanya apa? Kamu boleh tanya apa pun padaku,” jawabnya dengan menyugar rambutnya perlahan.

__ADS_1


“Euhm, maaf sebelumnya. Thania itu putri kamu ya? Hmm, maksudku, anak kamu?” tanya Arsyilla dengan melihat foto Thania yang begitu manis dalam pangkuan Aksara.


Pria itu justru mengernyitkan keningnya, “Maksud kamu apa?” tanyanya.


“Dia manggil kamu Daddy kan? Jadi, dia putri kamu?” tanya Arsyilla lagi dengan menunjuk foto itu dengan jari telunjuknya.


Kali ini terlihat Aksara yang tertawa, pria itu terbahak geli mendengar pertanyaan dari Arsyilla. Sementara Arsyilla justru bingung dengan arti tawa Aksara sekarang ini mengisyaratkan apa?


Sehingga Arsyilla memilih diam dan menunggu hingga derai tawa di wajah Aksara pun memudar.


Perlahan Aksara terdiam, kedua tangannya memegangi lengan Arsyilla, “Dengarkan aku baik-baik yah … Thania itu keponakan aku. Bukan aku orang tua kandungnya, hanya saja dia memang memanggilku Daddy. Kenapa foto itu ada di situ? Karena Thania mengingatkanku pada sosok gadis kecil yang pernah kutemui bertahun-tahun yang lalu,” jawab Aksara dengan serius.


Lega, itulah satu kata yang bisa mendeskripsikan perasaan hati Arsyilla kali ini. Rupanya pria yang dia nikahi bukan single daddy.


“Tunggu, jangan-jangan kamu berpikir aku ini single daddy ya?” tanya Aksara kini dengan menatap wajah Arsyilla dalam-dalam.


Akan tetapi, Arsyilla segera beringsut. Wanita itu berdiri begitu saja dan berlari keluar dari kamar Aksara.


“Hei, Syilla … tunggu. Jawab aku dulu,” teriak Aksara sembari mengejar Arsyilla yang berlari ke kamarnya.


Akan tetapi, Arsyilla cepat-cepat menutup pintu kamarnya. Dia harus menyembunyikan wajah penuh kelegaan miliknya saat ini.


“Syilla, buka pintunya dong … jawab aku, kamu pikir aku ini Single Daddy ya?” tanya Aksara lagi sembari mengetuk-etuk pintu kamar tidur Arsyilla.


“Tau, pikir aja sendiri,” jawab Arsyilla setengah menahan tawa dari balik kamarnya.


*Tuh, sudah kejawab satu ya. *


Thania itu ponakannya, bukan anaknya. Jadi, Aksara bukan Single Daddy.

__ADS_1


Abis itu banyak misteri box lainnya yang kebuka.


Stay tune^^


__ADS_2