
“Serius kita akan bermalam di sini? Di kapal ini?” tanya Arsyilla yang seakan tak percaya.
Aksara mengangguk, “Iya, aku benar-benar akan mengajakmu berlayar semalaman di sini. Kita akan menyambut sunrise esok pagi bersama,” ucapnya.
Setelah itu, Aksara meraih tangan Arsyilla dan membawanya untuk berjalan mengikutinya menuju Promenade Deck yaitu geladak kapal yang merupakan dek yang membentang dari haluan ke buritan. Keduanya duduk di sana berdua. Malam yang sunyi, hanya terdengar mesin kapal yang berbunyi.
“Setidaknya kapal ini tidak akan karam kan?” tanya Arsyilla pada akhirnya kepada Aksara.
Pria itu menggelengkan kepalanya, “Tidak … tidak akan karam, lagipula jika ada apa-apa, aku akan menyelamatkanmu,” jawabnya.
“Serius?” respons Arsyilla kali ini.
“Iya, aku akan selalu menjagamu,” jawabnya.
“Karena kamu suamiku?” tanya Arsyilla lagi.
Aksara kemudian menggeleng perlahan, pria itu sedikit beringsut demi bisa menatap wajah Arsyilla. “Tidak, karena aku mencintaimu, Syilla,” ucapnya dengan wajah yang sangat serius kali ini.
Sesaat Arsyilla pun tertegun, tidak mengira bahwa Aksara akan mengatakan perasaannya, perasaan bahwa pria itu ternyata mencintainya.
“Aku cinta kamu, Syilla … rasa yang tidak pernah bisa kusampaikan bertahun-tahun dalam hidupku ini, rasa yang pernah membuatku mengelak dan memastikan kebenarannya, tetapi rasanya semua ini nyata perasaanku padamu nyata,” sambungnya lagi berbicara dengan serius kepada Arsyilla.
Hingga akhirnya Aksara pun mendesah, “Ah, lega rasanya … aku bisa jujur mengungkapkan semuanya padamu,” ucapnya kini dengan tersenyum.
“Bertahun-tahun? Kamu pernah melihatku sebelum kesalahan satu malam itu?” tanya Arsyilla kini kepada Aksara.
Pria itu mengangguk, “Oke dengarkan ceritaku. Pertemuan pertama kali kita adalah saat kamu berusia 40 hari waktu itu di Panti Asuhan Kasih Bunda. Aku melihat bayi kecil yang cantiknya, pipinya kemerah-merahan, sangat menarik perhatiannya. Aku yang saat itu tinggal di panti asuhan, akhirnya berkenalan dengan sepasang orang tua yang datang untuk berbagi kasih bagi anak-anak kurang beruntung sepertiku. Rupanya Ibu yang begitu cantik dan saat itu masih sangat muda, tergerak hatinya, dia kemudian bersama suaminya menyekolahkanku, hingga waktu berjalan, sepasang orang tua sering mengunjungiku di Panti Asuhan bersama putrinya.”
__ADS_1
Cerita Aksara terjeda, kendati demikian Arsyilla masih diam dan menunggu kelanjutan cerita dari Aksara.
“Itu pertemuan pertama kita, Syilla … dan sepasang orang tua itu adalah Ayah Radit dan Ibu Khaira. Orang-orang berhati hangat yang membagi kasihnya denganku. Tidak menyangka aku bertemu kamu di pesta itu. Aku yang menolongmu dan membawamu saat kamu tergeletak, melihat kartu identitasmu bahwa kamu Arsyilla Kirana Putri Raditya, rasanya aku sangat menginginkanmu. Hingga kesalahan satu malam itu terjadi,” jawabnya lagi.
“Mungkin caraku mendapatkanmu salah, tetapi perasaanku kepadamu tidak pernah salah. Aku cinta kamu, Arsyilla Kirana,” ucapnya kini.
Bak merasakan gemuruh di dada usia menceritakan kisahnya dengan panjang lebar, kemudian Aksara sedikit beringsut, tangan pria itu bergerak sesaat untuk menyentuh sisi wajah Arsyilla. Pria itu kemudian mengikis jarak di antara kemudiannya dan melabuhkan bibirnya di atas bibir ranum milik Arsyilla. Membiarkan bertengger di atas dua lipatan bibir itu.
Beberapa detik berlalu, sapuan hangat nafas Aksara seolah menghangat wajah Arsyilla, sekalipun wanita itu masih membelalakkan kedua matanya, tetapi Arsyilla pun tidak berusaha mendorong Aksara. Ya, Arsyilla hanya diam, sama sekali tidak bereaksi.
Memangkas sejengkal jarak wajahnya, Aksara kini menatap dengan lekat kedua bola mata Arsyilla, “I Love U Always Arsyilla. Everyday, I Love U,” ucapnya.
Kembali Aksara memangkas sejengkal jarak wajahnya, kemudian menyatukan bibirnya untuk kembali berlabuh di atas bibir Arsyilla. Kali ini, bibir Aksara bukan hanya bertengger di sana, tetapi pria itu memberikan kecupan-kecupan kecil di bibir yang begitu ranum itu. Menghisap lipatan bawahnya untuk beberapa saat.
Refleks, dengan desiran yang seakan membuat jantungnya tidak baik-baik saja karena sekarang jantungnya bertalu-talu dan berdetak melebihi ambang batasnya. Hingga perlahan Arsyilla memejamkan matanya. Tangannya tampak menggenggam erat ujung kemeja Aksara. Sapaan bibir Aksara yang seolah mengecup dan menghisap lipatan bibirnya tanpa henti, nyatanya benar-benar membuat Arsyilla terasa sesak, tangannya menjadi begitu dingin. Kendati wajahnya memanas lantaran sapuan hangat nafas Aksara, justru tangannya menjadi begitu dingin.
“Tangan kamu dingin,” katanya dengan mengecup punggung tangan Arsyilla.
Ya ampun aku gugup …
Kata-kata itu tak bisa diucapkan Arsyilla, tetapi wanita itu hanya menunduk. Bingung harus menjawab apa dan bereaksi bagaimana.
“Aku cinta kamu,” ucap Aksara lagi. Pria itu kemudian tersenyum dan memeluk Arsyilla begitu saja. “Apa kamu cinta aku?” tanya sembari mengurai pelukannya.
Beberapa detik berselang, Arsyilla untuk menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu … hanya saja kamu mulai nyaman sama kamu,” jawabnya.
Mungkin jawaban yang ambigu, tetapi Arsyilla harus lebih mencari tahu rasa yang dia rasakan sekarang ini. Selain itu, Arsyilla ingin mengenal sosok Aksara terlebih dahulu.
__ADS_1
Bukan marah, Aksara justru mengangguk, “Aku akan menunggumu. Hanya saja, sekarang ini … May i kiss u?” tanyanya lagi.
Tidak menjawab, tetapi perlahan Arsyilla memejamkan matanya.
Merasakan bahwa itulah jawaban Arsyilla, tanpa basa-basi Aksara kembali menyapa bibir yang manis dan begitu hangat itu. Menikmatinya dengan mencecap lipatan atas dan lipatan bawahnya bergantian, bahkan kini Aksara menggigit kecil sudut bibir Arsyilla, kemudian membawa ujung lidahnya untuk menyapu bibir Arsyilla, mendobrak masuk merasakan hangatnya rongga mulut Arsyilla. Bahkan, Aksara sedikit menggelengkan kepalanya untuk memperdalam ciumannya. Lidah dan bibirnya itu seolah menari-nari, mencicipi semua rasa manis berpadu hangat yang membuat Aksara rasanya tak ingin berhenti. Itulah permintaan hatinya untuk bisa terus dan terus mencium Arsyilla.
Sekian waktu Aksara terus memagut bibir Arsyilla, hingga akhirnya Aksara merasakan nafasnya terasa payah, karena itulah dia pada akhirnya dengan berat hati mengurai ciuman itu. Dada keduanya terengah-engah, naik turun dengan begitu kentara. Rupanya, itu hanya berlangsung beberapa detik saja, karena ibu jari Aksara tengah mengusap lipatan bawah bibir Arsyilla dengan begitu lembut.
Kemudian pria itu meraih dagu Arsyilla dan kembali mengecup bibir yang merekah, sedikit bengkak dan basah itu dengan begitu dalam.
Chup!
“Aku cinta kamu, benar-benar cinta kamu. Tidak masalah berapa banyak waktu yang kamu perlukan karena aku akan menunggumu,” ucapnya kali ini.
Arsyilla kemudian perlahan menatap wajah Aksara, “Sampai kamu lulus kuliah dan wisuda?” tanyanya kali ini.
Aksara lantas menatap horor wajah Arsyilla, “Apa itu berarti hubungan kita berdua hanya sebatas ini sampai aku lulus? Masih dua semester, berarti satu tahun. Kamu tega,” jawabnya dengan menggerutu pada akhirnya.
“Itu tergantung usahamu ingin lulus lebih cepat atau tidak, Ayah Bisma ingin putranya ini benar-benar berhasil di wisuda kali ini,” sahut Arsyilla.
Aksara pun tertunduk, “Jangan dua sementer dong, setengah semester saja. Kamu tidak ingin bersatu sepenuhnya dengan suamimu?” tanya Aksara lagi kali ini.
Arsyilla pun kemudian tersenyum, “Aku perlu waktu dengan hati dan diriku, kuharap kamu bisa menungguku sampai saat itu,” pintanya kali ini.
“Berapa lama?” tanya Aksara pada akhirnya.
“Sampai Ravendra mendapatkan hukuman di persidangan nanti,” jawab Arsyilla kini.
__ADS_1
Aksara mengangguk, “Oke, aku akan menunggumu. I Love U, Arsyillaku,” ucapnya dengan merengkuh tubuh Arsyilla dan membawanya dalam pelukannya.