Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Perasaan Penuh Haru


__ADS_3

Subuh di pagi hari itu menjadi waktu yang sangat membahagiakan untuk Aksara dan Arsyilla. Hingga rasanya, setiap waktu yang berjalan membuat hati keduanya penuh haru. Proses kehamilan selama sembilan bulan akhirnya berakhir sudah dengan lahirnya bayi kecil yang mereka namanya Aurora, dan akan dipanggil Ara sebagai panggilan kesayangnya.


Sementara itu, Arsyilla yang sudah dibersihkan dipindahkan lagi dari kamar tindakan menuju kamar perawatan. Sementara Baby Ara dibawa ke inkubator untuk diobservasi terlebih dahulu. Aksara pun turut mendorong brankar Arsyilla dan dibawa masuk ke dalam kamar perawatannya.


“Bagaimana perasaan kamu Honey?” tanya Aksara kepada istrinya itu.


Aksara masih setia untuk duduk di kursi yang berada di samping brankar dan menggenggam tangan istrinya itu.


“Luar biasa Kak … kupikir, tadi aku tidak akan mampu untuk menyelesaikan persalinan. Sakit banget rasanya,” jawab Arsyilla dengan jujur.


Ya, saat bersalin tadi rasanya Arsyilla tidak kuasa untuk menyelesaikan pembukaan demi pembukaan yang dia alami. Arsyilla juga begitu kesakitan saat berusaha melahirkan Baby Ara tadi. Seluruh tulangnya rasanya dipatahkan semua. Begitu sakit dari kepala hingga ke kaki. Terlebih bagian inti tubuhnya, entah dengan berapa jahitan di sana yang membuat Arsyilla begitu kesakitan.


“Sakit banget yah?” tanya Aksara dengan menghela nafas.


Ada anggukan samar yang diberikan Arsyilla, “Iya … sakit banget,” jawabnya.


“Kamu luar biasa, Honey … kamu hebat banget. Selamanya, aku akan terus mengingat memori ini. Kenangan saat kamu melahirkan akan selalu aku ingat,” balas Aksara.


Aksara memang akan menyimpan semua memori dari Arsyilla mengalami pembukaan demi pembukaan, hingga perjuangannya yang begitu luar biasa di ranjang kesakitan tadi. Bahkan momen saat Aksara mendengar tangisan bayinya untuk kali pertama benar-benar membuat pria itu begitu merinding, air matanya berderai dengan sendirinya. Buah hati yang selama ini hanya dia ajak ngobrol sembari mengecupi perut Arsyilla, kini bayi itu telah lahir ke dunia dan tangisan adalah bahasa pertamanya yang begitu luar biasa.


“Tadi aku terharu banget ketika Baby Ara baru keluar … tangisannya membuatku sampai ikut menangis. Luar biasa banget,” balasnya kali ini.


“Sama Kak … aku juga terharu banget merasakan sesuatu keluar dari inti tubuhku dan disambut dengan tangisan pertama Baby Ara. Luar biasa benget,” balas Arsyilla.


Ya, Arsyilla sendiri merasakan bagaimana ada dorongan dari perut hingga panggulnya, dorongan begitu kuat yang sampai merobek inti tubuhnya, tetapi itu adalah robekan terdahsyat karena dibarengi dengan tangisan yang merupakan bahasa pertama Baby Ara kepada dunia. Tangisan yang ingin menunjukkan eksistensi Baby Ara.


Rupanya tidak berselang lama, seorang perawat masuk ke dalam kamar perawatan milik Arsyilla dan mendorong sebuah box bayi di mana Baby Ara sudah dimandikan dan dibawa ke kamar perawatan Arsyilla.


Atensi keduanya langsung teralihkan pada bayi cantik dan mungil, bayi itu masih tertidur, tetapi kecantikan yang dia miliki membuat Aksara dan Arsyilla sama-sama jatuh cinta pada pandangan pertama.

__ADS_1


"Hasil karya kita berdua, Honey …."


Aksara berbicara dengan menunjukkan senyuman di wajahnya. Ya, bayi kecil yang begitu mungil itu adalah hasil karya mereka berdua. Penyatuan dua raga yang menghasilkan maha karya dahsyat bernama Aurora itu.


Mendengar ucapan suaminya, Arsyilla pun tertawa.


"Kayak buat kerajinan tangan aja sih Kak? Dia buah cinta kita berdua. Kombinasi sempurna Aksara dan Arsyilla," balasnya dengan menatap penuh kelembutan pada bayi mungil itu.


"Wajahnya kamu banget sih Kak," balas Arsyilla sekarang ini.


Ya, di mata Arsyilla, Baby Ara begitu mirip dengan Ayahnya. Fitur wajah yang seperti Ayahnya.


"Abis kamu waktu hamil nempelan aku terus sih, jadi Baby Ara mirip Ayah deh," balas Aksara.


Seakan Aksara mengingatkan pada fakta betapa begitu menempelnya Arsyilla saat hamil Ara. Bahkan Arsyilla bisa sepanjang hari menempel kepada suaminya. Terlihat justru Arsyilla seperti koala yang selalu menempel erat pada induknya.


"Gimana lagi Kak, ngidamnya itu kok," balas Arsyilla.


"Ya sudah, Honey… sekarang kamu enggak istirahat dulu? Pasti kamu kesakitan dan kecapekan banget. Terlebih sepanjang malam kamu enggak tidur, malahan nangis," ucap Aksara.


Selama proses pembukaan memang begitu lama. Sepanjang malam, Arsyilla menangis, merintih, dan terisak. Rasanya wanita itu benar-benar merasakan kesakitan yang sebelumnya belum pernah dia rasakan sebelumnya.


"Ya capek sih Kak … perih juga, cuma begitu lihat Ara, aku bahagia banget. Enggak menyangka putri kita sekarang sudah bisa kita lihat, bisa kita gendong, bisa aku kasih ASI. Luar biasa banget rasanya," balas Arsyilla.


Baru saja Arsyilla berbicara, terlihat Baby Ara yang menggeliat dan perlahan menangis. Arsyilla pun meminta tolong kepada Aksara untuk mengambil putrinya dan menyerahkannya kepadanya.


"Tolong dong Kak, mungkin Baby Ara haus," ucap Arsyilla.


Aksara menghela nafas, kemudian menatap ke Arsyilla, "Aku takut, Honey."

__ADS_1


Aksara mengaku dengan jujur bahwa dirinya begitu takut untuk menggendong bayinya itu. Bayi mungil itu begitu rapuh kelihatannya, dan Aksara takut menyakiti bayinya itu. Terlebih dia belum berpengalaman menggendong bayi.


"Cuma angkat saja dari situ ke sini, Kak. Tangan aku masih diinfus, jadi enggak bisa. Tolong yah," pinta Arsyilla kali ini.


Aksara masih diam, tetapi pria itu sedang mengumpulkan keberaniannya. Sampai akhirnya, Aksara pun menganggukkan kepalanya. Dengan sedikit keberanian dan mengingat saat dia dulu pernah menggendong Thania, Aksara menelisipkan tangannya di leher dan di pantat Baby Ara, kemudian menggendongnya perlahan dan menyerahkannya kepada Arsyilla.


"Ini, Honey," ucapnya.


Ada helaan nafas yang keluar dari mulut Aksara begitu sudah menyerahkan Baby Ara kepada istrinya itu.


"Bisa kan," balas Arsyilla sembari menerima Baby Ara dalam timangannya sekarang ini.


"Bisa, cuma takut," sahut Aksara.


Lantaran jarum infus masih menancap di tangan Arsyilla, wanita itu meminta bantuan kepada suaminya untuk membukakan kancing kemejanya, dia ingin memberikan ASI untuk putri kecilnya itu.


"Kak, tolongin lagi dong," pinta Arsyilla.


Kali ini Aksara justru gugup. Jika biasanya pria itu dengan penuh percaya diri melepaskan kancing demi kancing di kemeja istrinya, sekarang justru Aksara gugup saat hendak membantu istrinya itu.


Bahkan tangan pria itu tampak gemetar sekarang. Arsyilla yang melihat reaksi suaminya pun tersenyum.


"Ayo, Kak … Baby Ara keburu nangis," ucapnya.


"Sebentar Honey, sabar," balas Aksara.


Sampai akhirnya Aksara berhasil membuka tiga kancing kemeja yang dikenakan Arsyilla dan membantu mengeluarkan sumber ASI dari wadahnya. Arsyilla berusaha melakukan pelekatan supaya Baby Ara juga belajar untuk mendapatkan sumber ASI. Beberapa kali mencoba, akhirnya Baby ASI bisa menghisap dengan benar.


"Pinter banget sih Sayang," ucap Aksara kini sembari menatap putri kecilnya yang sedang mendapatkan makanan dan sumber nutrisi pertamanya itu.

__ADS_1


Hati mereka berdua penuh haru melihat Baby Ara yang begitu pandai menghisap sumber ASI milik Arsyilla, dan mengisi saluran pencernaan dengan nutrisi terbaik di kehidupan pertamanya itu.


__ADS_2