
Usai makan malam dan mendengarkan cerita dari para orang tuanya, cukup malam Aksara dan Arsyilla baru sampai di apartemennya. Seakan lelah menghinggapi dan rasanya Arsyilla ingin segera tidur malam ini.
“Aku langsung tidur ya? Rasanya aku sudah sangat mengantuk, ini sudah lebih dari jam sepuluh malam,” keluh Arsyilla yang sudah beberapa kali menguap.
Aksara pun kemudian mengangguk, “Iya, kamu tidak mau tidur di kamarku lagi?” tanyanya kali ini.
Arsyilla menggeleng, “Tidak, aku sangat kecapean. Mungkin saja tidurku bisa menghabiskan space banyak di tempat tidurmu,” jawabnya.
Aksara justru tertawa, “Tidak masalah, ayo tidur saja di kamarku,” ajak Aksara kali ini.
“Aku tidur di kamarku saja ya, aku tidak suka warna abu-abu. Terlihat gelap dan suram, aku tidur di kamarku sendiri saja,” jawab Arsyilla kini.
Wanita itu lantas hendak memasuki kamarnya yang berada bersisian dengan kamar Aksara, tetapi rupanya Aksara mengekori Arsyilla, “Baiklah, aku yang tidur di kamarmu saja, gantian,” ucapnya dengan enteng.
“Terserah,” sahut Arsyilla yang akhirnya membiarkan Aksara untuk memasuki kamarnya. Arsyilla tampak mencuci wajahnya terlebih dahulu, barulah dia berbaring di tempat tidurnya. Sementara Aksara pun seolah mempersiapkan tangannya untuk menyambut Arsyilla untuk tertidur dalam pelukannya.
“Sini, aku peluk,” ucap Aksara yang nyatanya langsung membawa Arsyilla dalam pelukannya.
Ingin menolak pun tak sempat karena Aksara segera membawa kepala Arsyilla untuk bersandar di bahunya. Pria itu kini justru tengah mengecupi puncak kepala Arsyilla dan mengusapi lengan Arsyilla perlahan. “Bagaimana perasaanmu usai persidangan tadi?” tanyanya kini.
“Cukup lega, walau pun sebenarnya tuntutan hukuman tertinggi adalah bisa sampai 5 tahun penjara,” jawab Arsyilla.
Aksara mendengarkan ucapan Arsyilla itu, ya memang sebenarnya tuntutan hukuman tertinggi bisa sampai lima tahun, sementara Ravendra hanya mendapatkan hukuman 2 tahun 8 delapan penjara. Hukuman yang terbilang hanya separuh dari tuntutan pihak Arsyilla.
“Kamu tenang saja, yang pasti aku akan selalu menjagamu. Memastikan kamu aman, i am always be with you,” ucap Aksara dengan sungguh-sungguh.
Arsyilla pun sedikit menengadahkan wajahnya dan mulai melihat sejenak wajah Aksara di sana, “Terima kasih, Kak,” jawabnya.
Ya Tuhan, rupanya Arsyilla memang dengan mudahnya membuat hati Aksara berbunga-bunga. Hanya sekadar dipanggil ‘Kak’ saja rasanya hati Aksara sudah bergemuruh riuh. Bagaimana jika Arsyilla melakukan hal yang lain, sudah pasti dadanya akan membuncah dengan kebahagiaan.
“Sekarang, tidurlah … istirahat. Aku akan memelukmu sepanjang malam ini,” ucap Aksara sembari mendaratkan sebuah kecupan di kening Arsyilla.
...🌸🌸🌸...
__ADS_1
Keesokan Paginya …
Mentari belum sepenuhnya menampaknya sinarnya, tetapi Arsyilla sudah bangun terlebih dahulu. Ya, sepanjang malam dirinya memang langsung terlelap. Rupanya tidur di samping Aksara benar-benar membuatnya mudah terlelap, hingga tidak membutuhkan waktu lama, Arsyilla sudah terlelap pulas dalam pelukan Aksara.
Pagi ini, Arsyilla bangun terlebih dahulu. Tentunya untuk membuatkan sarapan bagi Aksara dan bagi dirinya. Setelahnya, Arsyilla juga akan kembali mengajar ke kampus hari ini. Untuk itu, Arsyilla harus bergerak lebih cepat, supaya bisa membersihkan dirinya, membuat sarapan, dan mengajar pun tidak terlambat.
Tanpa menunggu waktu lama, Arsyilla sudah membersihkan dirinya, kemudian dia menuju dapur untuk menyeduh Teh dan membuat roti bakar dengan menggunakan toaster. Hanya sarapan sederhana, tetapi cukup untuk sekadar mengganjal perut kosong di pagi hari.
Setengah jam kemudian, Aksara keluar dengan sudah mengenakan sebuah kemeja dan celana panjang jeans. Saat bekerja, pria itu juga terlihat lebih casual, tidak terlalu formal, karena memang kerjanya hanya menggambar dan sesekali mengecek lahan.
“Pagi Syilla,” sapa Aksara sembari menggeret kursi di depan meja makan.
“Pagi … Kak,” balas Arsyilla sembari menyajikan secangkir Teh panas buat Aksara.
Pria itu pun tersenyum penuh arti dan menatap Arsyilla, “Jadi, officially kamu memanggilku Kak?” tanyanya.
Arsyilla menggelengkan kepalanya, “Tidak juga sih, di kampus aku akan tetap memanggilmu Aksara,” sahutnya dengan menggigit roti bakarnya.
“Kakak atau yang lain?” tanya Arsyilla.
Wanita itu lantas menaruh roti bakarnya sejenaknya, dan menatap Aksara, “Mas mungkin atau Abang?” tanyanya dengan terkekeh geli.
“Jangan menggodaku, Syilla … aku tidak akan segan-segan lagi,” ucap pria itu dengan menatap tajam wajah Arsyilla.
Ya Tuhan, tatapan mata yang seolah memiliki beribu makna itu seolah membuat hati Arsyilla kembali berdesir. Namun, kali ini Arsyilla memilih untuk menunduk. Rasanya matanya tak mampu beradu pandang dengan suaminya itu.
Menyadari bahwa Arsyilla hanya menunduk dan tidak menjawab ucapannya, Aksara kemudian kembali membuka suaranya, “Syilla, aku sudah menunggu sampai hasil putusan persidangan Ravendra kan? Jadi, kapan kita bisa lebih dari ini?” tanya pria itu.
Pertanyaan Aksara seolah membuat Arsyilla susah payah mengunyah roti bakar yang saat ini sudah memenuhi rongga mulutnya. Benarkah, bahwa harus secepat ini dirinya menerima pria itu sebagai suaminya seutuhnya dan sepenuhnya? Rasa bimbang dan ragu, tetapi ada pula rasa bahwa Aksara benar-benar tulus mencintainya, hingga Arsyilla kali ini hanya bisa berdiam diri.
“Masih belum siap?” tanya Aksara lagi.
“Ehm, itu … aku belum bisa menjawabnya,” balas Arsyilla. Lidahnya saja terasa kelu saat menjawab Aksara.
__ADS_1
Hingga akhirnya pria itu menghela nafasnya yang seolah terasa berat, “Ya sudah, take your time. Yang pasti aku akan selalu menunggumu,” ucap Aksara pada akhirnya.
Tak ingin memaksakan Arsyilla juga, Aksara akhirnya memberikan waktu untuk Arsyilla. Setidaknya hubungan keduanya tidak dingin saja sudah cukup bagi Aksara. Hanya saja terkadang ada desiran hasrat yang turut mengalun bahwa dirinya ingin bersatu sepenuhnya dengan Arsyilla.
“Makasih, Kak … semoga aku tidak membutuhkan waktu terlalu lama,” jawab Arsyilla pada akhirnya.
Sesungguhnya rasanya memang tidak enak, tetapi kali ini Arsyilla pun meminta sedikit lagi waktu. Semoga waktu yang dia butuhkan tidaklah terlalu lama, hingga dia bisa menjadi istri seutuhnya bagi suaminya itu.
“Iya, no problem … tetapi, tidak bisakah kita tidur bersama setiap malamnya? Hanya sebatas tidur, aku rasanya lega bisa memelukmu yang lelap di sisiku,” ucap Aksara pada akhirnya.
Mungkin untuk bersatu dengan Arsyilla, dirinya harus lebih sabar. Akan tetapi, pria itu masih ingin bernegosiasi bahwa setidaknya mereka bisa tidur bersama, berbagi kamar, berbagi ranjang.
“Ada syaratnya?” ucap Arsyilla pada akhirnya.
“Apa?” sahut Aksara.
“Cat kamarmu itu sudah berwarna abu-abu, sprei dan selimutnya jangan berwarna abu-abu dong. Rasanya aku memasuki Kerajaan Abu-Abu seperti di dongeng anak-anak Belgedeul yang menyihir kerajaan itu dengan warna. Bagaimana?” tanya Arsyilla.
Aksara kemudian mengangguk, “Baiklah, nanti sore kita langsung menuju ke Mall untuk membeli sprei dan selimut,” ucapnya.
Arsyilla lantas tersenyum, “Sprei bunga-bunga boleh?” tanyanya.
“Apa pun yang kamu mau,” jawab Aksara.
“Sprei motif Hello Kitty boleh?” tanya Arsyilla lagi.
Sontak saja Aksara terbatuk, tidak mengira Arsyilla mengajukan pertanyaan itu. “Jangan Hello Kitty dong,” sahutnya.
Arsyilla nyatanya justru tertawa, “Kalau gitu karakter Putri Aurora saja ya, kan dulu katanya ada yang memberiku buku Aurora, kan,” goda Arsyilla lagi kali ini.
“Jangan menggodaku, Syilla … atau aku bisa mengurungmu seharian di apartemen ini,” sahut Aksara kini.
Mendengar jawaban Aksara yang terdengar menakutkan, tawa di wajah Arsyilla pun sirna. “Nyebelin banget sih, kan cuma bercanda,” gerutunya sembari mengunyah roti bakarnya.
__ADS_1