
Beberapa hari sebelum hari perkiraan lahir (HPL), di malam hari Arsyilla rasanya mulai gelisah. Tidur menjadi tidak nyenyak, pinggang mulai pegal, bernafas pun rasanya begitu engap. Selain itu, Arsyilla juga harus berkali-kali ke kamar mandi untuk buang air kecil. Arsyilla berpikir bahwa dalam beberapa malam terakhir, kualitas tidurnya menurun. Seperti malam ini, tengah malam Arsyilla yang terbangun. Wanita itu sebenarnya sudah berusaha untuk memejamkan matanya dan berharap kantuk akan segera datang, nyatanya justru sia-sia, karena matanya justru enggan untuk terpejam.
Menyadari kegelisahan istrinya, Aksara pun turut terbangun. "Kenapa Honey, kok bangun jam segini? Ini masih dini hari loh," ucapnya sembari mengusap-usap pinggang istrinya itu.
"Enggak bisa tidur, Kak ... tiba-tiba kebangun. Sudah berusia memejamkan mata, malahan tambah gak bisa tidur. Maaf ya ganggu tidur kamu," jawabnya dengan mengusapi perutnya.
"Enggak mengganggu kok ... aku malahan tidak masalah, kamu bilang aku aja enggak apa-apa. Nanti aku temanin. Belum ada tanda-tanda persalinan kan Honey? Harus lebih peka. Aku juga akan selalu siaga. Mau minum air putih hangat? Biar aku ambilkan dulu," tawarnya kepada sang istrinya.
Dengan cepat Arsyilla pun menggelengkan kepalanya, "Enggak Kak ... kebanyakan minum. Nanti yang ada justru aku bolak-balik ke kamar mandi," jawabnya.
Memang dalam usia kandungan yang kian bertambah ini, Arsyilla bisa tiga hingga lima kali bolak-balik ke kamar mandi.
"Lalu, gimana Honey? Apa yang bisa kulakukan?" tanya Aksara. Rasanya Aksara sendiri ingin memberikan perhatian lebih kepada istrinya yang tengah mengandung. Lagi pula hari perkiraan lahir akan segera tiba, sehingga Aksara juga harus menjadi pria yang lebih siaga.
"Ayah tidur duluan saja, aku begini dulu aja ... semoga sehabis ini aku bisa mengantuk dan bisa tidur," jawabnya dengan kembali berbaring dan menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
Menghirupi aroma woody yang segar dan menenangkan, dan juga mendengarkan detak jantung suaminya yang berdetak dengan seiramanya. Berharap Arsyilla juga akan segera tertidur, karena masih dini hari. Masih ada waktu untuk tertidur.
***
__ADS_1
Beberapa hari setelahnya. Arsyilla menyiapkan berbagai bahan ajar untuk kelas yang dia ajar, sekaligus dia menyerahkan berbagai perangkat pembelajaran mulai dari Silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, hingga Kontrak Pembelajaran kepada asisten dosen yang akan menggantikannya selama dia mengambil cuti hamil. Duduk di depan meja dengan laptop yang masih menyala, beberapa kali Arsyilla menggerak-gerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Jika sudah terlalu lama duduk, Arsyilla akan berdiri dan berjalan-jalan sebentar untuk meregangkan otot-otot di pinggangnya yang terasa mulai sakit.
"Hari perkiraan lahir kamu tinggal tiga hari lagi nih Sayang ... Adik mau lahiran kapan? Kasih tanda-tandanya ke Bunda yah ... biar Bunda bisa menelpon Ayah kamu secepatnya. Kalau bisa sih, tanda-tanda dan gelombang cintanya waktu Ayah ada di rumah saja ya Adik," ucap Arsyilla kepada bayinya yang masih berada di dalam rahimnya.
Memang beberapa hari ini, Arsyilla resah menunggu tanda-tanda persalinan yang juga belum muncul sampai hari ini. Dia pun menunggu sinyal-sinyal cinta yang akan dikirimkan babynya kepadanya, sehingga dia tidak cemas jika terjadi persalinan mendadak.
Merasa pinggangnya sudah lebih rileks, Arsyilla kemudian kembali duduk dan mengirimkan semua materi dan kontrak pembelajaran kepada asisten dosennya melalui email. Setelahnya, Arsyilla kembali berdiri karena niatnya ingin mengambil air minum yang ada di atas nakas. Saat berdiri, rupanya Arsyilla merasakan perutnya kencang dan terasa basah di pangkal pahanya.
Wanita hamil itu segera berjalan menuju ke kamar mandi, rupanya ada sebercak darah dan air yang keluar dan terlihat di celananya. Tiba-tiba saja keringat dingin keluar begitu saja, dan melihat darah, Arsyilla merasa menjadi pening. Berusaha untuk tidak terlalu panik, Arsyilla mengganti pakaiannya, dia sekaligus menggunakan pembalut yang mungkin bisa membantu jika ada bercak darah lagi. Setelahnya, Arsyilla pun segera menghubungi suaminya.
Ayahnya Ara
"Kak," sapa Arsyilla dengan mendekatkan handphone itu ke telinganya.
"Ya, ada apa Honey?" tanya Aksara saat menerima telepon itu.
"Kak, sibuk enggak? Memungkinkan enggak pulang sekarang? Perutku kencang, dan tadi ada bercak darah," cerita Arsyilla.
Sebisa mungkin Arsyilla berbicara dengan tenang dan mencoba untuk tidak panik. Sebab, jika dia panik yang ada suaminya akan ikut-ikutan panik. Padahal suaminya juga masih harus mengemudikan mobilnya. Oleh karena itu, Arysilla memberitahu kepada suaminya dengan tenang.
__ADS_1
"Mungkin sudah waktunya Honey ... sabar ya, tunggu aku," jawab Aksara yang mulai berlari, meminta izin ke bagian personalia, dan kemudian mengambil mobilnya yang berada di tempat parkir.
Sembari menunggu Aksara yang akan segera tiba dari kantornya, Arsyilla segera menghubungi Mama Khaira untuk datang ke rumah dan menjaga Ara. Mungkin saja cairan yang basah tadi adalah air ketuban yang sudah mulai rembes. Tidak berselang lama, rupanya Mama Khaira tiba di kediaman Arsyilla terlebih dahulu.
“Gimana Syilla?” tanya Mama Khaira kepada putrinya itu. Memang ini akan menjadi kehamilan kedua Arsyilla, tetapi Mama Khaira juga merasa panik.
"Perutnya kadang kencang saja, Ma ... sama pengennya buang air kecil terus. Cuma tadi sudah ada bercak darah dan rembesan. Mungkin ketubannya rembes lagi seperti waktu melahirkan Ara dulu," ceritanya dengan sang Mama.
Setidaknya Mama Khaira sudah berada di rumahnya, sehingga Arsyilla bisa sedikit lebih tenang. Dia bisa mempercayakan Ara kepada Mama Khaira, selanjutnya dia dan Aksara akan sama-sama berjuang lagi untuk melahirkan putri keduanya.
"Kalau mau lahir, cucunya Eyang ini segera lahir yah ... kasihan Bunda kamu kalau harus merasakan sakit terlalu lama," ucap Mama Khaira dengan mengusapi perut Arsyilla.
"Makasih Mama ... maafkan Arsyilla jika selama ini memiliki salah kepada Mama. Doakan persalinan kedua ini lancar dan bisa lebih cepat," ucapnya.
Air mata Mama Khaira pun berlinangan begitu saja, begitu haru rasanya mendengar permintaan maaf dari putrinya itu. "Pasti Mama memaafkan kamu ... Mama juga mendoakan semoga persalinan kali ini lancar dan selamat kamu dan bayinya," ucap Mama Khaira.
Arsyilla merasa lega, di saat genting seperti ini Mamanya adalah pihak yang selalu bisa diandalkan. Setidaknya untuk pengasuhan Ara, Arsyilla tidak perlu merasa khawatir lagi. Sekarang dia harus fokus dan memprioritaskan persalinannya terlebih dahulu.
Di tengah-tengah menunggu suaminya tiba, Arsyilla merasakan rasa sakit di area perut bagian bawahnya dan pinggangnya. Rasa sakit, pegal, bahkan ada rasa panas yang bercampur menjadi satu. Kendati demikian, Arsyilla berusaha menenangkan dirinya dengan melakukan teknik relaksasi yaitu mengambil oksigen sebanyak-banyaknya dengan hidung, kemudian mengeluarkannya perlahan dengan mulutnya.
__ADS_1
"Sabar ya Adik Bayi ... tunggu Ayah pulang yah," gumam Arsyilla dalam hati dan berharap bahwa suaminya itu akan segera tiba dan bisa mengantarkannya menuju ke Rumah Sakit.