Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Rasanya Seperti Suami Rahasia


__ADS_3

Begitu tiba di parkiran kampus fakultas Teknik, seluruh mahasiswa pun turun dari bus satu per satu. Lantaran hari juga mulai sudah petang, para mahasiswa pun juga berpamitan kepada Arsyilla untuk meninggalkan kampus.


"Kami pamit langsung pulang ya Bu," ucap Ryan sang ketua kelas yang mewakili para lainnya.


Arsyilla pun mengangguk, "Iya, sampai berjumpa di kelas minggu depan," balasnya sembari tersenyum kepada para mahasiswanya itu.


Lantaran di dalam area kampus, Aksara dan Arsyilla harus menjaga jarak. Maka Aksara, si mahasiswa hiatus itu memilih bergabung dengan mahasiswa lainnya. Pria itu tampak duduk di sebuah bangku dari kayu yang berada di depan fakultas Teknik. Sebenarnya selain menunggu Arsyilla yang harus mampir ke ruangan Tata Usaha terlebih dahulu, Aksara juga ingin memastikan Arsyilla tetap aman. Sekali pun kali ini Ravendra berada di Rumah Tahanan, tetapi bisa saja Papanya, yaitu Om Darren mendatangi Arsyilla kembali. Untuk berjaga-jaga, Aksara lebih memilih menunggu Arsyilla tepat di depan fakultas Teknik.


Hampir sepuluh menit menunggu, akhirnya Arsyilla pun keluar. Wanita itu tersenyum saat melihat ada Aksara yang terlihat duduk di bangku yang terbuat dari kayu yang berada di depan fakultas Teknik.


Sementara Aksara sendiri, sedikit lega telah kembali melihat Arsyilla yang berjalan ke arahnya. Pria itu lantas berdiri dan membawa ranselnya di satu punggung, kemudian masuk terlebih dahulu ke dalam mobilnya.


Setelahnya, barulah Arsyilla menyusul dan memasuki mobil Aksara sembari menoleh ke kanan dan kiri terlebih dahulu. Memastikan bahwa suasana di sekitarnya aman.


"Masuk ke dalam mobil saja gak bisa bersama-sama," gerutu Aksara dengan tiba-tiba.


Arsyilla hanya tersenyum dan menatap wajah Aksara sembari memasang sabuk pengamannya. "Mau bagaimana lagi, ini area kampus," sahut Arsyilla kini.


Aksara lantas menghela nafasnya, "Kalau kayak gini, rasanya aku seperti seorang suami rahasia," keluhnya lagi.


Bukan marah atau bersikap jutek, Arsyilla justru tertawa mendengar keluhan dari Aksara. "Mau bagaimana lagi? Peraturan kan berlaku selama kita di kampus. Di area ini yang berlaku kan tetap aku Dosen, dan kamu mahasiswanya," sahut Arsyilla yang seolah hendak menginginkan posisinya masing-masing sebagai Dosen dan Mahasiswa.


Pria itu seolah hanya bisa menggeleng pasrah. Ada kalanya menikahi Dosennya sendiri justru membuatnya bagaikan suami rahasia yang disembunyikan identitasnya. Akan tetapi, memang kesepakatan keduanya di awal pernikahan adalah untuk menjaga jarak saat berada di lingkungan kampus.


"Apa Dosen tidak boleh menikahi mahasiswanya?" tanya Aksara kini sembari mengemudikan mobilnya membelah kemacetan jalanan Ibukota.


"Sebenarnya boleh. Hanya kan ada kode etik yang mengatur hubungan Dosen dan Mahasiswa. Takutnya kalau ada hubungan pribadi, penilaian tidak jadi objektif, tetapi justru menjadi subjektif," jelas Arsyilla kini kepada Aksara.


"Lalu, apa penilaianmu kepadaku berubah karena aku suamimu?" tanya Aksara lagi kepada Arsyilla.


Wanita itu lantas menggelengkan kepalanya, "Tentu tidak. Aku akan bersifat objektif kepada semua mahasiswa, termasuk kepadamu," jawab Arsyilla dengan yakin.


Semua nilai yang diperoleh mahasiswa harus dinilai berdasarkan standar kompetensi yang dicapai masing-masing mahasiswa. Untuk itu, Arsyilla tidak akan melibatkan perasaannya secara pribadi kepada Aksara.


Mendengar penjelasan Arsyilla, Aksara menganggukkan kepalanya, "Syukurlah, aku berharap juga begitu. Jangan perlakukan aku spesial, karena aku tidak mau. Aku ingin lulus dari Teknik Arsitektur karena kemampuanku," ucapnya kali ini.

__ADS_1


"Jika itu keinginanmu, maka aku akan mendukungmu," sahut Arsyilla kali ini.


Hingga tidak terasa mobil yang dikendarai oleh Aksara telah tiba di dalam apartemennya. Pria itu turun terlebih dahulu dan mulai membukakan pintu mobilnya untuk Arsyilla. "Ayo, turunlah," ucapnya.


Arsyilla pun tersenyum dan mulai turun dari mobil itu. Wanita itu berjalan dengan mengekori Aksara. Lantaran langkah kaki Aksara yang panjang, Arsyilla seolah tak mampu mengikuti langkah kaki Aksara. Sehingga Arsyilla tertinggal beberapa meter di belakangnya. Hingga akhirnya, Aksara pun memilih menghentikan langkahnya dan mengulurkan tangannya kepada Arsyilla.


"Ayo, jangan sampai kamu tertinggal di belakang," ucapnya.


"Aku bukan anak kecil," sahutnya dengan tertawa.


Akan tetapi, Aksara pun abai. Dia memilih membawa satu tangan Arsyilla dalam genggamannya dan mulai berjalan perlahan. "Kalau seperti ini, aku terlihat seperti suami sungguhan. Kalau di kampus, aku terlihat seperti suami rahasia," ucapnya dengan menghela nafas dari hidungnya.


Lagi-lagi Arsyilla justru tertawa, "Mau bagaimana lagi, salah sendiri mahasiswa aja berani nikahin dosennya," ucapnya dengan memincingkan matanya menatap Aksara.


"Itu agaknya jadi kesalahan yang terbesar dalam hidupku, kendati demikian aku tak menyesalinya. Jika akhirnya aku bisa menikahimu," sahutnya dengan penuh percaya diri.


Begitu telah sampai di dalam apartemennya, baru saja keduanya memasuki apartemen itu, Aksara segera mengunci pintu itu dan dia segera mendekap erat tubuh Arsyilla dalam dekapannya.


"Aku kangen …," ucapnya dengan sembari memejamkan matanya dan mencium aroma parfum yang berupa kombinasi Orange, Melati, Mawar, dan Vanila itu. Aroma yang lembut dan terkesan begitu feminist.


Pria itu lagi-lagi tampak menghela nafasnya, "Aku capek menjadi suami rahasiamu di kampus," ucapnya kali ini.


"Rahasia bagaimana?" tanya Arsyilla kemudian kepada Aksara.


"Di kampus harus banget ya kita bersikap biasa saja. Aku kan pengen menunjukkan kepedulianku kepadamu," sahutnya.


Arsyilla kemudian mengurai tangan Aksara dari pinggangnya, wanita itu lantas memutar posisi berdirinya dan kini menatap pria yang berdiri di hadapannya itu. "Harus seperti ini dulu," jawabnya.


"Sampai berapa lama?" tanya Aksara.


"Sampai kamu di wisuda," jawab Arsyilla.


"Apa wisudaku harganya penting?" tanya Aksara lagi.


Arsyilla kemudian mengangguk, "Iya, karena setelah kamu lulus dan diwisuda, tidak ada lagi kode etik antara mahasiswa dan dosen yang mengatur kita berdua. Jalanilah kuliahmu dengan sepenuh hati dan segera luluslah," ucap Arsyilla kali ini dengan lembut.

__ADS_1


Dirinya benar-benar layaknya Dosen pembimbing yang tengah membimbing mahasiswa. Akan tetapi, memang Arsyilla benar-benar ingin melihat pria yang berdiri di hadapannya itu lulus.


"Baiklah, tetapi … bukan berarti kita selamanya seperti ini kan?" tanya Aksara dengan tiba-tiba.


Arsyilla pun kemudian mengerjap, "Seperti ini bagaimana?" tanyanya.


Aksara lantas menunjuk dua kamar yang berada bersebelahan itu, "itu," tunjuknya. Aksara lantas menatap Arsyilla, "Tidurlah satu kamar denganku," pintanya kali ini.


Permintaan yang lucu dari seorang pria dewasa seperti Aksara. Akan tetapi, Arsyilla menggelengkan kepalanya, "Tidak mau… bukan berarti aku menolakmu. Hanya saja aku masih belum siap," akunya jujur.


"Mengapa masih belum siap? Kita bahkan sudah bersama hampir dua bulan," keluh Aksara sekarang.


"Aku harus benar-benar memastikan diriku sendiri dulu," jawab Arsyilla.


Ya, Arsyilla merasa bahwa sekali pun dirinya merasa nyaman dengan Aksara, tetapi dia ingin memastikan bahwa ada cinta di dalam hatinya. Dia tak ingin gegabah, baginya hubungan pernikahan yang dia idamkan adalah seperti hubungan Mama dan Papanya, di mana keduanya menjadi figur yang saling mengisi tangki air cinta bersama.


Mendengar jawaban Arsyilla, Aksara lantas menatap wajah istrinya, "Apa dirimu masih belum yakin?" tanyanya.


"Iya, maaf hanya saja bagiku pernikahan dan kehidupan rumah tangga bukan hal main-main. Kita harus memahami perasaan kita, mengesampingkan nafsu, dan saling mengisi tangki air cinta. Setidaknya itu yang selalu dinasihatkan Mama dan Papa," jawabnya dengan yakin.


Lagi, Aksara menatap Arsyilla dengan pandangan yang penuh arti. Apa yang dinasihatkan kedua orang tua Arsyilla memang benar, tidak salah. Akan tetapi, berapa lama lagi dia harus menunggu. Mengingat janji Arsyilla beberapa pekan lalu, Aksara pun kemudian mengangguk.


"Baiklah, aku akan menunggu … dan penuhi janjimu saat putusan persidangan Ravendra keluar nanti." Aksara berbicara dengan menatap Arsyilla.


Akhirnya wanita itu mengangguk, "Hmm, oke … baiklah. Satu pekan lagi. Namun, kenapa satu pekan bukankah terlalu cepat?" tanya Arsyilla dengan tertawa.


Akan tetapi, Aksara justru cemberut di sana. "Hanya berbagi kamar, aku tidak akan macam-macam. Malam ini tidurlah denganku," pintanya kali ini.


Agaknya memang Aksara adalah pejuang yang gigih dengan semangat 45. Sedikit celah akan dia upayakan untuk memenangkan Arsyilla.


"Baiklah, malam ini yah … tetapi, ada syaratnya," jawab Arsyilla kali ini.


"Apa?" tanya Aksara.


"Ceritakan padaku masa kecil kita," pintanya kali ini. Ya, bukan hal yang sulit. Arsyilla rasanya masih ingin mendengar cerita masa kecil keduanya.

__ADS_1


Aksara akhirnya pun mengangguk. Jika hanya sebatas menceritakan masa kecil keduanya, maka dirinya sama sekali tidak keberatan. Asalkan bisa bersama dengan Arsyilla malam ini, bercerita puluhan ribu kata pun tidak masalah bagi Aksara.


__ADS_2