Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Totalitas Seorang Suami


__ADS_3

Sedikit lebih cepat Aksara melajukan mobilnya karena Arsyilla yang mengeluh pusing dan kecapekan. Aksara sangat yakin bahwa istrinya itu tidak hanya mengalami sakit karena fisiknya yang terluka, tetapi Arsyilla juga tertekan secara mental. Para wanita yang mengalami pelecehan dan tindak kekerasan akan tertekan secara mental. Merasa takut, trauma, bahkan bisa mengarah ke depresi.


Untuk itu, Aksara akan menemani Arsyilla. Membantu wanita itu untuk mengelola stressnya, berdamai dengan dirinya sendiri, dan Aksara akan membuktikan bahwa dirinya akan selalu ada di samping Arsyilla. Aksara tidak akan teledor lagi. Alih-alih melihat Arsyilla yang terluka, Aksara lebih suka mengorbankan dirinya sendiri dan melindungi Arsyilla semampunya.


Begitu telah sampai di unit apartemen mereka. Aksara membantu Arsyilla untuk masuk ke dalam kamarnya. Dengan pelan-pelan Aksara membantu Arsyilla untuk menaiki ranjang dan menarik selimut guna menyelimuti kaki Arsyilla.


“Kamu istirahat dulu yah,” ucap Aksara kali ini.


“Iya,” sahut Arsyilla dengan singkat.


“Mau minum dulu? Aku ambilin,” tawar Aksara kini kepada istrinya itu.


Terlihat Arsyilla yang menganggukkan kepalanya secara samar, “Boleh … aku juga haus,” balas Arsyilla.


Aksara pun meninggalkan kamarnya dan beralih ke dapur. Mengambilkan segelas air putih untuk Arsyilla.


“Ini Honey, diminum dulu,” ucap Aksara sembari menyodorkan segelas air putih kepada Arsyilla.


Dengan perlahan, Arsyilla meminum air putih dari gelas itu dan kemudian menyerahkan gelas itu kepada suaminya.


“Makasih ya Kak,” balasnya. “Kakak enggak ke kantor?” tanya Arsyilla kemudian kepada suaminya itu.


“Enggak … aku kerja dari rumah saja. Aku enggak bisa ninggalin kamu begitu saja. Kamu masih sakit dan lemes kayak gini,” balas Aksara.


Bagi Aksara terlalu berisiko meninggalkan Arsyilla dalam keadaan di mana istrinya itu belum pulih maksimal. Wajah Arsyilla masih terlihat pucat. Hanya saja memang tadi Arsyilla memaksakan diri untuk membuat laporan ke kampus terlebih dahulu. Tujuannya supaya laporannya lebih cepat diproses dan Bagas akan dikeluarkan dari kampus. Selain itu, tidak berlarut-larut, masalah tidak akan sepenuhnya selesai.


“Aku ditinggal enggak apa-apa kok Kak … lagian aku cuma di kamar saja. Aku mau tiduran saja,” balas Arsyilla.


Arsyilla mengatakan demikian karena dirinya tidak ingin mencemaskan suaminya. Lagipula, dia memang berencana untuk diam di apartemen dan tidak ingin kemana-mana. Ingin tidur rasanya. Apakah pengaruh obat yang masih dia konsumsi atau pengaruh kehamilannya yang membuat Arsyilla begitu ngantuk rasanya.

__ADS_1


“Enggak apa-apa Honey … aku temenin,” balas Aksara.


Membiarkan suaminya itu, Arsyilla kemudian berbaring. “Kak, aku bobok boleh kan?” pamitnya lagi.


Aksara pun menganggukkan kepalanya, “Iya bobok saja. Aku kerja di sudut sofa ini. Kalau butuh apa-apa panggil aku yah,” jawab Aksara.


Arsyilla kemudian memejamkan matanya dengan memeluk guling yang ada di tempat tidurnya. Kemudian tidak menunggu waktu lama Arsyilla sudah terlelap. Sementara Aksara bekerja di dalam kamar. Menunggu sofa di sudut kamarnya sembari mengamati Arsyilla yang tertidur. Pikirnya jika Arsyilla membutuhkan sesuatu, Aksara akan cepat untuk membantu istrinya itu.


Hingga tidak terasa menjelang sore pun tiba. Sementara Arsyilla masih begitu terlelap. Aksara kemudian menaiki ranjang dengan perlahan dan mulai mengusapi puncak kepala istrinya itu.


“Honey, kamu tidak bangun dulu? Sudah dua jam kamu tidur. Bangun dulu yuk … makan dulu,” ucap Aksara yang mencoba membangunkan Arsyilla.


Wanita yang tertidur itu seolah terusik, kelopak matanya mengerjap, bulu mata yang lentik di sana tampak bergerak-gerak, dan perlahan Arsyilla pun membuka matanya.


“Hmm, jam berapa ini Kak?” tanya Arsyilla kepada suaminya itu.


“Hampir jam 17.00 Honey … bangun dulu yuk. Jangan tidur jam segini. Mandi dulu … makan dulu,” ucap Aksara.


Arsyilla pun tersenyum dan perlahan mengubah posisinya dan bersandar sejenak di headboard. “Sudah sore yah … padahal rasanya kayak aku baru saja tidur,” balas Arsyilla.


“Kamu tidur sudah 2 jam, Honey. Mau mandi dulu? Aku siapkan air hangat buat kamu,” tawar Aksara lagi kali ini.


“Boleh deh … mandi dulu biar seger,” sahut Arsyilla.


Pria itu kemudian menganggukkan kepalanya, dan segera menuju ke kamar mandi. Mengisi bath up dengan air hangat dan memasukkan bath bomb beraroma vanilla ke dalam bath up itu. Setelahnya, Aksara kembali ke kamar dan membantu Arsyilla untuk masuk ke dalam kamar mandi.


“Bisa mandi sendiri kan?” tanya Aksara.


“Iya, bisa,” sahut Arsyilla.

__ADS_1


“Ya sudah … gak perlu lama-lama mandinya. Penting kena air saja. Kalau butuh apa-apa panggil aku yah,” balas Aksara kali ini.


Arsyilla menganggukkan kepalanya. Wanita itu kemudian memasuki kamar mandi dan menutup pintunya. Arsyilla meneteskan air mata melihat pantulan dirinya di cermin dengan bekas-bekas luka yang masih terlihat di wajahnya. Tangan dan kakinya bekas ikatan tali-temali yang terlihat lebam dan biru. Juga sebuah plester yang menghiasi keningnya. Melihat semua bekas luka itu membuat Arsyilla menangis, teringat dengan kejadian pahit yang dia alami. Dua kali dirinya mengalami luka-luka seperti ini. Untung saja, dirinya masih selamat. Harga diri dan kehormatannya tetap bisa dia jaga.


Hingga akhirnya, Arsyilla melepaskan semua pakaian yang dia kenakan dan kemudian memasuki bath up dengan perlahan. Tangannya yang masih terlihat lemah, mengusapi bagian dada, bahu, kaki, dan tangannya. Air hangat bercampur dengan bath bomb aroma vanilla terasa begitu menenangkan. Kurang lebih 15 menit, Arsyilla merendam dirinya di dalam bath up, kemudian wanita itu membilas tubuhnya di bawah guyuran shower kemudian berpakaian sekalian.


Arsyilla keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang wangi dan wajah yang segar. Wanita itu kemudian mengambil tempat duduk di sofa, di samping suaminya.


“Sudah selesai mandinya?” tanya Aksara.


“Iya … seger banget,” sahut Arsyilla.


“Makan yah? Aku sudah belikan makan buat kamu. Aku suapin,” balas Aksara.


“Makan sendiri saja bisa kok Kak,” sahut Arsyilla.


Kemudian Aksara keluar dari kamar sebentar dan mengambilkan makanan untuk Arsyilla. Pria itu begitu telaten mengurus istrinya yang sedang sakit. Bahkan Aksara menyuapi Arsyilla sekarang ini. Tidak membiarkan istrinya itu makan sendiri.


“Makasih Kak,” balas Arsyilla kali ini.


“Buat apa?” sahut Aksara.


“Makasih karena kamu sudah merawatku sedemikian rupa,” balas Arsyilla.


Terlihat Aksara yang menganggukkan kepalanya perlahan, “Sudah semestinya aku mengurus istriku yang baru sakit ini. Kamu jangan mikir yang aneh-aneh yah. Yang penting kamu segera sembuh. Terus besok kita tengokin our baby ke Dokter yah. Biar dicek perkembangannya dan kamu segera mendapatkan vitamin untuk tumbuh kembang baby kita,” sahut Aksara.


“Iya Kak … besok kita ke Rumah Sakit untuk melihat perkembangan baby kita. Pengen lihat bagaimana dia tumbuh di dalam sini,” balas Arsyilla sembari mengusapi perutnya yang masih rata.


“Kamu tidak ngidam apa-apa?” tanya Aksara kemudian.

__ADS_1


“Kelihatannya sih kalau sekarang enggak. Cuma enggak tahu kalau nanti-nanti. Lagian usia kehamilannya masih muda, jadi ya belum tahu Kak,” jawab Arsyilla.


Memang Arsyilla belum tahu ngidam itu seperti apa. Terlebih ini adalah pengalaman pertama baginya hamil. Sehingga Arsyilla lebih memilih untuk menikmati masa kehamilan terlebih dahulu. Untuk ngidam dan sebagainya biar itu terjadi selama alamiah. Arsyilla hanya berharap bahwa dirinya dan janin di dalam rahimnya akan tetap sehat.


__ADS_2