
Agaknya, Aksara benar-benar mengajak Arsyilla ke dalam kamarnya. Sekalian memberi waktu untuk Ayah Bisma dan Bunda Kanaya untuk mengajak Ara. Sebagai Oma dan Opa, sudah pasti Bunda Kanaya dan Ayah Bisma merasa begitu senang bisa menimang cucunya, mengucapkan kata-kata baik dan harapan untuk cucunya itu.
Sementara di dalam kamarnya, Aksara memeluk istrinya itu. “Nikmati waktu berdua dulu, Honey,” ucap Aksara.
“Ehm, tapi malu sama Ayah dan Bunda, Kak … masak kita malahan di kamar,” respons Arsyilla kali ini.
“Tidak apa-apa. Ayah dan Bunda kan ingin bermain dulu sama Ara. Kita istirahat dulu, cuma istirahat … paling mau minta peluk dan kiss aja sih, gak macem-macem,” balas Aksara.
Mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh suaminya, Arsyilla pun menyipitkan matanya menatap wajah suaminya itu. “Peluk dan kiss emangnya enggak macam-macam ya Kak? Jangan, takut Kak … ini kan rumahnya Ayah dan Bunda,” balas Arsyilla.
Aksara pun kian mengeratkan dekapannya di tubuh istrinya itu, “Ya sudah … terserah kamu saja. Senyamannya kamu … cuma kan terkadang Oma dan Opa juga ingin bermain bersama cucunya. Jadi, ya beri waktu untuk Oma dan Opa untuk main sama Ara. Nanti kalau sudah kita turun,” jawab Aksara sekarang.
“Iya Ayah … baik banget deh,” sahut Arsyilla yang merasa senang karena suaminya itu begitu pengertian.
“Duduk situ yuk Kak … lihat taman di bawah. Indah banget sih rumahnya Ayah dan Bunda ini. Aku sampai heran, kok Ayah Bisma bisa ngedesain rumah tipe Mediterania sekeren ini,” ucap Arsyilla yang mengagumi setiap sudut di rumah mertuanya itu.
Bagi Arsyilla, walaupun Ayah Bisma adalah seorang Dokter, tetapi Ayah Bisma berhasil membuat desain rumah yang begitu indah. Memperhatikan detail dan tema arsitektur yang kuat. Arsyilla sampai benar-benar kagum dengan rumah kedua mertuanya itu.
“Iya Honey … aku juga bingung. Mungkin Ayah memang punya bakat mendesain, buktinya rumah ini atas desainnya Ayah sendiri. Berarti kamu lebih suka desain rumah ini daripada rumah kita?” tanya Aksara dengan tiba-tiba.
Dengan cepat Arsyilla menggelengkan kepalanya, “Enggak … suka rumah kita. Bukan karena kamu Arsiteknya, tetapi karena di rumah itu ada kamu dan Ara. Kamu pendamping hidup aku, dan Ara buah cinta kita berdua. Kalian berdua adalah istana buat aku,” jawab Arsyilla dengan sungguh-sungguh.
Aksara tersenyum mendengarkan ucapan istrinya itu, “Kamu bisa saja … itulah rumah yang sebenarnya Honey. Kamu dulu pernah bilang bukan karena mewah dan indahnya sebuah bangunan, tetapi bagaimana setiap anggota keluarga bisa saling menerima, mengasihi, dan hidup bersama. Jadi, mari kita memperindah setiap sudut di rumah kita dengan saling menerima dan menyayangi,” balas Aksara.
“Benar Kak … aku bahagia banget punya kamu dan Ara. Punya orang tua dan mertua yang sangat baik, sungguh aku bersyukur,” balas Arsyilla kini.
Baru beberapa saat mereka di kamar dan mengobrol bersama, rupanya Bunda Kanaya sudah datang dan memasuki kamar Aksara dengan membawa Ara kecil.
“Bunda Syilla … Ara nangis nih, mau ASI,” ucap Bunda Kanaya.
__ADS_1
“Sini putrinya Bunda … Ara udah haus lagi yah?” tanya Arsyilla sembari segera menerima Ara dari tangan Bunda Kanaya. Setelah itu, Arsyilla meminta izin untuk memberikan ASI bagi Ara terlebih dahulu.
“Kalian tidur di sini kan? Toh, kan besok masih libur,” tanya Bunda Kanaya.
Aksara pun tersenyum, “Tuh, kan Honey … tebakanku benar,” balas Aksara dengan sedikit tawa.
“Nginap sini yah … dulu Bunda kalau mau ke rumahnya Eyangnya Aksara juga tidak boleh pulang, pasti di suruh menginap. Ayah kamu sampai hafal untuk membawa baju ganti, jadi sekarang kalian juga yah. Bunda masih kangen sama Ara,” ucap Bunda Kanaya.
Aksara pun menganggukkan kepalanya, “Iya Bunda … kami akan menginap semalam kok. Cuma, besok kami akan pulang yah,” jawabnya.
“Makasih Aksara, nanti malam Bunda akan masakkan yang spesial untuk kalian berdua. Syilla, mau request masakan apa?” tanya Bunda Kanaya kepada menantunya itu.
“Apa yah Bunda … Syilla apa saja mau kok. Cuma kangen masakan kesukaan Ayah Bisma itu, Bunda … Ikan Kuah Asam Pedas,” jawab Arsyilla.
Bunda Kanaya pun tertawa, “Kalau Bunda masak itu, berarti harus memasak nasi putih lebih banyak karena Ayah kalian pasti akan menghabiskan nasinya. Tumben sih menantu dan mertua seleranya sama,” sahut Bunda Kanaya.
“Baru pengen yang kuah dan seger gitu Bunda,” sahut Arsyilla sembari tertawa malu-malu.
“Iya Bunda … nanti Syilla bantuin saja Bunda, palingan habis ini Ara juga waktunya bobok siang,” balas Arsyilla.
“Santai saja Syilla … take your time. Nikmati saja waktu kalian, Bunda sungguh tidak apa-apa,” jawab Bunda Kanaya.
***
Malam harinya ….
Menjelang waktunya makan malam, Arsyilla membantu Bunda Kanaya untuk menata makanan di meja makan. Agaknya menu makanan untuk malam ini adalah Seafood. Selain Ikan Kuah Asam Pedas, tersedia juga Ikan Bakar, Udang Goreng Tepung, dan Ikan Fillet Asam Manis. Semua olahan boga bahari yang membangkitkan selera makan.
“Tolong bawa air putih ini ya Syilla,” ucap Bunda Kanaya yang meminta tolong kepada Arsyilla.
__ADS_1
“Siyap, Bunda … biar Syilla yang isi sekalian gelas-gelasnya,” balasnya.
Baru saja Arsyilla mengisi setiap gelas kosong dengan air putih, rupanya ada Rangga yang datang sendirian tanpa Thania. Pria itu menenteng Sneli (Jas Kedokteran berwarna putih) di tangannya, dan Rangga pun menghampiri Arsyilla.
“Kak Syilla main ke sini to?” tanyanya.
Merasa ada orang lain yang bertanya padanya, Arsyilla pun menganggukkan kepalanya, “Iya, main sama Kak Aksara dan Ara,” balasnya.
“Oh, sekarang di mana Kakak dan si bayi?” tanya Rangga.
“Di kamarnya,” balas Arsyilla sekenanya.
Melihat Rangga yang berdiri tidak jauh dari Arsyilla, Bunda Kanaya pun berbicara, “Dari Rumah Sakit atau dari mana Rangga? Sana mandi dulu, di sini ada baby … harus bersih,” ucap Bunda Kanaya.
Rangga pun menganggukkan kepalanya, “Iya Bunda … ya sudah, Rangga ke kamar dulu,” pamitnya dan berlalu ke kamar.
Tidak mengira dari anak tangga rupanya ada Aksara yang hendak turun dan melihat bagaimana Rangga berdiri tidak jauh dari istrinya dan menyapa istrinya itu. Aksara hanya menghela nafas dan memilih untuk segera turun dari anak tangga. Di saat Aksara hendak turun, rupanya Rangga hendak naik ke atas.
“Mas Aksa,” sapanya begitu berpapasan dengan Kakaknya.
“Hmm, iya,” balas Aksara.
“Naik dulu ya Mas, mau bersih-bersih dulu,” ucap Rangga.
Aksara menganggukkan kepalanya, dan dia memilih turun dan menghampiri Arsyilla sekarang. “Honey, masih lama yah … itu Ara bobok, gimana enaknya?” tanya Aksara.
“Hmm, bentar ya Kak … nanti habis ini aku gendong saja Ara-nya, terus Ayah bawain strollernya yah … seperti biasa biar dekat dengan aku saja,” balas Arsyilla.
“Oke deh … aku ke atas lagi yah. Aku sebenarnya mau telepon kamu, tetapi handphone kamu di atas,” ucap Aksara.
__ADS_1
Bunda Kanaya yang melihat Aksara dan Arsyilla begitu kompak mengasuh anak begitu bahagia, mengingatkannya dengan dirinya di masa muda dulu bersama Ayah Bisma yang mengasuh Aksara kecil sendirian. Namun, di saat bersamaan ada kepedihan di hati Bunda Kanaya karena mengingat Airlangga yang tidak bisa menikmati masa-masa mengasuh Thania di masa bayi karena putra bungsunya itu harus pergi ke Australia dan menyelesaikan sekolah kedokterannya di sana.
Namun, bagaimana lagi … semuanya terlanjur terjadi. Ingin mengulang masa lalu pun tidak bisa. Mungkin karena tidak mengasuh Thania sejak kecil, hubungan Rangga dengan putri tunggalnya itu juga renggang. Sementara keluarga Aksara justru terlihat begitu kompak dan kian harmonis di mata Bunda Kanaya. Di kebahagiaan dan ada kepedihan, di dalam hatinya Bunda Kanaya pun berdoa kiranya kebahagiaan juga akan datang menghinggapi Rangga dan keluarganya. Semoga saja.