Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Menunggu Suami Bekerja


__ADS_3

"Tunggu di sini dulu ya … aku ketemu klien dulu, paling cuma setengah jam," pinta Aksara kepada Arsyilla untuk menunggunya.


Wanita yang menahan rasa pening di kepalanya itu memilih menganggukkan kepalanya, mengambil duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Arsyilla memilih Teh yang masih panas itu. Uap teh yang masih mengepul menunjukkan bahwa teh itu masih hangat. Manisnya teh, berpadu dengan rasa sepat dan aroma melati seolah menjadi cita rasa yang selalu disukai oleh Arsyilla.


Setelahnya, Arsyilla menyandarkan kepalanya di tanganan sofa, memejamkan matanya. Berharap dengan sedikit istirahat, peningnya akan segera hilang. Lagipula di ruangan Aksara juga bersih, ACnya juga dingin, dan pewangi ruangan yang harum aroma Ocean Escape yang membuat ruangan sang Arsitek itu begitu segar.


Tidak membutuhkan waktu lama, Arsyilla telah terlelap di sofa itu. Kaki yang masih berpijak di lantai, hanya kepalanya yang bersandar di tanganan sofa. Wanita itu sampai tidak tahu saat Aksara masuk ke dalam ruangan dan mengambil beberapa desain gambar yang sudah dia print.


Aksara menatap Arsyilla, sedikit menunduk melihat istrinya yang tengah terlelap itu.


"Cepat banget kamu tidurnya, Honey … pening banget yah kepalanya?"


Aksara bergumam dengan lirih, begitu kasihan melihat Arsyilla yang tertidur dalam posisi yang tidak nyaman seperti ini. Menghentikan aktivitasnya sejenak. Aksara membenarkan posisi Arsyilla, hingga tubuh wanita itu sepenuhnya berada di sofa. Kemudian Aksara mengambil jaketnya dan menyelimutkannya ke bagian dada Arsyilla.


"Sebentar yah … aku selesaikan rapatnya dulu," pamit Aksara lagi dengan lirih. Setelahnya Aksara kembali keluar dari ruangannya, menyelesaikan rapat terlebih dahulu.


Lebih dari setengah jam Aksara mengikuti jalannya rapat. Setelah rapat usai, Aksara pun kembali ke dalam ruangannya. Aksara memang sengaja untuk membuka pintu perlahan, supaya tidak mengganggu istrinya yang tengah tertidur.


Rupanya begitu masuk ke dalam ruangan, Arsyilla benar-benar masih tertidur. Pria itu tersenyum dan sedikit berjongkok di hadapan Arsyilla. Memberikan usapan yang lembut sisi wajah Arsyilla.


"Honey, mau pulang jam berapa?" Aksara berupaya untuk membangunkan Arsyilla.


Namun, Arsyilla hanya menggelengkan kepalanya saja. Rasanya masih ingin tertidur.

__ADS_1


Aksara tersenyum, merasakan bahwa kehamilan kali ini memang Arsyilla beberap kali mengeluh pening, selain itu Arsyilla juga lebih cepat mengantuk. Melihat istrinya, Aksara merasa kasihan. Namun, bagaimana lagi agaknya yang mengidap gejala kehamilan sekarang adalah Arsyilla.


Memberi waktu untuk Arsyilla, Aksara memilih menyelesaikan pekerjaannya, dan sekaligus merapikan meja kerjanya. Masih ada kurang lebih 15 menit sebelum waktu pulang tiba. 15 menit agaknya cukup untuk Arsyilla beristirahat terlebih dahulu.


Beberapa kali Aksara melihat Arsyilla yang begitu terlelap, kemudian pria itu tersenyum. Menyenangkan bekerja dan ditemani istri seperti ini. Walau istrinya tertidur, tetapi rasanya justru membuat Aksara begitu bahagia.


"Honey, Honey … bangun yuk. Kita pulang,"ucap Aksara yang mencoba membangunkan Arsyilla lagi.


Akan tetapi, Arsyilla hanya melenguh saja, “Hmm, masih ngantuk,” sahutnya dengan mata yang masih terpejam.


“Bangun dulu Honey … kasihan Ara kangen sama Bundanya. Nanti bobok lagi di rumah,” balas Aksara.


Mendengar nama anaknya disebut, seketika Arsyilla pun terbangun. Wanita itu menguap, dan menyandarkan kepalanya di sandaran sofa sesaat. Kemudian menurunkan kakinya, sedikit tersenyum saat mendapati jaket tebal suaminya yang menyelimuti badannya.


“Akhirnya, kamu bangun … yuk, bangun dulu. Kasihan Ara sudah nungguin Bundanya. Sudah waktunya pulang dari kantor juga,” ucap Aksara lagi.


Aksara menganggukkan kepalanya, memberi waktu kepada istrinya untuk merapikan rambutnya. Sementara Aksara memilih duduk di samping istrinya itu. Mengamati setiap gerakan yang dilakukan istrinya. Sampai akhirnya, Aksara memajukan sedikit wajahnya dan mencuri sebuah ciuman di pipi Arsyilla.


Cup!


“Sehat-sehat yang Bunda … kelihatannya kehamilan kali ini, Bunda yah yang mengalami gejala kehamilannya walau pun enggak mual dan muntah. Maaf yah, harus merasakan semuanya ini,” ucapnya.


“Iya … sering pening dan lebih sering mengantuk aku, Kak. Enggak apa-apa. Asalkan enggak mual dan muntah saja sih Kak,” balas Arsyilla.

__ADS_1


“Penting kalau merasakan sesuatu segera kasih tahu aku. Aku akan selalu menjadi orang yang berdiri di garda terdepan untuk kamu,” balas Aksara dengan sungguh-sungguh.


Itu adalah sebuah fakta bahwa Aksara akan selalu berdiri di garda terdepan untuk Arsyilla. Melakukan banyak hal untuk istrinya itu.


“Makasih Ayah … ya sudah, yuk pulang … aku sudah kangen Ara,” balasnya.


Aksara pun berdiri, memanggul ranselnya di bahu, dan satu tangannya menggandeng tangan Arsyilla. Beberapa karyawan pun menyapa dan Aksara membalas dengan sopan. Ada beberapa karyawan juga yang turut melihat Arsyilla. Sebab, tak biasanya putra CEO Jaya Corp itu bersama istrinya. Mungkin ini justru menjadi kali pertama bagi Arsyilla ke Jaya Corp.


“Malu Kak … dilihatin para karyawan,” balas Arsyilla.


“Enggak usah malu, orang kamu cantik gini kok,” balas Aksara dengan tersenyum dan justru mengeratkan gandengan tangannya di tangan Arsyilla.


“Gimana tadi bareng lagi sama mantan?” tanya Aksara dengan tiba-tiba kepada istrinya.


Aksara hanya sebatas bercanda saja, tetapi pria itu tetap menggoda istrinya supaya istrinya memberikan jawabannya. Rasanya menggodai istri sendiri justru terasa begitu menyenangkan.


“Biasa saja, cuma ngobrol tentang perjodohannya, dan dia tanya apa mungkin bisa menjalani pernikahan tanpa cinta,” ceritanya kali ini kepada suaminya.


“Lalu, kamu jawab gimana?” tanya Aksara lagi.


“Ya harus ada usaha untuk mengenal dan menerima. Usaha untuk beradaptasi, menyesuaikan diri dengan pasangan. Kuncinya dengan bersabar karena semuanya membutuhkan proses. Kalau dipikir-pikir awal pernikahan dulu, aku enggak cinta deh sama kamu. Namun, seiring berjalannya waktu kan semua perasaan itu berubah,” jawab Arsyilla dengan jujur.


Aksara yang mendengarkan jawaban dari istrinya melirik istrinya itu, “Lalu, sekarang cinta enggak sama aku?” tanyanya.

__ADS_1


Tampak Arsyilla menggelengkan kepalanya, “Enggak, aku enggak cinta sama kamu, tapi … aku cintaaaaa bangeeeetttt sama kamu.”


Aksara tertunduk malu dengan mengulum senyuman di sudut bibirnya. Bisa-bisanya istrinya itu menggombalinya yang membuat wajahnya memerah, dan senyuman yang tertahan di sudut bibirnya.


__ADS_2