Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Dia Bernama Tiara


__ADS_3

"Aku Tiara, Kak … adik kelas Kak Aksa di SMA Bintang Widya dulu," ucapnya.


Aksara nyatanya tampak mengingat-ingat siapa adik kelasnya waktu SMA. Lagipula, waktu sudah lama berlalu, sehingga Aksara pun lupa dengan peristiwa saat SMA dulu.


Sementara Arsyilla yang berdiri beberapa langkah di belakang Aksara, tidak bermaksud untuk mengintervensi pembicaraan suaminya dengan wanita bernama Tiara itu.


Hanya saja, Arsyilla berkata dengan hatinya sendiri.


Apa Kak Aksara seterkenal itu waktu SMA dulu? 


Sampai adik kelasnya saja mengingatnya. 


Mengenalinya. 


Arsyilla lantas memperhatikan raut wajah Aksara, mulailah Arsyilla menyadari ketampanan wajah suaminya yang nyaris sama dengan ketampanan pemain Drama Korea di serial Healer itu. (Babang Ichang :D)


"Baru liburan ya Kak? Sama adiknya ya?" tanya Tiara lagi.


Belum sempat Aksara menjawab, rupanya Tiara kembalinya mengajaknya mengobrol. Arsyilla pun menepuk bahu suaminya itu, "Aku duluan ya Kak … capek," pamitnya dengan lirih kepada suaminya.


Akhirnya, Arsyilla memilih untuk memasuki kamarnya terlebih dahulu meninggalkan Aksara yang masih menyapa adik kelasnya saat SMA itu. Arsyilla berbicara dengan gamang dalam hatinya, “Kalau Adik kelas sampai inget kakak kelasnya setelah sekian tahun berlalu, mungkinkan dia menaksir Kak Aksara saat SMA dulu? Atau mungkin dulu mereka pernah berpacaran karena sebuah hal lumrah bahwa Kakak kelas akan berpacaran dengan adik kelasnya saat SMA.”


Semua pikiran itu seolah memenuhi kepala Arsyilla sekarang ini, ada berbagai kemungkinan yang bisa terjadi. Kendati demikian, Arsyilla menenangkan dirinya sendiri. Dia memilih untuk memasuki kamar dan membersihkan dirinya terlebih dahulu.


Sudah lima belas menit berlalu, nyatanya Aksara juga belum menyusulnya ke kamar. Jujur saja, Arsyilla pun memikirkan apa yang sedang dilakukan suaminya itu bersama dengan gadis bernama Tiara itu. Berusaha tenang di dalam kamar, nyatanya pikirannya justru tidak tenang sama sekali.


Hingga mendekati setengah jam, barulah Aksara memasuki kamar Arsyilla.


“Syilla Sayang … kamu baru ngapain?” tanya pria itu yang merentangkan kedua tangannya dan hendak memeluk Arsyilla.


Akan tetapi, dengan cepat Arsyilla menghindar, “Enggak … enggak mau. Mandi dulu, bau,” ucapnya.

__ADS_1


Aksara pun geleng-geleng kepala sendiri melihat Arsyilla yang tidak mau memeluknya dan memintanya untuk mandi terlebih dahulu. Oleh karena itu, Aksara pun segera memasuki kamar mandi. Membersihkan dirinya dan bisa segera memeluk istrinya tercinta.


Kurang lebih lima belas menit berlalu, dan Aksara telah keluar dari kamar. Pria yang rambutnya setengah basah lantaran usai keramas itu pun langsung duduk di samping istrinya, menyandarkan kepalanya di bahu istrinya.


“Aku sudah mandi … sudah wangi. Sekarang peluk aku dong?” pintanya kali ini kepada istrinya.


Akan tetapi, lagi-lagi Arsyilla menggelengkan kepalanya, “Gak mau,” sahutnya dengan singkat.


Aksara pun mengangkat kepalanya dan menatap wajah istrinya, “Kamu kenapa marah? Tiba-tiba kok badmood gitu?” tanyanya.


“Enggak,” sahut Arsyilla dengan singkat.


“Lalu kenapa? Apa aku salah?” tanya Aksara lagi.


“Pikir saja sendiri,” sahut Arsyilla itu. Wanita itu agaknya kembali ke mode juteknya. Rasanya sebal dengan suaminya itu.


Aksara pun menghela nafasnya, pria itu membawa wajah istrinya untuk bisa menatapnya, “Kenapa, sini cerita sama aku,” ucapnya.


Wanita itu akhirnya membuka suaranya, “Kamu di luar aja sana loh … sampai satu jam atau sampai tengah malam juga enggak apa-apa,” jawabnya dengan ketus.


“Apa cemburu? Enggak, aku enggak cemburu?” balas Arsyilla dengan cepat.


Tanpa permisi Aksara lantas memeluk tubuh Arsyilla, merengkuhnya dengan begitu erat. Pria itu menundukkan kepalanya dan mengecupi puncak kepala Arsyilla, “Aku di luar tadi karena Tiara rupanya ingin aku menggambarkan desain untuk hotel yang akan dia bangun di Lombok nanti. Dia mau aku yang menjadi arsiteknya,” jelas Aksara pada akhirnya.


“Lalu, kenapa adik kelas sampai kenal dan inget sama Kakak kelasnya? Terus dia tahu kamu itu arsitek dari siapa?” tanya Arsyilla kini.


Aksara tertawa dalam hati, dia sangat yakin bahwa istrinya itu tengah cemburu. Dari setiap pertanyaan yang diucapkan Arsyilla pun sudah cukup menjelaskan bahwa wanita itu tengah cemburu hanya tidak mau mengakuinya.


“Ya cuma kenal saja Sayang … lagian tadi dia tanya, aku kerjanya apa terus aku jawab kalau aku ini arsitek. Katanya kebetulan, dia sedang mencari arsitek untuk mendesain rancang bangun hotel yang akan dibangun perusahaannya nanti,” cerita Aksara lagi.


Setelahnya, pria itu mengurai pelukannya. Kedua tangannya memegang kedua bahu Arsyilla, “Sudah jangan cemburu, aku tidak akan macam-macam. Hatiku cuma buat kamu. Hanya saja kan kalau dapat projek menggambar kan lumayan juga,” jelas pria itu.

__ADS_1


Arsyilla lantas memutar bola matanya dengan malas, wanita itu mengerucutkan bibirnya, “Tau ah, sebel,” ucapnya.


Wanita itu rupanya masih sebal dan menerka bahwa mungkin saja di masa putih abu-abu dulu, keduanya pernah menjalin hubungan. Hatinya merasa masih sebal.


Aksara lantas kembali memeluk Arsyilla dengan begitu eratnya, “Aku tahu kamu cemburu … aku juga suka kamu cemburu seperti ini. Hanya saja, percayai aku juga. Aku akan selalu menjaga hatiku buat kamu. Di dalam hatiku yang layaknya hanya seonggok daging ini, hanya ada satu nama yang berada di sana dan itu adalah namamu. Nama yang puluhan tahun selalu aku ucapkan, nama yang selalu kusebut dan kuharapkan untuk bertemu dengan sang pemilik nama itu. Tidak peduli dengan apa pun di luar sana, yang pasti aku selalu mencintaimu,” ucap Aksara dengan sungguh-sungguh.


“Kalau Tiara itu suka sama kamu?” tanya Arsyilla kemudian.


Aksara pun mengedikkan bahunya, “Ya enggak tahu juga, yang pasti aku akan selalu menjaga hatiku buat kamu. Janji.”


Bagi Aksara perihal menjaga hati, dia akan melakukannya dengan sungguh-sungguh. Tidak akan mungkin dirinya mempermainkan Arsyilla. Sebab, di dalam hatinya memang hanya ada Arsyilla saja.


Perlahan Arsyilla mengangguk, “Iya … baiklah. Cuma, kalau suatu hari kamu macam-macam, aku gak mau lagi sama kamu,” jawabnya kemudian.


Aksara kemudian mengangguk, “Iya My Princess Arsyilla … Aksara cuma buat Arsyilla saja. Udah ya cemburunya. Masak honeymoon malahan marah-marahan sih?”


“Salah sendiri, sapa suruh ketemu sama adik kelas dan membiarkan istrinya sendirian,” sahut Arsyilla lagi.


Ah, rupanya kini Aksara juga tahu alasan lainnya. Ya, dia nyatanya memilih menanggapi pembicaraan dengan Tiara, dan tidak mengantarkan istrinya ke kamar terlebih dahulu. Pria itu lantas menatap wajah Arsyilla. “Maaf, aku tadi seharusnya nganter kamu ke kamar dulu, baru menemui dia lagi. Sorry ya Sayang …,” sahutnya.


“Itu tahu, tapi enggak sadar juga,” ucap Arsyilla.


Aksara lantas tertawa, “Iya-iya, maaf … udah, jangan marah-marah lagi ya. Honeymoon itu membangun momen yang manis dan romantis bersama. Jangan sebel dan marah. Aku akan lebih peka dan perhatian lagi sama Istriku yang manis itu. Oke Manis,” ucap Aksara.


Arsyilla lantas memukul dada suaminya itu, “Ihh, nyebelin banget sih. Jangan panggil aku Manis … gak suka,” teriaknya kini sembari begitu gemas dengan suaminya.


“Ampun-ampun Sayang … aku cuma bercanda. Iya-iya, enggak akan memanggil kamu Manis. Oke Syillaku Manis,” jawabnya lagi.


“Tuh lagi kan … ihh, sebel deh Kak Aksara,” sahut Arsyilla.


Keduanya pun tertawa, rasa yang semula membuat hati terasa sebal kini kembali mencair dengan canada tawa keduanya. Aksara lantas menggenggam kedua tangan Arsyilla, “Kalau kamu cemburu sama aku berarti kamu cinta kan sama aku? Dari kita menikah sampai sekarang, kamu belum pernah mengucapkan ‘i love u’. Sekali saja dong, ucapkan i love u padaku,” pintanya kali ini.

__ADS_1


Akan tetapi, Arsyilla kemudian memeluk pria itu, “aku sebel sama Kakak,” balasnya kali ini.


Aksara pun balas memeluk Arsyilla, “Sebel kok peluk-peluk gini sih, ya sudah … yang pasti aku cinta kamu, Syilla. I Love U.”


__ADS_2