Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Ayah atau Papa?


__ADS_3

Berbicara mengenai calon buah hati, ada satu hal lagi yang diobrolkan Aksara dan Arsyilla kali ini. Tentu itu adalah terkait bagaimana buah hatinya memanggil mereka. Ayah, Papa, Daddy, Bapak, atau panggilan apa yang akhirnya mereka sepakati bersama. Rasanya begitu lucu karena sekarang Arsyilla dan Aksara bisa membahas kehamilan dan mempersiapkan diri menjadi orang tua nanti.


“Nanti kalau baby kita sudah lahir, kamu mau dipanggil apa Kak? Ayah atau Papa?” tanya Arsyilla sembari menengadahkan wajahnya guna menatap wajah suaminya itu.


“Enaknya apa ya Honey? Kalau ngikutin keluarga kamu, anak kita nanti akan memanggil kita Mama dan Papa, sama seperti kamu memanggil Mama Khaira dan Papa Radit. Namun, jika ngikutin dariku, anak kita akan memanggil kita Ayah dan Bunda. Enaknya apa yah?”


Aksara justru tampak bertanya kepada istrinya itu. Setidaknya mereka harus mulai menentukan bukan panggilan apa yang hendak mereka sepakati bersama.


“Aku sih ngikut kamu saja Kak?” balas Arsyilla.


Sebab Arsyilla sendiri tidak mempermasalahkan bahwa anaknya nanti harus memanggil mereka dengan sebutan apa. Mau Ayah atau Papa, Bunda atau Mama tidak masalah untuk Arsyilla. Lagipula, semua itu hanya panggilan. Yang pasti mereka harus bersiap untuk menjadi orang tua bagi anaknya nanti.


“Aku sendiri bingung, Honey. Yang pasti panggilan itu senyamannya kita berdua saja, Honey. Ayah atau Papa tidak masalah kok bagiku,” balas Aksara.


Arsyilla kemudian tampak berpikir, mulutnya terlihat komat-kamit tanpa bersuara. Pemandangan yang lucu bagi Aksara, sehingga pria itu kemudian kembali bersuara.


“Kamu kenapa komat-kamit gitu coba? Mau bicara apa sih?” tanya Aksara.


“Enggak … aku punya sedang mencoba saja. Mau yang lebih tepat dan cocok. Ayah Aksara atau Papa Aksara. Namun, kenapa keduanya cocok sekali,” sahut Arsyilla.


Aksara justru tampak terkekeh geli mendengar ucapan istrinya itu. Pria itu kini justru tampak mengusapi puncak kepala Arsyilla dengan dagunya. Perlahan Aksara menundukkan wajahnya, dan tampak meraih dagu Arsyilla.


Terdorong oleh perasaan hati yang begitu kuat. Wajah Aksara yang kian menunduk akhirnya bibir pria itu kini berlabuh di atas bibir Arsyilla. Permukaan kulit yang begitu kenyal dan manis itu. Mengecupnya perlahan. Rupanya jika hanya sebatas satu kecupan, maka itu tidak akan cukup. Aksara lantas memagut bibir Arsyilla dengan begitu lembut. Pergerakan pelan dan lembut di saat bersamaan itu berlangsung begitu saja. Rasanya sudah sekian hari berlalu sejak Arsyilla mengalami kejadian buruk dan sakitnya Arsyilla hingga membuat Aksara begitu rindu untuk mencumbu dan memagut bibir yang begitu manis layaknya cotton candy itu.

__ADS_1


Seakan tak jemu untuk memagut bibir itu, Aksara menjulurkan sedikit lidahnya dan memberi usapan di sepanjang bibir istrinya dengan lidahnya. Rasanya kali ini, bukan hanya gairah yang tersulut begitu saja, tetapi juga perasaan cintanya yang begitu besar untuk Arsyilla.Tangan Aksara bergerak dan menekan tengkuk Arsyilla untuk memperdalam ciumannya. Pria itu kini memejamkan matanya dan seolah-olah mengajak bibir Arsyilla menari bersama. Hingga terdengar decakan dari dua bibir yang bertemu, dari kedua lidah yang saling mengusap, dan juga pertukaran saliva yang membuat Aksara dan Arsyilla sama-sama terbuai.


Decakan yang serupa alunan yang begitu lembut dan menggelitik indera pendengaran keduanya. Seakan dua bibir yang bersatu sama-sama meneguk dahaga yang hanya dirasakan oleh keduanya. Menyadari bahwa Arsyilla sebaiknya tidak digumuli terlebih dahulu. Aksara pun menarik wajahnya. Perlahan mata Aksara terbuka, pria itu tersenyum dan mengusap lipatan bawah bibir Arsyilla dengan ibu jarinya.


“Cukup di sini, Honey,” ucap Aksara dengan suaranya yang sudah terdengar parau.


Arsyilla pun tersenyum dan memeluk suaminya itu. Mencerukkan kepalanya di dada bidang suaminya dengan kedua tangan yang melingkari pinggang suaminya.


“Nakal banget sih … jadi bahas apa justru cium-cium,” keluh Arsyilla kali ini.


“Sudah lama enggak cium kamu, Honey. Sejak kamu kena musibah ini. Kangen tahu,” balas Aksara dengan begitu cuek.


Beberapa hari memang tidak bisa mencium istrinya itu membuat Aksara seolah menahan rindu. Padahal sekarang istrinya ada di hadapannya, tetapi untuk bercinta mereka harus menunda terlebih dahulu.


Seolah Arsyilla ingin melanjutkan pembicaraan keduanya yang sempat tertunda barusan. Kali ini, Arsyilla kembali bertanya panggilan apa yang diinginkan suaminya itu.


“Kelihatannya Ayah saja deh, Honey … gimana kamu keberatan enggak?” tanya Aksara.


Terlihat Arsyilla yang bergumam, “Ayah … Ayah Aksara, oke. Tidak masalah, aku menyukainya,” sahut Arsyilla.


“Cocok enggak?” tanya Aksara kemudian.


“Cocok kok Hubby. Ayahnya adik bayi,” jawab Arsyilla kemudian sembari terkekeh geli.

__ADS_1


“Dan kamu … Bundanya dedek bayi,” sahut Aksara.


Keduanya lantas tertawa bersama. Memilih nama panggilan itu rasanya membuat keduanya begitu bahagia. Tidak sabar untuk menimang bayinya dan mendengar buah hatinya memanggil mereka dengan sebutan Ayah dan Bunda. Panggilan yang mereka sepakati bersama.


“Bunda Syilla tersayang … Bundanya dedek bayi,” ucap Aksara lagi.


Pria itu mengatakannya dengan begitu lucu sembari mencubit hidung Arsyilla. Hanya sebatas obrolan berdua, tetapi tidak dipungkiri bahwa hatinya begitu bahagia.


“Aw, sakit dong Kak … jangan cubit-cubit dong,” sahut Arsyilla sembari mengusapi hidungnya yang baru saja dicubit suaminya itu.


Aksara yang begitu gemas, kini justru merangkul bahu istrinya itu. “Jadi, officially … dedek bayi nanti manggil kita Ayah dan Bunda kan Sayang? Deal?” tanya Aksara kini kepada Arsyilla.


Arsyilla merespons dengan menganggukkan kepalanya, “Deal … Ayah dan Bunda saja. Lucu kelihatannya ya Kak. Aduh, rasanya gak sabar dedek bayi segera lahir terus aku bisa menimangnya, memanggil namanya, dan mendengar dia menyebutku Bunda dan memanggil kamu Ayah. Pasti bahagia banget,” balas Arsyilla.


Berbicara sembari membayangkan bagaimana nanti mereka benar-benar dipanggil Ayah dan Bunda oleh anaknya sangat menyenangkan. Seakan tidak sabar untuk menunggu saat itu tiba.


“Sabar Honey … dedek bayi biar tumbuh di dalam rahim Bundanya dulu. Biar dia tumbuh lengkap dan sempurna di dalam rahim Bundanya. Selain itu, kita juga perlu persiapan kian matang untuk menyambutnya. Kita sudah berhasil mewujudkan salah satu rencana kita usai menikah yaitu memiliki baby dengan persiapan. Kita siap secara fisik, mental, dan finansial,” ucap Aksara.


Memang tidak dipungkiri rencananya dulu saat menikah dengan Arsyilla ingin mempersiapkan diri secara fisik, mental, dan finansial untuk memiliki buah hati. Kini saat hal itu terwujud tentu Aksara sangat bersyukur. Secara waktu pun Aksara juga lebih siap karena dirinya bukan lagi seorang mahasiswa yang harus menyelesaikan Skripsi. Waktunya hanya terfokus untuk bekerja dan untuk Arsyilla saja.


“Benar banget Kak … aku juga sangat senang bisa memiliki persiapan yang matang untuk menjadi orang tua. Walaupun aku takut, takut karena tidak punya pengalaman dan takut buat mengasuhnya nanti, tetapi aku mau belajar. Aku akan menjadi Bunda yang baik dan terus berusaha untuk dedek bayi nanti,” jawab Arsyilla dengan yakin.


Jika berbicara ketidaksiapan, persiapan selama apa pun rasanya tetap akan merasa tidak siap. Akan tetapi, Arsyilla mau berusaha dan belajar tentu. Sebab, menjadi orang tua juga adalah tentang belajar. Untuk itu, Arsyilla akan belajar memantaskan diri hingga bisa menjadi seorang Bunda yang baik untuk buah hatinya nanti. Selain itu, Arsyilla akan berkaca dan menimba pengalaman dari dua wanita terhebat dalam hidupnya yaitu Bunda Kanaya dan Mama Khaira yang merupakan figur seorang Ibu yang baik dan juga hebat.

__ADS_1


__ADS_2