
Agaknya ucapan Aksara kali ini meminta bahwa Arsyilla lah yang harus mengambil keputusan. Arsyilla tahu bahwa tadi sore dirinya sudah menjanjikan untuk suaminya itu. Akan tetapi, saat dirinya yang harus memutuskan tentu saja terasa berat dan malu tentunya. Arsyilla masih menunduk dan menggigit bibir bagian dalamnya.
Saat Arsyilla hendak bersuara, keduanya terkesiap dengan bunyi suara di handphone Aksara. Terdapat sebuah panggilan di sana, dengan cepat Aksara mengambil handphone di saku celananya.
“Ya halo … ada apa?” tanya Aksara.
“Pak Aksara, bisa minta tolong kirimkan gambar kasar desain dengan Agastya Property tidak?” rupanya salah seorang teman Aksara di kantor yang menelpon.
“Kapan deadlinenya? Harus hari ini?” tanya Aksara lagi.
“Iya, tengah malam pun ditunggu,” jawab temannya.
“Ya,” balas Aksara sembari mematikan panggilan seluler itu.
Setelah itu, Aksara pun menatap Arsyilla yang masih diam. Pria itu lantas membawa satu tangannya untuk membela sisi wajah Arsyilla.
“Kayaknya malam ini harus kita tunda … karena aku ada kerjaan mendadak,” ucap Aksara.
“Kerjaan apa Kak?” tanya Arsyilla.
“Membuat desain untuk Agastya Property. Dia minta aku yang menjadi arsiteknya dan menggambarkan beberapa bentuk desain untuk perumahan,” jawab Aksara.
Aksara lantas menatap wajah istrinya itu, “Sorry ya … sebenarnya aku udah pengen, tetapi sebagai pekerja biasa, aku harus mengerjakan tugas ini,” balasnya.
Arsyilla pun mengangguk, “Iya … kita masih punya waktu banyak berdua. Aku mau nemenin kamu bekerja boleh?” tanya Arsyilla.
“Iya, boleh … aku kerja di sini aja, tapi aku ambil laptop dan drawing pad aku dulu yah” balas Aksara.
Setelahnya Aksara pun berdiri dan mengambil ransel miliknya yang berisi Macbook dan juga drawing pad. Sementara Arsyilla sendiri mulai menyeduh dua cangkir Teh Jahe panas dan membuat nasi goreng telor untuk mereka berdua. Lantaran supaya tidak terlalu mengganggu suaminya, Arsyilla sekalian membuat Mie Goreng instans. Nasi goreng dan mie goreng instans bisa dimakan bersamaan dan rasanya justru semakin enak.
Arsyilla menata nasi goreng di piring dan membagi mie instans itu, menyajikannya kepada suaminya.
“Sambil makan ya Kak,” ucap Arsyilla.
__ADS_1
“Iya Sayang, taruh dulu saja … aku sambil kerjakan dulu,” ucap Aksara.
Arsyilla pun duduk di karpet lantai bersandar di sofa, melihat apa yang sebenarnya sedang dikerjakan oleh suaminya, hingga suaminya terlihat begitu serius. Hingga akhirnya, Arsyilla mengangkat satu piring, dan mengisi sendok, membawanya ke hadapan mulut suaminya.
“Yuk Kak … buka aja mulutnya, aku suapin. Mumpung masih hangat,” ucapnya.
Aksara tampak mengamati Arsyilla, tidak mengira dengan perlakuan manis yang ditunjukkan istrinya itu. Akan tetapi, Aksara pun mengikuti instruksi Arsyilla dan mulai membuka mulutnya. Menerima suapan dalam satu sendok itu dan mengunyahnya perlahan.
“Hmm, enak,” ucap Aksara.
“Makasih Kak … lanjut makan saja Kak … aku suapin. Jadi biar enggak telat makan malamnya. Maaf ya cuma bisa buat kayak begini,” balas Arsyilla yang begitu telaten menyuapi suaminya dengan nasi goreng buatannya itu.
“Gak apa-apa Sayang … aku malahan enggak enak kamu suapin seperti ini, maaf yah,” balas Aksara.
Kemudian Aksara melihat satu piring milik Arsyilla yang masih penuh dan belum tersentuh, kemudian Aksara menaruh sejenak pen miliknya dan mulai mengambil sendok dan menyuapkannya untuk Arsyilla.
“Kamu juga makan … jangan hanya mengisi perutku dan tidak mengisi perutmu,” ucap Aksara.
“Minum air putih dulu Kak … baru minum Teh Jahenya,” ucapnya.
Mengikuti instruksi sang istri, Aksara pun meneguk air putih itu terlebih dahulu, barulah meminum Teh jahenya nanti. Aksara lantas mengambil sebuah tissue dan menyeka bibir istrinya itu.
“Nah, gini udah bersih kan,” ucap Aksara sembari mengamati bibir Arsyilla yang tipis dan merekah berwarna pink natural tanpa mengenakan pemoles bibir itu.
Wanita itu tersenyum, “Sudah … jangan dilihatin, nanti Kakak gak jadi kerja loh, inget deadline,” balas Arsyilla.
Bukan bermaksud menolak, tetapi ada hal lain yang harus dikerjakan oleh Aksara. Oleh karena itulah, Arsyilla memberikan waktu untuk suaminya mengerjakan desainnya terlebih dahulu.
Sementara usai diingatkan sang istri, Aksara pun tertawa, “Iya-iya istriku … lihat bibir kamu aja, aku udah panas dingin, Sayang,” ucap Aksara dengan spontans.
“Kerjakan dulu ya Kak … aku ke dapur dulu sebentar,” pamit Arsyilla.
Kemudian Arsyilla mulai berjalan ke dapur dengan membawa nampan di tangannya, dan mencuci peralatan makan mereka sekalian. Setelahnya, Arsyilla memilih mengambil handphonenya yang masih berada di kamar, sekaligus mengambil selimut untuk menemani Aksara mengerjakan desain di ruangan tamu.
__ADS_1
Kembali menghampiri suaminya, Arsyilla lantas duduk di samping suaminya itu. Tangannya lebih suka berselancar dengan gadget miliknya tanpa bermaksud menggangu suaminya yang tengah serius bekerja.
Mengamati istrinya yang tengah berselancar dengan media sosialnya, Aksara lantas membawa kepala Arsyilla bersandar di bahu.
“Sini, bersandar aja … atau kamu mau tiduran di paha aku juga tidak apa-apa,” sahut Aksara.
“Makasih Kak,” balas Arsyilla.
Arsyilla memilih memasang earphone di telinganya, dan beberapa kali mengamati suaminya yang serius mendesain. Wanita itu duduk dan bersandar di bahu suaminya saja rasanya sudah begitu tenang. Hingga akhirnya, beberapa jam berlalu, Arsyilla justru tertidur di bahu suaminya itu.
Merasakan bahwa istrinya yang sedari tadi diam, Aksara lantas melirik Arsyilla. Rupanya istrinya itu sudah memejamkan matanya. Aksara lantas mengusapi sisi wajah Arsyilla, menundukkan wajahnya guna bisa mencium puncak kepala istrinya itu.
“Kamu pasti capek yah? Sampai ketiduran kayak gini … sebentar lagi ya Sayang, aku emailkan dulu … abis ini kita tidur bersama,” ucap Aksara dengan lirih.
Aksara lantas menekan ikon email di Macbook miliknya, dan mulai mengirimkan desainnya kepada rekan sekerjanya di Jaya Corp. Tidak lupa, Aksara mengirimkan pesan kepada temannya tersebut dan memberitahu bahwa Aksara telah mengirimkan gambar desain untuk Agastya Property.
Perlahan, tanpa membuat sang istri terbangun, Aksara membopong tubuh Arsyilla menuju ke kamar. Setiap langkah dia ambil dengan pasti, pria itu tersenyum melihat istrinya yang sudah terlelap. Memasuki kamarnya, Aksara menidurkan Arsyilla dengan hati-hati, tetap Aksara masih mengamati istrinya yang tengah tertidur itu.
Tanpa dikira, Arsyilla yang tengah tertidur pun refleks memeluk suaminya dan mendekapnya erat.
“Emm, Kak Aksara,” igaunya kalau itu.
Aksara yang kini tengah dipeluk Arsyilla hanya tersenyum, jarang sekali dia mendengar istrinya yang mengigau. Aksara pun justru membalasnya.
“Iya Sayangku,” balas Aksara.
“Love U,” igau Arsyilla lagi dengan lirih.
Aksara pun justru tersenyum, tidak mengira istrinya yang sudah terlelap dan matanya masih terpejam itu justru mengigaukan hal yang semanis itu untuknya. Aksara lantas mengurai pelukan Arsyilla dan pria itu memilih membaringkan tubuhnya di sisi Arsyilla dan memeluk istrinya itu dengan erat.
“Tidurlah Sayang … ini sudah tengah malam, di luar masih hujan. Harusnya kamu bangun Sayang … hujan-hujan kayak gini enaknya hangat-hangatan sama kamu,” ucap Aksara melantur.
Akan tetapi, Aksara pun tidak akan menyerang istrinya saat masih terlelap. Aksara memilih untuk menunggu saat istrinya itu terbangun. Sehingga, Aksara memilih memejamkan matanya dan memeluk istrinya itu. Esok pagi adalah hari libur, keduanya bisa saling menghangatkan di pagi hari, pikirnya.
__ADS_1