
"Ya, Syilla mencintai Kak Aksara," aku Arsyilla dengan malu-malu kepada Bunda Kanaya.
Sejujurnya Arsyilla begitu malu, tetapi Bunda Kanaya terlanjur melihat bagaimana dirinya dan Aksara berpelukan di dalam kamar tadi. Lagipula kali ini, Bunda Kanaya juga bertanya apakah Arsyilla mencintai putranya itu. Sehingga Arsyilla pun mengakui bahwa dirinya mencintai Aksara.
"Syukurlah, Bunda lega rasanya," jawab Bunda Kanaya.
"Lega bagaimana Bunda?" tanya Arsyilla lagi.
Bunda Kanaya pun menganggukkan kepalanya, "Mengingat bagaimana kalian berdua bersatu, Bunda yakin sangat tidak mudah menumbuhkan rasa cinta untuk pernikahan yang dilakukan dengan terpaksa. Namun, kini Bunda percaya dengan kekuatan cinta. Tidak dipungkiri Aksara memang mencintaimu Syilla, hanya kamu. Beberapa tahun yang lalu, kami sempat ingin menjodohkan Aksara dengan anak teman dokternya Ayah. Namun, dia menolak mentah-mentah. Dia berkata sudah mencintai seorang gadis sejak lama. Dia jujur kalau dia mencintaimu," jelas Bunda Kanaya.
Mendengar cerita Bunda Kanaya sekarang ini, rasanya Arsyilla benar-benar bersyukur karena dia dicintai oleh suaminya sebesar itu. Cinta suami yang tentu sudah teruji waktu, berbeda dengannya yang baru merasakan cinta setelah mengenal Aksara lebih dekat.
"Benarkah Bunda?" tanya Arsyilla.
"Benar Sayang, tidak mungkin juga Bunda berbohong. Bahkan di masa kecil dulu, bertahun-tahun lamanya kami selalu kembali ke Panti Asuhan dengan bisa kembali bertemu denganmu. Ada hari di mana Aksara terlihat murung karena kehilangan adik kecilnya. Sekarang justru menjadi begitu lucu, adik kecil ternyata dosen sekaligus istrinya," cerita Bunda Kanaya lagi
Rupanya saat kecil dulu Aksara masih kembali ke Panti Asuhan untuk bertemu dengannya, sayangnya mereka tidak pernah lagi bertemu. Sama seperti cerita Mama Khaira dan Papa Radit yang mengatakan bahwa mereka pun masih mengunjungi Panti Asuhan dengan harapan bisa kembali bertemu Aksara.
"Kak Aksara pernah punya pacar Bunda?" tanya Arsyilla kali ini.
Bisa dikatakan pertanyaan lucu karena Arsyilla justru menanyakan apakah suaminya itu pernah punya pacar sebelumnya.
Dengan cepat Bunda Kanaya menggelengkan kepalanya, "Tidak ... tidak pernah. Kalau pun punya itu hanya pacar khayalan. Pacar khayalannya dia ya kamu, tidak ada wanita lain dihidupnya selain Bunda dan kamu," jawab Bunda Kanaya.
Kali ini mendengarkan jawaban dari Bunda Kanaya, hati Arsyilla justru terharu. Arsyilla merasa dirinya begitu spesial bagi suaminya. Bahkan Bunda Kanaya adalah saksinya bahwa wanita di dalam hidup suaminya itu hanya Bunda Kanaya dan dirinya.
Senyuman terbit begitu saja di wajah Arsyilla. Rasanya menjadi wanita yang spesial di hati suaminya sendiri memang sangat membahagiakan.
"Terima kasih, Bunda. Maaf kalau Syilla awal-awal dulu nyebelin. Ingatan Syilla tentang masa kecil kami juga sudah hilang, tetapi Kak Aksara mengingat semuanya. Syilla juga baru mencintai Kakak setelah hidup bersamanya, mengenalnya lebih dekat lagi," aku Arsyilla kali ini.
"Tidak apa-apa, Syilla. Cinta bisa bertumbuh karena waktu. Mungkin memang ada sebagian orang yang jatuh cinta pada pandangan pertama, tetapi ada pula yang membutuhkan waktu untuk jatuh cinta. Itu tidak masalah. Waktu memang bisa menumbuhkan cinta," jawab Bunda Kanaya.
__ADS_1
Apa yang dikatakan Bunda Kanaya apa benarnya. Waktu untuk mengenal, waktu hidup bersama bisa membuat seseorang menjadi jatuh cinta. Tidak ada salahnya baru jatuh cinta setelah mengenal seseorang. Sama halnya dengan Bunda Kanaya di waktu muda yang juga perlu waktu untuk menyadari perasaannya kepada Ayah Bisma. Rupanya Arsyilla pun juga termasuk seseorang yang membutuhkan waktu untuk mencintai dan menumbuhkan perasaannya.
Sembari mengobrol, Arsyilla dan Bunda Kanaya juga sembari memasak sehingga saat mulut bercerita, tangan mereka tetap bekerja.
"Masak apa lagi Bunda?" tanya Arsyilla.
"Udang Saus Asam Manis, ini menu favoritnya suamimu," jelas Bunda Kanaya.
"Oh, kesukaannya Kak Aksara yah? Sekalian Syilla belajar biar bisa masakin buat Kak Aksara di apartemen nanti," sahut Arsyilla.
Dua wanita dari dua generasi itu pun tertawa bersama. Rupanya Arsyilla memiliki misi tersendiri untuk membahagiakan suaminya dengan memasakkan makanan favoritnya.
"Kamu tidak libur semesteran nanti?" tanya Bunda Kanaya.
"Libur sih Bunda, cuma kadang absen sebentar saja di kampus," jawab Arsyilla.
"O ... kirain Dosen tetap masuk, walau mahasiswanya libur," sahut Bunda Kanaya.
Dari sini Bunda Kanaya pun mengerti ritme kerja dosen itu seperti itu. Setidaknya dari jawaban Arsyilla, Bunda Kanaya belajar memahami menantunya itu.
"Bunda pesan sama kamu ya Syilla, intinya dalam berumahtangga itu dijalani bersama dengan tulus dan ikhlas. Jatuh cinta itu mudah, yang susah adalah memupuk dan mempertahankan cinta kalian bersama. Di saat ada hujan mau pun badai, Bunda harap kalian bisa selalu bersama. Setiap rumah tangga memiliki masalahnya sendiri-sendiri, dari situ setiap pasangan berusaha mencari solusi untuk memecahkan masalah dan menghadapi badai," nasihat dari Bunda Kanaya.
Arsyilla pun mendengarkan nasihat dari Bunda Kanaya sebaik mungkin. Mengingat-ingat isi nasihat itu.
"Bunda itu sudah lega, kalian saling mencintai. Semoga Aksara segera lulus dan Bunda pengen menggendong cucu dari kalian berdua," lanjut Bunda Kanaya.
Bunda Kanaya lantas menatap menantunya itu, "Kalian siap punya baby kan? Aksara lulus mungkin satu semester lagi, coba obrolkan juga tentang buah hati juga, supaya kalian lebih siap. Punya anak juga termasuk dalam proses perencanaan dalam rumah tangga," ucap Bunda Kanaya.
"Kami siap kok Bunda, tapi baru serius kalau Kak Aksara sudah lulus ya Bunda. Maaf, karena kami menunda sampai Kak Aksara lulus terlebih dahulu," jawab Arsyilla.
"Iya Syilla, tidak apa-apa. Sebagai orang tua, Bunda hanya mengingatkan. Ya sudah, semua masakannya gak terasa sudah matang nih. Bunda minta tolong, kamu yang menata meja dan menyiapkan peralatan makan yah. Sudah waktunya makan malam," pinta Bunda Kanaya.
__ADS_1
"Baik Bunda," jawab Arsyilla.
Dengan cekatan Arsyilla pun menata meja makan, menyiapkan peralatan makan berupa piring, sendok, dan garpu. Kemudian dia bersama Bunda Kanaya menata makanan di meja.
"Wah, masakan Bunda keliatannya enak banget deh," balas Arsyilla.
"Bunda itu tidak pandai memasak Syilla. Tidak seperti Mama Khaira yang jago memasak. Bunda itu memasak cuma pas hari libur," jawab Bunda Kanaya sembari terkekeh.
"Tapi ini masakannya Bunda aromanya harum banget, enak banget pastinya," sahut Arsyilla.
"Kamu bisa saja, ya sudah yuk panggil suami kamu biar bisa makan malam bersama," pinta Bunda Kanaya.
Arsyilla mengangguk, dia segera berjalan menaiki anak tangga dan memanggil suaminya di dalam kamar.
"Kak, Kak Aksara," panggilnya begitu membuka pintu.
"Hmm, ya Honey," sahutan Aksara.
"Ayo Kak, makan. Sudah waktunya makan malam," ucap Arsyilla.
Aksara yang tengah duduk, menyentak tangan Arsyilla membuat istrinya itu terjatuh di pangkuannya.
"Kamu masaknya lama sekali ... aku kan kangen," balasnya.
Arsyilla pun tertawa, tidak menyangka suaminya bisa bersikap manja seperti ini, "Ayo Kak, turun. Nanti kepergok lagi loh. Yuk ah, cepet makan biar bisa cepet istirahat. Aku capek," balasnya.
Aksara pun mendekatkan wajahnya dan langsung menghadiahi tiga kecupan di bibir istrinya terlebih dahulu.
Chup~ chup~ chup
"Yuk, makan. Love U, Honey!"
__ADS_1