Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Murni Kecelakaan Kerja


__ADS_3

Usai Arsyilla membantu Aksara untuk berbaring di kamar yang berada di lantai satu, kini Arsyilla kembali berkumpul dengan seluruh keluarganya. Di saat yang kurang baik, dan ada orang tua serta mertua yang selalu ada untuk mensupportnya rasanya sungguh membuat Arsyilla terbantu. Bukan hanya terbantu secara materi, tetapi secara mental Arsyilla juga merasa lebih tenang.


“Sudah bantuin Aksa nya?” tanya Papa Radit kepada putrinya itu.


“Iya Pa, sudah … Syilla minta ke Kakak untuk istirahat dulu,” jawabnya.


Papa Radit pun menganggukkan kepalanya, “Yang sabar ya Syilla. Dulu di waktu Papa masih muda, Papa juga pernah mengalami cidera kaki. Waktu itu saat menyebrang jalan usai menghadiri pesta pernikahan Om Dimas dan Tante Metta, Papa dan Mama ditabrak sepeda motor. Kaki Papa cidera saat itu,” cerita Papa Radit.


Semua orang yang ada di situ pun turut mendengarkan cerita dari Papa Radit. Tidak mengira jika di masa lalu, Papa Radit juga pernah mengalami cidera kaki.


“Ditabrak sepeda motor Pa? Lalu, Mama?” tanya Arsyilla.


“Papa berhasil sedikit mendorong Mama sampai ke tepi jalan, Mama kamu selamat dan hanya kena lecet saja, sementara kaki Papa yang luka dan juga tertimpa sepeda motor berukuran besar. Untung saja Mama kamu tidak kenapa-napa,” jelas Papa Radit.


“Benar Syilla … peristiwa tabrakan yang membuat Mama sangat hancur, di depan mata Mama sendiri, Mama harus melihat Papa mu tergolek lemah di atas jalanan aspal. Untuk kali pertama, Mama merasakan naik ambulance,” cerita Mama Khaira lagi.


“Pulihannya bagaimana Bu Khaira?” tanya Ayah Bisma.


“Ya harus melakukan pemasangan pen di kaki suami, Pak … selain itu ada terapi yang harus diikuti. Sebab, kaki yang terlalu lama dipasangi gips dan juga harus berjalan mengenakan kruk, harus kembali penyesuaian untuk berjalan,” balas Mama Khaira.

__ADS_1


“Waktu itu Syilla sudah lahir belum?” giliran Bunda Kanaya yang bertanya.


“Sudah … Syilla sudah hampir satu tahun. Jadi, saya pernah merasakan mengasuh anak dan merawat suami. Rasanya memang lebih capek, tetapi saya lakukan semua untuk suami dan anak saya,” balas Mama Khaira.


Memang secara manusiawi, rasanya begitu berat dan capek. Biasanya tugas rumah tangga bisa berbagi dengan suami, dan saat suaminya harus sakit nyaris satu bulan lamanya, mau tidak mau waktu itu Mama Khaira harus mengerjakan semua urusan rumah tangga sendiri. Mengeluh jika capek tidak apa-apa, karena seorang Ibu juga boleh mengeluh. Jika orang-orang berkata kenapa mengeluh mengurus anak sendiri? Mengeluh wajar kok, karena Ibu juga manusia yang ingin berkeluh kesah. Mengasuh anak, mengerjakan pekerjaan rumah, melayani suami juga terkadang membuat capek. Hanya saja keluhan itu diucapkan sesaat dan kemudian mengingatkan kita untuk tidak menyerah. Sebab, segala sesuatu ada masa. Ketika anak-anak mulai besar nanti, mereka bisa mengurus diri sendiri.


Itu adalah bagian dari kooperatif parenting. Mengelola emosi, mengatakan keluhan, dan terus bekerja sama untuk mengasuh anak dan juga berkolaborasi dengan suami untuk terus berjuang mempertahankan rumah tangga.


“Iya Ma … Syilla juga akan melakukannya. Syilla akan mengasuh Ara dan sekaligus merawat Kakak,” ucapnya dengan yakin.


Mendengar kesungguhan dari Arsyilla, Bunda Kanaya pun menganggukkan kepalanya. “Terima kasih Syilla … kamu adalah istri yang baik dan Ibu yang baik. Bunda yakin dengan seorang istri yang baik dan tulus di sisinya, Aksara akan pulih, mentalnya juga akan sehat,” balas Bunda Kanaya.


Setelahnya mereka semua hening. Ada Papa Radit yang meminum Tehnya, ada Mama Khaira yang masih menggendong Baby Ara. Tidak berselang lama, Bunda Kanaya kembali berbicara.


“Jika kasus Aksara ini murni kecelakaan kerja. Bunda juga menerima semua laporan dari seluruh karyawan dan kepala mandor di pembangunan tower itu, dan mengatakan bahwa Crane saat itu goyang. Aksara sebelumnya sudah memperingatkan bahwa Crane yang dia amati goyang, sekian menit kemudian justru bahan material yang dibawa oleh Crane jatuh dan menimpanya,” jelas Bunda Kanaya.


Semua yang ada di situ pun mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh Bunda Kanaya. Arsyilla pun bisa menerima penjelasan dari Bunda Kanaya. Sebab, bekerja di bangunan itu memang berbahaya. Sedikit kesalahan saja bisa mengakibatkan kesalahan fatal.


“Sudah diolah di tempat kejadian perkara juga, dan melihat seluruh rekaman CCTV di pembangunan tower itu. Hasilnya memang murni kecelakaan kerja. Mengingat bahwa Aksara adalah staf juga di Jaya Corp, maka perusahaan akan memberikan asuransi kepadanya. Semua perawatan juga akan ditanggung oleh asuransi,” jelas Bunda Kanaya.

__ADS_1


Kali ini Bunda Kanaya menjelaskan sebagai CEO Jaya Corp. Peraturan di perusahaan yang disampaikan Bunda Kanaya saat ini.


“Tidak masalah Bunda, yang penting Kak Aksara selamat dan juga segera pulih,” ucapnya.


“Iya Syilla, selain itu perusahaan akan memberikan cuti kepada Aksara sampai dia pulih,” balas Bunda Kanaya.


Syukurlah, bahwa sebagai staf di Jaya Corp, Aksara tetap mendapatkan haknya. Walaupun pada  kenyataannya Bunda Kanaya juga tidak segan untuk membantu anaknya sendiri.


“Jadi, kamu bisa menerima kan kalau kejadian yang menimpa Aksara murni kecelakaan kerja?” tanya Bunda Kanaya.


Arsyilla pun menganggukkan kepalanya, “Iya Bunda … tidak apa-apa. Lagipula, Arsyilla juga tahu sendiri bahwa pekerjaan seorang arsitek memang berisiko,” jawabnya.


Sebagai Dosen Arsitek, Arsyilla tahu bahwa arsitek juga berisiko. Bukan sekadar membuat desain dan rancang bangun. Saat harus melakukan survei lahan, kita tidak pernah tahu bahaya apa yang mengancam. Jika murni kecelakaan kerja, Arsyilla sama sekali tidak apa-apa.


“Sabar ya Syilla … dengan kesabaran, Papa yakin Aksara akan pulih. Nanti Papa dan Mama akan bantuin kamu untuk jaga Ara,” ucap Papa Radit.


Sungguh, Arsyilla begitu terharu. Di saat dia terpuruk, ada keluarganya yang selalu ada mensupportnya. Orang tua yang baik dan mertua yang baik pula membuat Arsyilla bersyukur. Ada kebahagiaan yang Tuhan sisipkan di dalam hidupnya yang sedang tidak baik-baik saja.


 “Makasih Papa … tentu Syilla akan sering-sering ngrepotin Papa, Mama, Ayah, dan Bunda,” ucapnya sembari tertawa.

__ADS_1


“Tidak apa-apa … itulah keluarga. Jangan sungkan untuk meminta tolong. Kami semua akan membantu kamu,” ucap Ayah Bisma.


__ADS_2