Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Empat Bulanan II


__ADS_3

 "Ya Allah, semoga Engkau lindungi bayiku ini selama ada dalam kandunganku, Berikanlah kesehatan kepadanya bersamaku. Sesungguhnya Engkaulah Maha Penyembuh. Tidak ada kesehatan selain kesehatan yang Engkau berikan, kesehatan yang tidak diakhiri dengan penyakit lain. Ya Allah, bentuklah dia di dalam perut ibunya dalam bentuk yang elok dan tetapkanlah hatinya dalam keimanan kepada-Mu dan Rasul-Mu. Ya Allah, keluarkanlah dia dari perut ibunya pada saat kelahirannya dengan mudah dalam keadaan selamat dan dengan bentuk yang indah dan sempurna. Ya Allah, jadikanlah dia anak yang sehat dan sempurna, berakal yang cerdas, yang alim, dan mau mengamalkan ilmunya."


Doa yang diucapkan oleh seorang pemuka agama itu membuat Arsyilla meneteskan air mata. Sebab, itu juga adalah doa dan harapannya. Doa dan harapan semoga anaknya kelak sehat dan sempurna, berakal yang cerdas, alim, dan mau mengamalkan ilmunya.


Aksara yang melihat Arsyilla meneteskan air matanya, menghela nafas dan memberikan sebuah tissue kepada istrinya itu, sembari menggenggam tangannya sejenak.


“Jangan menangis, Honey,” ucap Aksara.


Terlihat Arsyilla yang menggelengkan kepalanya perlahan, “Aku terharu … doanya begitu menyentuh. Ya Tuhan, aku pun menginginkan hal yang sama untuk Dedek Bayi nanti,” ucap Arsyilla sembari berbisik lirih di telinga suaminya.


“Amin … aku pun juga menginginkan hal yang sama, Honey … semoga saja Dedek Bayi selalu sehat, tumbuh kembang prenatalnya di dalam rahim Bundanya selalu sehat. Ayah selalu mendoakan Dedek Bayi,” ucapnya.


Begitu acara doa sudah selesai, kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah dengan para tamu undangan. Terlihat beberapa tamu dan kerabat datang dan memberikan selamat kepada Arsyilla dan Aksara.


Mama Khaira, Papa Radit, Bunda Kanaya, dan Ayah Bisma pun turut berbahagia karena tentu mendapatkan seorang cucu dan anggota keluarga baru akan membuat kebahagiaan keluarga besar mereka kian bertambah.


“Cucu pertama ya Bu Khaira dan Pak Radit? Pasti senang sekali,” ucap Ayah Bisma.


Memang tidak dipungkiri bahwa bayi dari Arsyilla dan Aksara nanti akan menjadi cucu pertama bagi Mama Khaira dan Papa Radit. Sementara, bagi keluarga Pradhana sendiri, anak dari Arsyilla dan Aksara adalah cucu mereka yang kedua.

__ADS_1


“Benar … kami senang sekali. Wah, karena Opanya Dokter Spesialis Anak jadi nanti si baby bisa vaksinasi sama Opanya dong,” respons Mama Khaira sembari tertawa.


Itu memang mengingat bahwa profesi Ayah Bisma yang adalah seorang Dokter Spesialisasi Anak, sehingga untuk vaksinasi bayi bisa dilakukan oleh Opanya sendiri.


Ayah Bisma pun tertawa, “Benar Bu … dulu saya yang berikan vaksinasi untuk Arsyilla, tidak lama lagi saya yang akan berikan vaksinasi untuk anaknya,” jawab Ayah Bisma dengan terkekeh geli.


Rasanya memang lucu, karena dulu Ayah Bisma adalah Dokter Spesialisasi Anak bagi Arsyilla, yang memberikan vaksinasi bagi menantunya itu. Tidak lama lagi, Ayah Bisma bisa memberikan vaksinasi untuk cucunya sendiri.


“Menggendong bayi yang baru lahir takut tidak Pak Bisma?” tanya Papa Radit kemudian.


“Semula ya takut, Pak Radit … lama-lama tidak. Justru senang bisa menggendong banyak bayi. Melihat mereka yang lucu dan begitu imut, membuat saya sangat menyukai pekerjaan saya ini,” balas Ayah Bisma.


Mendengarkan cerita dari orang tua mereka, kemudian Arsyilla pun menatap kepada suaminya dan berbisik lirih kepada suaminya itu.


“Kamu besok berapa enggak Kak, gendong Dedek Bayi?” tanya Arsyilla.


“Belajar dulu ya Honey … aku memang pernah menggendong bayi dan itu adalah Thania. Namun, itu sudah lama … jadi nanti aku akan latihan lagi,” balas Aksara.


Arsyilla pun menganggukkan kepalanya, “Iya … nanti kita sama-sama belajar. Soalnya aku sendiri pun tidak punya pengalaman seputar memegang bayi. Selisih usiaku dengan Shaka hanya tiga tahun, jadi kelihatan kan bahwa kami tumbuh bersama dengan selisih usia yang tidak terpaut jauh. Aku masih sangat kecil dan sudah memiliki adik bayi, jadi praktis aku tidak pernah menggendong Shaka,” cerita Arsyilla kepada suaminya.

__ADS_1


Ternyata cerita Arsyilla pun didengar juga oleh orang tua dan mertuanya. Sampai akhirnya Mama Khaira pun kembali bersuara.


“Semua Ibu pasti bisa mengurus anaknya, Syilla … dulu Mama pun demikian. Mama masih sangat muda saat memilikimu, minim pengalaman. Untung saja, Mama dan Papa bisa belajar bersama. Parents to be partner.”


Mama Khaira waktu memiliki Arsyilla memang masih muda, begitu minim pengalaman. Bahkan sering kali Mama Khaira berbicara kepada Papa Radit apakah mungkin dirinya bisa mengasuh dan mengurus bayinya nanti. Akan tetapi, berkat dukungan dari Papa Radit, akhirnya Mama Khaira pun membuktikan bahwa dirinya bisa mengasuh Arsyilla di usia yang masih begitu muda.


Mendengarkan cerita Mama Khaira, kemudian Bunda Kanaya pun tertarik untuk bertanya kepada Mama Khaira. “Dulu, memiliki Arsyilla usia berapa Bu Khaira?” tanyanya.


“Mungkin 25 tahun … saya usia 22 tahun sudah menikah dengan Papanya anak-anak,” jelas Mama Khaira dengan tertawa.


Mengingat semua cerita dan kenangan di masa dirinya masih muda dulu memang membuat Mama Khaira menjadi seorang Ibu di usia yang masih muda. Akan tetapi, untuk semua kenangan yang terjadi dalam hidupnya baik itu baik atau pun buruk, Mama Khaira senantiasa bersyukur.


Sebab tidak ada yang lebih membahagiakan selain memiliki suaminya yang begitu menyayanginya dan anak-anak yang tumbuh sehat dan bahagia. Untuk waktu yang begitu panjang, Mama Khaira sangat bersyukur atas apa yang telah terjadi.


“Wah, masih muda sekali … pantesan Bu Khaira sekarang pun masih terlihat begitu muda,” jawab Bunda Kanaya. “Dulu saat kita bertemu di Jewel Changi pun Bu Khaira masih sangat muda, saya kira Syilla ini keponakannya, ternyata putrinya. Semua yang sudah digariskan Tuhan memang tidak bisa disangka ya Bu. Akan tetapi, dengan kita menjalani semuanya, rasanya justru sangat indah. Semua momen yang telah terjadi tentu adalah sebuah album yang penuh dengan foto-foto kenangan,” respons dari Bunda Kanaya.


Di saat acara empat bulanan, rupanya banyak cerita yang dibagi. Aksara dan Arsyilla pun belajar banyak hal dari cerita dan kisah-kisah yang dibagikan oleh para orang tuanya. Mereka berdua memang masih muda dan minim pengalaman, tetapi dengan belajar dan berusaha, tidak dipungkiri pasti mereka yang akan bisa menjadi sosok orang tua yang baik untuk anaknya nanti.


Setelah mendengar semuanya, justru Arsyilla semakin bertekad untuk bisa menjadi seorang Ibu yang baik dan hebat layaknya Mama Khaira dan Bunda Kanaya. Meneladani apa yang baik dari Mama Khaira dan Bunda Kanaya. Arsyilla yakin bahwa tidak ada salahnya untuk belajar, dan kalau pun salah itu justru akan membuatnya untuk berani mencoba dan menemukan cara melakukan yang lebih benar. Sebab menjadi orang tua yang sebenarnya adalah sebuah proses untuk belajar seumur hidup.

__ADS_1


__ADS_2