
Menjelang malam, Arsyilla memilih duduk di sebuah sofa yang berada di ruang tamu yang berada di resort itu. Biasanya, dirinya santai-santai saja bersama dengan Aksara hidup dalam satu unit apartemen. Akan tetapi, kali ini rasanya begitu berbeda karena seakan-akan suasana di tempat ini disertai dengan deburan ombak di luar sana seolah menciptakan atmosfer tersendiri yang membuatnya canggung.
Aksara yang baru saja keluar dari kamar mandi, lantas menghampiri Arsyilla yang duduk terdiam di sofa berwarna cokelat itu. Pria itu sedikit menempelkan badannya sesaat hingga mengenai lengan Arsyilla.
“Kamu ngapain bengong di sini? Enggak ngantuk?” tanyanya.
Arsyilla menggelengkan kepalanya, “Enggak, belum ngantuk kok,” jawabnya singkat.
Pria itu lantas sedikit beringsut guna bisa melihat wajah Arsyilla, “Lalu ngapain kamu di sini?” tanyanya.
“Duduk aja, Kak … masak aku mau lompat-lompat sih di sini,” sahutnya.
Kemudian Arsyilla menatap wajah pria itu, “Kamu sudah buka hasil nilai ujianmu belum Kak?” tanyanya kini.
Aksara nyatanya dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Belum, aku malas membukanya. Emang kenapa?” tanya Aksara.
“Ya, enggak … kamu enggak pengen tahu berapa nilai yang kamu dapat?” tanya Arsyilla lagi.
“Jangan bahas kuliah, Syilla … mengingat gimana aku yang nyatanya masih menjadi mahasiswamu melukai harga diriku,” ucap pria itu pada akhirnya.
Nyatanya Arsyilla justru tertawa, “Makanya dulu jangan cuti-cuti kuliahnya. Kalau enggak cuti kuliah, kan kamu tidak perlu repot-repot kuliah dan menjadi mahasiswaku,” sahutnya.
Aksara lantas menyandarkan kepalanya di bahu Arsyilla, “Iya juga sih … hanya saja, jika akhirnya aku cuti kuliah dan terus mendapatkan kamu, aku rela kok,” ucapnya.
Kepala pria itu bergeser-geser, dan bibirnya dengan sendiri mengecup pundak Arsyilla.
Chup!
“Demi kamu, demi bisa bertemu kamu apa pun ku lakukan,” ucap pria itu dengan kembali mengecupi pundak Arsyilla.
Sekali pun piyama masih membungkus tubuh Arsyilla, tetapi kecupan itu tetap saja menghadirkan gelenyar aneh dalam diri Arsyilla.
Aksara lantas menarik kepalanya dari bahu Arsyilla, tangannya perlahan bergerak membelai sisi wajah Arsyilla. Tanpa permisi, Aksara mengikis jarak wajahnya, bibirnya dengan cepat mengecup bibi Arsyilla yang berwarna pink natural merekah layaknya kelopak bunga peony yang indah.
Kedua mata Arsyilla membola seketika saat merasakan bibir Aksara yang sudah menempel di atas bibirnya. Wanita itu seakan menahan nafasnya. Ya Tuhan, mengapa suaminya itu begitu suka menciptakan momen mendebarkan seperti ini. Tangan Arsyilla rasanya begitu dingin, kedua telapak tangannya bertaut, dia benar-benar takut sebenarnya.
Pengalaman pertama dulu bersama Aksara menyisakan sakit yang tidak hanya melukai tubuhnya, tetapi juga psikisnya. Kali ini, agaknya momen itu akan terulang dengan kondisi mereka yang sama-sama sadar.
__ADS_1
Akan tetapi, beberapa detik berlalu, Aksara menarik kembali wajahnya. “Kamu capek? Mau tidur?” tanyanya kali ini.
Layaknya orang yang kehilangan kesadarannya, Arsyilla mengangguk lemah, “Ii … iya,” jawab Arsyilla dengan tergagap. Mungkin saja, malam ini dirinya bisa lolos karena pria itu menanyakannya apakah ingin tidur.
Rupanya Aksara beringsut, pria itu menelisipkan satu tangan di kaki Arsyilla dan satu tangan di punggung Arsyilla, dengan satu sentakan pria itu membopong Arsyilla dengan kedua tangannya, menggendongnya ala bridal style. Satu tindakan yang membuat Arsyilla mengerjap dan melingkarkan kedua tangannya di leher Aksara.
Keduanya sama-sama diam, tetapi derap langkah kaki Aksara secara pasti membawa Arsyilla memasuki kamar mereka. Dengan pelan-pelan Aksara menaruh Arsyilla di atas ranjang. Rupanya bukan sekadar menaruh saja, Aksara pun turut sedikit merangkak di atas tempat tidur itu dan mulai menindih Arsyilla, menggunakan kedua sikunya untuk bertumpu dan menahan badannya. Pria itu kemudian tersenyum, melihat wajah Arsyilla yang memerah dengan bulu matanya yang terlihat berkedip-kedip.
“Jangan takut, tidurlah,” ucap Aksara kemudian, pria itu melabuhkan satu kecupan di kening Arsyilla. Kemudian Aksara merubah posisinya. Pria itu berdiri dan terlihat hendak meninggalkan kamar itu, melihat punggung Aksara yang menjauh, Arsyilla lantas terduduk.
“Kak, mau kemana?” tanyanya.
Sedikit menoleh, Aksara pun menyahut, “Aku mau keluar jalan-jalan aja di luar resort. Kamu tidurlah,” jawabanya.
Sekilas terdengar jawaban pria itu memang lembut, seolah tidak menjadi masalah apa pun. Akan tetapi, nyatanya justru jawaban yang lembut itu terdengar melukai hati Arsyilla. Wanita itu pun perlahan bangkit dari tempat tidurnya, ada rasa bersalah dan sekaligus berdosa lantaran selalu mengulur waktu dan merasa dirinya tidak siap. Perlahan Arsyilla berjalan dan mendekap Aksara dalam pelukannya. Memeluk pria itu dari belakang dan menaruhkan kepalanya di punggung pria itu.
“Jangan pergi Kak, jangan tinggalkan aku,” ucap Arsyilla sembari memejamkan matanya.
Aksara tampak menghela nafasnya, pria itu mengusapi tangan Arsyilla yang tampak membelit badannya itu. “Kamu tidurlah, katanya kamu capek kan? Aku cuma berjalan-jalan sepuluh menit,” jawabnya lagi.
Aksara pun memejamkan matanya perlahan, kemudian pria itu mendesah perlahan, “Jangan menggantung semuanya seperti ini, Syilla … tidak masalah, tidurlah.” Aksara berbicara dengan lirih, dalam pikirannya kali ini Aksara memang merasa bersama Arsyilla semuanya terasa menggantung, tetapi bagaimanapun dia tidak mau mengedepankan hasratnya belaka. Cintanya untuk wanita itu jauh lebih besar dibanding hasrat yang sering kali datang menerpanya.
“Jika kamu terus memelukku seperti ini, aku tidak akan menahannya lagi, Syilla,” ucap Aksara lagi dengan suara yang dalam.
Dengan cepat Aksara mengurai dekapan tangan Arsyilla, pria itu berbalik dan kini bisa menatap Arsyilla dengan kedua matanya. Tanpa menunggu waktu, Aksara mencapit dagu Arsyilla dengan ibu jari dan jari telunjuknya. Sedikit mengangkat dagu itu, dan Aksara segera mencium bibir Arsyilla. Jika biasanya, pria itu mencium Arsyilla dengan lembut yang ada kali ini adalah ciuman yang memburu dan deru nafas yang seolah begitu berat terdengar dari hembusan nafasnya.
Pertama menyesap kedua belah lipatan bibir Arsyilla. Memagutnya bergantian atas dan bawah, lidahnya menelusup untuk masuk merasai rasa manis dan hangat dari kedalaman rongga Arsyilla. Ciuman yang memburu, tidak mempedulikan bagaimana susahnya keduanya untuk kembali menghirup oksigen.
Arsyilla memejamkan matanya, berupaya mengimbangi ciuman Aksara yang benar-benar dalam dan memburu, tetapi kali ini tangan Arsyilla mengusapi perlahan dada Aksara, sebagai tanda bahwa pria itu harus mengurangi ritmenya.
Menyadari bahwa Arsyilla membutuhkan kelembutan, bibir pria itu kini bergerak dengan lembut. Arsyilla kini bisa menerima dan menikmati bagaimana pria itu membuainya dengan lebih lembut dan penuh perasaan. Pergerakan bibir Aksara benar-benar sensual dan melenakan.
Aksara memagut bibir Arsyilla, bergantian lipatan atas dan bawahnya dalam tekanan yang serupa. Berulang kali hingga terdengar erangan yang samar dari tenggorokan istrinya. Itu adalah alunan yang merdu, sebuah alunan yang membuat Aksara kian gencar menghisap, memagut, dan membuai bibir Arsyilla yang manis layaknya cotton candy itu.
Aksara sedikit mendorong tubuh Arsyilla untuk bergerak mundur, hingga sebuah ranjang yang empuk dan lembut menyambut mereka. Aksara mengurai ciuman sejenak, dia kembali menempatkan Arsyilla dengan perlahan di atas tempat tidur itu. Tanpa permisi Aksara menindih tubuh Arsyilla, pria itu lantas mendaratkan kecupannya yang hangat dan basah di leher Arsyilla. Kecupan yang membuat Arsyilla menengadahkan lehernya, dan membiarkan Aksara meninggalkan jejak-jejak basah di sana. Rupanya bukan sekadar kecupan, Aksara membuka sedikit mulutnya, dan menggigit kecil di leher Arsyilla menghisapnya dalam-dalam, rasa perih berpadu dengan gelenyar asing membuat Arsyilla mendekap erat tubuh Aksara.
“Kak …,” ucapnya dengan nafas yang terasa sesak.
__ADS_1
Aksara lantas menarik kembali wajahnya, “Syilla,” ucapnya dengan suaranya yang parau dan dalam.
“Boleh malam ini?” tanya Aksara lagi.
Terlihat anggukan samar dari kepala Arsyilla. Sontak saja Aksara tersenyum, pria itu lantas kembali melabuhkan ciumannya di bibir Arsyilla, tangannya mulai bergerilya meraba lekuk-lekuk feminitas di tubuh Arsyilla. Hingga jari-jari Aksara dengan berani melepaskan setiap kancing dari piyama tidur yang dikenakan Arsyilla. Pria itu menahan nafas memilih bongkahan buah persik yang masih terbungkus kain berwarna hitam, tanpa bisa menunggu lama Aksara melepaskan pengait di balik punggung Arsyilla. Meremas buah persik itu perlahan dan tekanan yang membuat Arsyilla menahan nafasnya, rasa gelenyar yang seolah membakar dirinya membuat Arsyilla meremas rambut Aksara.
“Kak,” ucap kali ini.
Aksara diam, pria itu mulai membuka mulutnya dan membawa satu buah persik yang begitu menggoda untuk masuk dalam kehangatan rongga mulutnya. Menghisapnya perlahan, mencumbunya, dan memberikan gigitan-gigitan kecil di sana. Sementara tangan yang satu lagi meloloskan pakaian Arsyilla yang tersisa, membuat wanita itu kini polos mutlak di hadapannya.
Aksara sedikit memejam matanya, hingga mata itu perlahan terbuka dengan menatap Arsyilla dengan tatapan yang seolah-olah dia tengah memuja wanitanya itu. Aksara lantas melucuti sendiri pakaiannya, membiarkan kepolosan mutlak yang akan menemani mereka untuk beberapa saat ke depan. Aksara lantas meraba paha Arsyilla, sedikit membuka paha itu, dan menurunkan wajahnya hingga inti tubuh Arsyilla. Menyapanya melalui sapuan lidahnya, dan membuat Arsyilla benar-benar gelisah. Tak mampu mengamati setiap tindakan yang Aksara lakukan atas dirinya.
Wanita itu kian terengah-engah. Rasa yang menyelimutinya sekarang ini membuat lembah di bawah sana seketika basah, membuat Arsyilla menelungkungkan sepuluh jari kakinya. Merasa Arsyilla sudah siap, Aksara kemudian menatap Arsyilla.
“Aku janji tidak akan menyakiti kamu, Syilla ….”
Maka tak ada lagi yang Arsyilla ragukan, dia memberikan dirinya sepenuhnya pada pria itu. Dada Arsyilla bergemuruh riuh. Setidaknya ini adalah pengalaman pertama bagi keduanya dalam keadaan sama-sama sadar.
“Kak!”
Rasanya seluruh tubuh Arsyilla menegang saat Aksara mulai memasukinya. Mata Arsyilla seketika membuka dengan nyalang. Merasakan nyawanya yang seakan terhilang dari dirinya, dan tubuhnya yang dijalari rasa perih.
“Lihat aku, Syilla,” pinta Aksara kali ini.
Arsyilla meneguk salivanya, rasa asing dan sakit yang menjalari dirinya membuat air matanya keluar begitu saja.
“Ssstts, lihat aku, Syilla … aku cinta kamu,” ucap Aksara sembari mengecup puncak kepala Arsyilla.
Pria itu lantas mendobrak masuk, menghentak dengan memegangi kedua pinggang Arsyilla. Pria itu membawa kedua tangan Arsyilla yang lemas untuk memegangi pundaknya, membiarkan tangan itu meremas pundaknya. Dia kembali memasuki Arsyilla dengan satu dorongan kuat, maju dan mundur berirama. Hingga tangisan Arsyilla berganti dengan decakan yang memenuhi kamar itu.
Merasakan bahwa Arsyilla sudah rileks, Aksara kembali bergerak. Menghentak dalam menciptakan luapan penuh yang keduanya rasakan. Kian lama Aksara bergerak seakan menabur candu yang membuat Arsyilla kian mencengkeram punggung Aksara.
“Kak Aksara, Kak,”
Rengkuhan Arsyilla menguat, saat dia merasakan sengatan di dalam inti tubuhnya. Dengan robohnya Aksara di atas tubuhnya. Pria itu menggeram seiring dengan miliknya yang menusuk ke dalam sana. Aksara benar-benar turut meledak.
Pecah, meledak, dan tanpa sisa.
__ADS_1